Pengalaman Memberikan ASI Ekslusif [ASI VS SKRIPSI]

| On
December 28, 2014


Foto Kifah waktu baru lahir

Saya merasa bersyukur menjadi salah satu orang yang beruntung merasakan indahnya menikah di usia muda. Saya menikah diusia yang belum genap 20 tahun pada tahun 2010. Dan masih harus berjuang menempuh perkuliahan S1 semester lima di sebuah Universitas di kota kembang Bandung. Kemudian, berselang satu tahun setelah pernikahan, saya pun dikarunia seorang baby boy yang Alhamdulillah lulus S3 ASI di ulang tahunnya yang ke-2.

Jujur saja, ketika masa kehamilan mulai tri semester pertama hingga tri semester ketiga saya belum ngeh tentang pemberian ASI ekslusif untuk bayi. Sebatas tahu bahwa ASI itu sangat baik untuk bayi dibandingkan susu formula tanpa tahu teknis dan strategi pemberian ASI. Walaupun hampir setiap bulan saya check up ke Bidan, tak ada percakapan khusus antara saya dan Bu Bidan mengenai pemberian ASI ekslusif kepada bayi terutama pada usia 0 sampai 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun. Bahkan dalam rumah bersalin tersebut justru terpajang berbagai merk susu formula bayi mulai usia 0 bulan. Tepuk jidat. 



Setelah memasuki detik-detik persalinan, baru lah saya mulai mencari-cari informasi mengenai tata cara pemberian ASI ekslusif untuk bayi. Asal mula saya mulai mencari informasi mengenai ASI ekslusif pun atas kebaikan hati seorang teman yang menjebloskan saya masuk ke dalam sebuah grup peduli pemberian ASI ekslusif di sebuah jejaring sosial dunia maya. Setelah stalking dan menjadi silent reader di grup tersebut, baru lah sedikit-sedikit saya mengerti tata cara pemberian ASI esklusif. Karena banyak ibu-ibu baru yang saling curhat di grup, jadilah saya bisa memprediksi masalah-masalah apa yang kira-kira akan muncul dikemudian hari berikut solusi dari para member lain yang banyak banget di kolom komentar. Izinkanlah saya berterima kasih kepada Facebook.

Baby boy saya pun akhirnya lahir dengan bantuan persalinan di rumah bersalin tempat sebelumnya saya memeriksakan kehamilan. Dan, apa yang terjadi? Ternyata susu formula bayi yang dipajang di etalase rumah bersalin tersebut pun menjadi “hadiah” untuk dibawa pulang sebagai pengganti ASI yang katanya belum bisa keluar di awal-awal setelah persalinan. Namun, berbekal pengetahuan seadanya bahwa ASI pertama yang keluar memiliki kolostrum yang baik untuk sistem imun bayi maka saya bertekad untuk memberikan ASI pertama itu kepada my baby boy. Akhirnya, dengan susah payah saya berhasil memberikannya walaupun dengan kuantitas yang sedikit sekali. Poor me.

Sebagai ibu baru tentunya saya panik ketika bayi saya menangis pada masa awal kelahirannya di dunia. Dan yang paling menyedihkan adalah ketika ASI belum banyak keluar. Hingga akhirnya dengan berat hati keputusan untuk membuka “hadiah” dari Bu Bidan pun dilakukan. Keputusan yang saya rasa kurang tepat hingga akhirnya bayi saya kemudian mengalami bingung puting karena susu formula tersebut diberikan dengan menggunakan dot –-yang juga hadiah dari Bu Bidan--. Dan saya harus mengerahkan berbagai posisi perlekatan menyusui untuk menghilangkan bingung puting itu. Ya rasanya galau, perasaan bersalah bercampur sedih karena ASI yang diharapkan belum maksimal diproduksi dan harus menggunakan susu formula.

Dengan segala ikhtiar yang saya lakukan bersama suami, semuanya tak berakhir sia-sia. Ketika ada seorang teman yang menyarankan untuk membeli pompa ASI, suami dengan sigap lari ke apotek dan memberi saya pompa ASI pertama yang berbentuk corong hisap mirip bel tukang roti. Hehehe. Walaupun harganya tak semurah yang dikatakan oleh teman yang merekomendasikan --karena konon katanya yang dibeli sama suami saya itu yang original alias salah beli-- demi ASI tak jadi soal. Sejak saat itu lah saya mulai gesit untuk memompa ASI sedikit demi sedikit dan akhirnya membuahkan hasil, ASI saya menjadi lancar dan berlimpah. Tapi yang membuat sedih, pompa ASI pertama itu pecah karena jatuh ketika dibawa rekreasi ke Garut. Ah, sudahlah.

