My First Minute

| On
January 22, 2015
Kehamilan dan masa menyusui merupakan periode yang sangat ditunggu oleh kaum wanita, Betapa tidak, setiap wanita pasti mendambakan diri menjadi seorang ibu, yakni predikat mulia yang dijanjikan syurga olehNya dan sangat predikat yg sangat dihormati oleh Rasulullah SAW. Wanita memiliki empat moment istimewa dalam hidupnya, yakni haidh, hamil, melahirkan, dan menyusui. Apabila wanita telah melewati empat "peristiwa besar" tersebut, maka lengkaplah sudah dirinya menyandang gelar wanita, istri dan juga seorang ibu.

Kehamilan Pertama
Kehamilan pertama saya justru diketahui ketika memasuki usia 8 minggu atau dua bulan. Kemana saja selama dua bulan? kok ngga kerasa? ya itulah uniknya masa kehamilan. Setiap wanita memiliki keunikan sendiri-sendiri dalam mengarungi masa kehamilannya. Bahkan ada seorang ibu yang mengetahui bahwa dirinya sedang hamil ketika memasuki usia kandungan 6 bulan. Memang hal ini seringkali terjadi, apalagi bila seorang wanita tersebut memiliki kondisi fisik yang cukup kuat dan energik. Ia bisa saja tidak merasakan perubahan yang terjadi dalam tubuhnya, karena memang gejala fisik wanita hamil mirip dengan gejala orang masuk angin atau kecapaian biasa. Namun, tidak sedikit pula wanita yang harus bedrest atau bahkan opname karena tubuhnya lemah. Semua itu bisa saja terjadi. Maka alangkah lebih baik apabila wanita yang sudah menikah memeriksakan diri ke tenaga kesehatan apabila mengalami perubahan kondisi tubuh yang dibarengi terlambat haid. Upaya ini akan memperkecil resiko hal-hal yang tidak kita inginkan. Sehingga janin dan ibu bisa sehat hingga waktunya persalinan.

Detik-detik yang Mendebarkan
Proses kehamilan biasanya berlangsung selama kurang lebih 36 minggu. Apabila janin terlahir kurang dari 36 minggu maka biasanya disebut premature. Penanganan bayi premature biasanya akan lebih intens ketimbang bayi yang lahir dalam waktu normal. Menurut angka taksiran bidan, saya akan menghadapi persalinan pada tanggal 21 Juni 2011. Tetapi alhamdulillah, sang dede bayi ingin lebih cepat menatap dunia, sehingga ia terlahir pada tanggal 12 Juni 2011. Diawali dengan rasa perut  tegang dan mulas kecil selama satu minggu sebelum persalinan. Hingga frekuensi tegang dan mulas semakin banyak sehari sebelum melahirkan. Rasa mulas itu kian sering terjadi hingga akhirnya saya segera pergi ke rumah bersalin bersama suami. Biasanya bidan akan menghitung bukaan yang terjadi pada mulut rahim hingga akhirnya sang ibu diperkenankan untuk mengejan untuk melahirkan. Setibanya saya di rumah bersalin, ternyata bukaan mulut rahim saya sudah bukaan ketiga. Beberapa jam kemudian meningkat menjadi bukaan tujuh dan kemudian sepuluh. Tepat pada jam 11.17 siang  bayi saya terlahir ke dunia. Alhamdulillah. Allah SWT melancarkan proses demi proses yang saya lewati.

My First Breastfeeding
Keajaiban pun dimulai. Menit-menit pertama menyandaang gelar seorang ibu membuat saya bingung harus bagaimana. Mungkin hormon didalam tubuh saya sedang berlomba mendominasi emosi yang harus saya keluarkan. Bahagia, tentu saja. Namun juga ada perasaan "deg-degan" tentang tata cara merawat bayi yang baru lahir. Tak berselang lama setelah persalinan, bidan membawa bayi saya yang sudah ditimbang dan dibersihkan kedalam dekapan dada saya. IMD atau Inisiasi Menyusu Dini adalah hal yang paling menakjubkan. Dimana seorang bayi yang baru lahir bersentuhan skin to skin dengan sang ibu.

