Mommy Diary: Generasi Sinetron Generasi Cepet Tua

| On
December 22, 2015


“Astaga! Kamu hamil!”

Jangan kaget ya, itu petikan dialog anak-anak waktu main di rumah saya.

Jadi, ceritanya Kifah dan teman-temannya lagi main di rumah. Seperti biasa, anak-anak tetangga ikut main ke rumah. Dan teuteup, Kifah yang paling kecil, yang paling besar usia kelas dua sekolah dasar.

Suatu hari mereka main di lantai bawah, beberapa anak perempuan dan anak laki-laki. Saya sendiri anteng ngerjain kerjaan saya pakai laptop di lantai atas.

Tiba-tiba terdengar suara,

“Astaga! Kamu hamil! Ayo cepet kita ke dokter, suami kamu mana?”

GEDUBRAAAKKK.

Konsentrasi saya buyar seketika, itu siapa itu yang ngomong, saya langsung turun ke bawah lewat tangga. Ternyata anak-anak sedang main drama-drama-an.

Sebut saja namanya R. Dia adalah anak perempuan yang paling besar, usianya sudah 8 tahun. Dan ternyata R lah yang ngomong-ngomong hamil.

“Ayo kamu aja jadi Papahnya,” tunjuk R ke salah satu anak laki-laki yang ikut main bareng.
“Gak mau ah, gak mau.” Jawab si anak laki-laki sambil kelihatan marah.
“Kifah mau jadi siapa?” Nah loh si Kifah ditanya.

Kifah diem aja, gak ada jawaban. Tebakan saya sih, Kifah mah bingung, itu mereka lagi main apaan.

“Aku jadi Bapak pengirim paket aja.” Kata Kifah. Duh gak nyambung banget. Oh mungkin dia sering lihat emaknya nerima paket di rumah, jadinya dia kepingin jadi kurir paket. Hahaha.

Si R masih kelihatan bingung, kok gak ada yang mau jadi pemeran papah dalam ‘drama-nya’. Akhirnya, anak perempuan yang berusia 5 tahun, sebut saja namanya D dijadikan pemeran ibu yang tengah hamil. Kain dan boneka diuwel-uwel, dimasukkan ke dalam bajunya. Ukuran perutnya persis ibu hamil usia 9 bulan yang siap pergi ke bidan.

Si Ibu hamil tadi kemudian diminta sakit perut (mungkin maksudnya kontraksi ya -____-) oleh si R, kemudian mereka pergi ke rumah sakit bersama-sama. Anaknya pun lahir, drama selesai dengan kisah si jabang bayi yang tak punya ayah.

Sekilas tampak lucu memang, anak kecil bermain anjang-anjangan alias drama-drama-an. Tapi kalau dipikir lagi, mereka masih kecil banget untuk bikin drama yang adegannya ‘dewasa’ banget.

Kalau anak kecil main dokter-dokteran kan paling pakai boneka, trus dia jadi dokternya. Tapi ini bermain sebagai ibu hamil yang sedang melahirkan. Kemudian dialog-dialog yang mereka pakai terdengar dewasa melebihi usia mereka.

Saya jadi mikir, duh jangan-jangan nih anak demen nonton sinetron.

Tahu lah, di satu stasiun TV itu tiap siang atau sore suka ada sinetron yang katanya religi, tapi isinya ya gitu. Hamil, cerai, KDRT, poligami, pokoknya isu rumah tangga yang bisa bikin gregetan.

Saya jarang banget nonton TV di rumah. Meskipun ada TV, intensitas nonton bisa dihitung jari perbulannya. Apalagi kalau liat sinetron ‘religi’ begitu, bawaannya pengen belanja aja ke supermarket *haaa gak nyambung ya jek* tapi intinya saya gak suka. Ceritanya suka lebay dan pemainnya itu-itu mulu.

Si R tadi sukses bikin saya inget adegan sinetron yang geuleuh-geuleuh. Apalagi bagian ibu hamil yang kontraksi tiba-tiba trus anaknya berojol gitu aja dengan postur tubuh yang udah gede banget. Gak rasional banget.

Karena penasaran, saya tanya ke tetangga sebelah.

“Bu, kalau si R main di sini, suka main apa aja? Kok dialog dia suka dewasa-dewasa gitu ya.”
“Oh iya, dia mah ketu, kecil-kecil tua. Hahaha. Omongannya emang dewasa banget dari kecil.”

Jleb. Pantesan.

Sejak saat itu saya agak khawatir kalau dia main ke rumah dan main drama-drama-an lagi. Apalagi Kifah lagi aktif-aktifnya nyerap kosa kata baru.

Dan memang ya, kalau saya amati, ibunya itu full time mommy yang hobi nonton TV, mungkin salah satunya sinetron. Akhirnya anaknya juga ikut-ikutan nonton. Selain itu, keluarga mereka juga penggemar musik dangdut masa kini.

Tahu lah musik dangdut sekarang liriknya gimana? Selingkuhan, hamil tiga bulan, malah bikin pusing kalo didengerin.

Sekali lagi ya, saya bukan ahli parenting. Saya cuman orang tua biasa yang kebetulan mendapatkan kesempatan mengamati anak saya di rumah, termasuk mengamati teman-temannya.

Baru-baru ini juga di media sosial ada sebuah gambar viral seorang anak yang meminta presiden untuk menyelamatkan generasi mereka dari sinetron.

Ya saya mengerti sekarang, orang tuanya pasti resah. Karena ketika kita sudah memproteksi anak kita dengan membatasi tontonan di TV, tetapi kita tetap tidak bisa memproteksi teman-teman anak kita dari pengaruh sinetron. Buktinya, walau Kifah gak pernah nonton sinetron, tapi temennya ada yang sinetronholic, sayanya juga jadi was-was.

Beneran deh, waktu kecil saya juga pernah nonton sinetron yang gak beres-beres episodenya itu tuh. Haha. Ya emang bener, kita jadi tahu ‘konten dewasa’ ketika nonton sinetron. Apalagi kalau sekeluarga suka nonton, pasti anak-anak juga nimbrung buat ikutan.

Yes. Saya setuju banget Pak Presiden, kalau anak Indonesia harus dilindungi dari tontonan yang TIDAK BERKUALITAS. Kasihan Pak, anak-anak kecil sekarang jadi generasi sinetron, yakni generasi yang cepet tua alias dewasa sebelum waktunya.

*BRB masukin TV ke kardus*


Ada tanggapan? 
7 comments on "Mommy Diary: Generasi Sinetron Generasi Cepet Tua"
  1. Kalo aku ga suka sinetron...palingan nonton acara kayak Khazanah Pagi, Ragam Indonesia dan berita. kalo anak-anak mah kartun Kancil, Upin Ipin...lain itu nggak boleh nonton *kekepin remote :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, yg buat anak variannya kurang beud ya..

      Delete
  2. Sekarang memang kita miskin tayangan buat anak-anak,jadi gitu deh.

    ReplyDelete
  3. jarang nonton sinetron...tapi dengerin aja.lho hahaha

    ReplyDelete
  4. Aku juga ga suka nonton sinetron, apalagi kalau udah ada adegan atau dialog lebay yang ga mendidik. Ampu deh.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D