Makin lama saya makin tertarik untuk mencari informasi seputar ASI di internet. Karena saya melahirkan ketika masa UAS, maka saya memiliki waktu untuk mempersiapkan diri untuk meninggalkan baby boy saya itu pada saat kuliah nanti.  Mulailah saya mencari info mengenai pompa ASI yang standar (bentuknya ngga seperti bel tukang roti lagi), tempat penyimpanan ASI, bagaimana ASI disimpan di lemari es, dan bagaimana memompa ASI ketika di luar rumah. Semua itu saya pelajari demi manajemen ASI Ekslusif yang sangat ingin saya lakukan.

Alhamdulillah akhirnya ASI saya banyak berlimpah, semua ini rezeki yang Allah titipkan untuk bayi saya. Karena saking banyaknya produksi ASI, saya sampai kebingungan sendiri mencari tempat untuk menampung ASI yang sudah saya perah. Awalnya saya hanya menyimpan ASI pada dot bayi, tapi lama kelamaan saya merasa kekurangan tempat penyimpanan. Kemudian saya mencari alternatif tempat penyimpanan dengan mencari informasi di internet dan meminta informasi dari teman yang memang sudah pernah menampung ASI sebelumnya. Daaannnn, Alhamdulillah. Rezeki nomplok! Teman saya memberikan satu kardus botol kaca ASI yang tidak terpakai karena terlalu banyak membeli ketika dulu ia masih menyusui. Sungguh, Allah selalu memudahkan urusan setiap hambaNya yang senantiasa berikhtiar di jalan kebaikan.

Masa kuliah pun datang, saya harus menitipkan bayi saya kepada ibu mertua. Karena kebetulan jarak antara kampus dan rumah ibu mertua sangat dekat. Setiap hari, sebelum kuliah saya harus memastikan persediaan ASI di dalam lemari es, terutama di dalam freezer. Karena konon menurut informasi yang saya dapatkan waktu itu, menyimpan ASI di dalam freezer memberikan daya tahan yang lebih lama terhadap kualitas ASI. 

Sesuai petunjuk yang saya dapat di internet, bahwa setiap botol ASIP (ASI Perah) harus diberi jam dan tanggal pemerahan, agar memudahkan pemberian ASIP kepada bayi. Tapi, yang namanya saya itu pelupa dan suka teledor, jadinya setiap botol ASIP lupa dicatat jam dan tanggal pemerahannya. Akhirnya, demi kemudahan saya hanya menomori botol ASIP dari angka satu hingga ke sekian. Itu juga memudahkan Ibu mertua saya untuk memberikan ASIP tersebut. Karena setiap hari akan ada proses “isi ulang” jadi saya rasa cukup mudah untuk melakukan penomoran pada botol ASIP.

Selama saya kuliah biasa, Alhamdulillah masalah ASI pun tertangani dengan baik. Namun, masalah berikutnya datang ketika saya harus menjalani Kuliah Kerja Nyata, Praktek Latihan Profesi, dan menyusun skripsi. Saya harus menemukan cara bagaimana ASI ekslusif tetap berjalan dengan baik.

Ketika saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), dengan sengaja saya mengajukan tempat yang paling dekat dengan tempat tinggal kepada pihak kampus dengan alasan saya memiliki seorang bayi dan Alhamdulillah pihak kampus memberikan kemudahan dan akhirnya saya ditempatkan di sebuah Madrasah Ibtidaiyah tidak jauh dari kampus dan tempat tinggal. Setiap pagi saya menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah dengan membawa bayi, atau sesekali waktu saya titipkan di rumah ibu mertua. Alhamdulillah pihak sekolah mengijinkan saya untuk membawa bayi saya ke sekolah asalkan tidak mengganggu kegiatan utama saya di sekolah yaitu dalam rangka pengabdian kepada masyarakat. Demi ASI ekslusif, setiap hari saya membawa bayi saya ke sekolah dan menjadikan ruang UKS menjadi ruang laktasi sementara. Untungnya, jarang siswa MI yang sakit dan datang kesini. Ruang UKS akhirnya bisa leluasa dipakai untuk ruang menyusui. Ya mungkin, saran saya di sekolah pun harusnya ada ruang laktasi untuk para ibu yang menyusui, salah satunya di ruang UKS itu, hehehe maksa. Teman-teman kelompok KKN saya pun memberikan support yang luar biasa. Mereka memberikan keleluasaan kepada saya untuk tetap berkarya tanpa harus meninggalkan kewajiban saya yang lainnya. Ada yang rela nungguin saya kalau ada kegiatan, dan ada juga yang rajin masak untuk saya dan yang lainnya. Ah, senangnya berukhuwah itu.

