Bincang Bersama Majalah Ummi: Rahasia Tetap Eksis di Era Media Digital

| On
March 31, 2017
Majalah Ummi, dengan tag line "Identitas Wanita Islami" 

Sebelum gencarnya perkembangan media informasi dan komunikasi yang sangat massive seperti sekarang ini, keperluan akan informasi diperoleh melalui berbagai media cetak seperti koran, tabloid dan juga majalah.

Ingat sekali waktu zaman sekolah dulu, setiap jalan kaki untuk menuju ke sekolah, aku harus melewati sebuah toko majalah, koran, dan tabloid yang ada di emperan jalan. Warna-warni tabloid dan majalah yang bergerak tertiup angin seperti memanggil untuk dibeli.

Dengan uang saku sekolah yang bisa dibilang pas-pasan, setiap minggu aku selalu mengalokasikan untuk membeli macam-macam majalah atau tabloid.

Aku sendiri gak terlalu fanatik memilih majalah atau tabloid, bahkan kadang tergantung harga atau hadiah yang seringkali ada disetiap edisi. Seperti pouch cantik, cerpen, dan lain-lain. Ketahuan deh ya motif beli majalah karena tergiur gratisannya. Hehehe.


Tapi, semua itu terjadi diantara tahun 2003-2005 dimana internet tidak meledak seperti sekarang. 

Dan aku pun sempat berpikir. Masih ada gitu yang baca koran dan majalah zaman ini? Masih ada yang mau beli kah? Sementara informasi via gadget mudah sekali diakses. Masihkah ada media cetak yang bertahan? Atau hampir semua gulung tikar dan beralih ke media daring?


Lintasan pikiran itu lah muncul ketika aku melangkahkan kaki ke kantor redaksi Majalah Ummi di Jalan Mede No. 42 A Utan Kayu Utara Matraman Jakarta Selatan.

Bangunan yang berdiri kokoh itu masih sepi saat aku dan anggota Komunitas Blogger Muslimah Indonesia hadir untuk berdiskusi mengenai seluk beluk pembuatan media cetak yang sudah berdiri sejak tahun 1989 itu.

Bangunan yang terdiri dari dua lantai itu memang terlihat sepi karyawan, saat berdiskusi dan sharing bersama redaksi Ummi pun, Mbak Meutia Geumala menjelaskan bahwa memang sejak gempuran media digital, karyawan Ummi mengalami “penyesuaian” terhadap pemasukan perusahaan.

Hmm, dalam hati ikut komentar.

“Tuh kan, media online pasti jadi “masalah” yang sangat berarti bagi sebuah perusahaan media cetak.”

Sambil berbincang santai dengan redaksi majalah Ummi, kami dari Blogger Muslimah juga antusias untuk bertanya tentang seluk beluk dalam bisnis media cetak. Semuanya aku rangkum dalam tanya jawab berikut ini yaaa.

1. Bagaimana Majalah Ummi bertahan di era media digital dan internet seperti sekarang ini?
Majalah Ummi mengakui bahwa terjadi penurunan oplah yang cukup signifikan saat sekarang ini. Tapi Majalah Ummi alhamdulillah masih bisa bertahan hingga sekarang, selama 28 tahun, karena loyalitas pembaca Majalah Ummi.  Semangat untuk berdakwah lewat media juga terus membara di redaksi Majalah Ummi.

Selain itu, majalah Ummi juga memiliki konten yang baik, memuat nilai Islam yang integral dari berbagai nara sumber yang kredibel, sehingga Majalah Ummi masih menjadi sumber rujukan ilmu dan informasi bagi para pembacanya.

2. Apakah Ummi membuat media On Line?
Ya, namanya ummi-online. Yang bisa diakses di ummi-online.com

3. Apa bedanya Ummi Online dan Majalah Ummi?
Jika majalah Ummi terbit tiap bulan dengan versi cetak, Ummi Online diupdate setiap hari secara terus menerus. Konten Majalah Ummi cenderung panjang dan mendalam, sedangkan Ummi Online singkat dan membahas keseharian yang ringan-ringan saja.

4. Bagaimana Majalah Ummi menangkap tema yang  Up to Date untuk diangkat di majalah setiap bulannya?
Sebagai redaksi Ummi, kami memang dituntut untuk bisa membaca apa yang sekiranya akan hits bulan depan dan bulan-bulan mendatang.  Dan untuk itu biasanya diadakan rapat redaksi.

5. Bagaimana Majalah Ummi menulis naskah untuk tayang di Majalah Ummi?
Biasanya tema setiap bulan itu dirapatkan melalui rapat keredaksian, kemudian dipecah agar sesuai dengan rubrik namun tetap memiliki benang merah yang sama. Naskah Majalah Ummi juga ada yang berasal dari luar, tidak semua dari redaksi. Redaksi hanya menyeleksi yang relevan dan menyempurnakannya.

