[Suka Duka Hijabku] Teror Jilbab Aliran Sesat

| On
March 11, 2015
Seorang gadis berceloteh nyinyir tentang jilbab. 'Percuma berjilbab kalau akhlak masih 'sesat', lebih baik tak berjilbab, menghijabkan hati lebih penting dari pada menghijabkan kepala'. Sang ulama menjawab, 'untung saja dia berjilbab, kalau tidak, pasti akhlaknya lebih buruk lagi. Si Gadis tetap nyinyir, 'banyak sekali orang yang tak berjilbab, tapi akhlaknya sudah sangat baik'. Sang ulama menjawab lagi, 'wah, apalagi kalau dia berjilbab, pasti akhlaknya akan lebih baik lagi' Ulama tersebut adalah Buya Hamka. 





Tidak ada alasan untuk tidak berhijab, No Excuse! Berhijab adalah tuntunanNya, berhijab adalah perlindunganNya, behijab adalah bukti cintaNya, berhijab adalah bentuk kasih sayangNya, berhijab adalah cerminan wanita shalihah yang mengabdi pada TuhanNya, dalam bentuk ketaatan atas perintahnya yang dirasa berat bagi sebagian muslimah yang lain.

Berhijab adalah identitas, saya pernah 'kecele' sama orang yang tidak menggunakan hijab, saya kira dia muslim, ternyata dia seorang non-muslim. Langsung pusing deh kepala barbie, salah menyapa orang. Hijab menunjukkan identitas, bagaimana kita harus bersikap terhadap seseorang. Kalau sudah terlihat menutup aurat, kita tak segan menyapa, dan memberikan pertolongan ketika diperlukan, karena kita tahu dia saudara kita sesama muslim. Pun Hijab juga memberikan 'panduan' bagaimana orang lain harus memperlakukan kita. 



Tak Ada Moment Istimewa



Saya suka iri sama temen SMA saya dulu, setiap tanggal 2 Desember mereka selalu memperingati 'HIJAB ANNIVERSARY' yaitu tanggal istimewa, mereka memutuskan berjilbab syar'i dari sebelumnya berjilbab gaul atau tidak berjilbab sama sekali. Tapi saya? saya gak punya tanggal istimewa untuk bikin selebrasi bahwa saya dapat hidayah untuk pakai jilbab.



Saya pakai jilbab dari semenjak masuk Taman Kanak-Kanak. Saya belajar di TK Islam, jadi memang harus pake jilbab setiap hari. Selanjutnya saya masuk SD Islam, SMP Islam yang memang dalam keseharian di sekolah harus pakai jilbab rapih dan syar'i menutup dada. 


"kalian enak yaaa punya Hijab Anniversary.... aku mah ngga"


"Ya gapapa kali, yang penting kita sama-sama sudah nutup aurat"



Oh, begitu bijaknya teman-temanku. Pelukk jauhhh. Tapi dari situ saya menyadari bahwa mendapatkan hidayah untuk berjilbab adalah suatu moment yang sangat berarti dan perlu 'dirayakan' sebagai bentuk rasa syukur. 

Beruntunglah yang memiliki tanggal istimewa untuk merayakan moment hidayah luar biasa ini. Karena saya mah nggak punya.


Bukan Tanpa Godaan

Sudah berjilbab sejak berusia 5 tahun bukannya tanpa hambatan dan godaan. Godaan itu datang SANGAT BESAR ketika saya memasuki usia PUBERITAS, yakni masa-masa SMP. Godaan itu datang dari teman sekolah, teman main di rumah, artis di televisi, lingkungan masyarakat, macem-macem deh pokoknya.

Apa sih godaan terbesarnya? godaan terbesar itu adalah LEPAS JILBAB. 

Pernah mendengar seorang remaja yang rela melepas hijabnya demi pacar? sengaja memperlihatkan auratnya karena permintaan sang pacar? dia rela melakukan itu semua demi pacarnya.

Salah satu godaan usia remaja adalah lingkungan pertemanan. Siapa sih yang gak iri temen-temen udah punya pacar, dan sekalinya punya pacar sang pacar malah minta kita lepas jilbab demi dirinya. Dari pada putus, banyak yang rela menanggalkan keimanan itu.


"Emang lho mau gak punya pacar? Kalo mau pacar harus gaya dikit dong, pake jilbab terus"

"Ya pake jilbab nya di sekolah aja kali, di rumah mah ngga usah"


Omongan seperti itu yang bikin saya suka GALAU. Namanya juga ABG.


Pernah suatu hari saya nekat keluar rumah gak pake jilbab, cuman pake celana panjang dan kaos aja. Sampe ada tetangga yang nanya, "kok tumben banget gak pake jilbab?" saya tetep jalan dan gak jawab apa-apa.

Sepanjang perjalanan saya merasa takut , gak nyaman, panas dingin, saking gak terbiasa. Udah gitu di jalan digodain tukang ojeg, digodain anak laki-laki, dan rasanyaaa itu ternyata GAK ENAK. Di jalan saya pengen nangis, pengen buru-buru pulang, pengen pake jilbab lagi.


"MAAAMMAAAHHHHHH"



Dikira Aliran Sesat

Godaan untuk lepas jilbab ternyata gak sampai situ, setelah lulus SMP dan  melalui masa-masa sulit karena godaan lepas jilbab untuk bisa dianggap anak gaul sama temen-temen akhinya ujian itu hadir kembali. Di masa SMA, godaan itu pun datang lagi.

