Orang Tua Instan

| On
June 10, 2015
tentang tumbuh kembang anak
Kifah dan Teteh Zitta

"Tempat bermain, berteman banyak, itulah taman kami, taman kanak-kanak"
-Penggalan lagu Taman Kanak-Kanak-


Suatu hari di sebuah PAUD.

Ibu A mengeluh:

"Aduh gimana sih, anak saya belum bisa baca. Sekolah disini kok belum bisa baca. Di sekolah lain, anak-anaknya udah pada bisa baca umur segini"


Ibu B pun mengeluh:

"Anak saya pemalu, gak mau ikut baris sama anak-anak lain, katanya gurunya lulusan psikologi, kok gak bisa ngebujuk anak saya"

Ibu C tidak mau ketinggalan ngeluh:

"Anak saya gak mau ditinggal. Ibunya harus ikut ke dalam kelas. Beda banget sama kakaknya dulu. Mending di sekolah X. Disana mah gurunya bisa maksa anak buat mandiri, malah sampe nangis jerit-jerit pun gak apa-apa, anak gak boleh ditemani orang tua"


Itulah sekelumit keluhan para ibu yang riweuh nganter anaknya ke PAUD. Banyak yang mengeluh karena anaknya tidak mandiri, pemalu, tidak bisa baca, dan lain sebagainya.

Dan inti sari keluhan mereka adalah "menyalahkan institusi sekolah"



Memang saya belum mengalami sendiri, apa yang membuat para ibu ini 'gemas' dengan anak mereka. Toh anak saya baru mau masuk TK tahun ini.

Iya, memang. Dan mungkin suatu saat saya juga bisa mengalami hal yang sama. Peluang itu pasti ada.

Tapi, satu hal yang saya tangkap dari 'keluhan-keluhan' ini adalah suatu bentuk ketidaksabaran orang tua terhadap anak. Dan kemudian mengkambing hitamkan institusi sekolah termasuk guru-gurunya.

-------

Sejauh pemahaman saya, institusi sekolah memang merupakan sebuah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan bagi masyarakat. 

Pendidikan yang dilaksanankan tentunya dari berbagai aspek, yakni kognitif (pengetahuan), afektif (tingkah laku/karakter), dan psikomotorik (olah tubuh). Sekolah memang wajib mengcover tiga komponen pendidikan ini secara proporsional.

Jika anak belum bisa membaca, otomatis kecerdasan kognitifnya perlu diasah lagi. Dan jika anak belum mandiri, berarti kecerdasan afektifnya perlu disentuh kembali.

Apakah ini berarti sekolah telah melakukan kesalahan? Karena tidak bisa mencukupi kebutuhan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak?

Menurut saya, belum tentu. 

"kekurangan" yang terjadi pada anak, tidak serta merta kesalahan institusi sekolah. Mari kita ingat-ingat lagi, tanggung jawab siapa saja kah pendidikan ini.

Pendidikan Informal

Pendidikan informal adalah pendidikan yang ada pada keluarga. Pendidikan ini tentunya dimulai dari interaksi pertama seorang manusia, yakni interaksi bersama keluarga. 

Pendidikan informal tentunya berperan dalam proses pendidikan bagi seseorang.

Pendidikan Non Formal

Pendidikan non formal adalah pendidikan di luar institusi sekolah, walaupun pada prakteknya bisa dinaungi oleh sebuah lembaga. Pendidikan non formal ada di masyarakat. Tidak mengeluarkan ijazah, tetapi biasanya mengeluarkan surat keterangan berupa sertifikat.

Pendidikan Formal

Pendidikan formal ini lah yang biasa kita panggil sekolah. Pendidikan formal di Indonesia sendiri adalah 6-3-3. Sehingga kurun waktu sekolah dasar hingga sekolah menengah atas kurang lebih 12 tahun. 


Kembali lagi kepada keluhan ibu-ibu di PAUD.

Oke. Sekarang kita sudah sama-sama mengetahui bahwa ada tiga pendidikan pokok yang disiapkan untuk kebutuhan manusia dalam perkembangan hidupnya.

Untuk kehidupan anak TK/PAUD, usia 3-5 tahun, kita bisa skip pendidikan non formalnya ya. (Meskipun pada prakteknya ada juga balita yang ikut pendidikan non formal seperti les bahasa, les olah tubuh, dan lainnya). Tapi secara umum pendidikan anak usia 3-5 tahun akan menerima pendidikan formal dan informal.

Pertama. Orang tua masih sangat bertanggung jawab terhadap pendidikan anak. Sekalipun anak disekolahkan di luar rumah melalui pendidikan formal, "kekurangan" yang terjadi pada anak tidak boleh serta merta diberikan kepada sekolah. Rasanya sangat tidak fair

Kedua. Sekolah bukan institusi yang bisa menyulap manusia. Walaupun pada hakikatnya belajar adalah perubahan prilaku, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak terampil menjadi terampil, dari tidak tahu menjadi tahu. 

