Farewell Party

| On
December 24, 2015


Dua tahun jadi keluarga ‘kontraktor’ bikin saya banyak belajar. Belajar suka, belajar duka, belajar sabar, belajar empati, belajar husnudzon, pokoknya banyakkkk.

Semenjak suami pindah kerja ke Bogor, otomatis kami semua hijrah bersama. Walau pernah selama enam bulan kami(saya dan suami) LDR-an Bandung Bogor. Tapi sekarang kami sudah tinggal bareng lagi, dan sedang persiapan pindah ke tempat lain yang masih di kawasan Bogor dan dekat dengan kantor suami di Cibinong.

Namanya pindah-pindah (setiap tahun, selama dua kali) saya punya beberapa pengalaman, terutama seputaran bertetangga. Ada tetangga yang ramah banget waktu kami datang ‘menghuni’ wilayahnya, ada juga yang agak kurang welcome (pada awalnya) tapi kesininya justru minta kami jangan pindah dan tinggal aja di sini. Haha.

Tahun pertama suami pindah ke Bogor, kami tinggal di daerah Parung selama satu tahun. Kemudian tahun kedua pindah ke daerah Bojong Gede dekat perkantoran pemerintahan kabupaten Bogor.


Dua wilayah yang pernah kami tempati sama-sama punya cerita khusus.
Tahun pertama Kifah masih 3 tahun, dan masih suka nangis tengah malem. Tetangga yang belum biasa denger tangisan Kifah langsung jadi horor. Ada yang ke rumah bawa kacang ijo, ada juga yang bawa air putih yang katanya air do’a. Mereka semua khawatir kalau Kifah jerit-jerit karena ada yang ganggu. Maklum, rumah yang kami tempatin waktu itu sempet kosong agak lama.

Saya sama Abbiy sih biasa aja nanggepinnya, tapi rada tegang juga. Tapi di satu sisi kami berterima kasih, tetangga-tetangga punya perhatian lebih, walaupun agak sedikit bikin horor.

Dari situ kami pertama kali belajar bahwa bertetangga itu unik. Harus bisa membawa diri, bahkan di saat menghadapi hal-hal yang kita anggap kurang rasional (contoh: tetangga nabur-nabur kacang ijo di depan rumah T____T) , kami harus tetep bisa kaleeuummm.

Tahun kedua, kami pindah ke daerah lain.

Awalnya kami takut gak betah, karena satu tahun pertama sudah merasa nyaman. Apalagi sudah ketemu tetangga yang klop, jadi takutnya di tempat baru malah gak kerasan.

Di lingkungan yang baru pun sama, ada yang welcome atas kedatangan kami, dan ada juga yang kurang greget. Ya udah pengalaman lah waktu setahun kemarin, jadi kami merasa lebih santai.

Langkah pertama kami hampir sama seperti tahun sebelumnya, yaitu silaturahmi ke rumah Pak RT. Dan enaknya rumah Pak RT tepat di seberang rumah, jadi waktu itu sempet lucu sendiri. Nanyain rumah Pak RT ke orang lain, padahal rumah Pak RT-nya ada di seberang mata sendiri. Untung aja gak nanya langsung ke rumahnya ya,

“Pak tahu rumah Pak RT?”
“Loh, saya ini RT-nya”.

Pasti malu banget kalau kejadian begini. Untung aja gak terjadi. Bisa langsung pindah lagi cari tempat baru.

Baca juga tentang Tips Menjadi Warga Baru ya.

Selama setahun di sana alhamdulillah, tidak ada kendala yang berarti saat bertetangga. Mungkin ada beberapa waktu diawal-awal, tapi selanjutnya lancar-lancar aja. Kifah juga punya banyak temen, dan sekolah PAUD.

Intinya cuman satu sih, kita harus jaga komunikasi dengan baik. Jangan sampai diem aja kalau ada apa-apa, tetangga kan saudara terdekat kita saat ada sesuatu yang terjadi.

Yang bikin saya seneng adalah tetangga yang gak suka basa-basi, dan selalu terbuka kalau ada masalah di lingkungan. Dan kalau ada kegiatan apapun gak sungkan untuk ngajak saya untuk berpartisipasi, padahal saya sendiri kan warga baru yang masih malu-malu.

Sampai akhirnya di bulan Agustus kemarin saya ikutan lomba bareng dalam rangka HUT RI. Kita semua jadi tambah deket satu sama lain.


Kifah dapet Door Prize tempat minum lucu waktu perayaan HUT RI 
di lingkungan RT-RW

Kemudian mereka semua (tetangga-tetangga) membuat saya terharu kemarin, saat saya pamit untuk pindah. Mereka semua bikin farewell party untuk saya.

Saya tersentuh.

Jadi mereka berinisiatif untuk makan siang bareng, kita patungan masak. Menunya sih sederhana, nasi putih, sayur asem, lalapan, tempe, tahu, sambel, ikan asin, kerupuk, ya pokoknya makanan rumahan yang saya suka.

Kita semua ngobrol-ngobrol dan nanya-nanya seputar kepindahan saya dan berdo’a bersama supaya saya sekeluarga betah di tempat baru nanti.

*tuh kan cirambai* *BRB cari tisuuee*

Mereka juga tahu kalau saya sedang hamil, pesan mereka supaya dikabarin kalau saya sudah melahirkan dan Insya Allah mereka akan jenguk saya rame-rame.

Terharu banget rasanya ‘diakui’ menjadi bagian dari mereka, dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka selama ini.

Dan Farewell Party ini membuat saya yakin bahwa kemanapun kita pergi, selama kita berbuat baik, pasti Allah akan menghadirkan orang-orang baik disekeliling kita.

Selain Farewell Party di rumah, besoknya di sekolah Kifah ada pembagian Raport PAUD, dan saya pun ‘dilepas’ dengan farewell party oleh para orang tua murid dan guru-guru di PAUD. Sama seperti waktu di rumah, kami semua makan bareng setelah pembagian raport, dan Kifah dikasih kejutan hadiah sebagai kenang-kenangan.

Kifah juga hampir nangis karena terharu, tapi karena dia megang hadiah kenang-kenangan nangisnya gak jadi. Hahaha.



Saya hanya ingin bilang, terima kasih untuk tetangga saya, teman-teman Kifah dan juga orang tuanya yang meluangkan waktu untuk melakukan ‘perpisahan’ untuk saya sekeluarga.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan yang telah dilakukan.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan keluarga kami dua tahun ini, semoga Allah mempertemukan kita kembali.

Aamiinnn





2 comments on "Farewell Party"
  1. berarti mba Tetty orang baiiik, Kiffah juga. semoga kerasan ya di tempat baru nanti :)

    ReplyDelete
  2. Aamiin, semoga semuanya bisa adaptasi di lingkungan baru, ya? :) BTW, sudah follow blognya.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D