Jadi, ceritanya di sekolah saya ada siswa yang diculik, katanya sih ikut pengajian dan akhirnya dipaksa masuk oleh aliran/ajaran tertentu, karena menolak siswa itu diculik, dan akhirnya sekolah jadi geger. Guru dan kepala sekolah merasa kecolongan, ada aliran yang dianggap sesat itu bisa masuk ke sekolah. Dan, sejak saat itu lah siswa-siswa JILBABER merasa diawasi gerak-geriknya. Takutnya kita menjadi sasaran penculikan ajaran sesat tersebut. Sampai-sampai, ada siswa yang diantar jemput oleh orang tua setiap hari, bahkan diantar jemput oleh guru-guru di sekolah.

Tentunya saya pribadi sangat tidak nyaman merasa dicurigai oleh sekolah, setiap kita melakukan kajian di masjid sekolah pasti kecurigaan pihak sekolah makin menjadi, padahal kita ngaji biasa, kita taklim biasa, gak ikut-ikutan aliran apapun. Imbas kejadian itu ternyata masih menerpa para jilbaber di sekolah, bikin gak nyaman, dan takut dituduh ikutan aliran sesat.

Aduh, apa harus pake jilbab pendek banget aja gitu ya? atau lepas jilbab sekalian. Lagi-lagi, inilah godaan.



Disangka Teroris 

Kejadian ini waktu saya kuliah, ketika saya jalan-jalan di sebuah Mall besar di Jakarta. Sebelumnya ada kejadian bom bunuh diri di sebuah hotel mewah di daerah Jakarta juga, dan diduga kuat pelaku pengeboman adalah jaringan terorisme Indonesia.

Setiap beritanya muncul di televisi, ada sesi dimana istri sang pelaku pengeboman diwawancara. Dan penampakan istri dari 'terduga teroris' tersebut selalu memakai jilbab panjang nan lebar, memakai baju yang juga tidak kalah besar dengan warna gelap, tidak mencolok.


Opini masyarakat pada waktu itu adalah wanita yang berjilbab panjang dan lebar selalu terkait dengan aksi terorisme. Padahal boro-boro jadi teroris pelaku bom bunuh diri, maen petasan aja saya nggak berani. Dan akhirnya Islam di cap sebagai agama teroris. Disini kadang saya merasa sedih.

Waktu jalan-jalan di Mall, awalnya saya biasa saja, aman dan nyaman. Tapi lama-lam saya curiga sama satpam yang ada di Mall, "kok dari tadi tuh satpam ngebuntutin saya?" bukan cuman satu, tapi beberapa orang satpam seperti sedang berkoordinasi untuk mengamati gerak-gerik saya. Please deh pak satpam, I'm not a terrorist. 

Merasa terus dibuntutin satpam yang sambil terus koordinasi sama temen-temennya lewat HT, saya pun menutuskan keluar dari Mall. Ya gak enak lah, dari pertama masuk dibuntutin terus, berasa tampang saya ini kriminil banget. Owalah, saya gak mau masuk Mall itu lagi!


Belajar Istiqomah

Dari situ saya banyak belajar, yang namanya menjalankan ibadah itu selalu melalui banyak godaan. Karena memang pintu surga itu ditutupi oleh ujian-ujian dan ketidaksenangan. Dari situ juga saya banyak belajar tentang arti bersabar dalam beribadah. Dengan berjilbab, cara berpakaian, menggunakan mode fashion, mengikuti tren, memang dibatasi. Walaupun sekarang tren fashion hijab tidak kalah bersaing dengan fashion pada umumnya. Disitu saya harus belajar sabar menahan godaan, lagi dan lagi. Menahan dari segala hal yang berlebihan (israf) dalam berbelanja keperluan fashion, menahan berpakaian menyerupai laki-laki, menahan berpakaian yang tipis dan mengikuti bentuk tubuh (tidak syar'i), dan godaan-godaan lainnya.

Istiqomah dalam menutup aurat memang harus terus diperjuangkan dan dijaga sebaik mungkin, seperti, setelah saya memutuskan untuk berhijab, harus konsisten berhijab baik di rumah, di tempat kerja, bertemu tetangga, bertemu teman, harus tetap tutup aurat. Begitu juga di dunia maya, saya harus menahan godaan memposting foto yang sekiranya memperlihatkan aurat.

Semua suka duka yang saya alami adalah nikmat dan karunia, hidayah yang diberikan Allah ini harus dijaga sebaik-baiknya, karena saya berkeyakinan bahwa hidayah yang tidak dijaga dan disyukuri, dengan mudah Allah akan mengambilnya kembali.









Semoga bermanfaat :)






Artikel ini diikutsertakan  dalam "Hijab Syar'i Story Giveaway" 








11 comments on "[Suka Duka Hijabku] Teror Jilbab Aliran Sesat"
  1. Begitu byk godaan yg membuat ragu kita utk berhijab ya Mbakk.. Smga ttp istiqomah dgn hijab yg kita sandang kini..

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Aaminn, Makasih do'anya Mbak Kania :)

      Delete
  3. Saia juga merasa hijab menjadi pelindung muslimah dari marabahaya, semoga qta istiqomah berhijab :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga kita istiqomah terus di jalanNya :)

      Delete
  4. beban memakai hijab yg saya lakoni adalah terus menjaga prilaku yang baik. Jangan sampe orang menilai,,kok berjilbab, kelakukan buruk, bahkan lebih burukdari yg tidak berjilbab...semoga terus istiqomah ya mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin Mbak, ya mungkin itulah cara Allah 'mendidik' hambaNya :)

      Delete
  5. Aku termasuk telat berhijab, setelah menikah baru pake...alhamdulillah sudah 17 tahun pake. Semoga kita bisa istiqomah...ya teteh :D

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D