Proses belajar (perubahan tingkah laku) tersebut tidak bisa serta merta instan begitu saja. Mengingat seorang manusia memiliki 8 kecerdasan yang berbeda. Mengakomodir berbagai kecerdasan dan kebutuhan manusia bukanlah perkara yang mudah. 

(Dosen saya sering menyebutnya "black box" karena memang perubahan manusia tidak dapat terlihat dan terdeteksi secara langsung oleh mata)

Ketiga. Pada hakikatnya belajar adalah sebuah proses. Sebuah proses membutuhkan waktu, dan setiap orang memerlukan waktu yang berbeda-beda. 


Sekolah bukan tempat untuk anak instan membaca, instan berhitung, instan menulis, instan berani, instan mandiri, dan instan-instan lainnya. Sekolah adalah institusi yang berfungi untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan di masyarakat nanti. Oleh karena itu, semuanya butuh proses!

-----------

Anak saya memang masih kecil, masih jauh untuk menempuh pendidikan formal 'yang sesungguhnya'. Bisa saja suatu saat saya ikutan 'desperate' seperti ibu-ibu yang saya ceritakan di atas.

Postingan ini benar-benar jadi self reminder buat saya. Agar tidak menjadi orang tua yang maunya cepat saja. Tidak menikmati proses perkembangan anak sendiri. 

Saya jadi teringat postingan Mak Ika Puspitasari tentang dirinya yang memilih untuk memotivasi anak ketimbang mengomelinya karena nilainya yang 'tidak standar'. Dan ternyata, menerima segala 'kekurangan' anak dan kemudian memberikan penerimaan atas apa yang telah anak raih malah memiliki efek yang sangat baik. 


Karena sesungguhnya, yang anak perlukan adalah tuntunan, bukan tuntutan dari orang tua instan.

8 comments on "Orang Tua Instan"
  1. anak kecil itu perlu waktu ya mba, perlu proses...namanya juga anak-anak...dipaksa2pun malah jadi gak baik...
    cerita ini mirip kayak ponakanku, dulu pas mau masuk SD dy blm lancar baca blm lancar berhitung...dilesin juga ngeyel gmw, ibunya gak maksa tapi sedih...dan sekarang sudah kelas 3 SD selalu juara kelas, karena dia sadar sendiri owh ternyata kalau nilainya jelek tuh gini toh rasanya gitu toh rasanya...sampai selalu bilang ma ibunya, "pokoknya aku kudu bisa bu kudu rangking 1, aku mau naik panggung kalau juara kelas" hahaha...

    ReplyDelete
  2. Iya, anak kalau dituntut malah ngeyel keknya, Tapi kalau dituntun, dan orang tuanya menikmati proses, anak sadar sendiri malah lebih keren efeknya ya. Salam buat ponakannya yang juara kelas, hebat!

    ReplyDelete
  3. Bener bgt mak. Semakin di tuntut ini itu semakin ngeyel *jadi inget masa ababil kemaren:p*

    ReplyDelete
  4. Iya harusnya gak usah dipaksa tapi pelan-pelan aja, namanya anak-anak masih seneng main-main daripada belajar, jadi selipin belajarnya sambil bermain, apalagi anak-anak daya tangkapnya cepet, mungkin gak langsung bisa tapi paling tidak sedikit-sedikit mulai mengenal

    ReplyDelete
  5. Aku suka nonton acara tv Korea, The Superman Return dimana anak-anak jadi pusatnya. Selama setahun nonton jadi sadar bahwa anak-anak butuh proses untuk menjadi lebih aktif, lebih berani sosial, lebih berani sama binatang, dll. Padahal pas tahun sebelumnya saya nonton, anak-anaknya masih penakut, suka nangis kalo ketemu orang, gak berani pegang binatang, dll.

    Semoga saat aku diberikan kesempatan menjadi orang tua, bukannya tidak sabar justru malah menikmati proses tumbuh kembang anak yaaa :)

    ReplyDelete
  6. Kebanyakan yang mengeluh itu pastinya dirumah juga tidak sabar menghadapi anaknya padahal anak pun akan banyak belajar dari orang tua. Jika hanya sekedar dikeluhkan, tidak akan ada perubahan. Setidaknya daripada "bicara" di belakang sebaiknya didiskusikan dengan tenaga pengajar misalnya.

    ReplyDelete
  7. hikz...stok sabar itu memang perlu ya mbak... :") biar tetep kuat menstimulasi dalam proses tumbuh kembang anak...
    semangaaaaaaaaaaatttttt *nyemangati bareng2

    ReplyDelete
  8. Weh...baru bisa komen disini, makasih apresiasinya lho mak Tetty....masih terus belajar bagaimana menjadi orangtua yang baik..

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D