Tantangan yang lebih berat pun saya rasakan ketika saya memasuki masa Program Latihan Profesi (PLP) di sebuah instansi pemerintah. Jam kerja yang harus saya hadapi dalam satu bulan membuat saya merasakan menjadi working mom sementara waktu. Dan hal ini sungguh-sungguh luar biasa. Manajemen ASI yang saya lakukan harus lebih extra, dan disaat ini lah support terbesar datang dari suami dan keluarga terdekat. Karena hampir-hampir saya menyerah kepada susu formula. Setiap hari saya harus pergi pagi pulang petang membuat saya harus memiliki waktu untuk memerah ASI di kantor, mau tidak mau, suka tidak suka. Dengan berbekal pompa ASI dan botol kaca yang saya bawa di dalam tas yang saya bawa ke kantor, saya mencoba untuk memerah ASI. Tak ada ruang laktasi, tak ada ruang yang nyaman untuk memerah ASI, satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk memerah ASI pada saat itu adalah di Mushola kantor. Disana lah saya berjibaku setiap hari memerah ASI dengan keadaan yang serba sederhana. Berbekal kepercayaan dan tekad yang kuat. Disini juga saya merasakan apa yang dirasakan para working mom yang tetap ingin memberikan ASI ekslusif ditengah kesibukan yang makin menantang. Semoga Allah memudahkan segala usaha mereka.

Pagi hingga petang saya berjibaku dengan rutinitas kantor yang begitu padat, dan pada malam harinya perjuangan saya masih belum berakhir. SKRIPSI, masih menanti untuk digarap pada saat itu.  Di tengah malam, dimana badan rasanya remuk redam, ingin sekali beristirahat. Namun apa daya, kewajiban menyusui, memerah ASI untuk cadangan esok hari, dan juga mengerjakan skripsi membuat saya harus menahan rasa kantuk dan lelah yang amat sangat. Di saat orang lain tidur pulas, saya malah menjadi makhluk nocturnal. Ingin rasanya menggerutu, mengeluh, marah, menangis, dan lain sebagainya. Saya selalu bertanya dalam hati, apakah saya sudah siap menjadi “Mahasiswa Rumah Tangga” dengan tantangan sesulit ini. Namun, Subhanalloh, hanya Allah-lah yang memberikan saya kekuatan pada saat itu. Karena saya yakin, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Dan Dia selalu membersamai hambanya yang bersabar. Sujud syukur.

Waktu berlalu cepat, hari berganti dengan sekejap. Dengan berbagai tantangan dalam pemberian ASI esklusif, akhirnya tertunaikan amanah itu dengan baik. My baby boy Muhammad Kifah Abdullah Sidik akhirnya lulus S3 ASI tepat di hari ulang tahunnya yang ke-2. Rasanya berat untuk menyapihnya. Namun saya sangat bersyukur, haknya sudah tertunaikan dengan baik. Semoga apa yang menjadi darah dan dagingnya menjadi bekal terbaik untuk kehidupannya kelak.

Allah memang Maha Adil, Dia telah menetapkan hal yang baik untuk hambaNya. Begitupun ketika kita memutuskan untuk memberikan ASI ekslusif sebagai amanah dariNya untuk buah hati kita. Sesulit apapun, pasti selalu ada jalan keluar. Saat logika kita ingin menyerah, Dia-lah yang selalu memberikan kekuatan. Hal yang membuat saya bersyukur hingga saat ini adalah kemampuan yang Allah berikan untuk memberikan hak kepada titipanNya tanpa mengabaikan kewajiban yang lain. Seandainya saat itu saya menyerah, mungkin tidak akan sebahagia ini. Dan ditengah kesulitan, ada kemudahan yang Dia berikan adalah benar adanya. Dengan berbagai “ujian” yang Dia berikan, Alhamdulillah saya berhasil lulus dengan predikat Cumlaude dan menjadi salah satu yang terbaik di Universitas, dan juga berhasil memberikan ASI ekslusif untuk buah hati. Karena bersama kesulitan, selalu ada kemudahan. Selamat memberikan ASI ekslusif. Salam cinta ASI.


Related Post:

Menikah saat Kuliah

4 comments on "Pengalaman Memberikan ASI Ekslusif [ASI VS SKRIPSI]"
  1. Luar biasa perjuangannya Mak, Subhanallah
    \( ö )/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Allah memudahkan Mak :)

      Delete
  2. Alhamdulillah, Allah mudahkan mba ya. Saya juga kmrn melahirkan dan menyusui bayi, tapi harus off :')

    ReplyDelete
  3. Berarti babynya gak minum via puting mbak tapi asih ttp bisa melimpah ya mbak?

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D