Inilah babak baru setelah melahirkan, yakni menyusui. Menyusui adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh seorang ibu, Kenapa saya berkata demikian? karena tidak sedikit ibu yang tidak mau menyusui bayinya. Mereka lebih bangga dan bahagia ketika susu formula masuk kedalam tubuh sang bayi. Karena jujur saja, ASI yang pertama kali keluar dari tubuh ibu itu tidak mengenakan. Rasa sakit, kurang nyaman, pembengkakan pada payudara membuat ibu baru menjadi depresi. Sehingga memilih susu formula sebagai jalan terbaik. Saya sendiri pun menyesal karena pada awal ASI saya belum maksimal, susu formula masuk kedalam tubuh Kifah. Namun, saya tetap berusaha untuk memberikan ASI dengan memerahnya dan dimasukkan kedalam botol susu. Tetapi hal tersebut justru memperparah keadaan, Kifah menjadi bingung puting (tidak mau menyusu langsung). Akhirnya saya pun belajar beberapa cara menyusui dengan browsing di internet. Hal itu semata agar Kifah mau menyusu langsung. Karena kalau tidak Kifah akan terus mengkonsumsi susu formula. Alhamdulillah hal itu tidak terjadi. ASI saya semakin banyak, dan Kifah semakin pintar mencari posisi menyusui. Terima kasih ya Nak, You are my inspire.

Saatnya Pumping!!!
Alhamdulillah ASI saya semakin maksimal, Kifah pun semakin berminat untuk menyusu. Tapi ada tantangan baru yang harus saya hadapi, yakni KULIAH. So, how I can do it? Dengan berbekal semangat dan antusiasme terhadap pemberian ASI ekslusif akhirnya saya browsing sebanyak mungkin tentang ASI. Dan ternyata saya menarik kesimpulan bahwa ASI BISA DISIMPAN. Alhamdulillah, Alloh memberikan jalan. Setelah mendapatkan berbagai informasi akhirnya saya bersiap untuk memerah ASI. Dengan bekal pompa bola merah yang dibeli oleh suami saya, dengan sabar saya terus menampung ASI dan menyimpannya didalam freezer. Alhamdulillah, akhirnya saya mempunyai stok ASI di kulkas. Sehingga saya merasa tenang jika Kifah ditinggal kuliah. Semakin saya sering memerah ASI ternyata ASI saya semakin banyak. Hal itu dikarenakan karena prinsip ASI adalah SUPPLY and DEMAND. Alhasil ASI saya semakin maksimal. Seiring dengan informasi yang saya dapatkan, ternyata pompa ASI bola merah tidak baik untuk memompa ASI. Pompa tersebut hanya bisa digunakan untuk mengeluarkan/membuang ASI, tetapi tidak untuk ditampung. Dari informasi-informasi tersebut lah saya semakin banyak belajar. Alhamdulillah sekarang saya memiliki pompa ASI yang sesuai untuk kebutuhan menampung ASI.

Menjadi Ibu dan Mahasiswa
Setelah memiliki solusi atas masalah pemberian ASI ekslusif untuk Kifah, menjalani rutinitas sebagai seorang ibu dibarengi dengan menjalani kewajiban seorang mahawiswa tetaplah tidak mudah. Waktu kuliah harus disesuaikan dengan waktu menitipkan anak. Alhamdulillah ada ibu mertua yang selalu membantu saya. Hingga beliau pun ridho untuk bergantian mengasuh Kifah selama saya berada diluar rumah. So, kuliah dan kewajiban sebagai ibu tetap bisa dijalani dengan optimal. Begitupun ketika mengerjakan tugas kuliah. hampir sebagian besar tugas dikerjakan tengah malam ketika si kecil terlelap tidur.

So?
Apapun yang kita lakukan, keihlasan dan kesabaran adalah kuncinya. Mudah-mudahan Alloh SWT semakin memudahkan apa-apa yang akan saya jalani. Aamiin.

My First Minute to became a mother is the happiness for all my life time

trims to my husband, parents, family and my lovely son.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D