Majalah Ummi yang siap beredar ke seluruh penjuru tanah air

6. Naskah dari luar yang seperti apa yang diterima oleh Majalah Ummi?
Tentunya naskah yang sudah baik dan tidak perlu banyak editing, hehehe. Tapi tenang saja, editornya baik kok, menerima semua jenis tulisan. Biasanya, tulisan yang dikirim ke redaksi Majalah Ummi berupa tulisan nuansa wanita, cerpen, cerbung, kolom ayah dll.

7. Rubrik apa saja yang paling memberikan peluang menerima naskah dari luar?
Saat ini yang masih sangat jarang adalah cerbung dan juga tulisan tentang travelling. (ayo ayo, kesempatan ini buat eksis di majalah Ummi)

8. Bagaimana Majalah Ummi menentukan model untuk cover Majalah Ummi dan proses pemotretannya?

Untuk cover ditentukan pada rapat keredaksian, kemudian mencari public figure atau tokoh yang relevan dengan tema yang akan diangkat. Biasanya, cover Majalah Ummi adalah artis atau tokoh yang menginspirasi.

Untuk artis sendiri, dipilih yang memang memiliki profil yang baik, tidak terlibat gosip atau kasus yang buruk. Pemotretan sendiri dilakukan di kediaman artis atau tokoh tersebut dengan mengerahkan tim fotografi dari Majalah Ummi.

9. Bagaimana cara mengelola Ummi Online yang memiliki jutaan followers agar tetap Up to Date?

Facebook Fanpage Ummi sendiri sudah mencapai lebih dari satu juta likers dan web site ummi online memiliki 1 sampai 1,5 juta Page View setiap bulannya. Update artikel terbaru dilakukan setiap 30 menit sekali setiap hari.

10. Apakah Ummi Online menerima penulis dari luar?

Ya, menerima. Caranya bisa mengirim naskah ke sahabat.ummi@gmail.com

Tulisan minimal terdiri dari 5 paragraf  dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Temanya bebas, bisa berhubungan dengan keseharian atau yang lainnya.

11. Bagaimana tips membuat konten viral?
Saat ini memang tulisan di Ummi Online bisa dibaca dan dishare ribuan kali oleh netizen. Bahkan kadang jumlah share lebih banyak ketimbang jumlah view. Entah ada fenomena apa gerangan.

Cara menulis konten agar bisa viral atau dishare banyak orang diantaranya adalah:

-Tulislah hal atau tema yang sedang in dan up to date.

-Tulis judul yang menarik untuk dibaca, bisa dengan menggunakan angka, misalkan: 7 Ciri Istri Salehah, 11 Ibadah Sunnah Bernilai Pahala Luar Biasa

-Judul juga harus spesifik, langsung kepada inti tulisan.

-Judul artikel cenderung lebih panjang. Berbeda dengan judul yang dimuat di media cetak yang biasanya lebih singkat.

-Tema yang ditulis dekat dengan keseharian.

-Isi artikel tidak terlalu panjang maupun terlalu pendek, karena pengguna smartphone pun sulit untuk membaca artikel yang terlalu panjang. 

....

Setelah hampir 2 jam berbincang dengan redaksi Majalah Ummi, aku sendiri merasa banyak menerima insight dan masukkan penting ketika kita memang berniat memantapkan diri di dunia kepenulisan.

Terbukti, semangat menyebar kebaikan dari Majalah Ummi menjadi kekuatan tersendiri bagi Majalah Ummi untuk bertahan diantara gempuran media digital dan perkembangan internet yang kian menggerus banyak bisnis media cetak.

Semangat menulis itu juga harus dimiliki oleh seorang blogger.

Karena semangat menulis itu lah yang menjadi fondasi utama ketika kita mulai menulis. Walaupun hanya menulis di blog pribadi.

Tidak sedikit blog pribadi yang ikut “gulung tikar” ketika semangat menulis dan berbagi itu mulai luntur dan menghilang. Dan yang mau konsisten dan mampu beradaptasi lah memang yang akan bertahan ditengah berbagai ujian yang menghadang.

Berjilbab kuning di sebelah kiri, Mbak Meutia Geumala, Pimpinan Redaksi Majalah Ummi. Berjilbab pink
Mbak Novia Syahidah founder Blogger Muslimah Indonesia

Terima kasih Mbak Meutia Gemala, pimpinan redaksi Ummi yang telah menerima kami dari Komunitas Blogger Muslimah Indonesia dengan tangan terbuka. Dan terima kasih juga kepada Blogger Muslimah Indonesia yang telah menghadirkan Program Edukasi Muslimah untuk para anggotanya.

Semoga next time aku bisa ikutan lagi ya. Sukses terus untuk Majalah Ummi, Ummi Online dan juga Blogger Muslimah Indonesia.

4 comments on "Bincang Bersama Majalah Ummi: Rahasia Tetap Eksis di Era Media Digital "
  1. keren teh...!
    eh teh, ko gak ada fitur like-nya di blog ini? padahal pengen ngelike, hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Like gimana? Oh wordpress ya? Ini pake blogspot neng erma

      Delete
    2. iya, icon like semacam di fb, wordpress, dsb..
      Oo, emang blogspot gak ada like-like-an ya.. hehe

      Delete
  2. keren nih majalah UMMi, bisa bertahan dan terus berkembang sekian lama

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D