Loving You as Always

| On
October 10, 2014


 Abi Ijang


Itu judulnya udah kayak Om Mario Teguh yaa..

Hal yang menyenangkan disela-sela ngerjain tugas yang tidak kunjung berakhir dan sangat menantang adalah telepon dari misua aka suami. Namanya juga Long Distance Realationship, paling banter teteleponan atau chatting via BBM atau WA. 

Ceritanya saya dan suami LDRan antara Bandung dan Bogor. Ga jauh sih emang, jarak 3-4 jam juga nyampe lewat Tol Cipularang. Tapi yang jadi soal adalah kita belum pernah pisah-pisahan gini sebelumnya. Dulu sih kemana-mana selalu bareng. Bahkan mau beli makanan ke mini market juga bareng. Tapi sekarang kita ketemu cuma seminggu sekali atau dua minggu sekali. Sesuatu bangeettt yaaaa...


Alasan kenapa kita memutuskan untuk LDRan adalah saya melanjutkan kuliah lagi di Pasca Sarjana. Awalnya gak ada niatan untuk secepat ini untuk kuliah lagi. Tapi ternyata Alloh kasih skenario lain. Alhamdulillah dapet kesempatan kuliah lagi dengan berbagai jalan yang Dia tunjukkan. Tujuan saya kuliah lagi adalah supaya kedepan saya bisa jadi pengajar/dosen di Universitas. Karena memang mengajar itu pekerjaan yang paling fleksibel bagi seorang ibu rumah tangga. Manajemen waktu untuk keluarga dan pekerjaan bisa dibilang mudah dikelola. Itu menurut hemat kami berdua. 

Tapi waktu di telepon misua tadi, dia nanya "sebenernya tujuan hidup kita kepisah-pisah gini apa ya?"
JLEB. Hmmm.. kalau ditanya gitu emang berat dan bingung buat jawab apa. Kalau memang dasar tujuannya untuk bisa dapat perkerjaan yang layak dikemudian hari, haishhhh itu amat sangat menafikan kekuasaan sang pencipta alam Alloh SWT. Emang selama ini kita hidup gak layak gitu? 

Realitas kehidupan jaman sekarang memang membuat kita putar otak dan banting tulang untuk mencukupi segala kebutuhan hidup. Mulai dari kebutuhan pokok (makan, pendidikan, kesehatan, rumah dll) hingga kebutuhan yang menyangkut prestisi. Semua itu merupakan kebutuhan wajib yang harus dipenuhi (padahal sungguh sangat matrealistis). Hingga bukan suatu yang aneh kalau suami istri rela bekerja demi mendapatkan double income untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tidak ada habisnya itu.

Kami menjadi berpikir ulang tentang ini semua. Apakah tujuan hidup kami memang ini? untuk mendapatkan materi seperti yang dimiliki orang lain. Memiliki kedudukan yang dimiliki orang lain, memiliki popularitas seperti yang dimiliki orang lain. Apakah kerja keras hingga harus mengorbankan kebersamaan kami adalah untuk memenuhi keinginan duniawi yang sungguh tidak abadi sama sekali. Sungguh akan sangat menyesal dikemudian hari jika kebersamaan yang kita miliki ditukar untuk ini semua. 

Kembali ke niat. Cek! 
Jika niat "perjuangan" ini adalah untuk mengejar kesenangan duniawi, kami harus segera istigfar. Apakah kesenangan dunia yang menipu akan merusak kebahagiaan kami. Niat ini memang harus direvisi, harus ditinjau ulang! Apabila telah melenceng dari syariat Alloh maka kami harus meluruskannya. Sesungguhnya semua pekerjaan yang kami lakukan di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Alloh. Sesuai dengan firmanNYA. "tidaklah kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKU" sehingga pekerjaan apapun adalah jembatan untuk mendekatkan diri dan menghamba hanya padaNYA. Saya menuntut ilmu semata-mata untuk beribadah kepadaNYA, menjalankan perintahNYA untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya hingga ke liang lahat, dan mengabdikan ilmu yang dimiliki untuk kemaslahatan ummat. Sedang suami saya bekerja dalam rangka beribadah kepadaNYA untuk menjalankan perintahnya sebagai suami yang berkewajiban menanggung nafkah keluarga. Tak tanggung-tanggung pahalanya adalah pahala jihad fii sabilillah.


Fiuuuhhhh... setelah semua dikembalikan lagi kepadaNYA. Hati ini kembali merasa lega. Dan harus selalu berhati-hati dalam jebakan duniawi. Sungguh dengan mengingat Alloh maka hati akan tenang memang benar adanya. Mengembalikan segala urusan hidup kepadaNYA adalah suatu hal yang sangat menenangkan. Tak usah pusing urusan rezeki, memikirkan hidup layak atau tak layak. Toh selama ini tak pernah sekalipun Alloh menerlantarkan keluarga kami. Bahkan DIA selalu menambah rezekiNYA dari arah yang tidak disangka-sangka sebelumnya. 


Suamiku..
Terima kasih atas ridhomu untukku dalam menuntut ilmu. Tidak banyak suami yang memberikan keleluasaan bagi istrinya untuk senantiasa menikmati indahnya menuntut ilmu, apalagi engkau memberikan kesempatan ini lebih awal bahkan dari dirimu sendiri. Terima kasih atas pengorbanan yang banyak.Rela ditinggal sendiri, mengurus diri sendiri di rumah tanpa pelayanan seperti biasanya.*fufufu... nangis dipojokan*


Thanks for giving me material and moral support. Thanks for become great husband and great father for us. We loving you as always. May Alloh give us a great place in Jannah. Amiinn :)

Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D