Tujukan PadaNya

| On
January 13, 2014
"Ingat-lah Allah SWT, maka hati kan tenang"



Janji-Nya, janji siapa yang paling pasti dan tidak akan ingkar? tentu hanya Allah SWT. Hanya Dia pemilik janji yang tak akan pernah diingkari, berbeda dengan janji yang dibuat oleh manusia, seringnya lupa bahkan janji palsu pun banyak.

Fitrah manusia adalah memiliki kebutuhan mengenai eksistensi diri (pengakuan diri). Manusia mana yang ingin keberadaannya tidak diakui oleh lingkungan sekitarnya. Keberadaannya diacuhkan dan diabaikan atau dianggap tidak ada. Saya meyakini semua manusia di dunia ini sangat ingin "diakui" oleh lingkungan sekitarnya, baik masyarakat maupun keluarga.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang rumah tangga. Disitu diceritakan ada sepasang suami istri yang memiliki konflik/masalah dalam rumah tangganya. Sang suami bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan, begitupun sang istri, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta juga. Karena belum memiliki keturunan, mereka berdua leluasa untuk bekerja dan memiliki kesibukan masing-masing di luar rumah. Namun, mereka masih tinggal satu atap dengan orang tua sang istri, mereka belum berencana memiliki tempat tinggal sendiri dikarenakan kondisi finansial yang belum memadai. Singkat cerita, masalah rumah tangga mereka bermula dari sini. Sang suami hanya lah pegawai swasta biasa yang memiliki penghasilan pas-pasan. Sedangkan sang istri memiliki penghasilan yang lebih besar dari pada suami. Hal ini memicu konflik pada rumah tangga mereka. Sang istri masih sangat menghormati suaminya sebagai kepala keluarga yang menanggung nafkah bagi keluarganya, tapi tidak bagi mertua dan kakak ipar sang suami. Mereka makin hari makin tidak menghormati sang suami. Sindiran, ejekan dan hal lainnya silih berganti datang dari mulut mertua dan kakak ipar. Mereka selalu meyakinkan sang istri bahwa suaminya hanyalah benalu dan tidak bisa menjadi suami yang baik. 


Menurut kisah di atas, jelas bahwa eksistensi diri adalah kebutuhan. Pengakuan, penghargaan, dan penghormatan diri adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Tapi masalahnya, terkadang pengakuan diri identik dengan prestasi yang kita miliki. Walaupun tidak sepenuhnya benar bahwa pengakuan diri identik dengan pengakuan diri tapi biasanya orang yang memiliki "nilai lebih" lebih mudah mendapatkan pengakuan diri dari orang lain. Seperti lebih dari segi materi, kedudukan, ilmu, dan lain sebagainya.


Walaupun prestasi identik dengan pengakuan diri, alangkah baiknya apabila pengakuan diri di mata Allah menjadi prioritas utama dibandingkan pengakuan diri di mata manusia. Alangkah seringnya kita (saya sendiri) lebih mementingkan prestasi dan pengakuan diri di mata manusia. Kita lupa bahwasanya manusia juga perlu memberikan "prestasi" nya kepada Allah SWT. Sehingga keberadaan kita di dunia ini diakui dan dihargai oleh Alloh SWT (walaupu sebenarnya kita lah yang butuh ke Alloh, bukan sebaliknya). Saya selalu teringat ucapan Kh. Abdullah Gymnastiar atau AA Gym yang selalu bilang "apabila kita berharap kepada manusia maka bersiap-siaplah untuk kecewa" 


Mengukir sebuah prestasi di dunia bukanlah hal yang salah, bahkan Allah memerintahkan kita untuk ber-fashtabikul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Selama prestasi tersebut ada dalam jalan kebaikan, kenapa tidak? Tapi dengan niat yang lurus ikhlas karena Allah semata.



Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D