Anak Alergi Tetap Bisa Berprestasi!

| On
May 28, 2017
cara mengatasi alergi anak

Embrace the unique way your child is blooming. Even if it's not in the garden you imagined. Anonymous

Setiap tahun, konon katanya kasus alergi pada anak terus meningkat. Berdasarkan hasil survey dengan kuisioner ISAAC  pada anak sekolah dasar usis 6-7 tahun di Semarang, didapatkan jumlah kasus alergi berturut-turut meliputi asma sebanyak 8,1%, rinitis alergi sebanyak 11,5% dan eksim sebanyak 8,2%,

ISAAC sendiri adala program penelitian epidemologi didirikan pada tahun 1991 untuk menyelidiki asma, rhinitis, dan dermatitis atopik pada anak-anak dengan membentuk sebuah metodologi standar dan memfasilitasi kerjasama internasional yang diikuti 156 senter dari 56 negara yang berpartisipasi.


Sebenarnya, apa itu alergi?

Secara sederhana, alergi bisa dikatakan sebagai respon tubuh yang berlebihan ketika terdeteksi ada “benda asing” yang masuk ke dalam tubuh. Sistem kekebalan tubuh menganggap benda asing tersebut berbahaya, padahal tidak.

Kenapa anak bisa menjadi alergi?

Menurut DR. Dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K) selaku Konsultan Alergi Imunologi Anak, “Penyakit alergi seperti asma, rinitis alergi, alergi makanan, dermatitis atopik serta alergi protein susu sapi merupakan kasus alergi yang paling banyak diderita.

Faktor risiko berkembangnya alergi dapat berasal dari faktor genetik yakni keluarga dengan riwayat positif alergi”. Jika kedua orang tua tidak memiliki alergi maka risiko alergi yang diturunkan, hanya sebesar 5% sampai 15%. Jika dalam keluarga memiliki satu saudara kandung yang positif alergi, maka risiko alergi yang diturunkan sekitar 25% sampai 30%.

Sementara itu, jika salah satu orang tua memiliki alergi maka risiko alergi yang diturunkan sebesar 20% sampai 40% dan jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi maka risiko alergi yang diturunkan sebesar 40% sampai 60%. Akan tetapi, risiko tersebut meningkat hingga 80% bila kedua orangtua menderita gejala alergi yang sama.

Kasus alergi pada anak yang sering terjadi adalah alergi protein susu sapi yang umumnya terjadi pada anak yang tidak mendapatkan Air Susu Ibu. Oleh karena itu, alergi protein susu sapi dapat diatasi dengan cara memberikan ASI eksklusif bagi anak.

Kifah si Anak Alergi

Bicara soal alergi, saya hampir khatam mendengar istilah ini sejak Kifah berusia 1 minggu setelah dilahirkan.

Ya, Kifah adalah salah satu anak yang menurunkan bakat alergi entah dari siapa. Karena saya dan suami merasa tidak memiliki masalah mengenai alergi sejak kecil hingga saat ini.

Menurut beberapa sumber tulisan yang saya baca di internet, resiko alergi pada anak memang semakin meningkat. Alergi makanan dan dermatitis atopik (semacam gatal atau kemerahan pada kulit yang meradang) umum terjadi pada anak usia dini, dan beresiko terjadinya asma dan rinitis di kemudian hari.

Ya, benar sekali.

Teori tersebut benar-benar terjadi pada Kifah, anak sulung saya.

Kifah Bayi dan Dermatitis Atopik

Awalnya saya gak ngeh, kenapa Kifah bisa ruam merah di beberapa bagian tubuh. Paling parah terjadi di pipi, siku, dan kepala. Karena pada mulanya, di pipi kanan Kifah terdapat bintik merah kecil seperti di gigit nyamuk.


cara mengatasi alergi anak
Kifah umur 1 minggu, ada titik merah kecil di pipi kanannya.

Dan karena memang seperti di gigit nyamuk, waktu itu saya hanya oleskan minyak telon ke “titik merah” yang ada di pipi Kifah. Tapi makin lama, ternyata titik merah itu semakin banyak.

Sepanjang malam Kifah rewel, dan sebagai orang tua newbie, saya gak tau kenapa Kifah sampai serewel itu. Dan kemudian saya baru menyadari, mungkin ada sensasi “gatal dan tidak nyaman” di ruam merah yang muncul di pipi kanan dan kiri Kifah, serta di kedua siku tangannya.

Ke Dokter

Karena ruam merah yang terus menyebar, akhirnya Kifah di bawa ke dokter anak. Dan disitulah saya diberi penjelasan bahwa Kifah alergi protein susu sapi.


cara mengatasi alergi anak
Kata dokter, Kifah bayi ini kena Dermatitis Atopik karena Alergi protein susu sapi.
Kasian ya lihatnya, alhamdulillah sekarang udah sembuh.
Mudah-mudahan ibu atau ayah bisa lebih waspada lagi mengenai alergi.

Ya. Memang, sesaat setelah dilahirkan, ASI belum keluar banyak, dan Kifah terpaksa minum susu formula yang diberikan oleh tenaga kesehatan tempat saya melakukan persalinan.

Dan, susu formula itu lah awal mula kenapa Kifah bisa alergi.

“Anaknya alergi protein sapi, Bu. Jadi, kasih aja susu berbahan dasar kedelai kalau mau.”
Waktu itu sebenarnya saya tidak berpikir untuk menggunakan susu formula, hanya sebatas ketika ASI belum keluar saja. Setelah satu minggu berlalu, hingga dua tahun, Kifah hanya minum ASI.

Sebetulnya saya sempet horor sendiri ketika melihat kondisi Kifah. Apalagi suka ada yang mengkaitkan dengan mitos aneh seputar hamil dan menyusui.

“Dulu ngidam apa? Ada yang gak terlaksana kali. Biasanya kalau mamahnya makan makanan yang bikin ngidam dulu, nanti merahnya hilang sendiri.”

“Ini pipinya kenapa merah? Kena ASI ya? ASInya tajem kali. Makanya kalau habis nyusuin langsung lap pakai kain pipninya. ASI itu gak boleh kena pipi bayi.”

Atulah, Please!

-_____-


“Rempongnya” Punya  anak alergi.

Saya sempat berkali-kali sampai dititik marah, mengeluh, kesal, kenapa Kifah bisa alergi protein sapi dan mengalami dermatitis atopik/ruam merah parah.


Pipi bayi yang lagi gemuk lucu-lucunya itu harus ditutupi oleh ruam merah yang cukup menggangu.

Selain ruam merah yang mengganggu itu, satu hal yang suka bikin saya “depresi” adalah soal makanan dan minuman. Setiap makan makanan produk susu dan turunannya, seperti keju, biskuit susu, dll. Badan Kifah langsung mengeluarkan ruam merah dan bikin Kifah luar biasa rewelnya.


cara mengatasi alergi anak
Setelah tahu bahwa Kifah alergi dan menghindari alergennya yaitu protein sapi,
baru deh makin lama alergiya makin menghilang, walau kadang suka muncul lagi. Hiks.
Ya, punya anak alergi memang bikin hayati lelah, Bang. Hehehe. Apalagi namanya manusia biasa, kadang gak sabaran dan out of control ketika masalah demi masalah datang menghampiri, apalagi waktu itu saya sebagai mamah newbie yang penuh tantangan dan ujian di sana sini.

Dari Dermatitis Atopik ke Asma.

Seperti artikel yang saya baca itu, Dermatitis Atopik Kifah sembuh di usia sekitar 2 tahunan, kemudian munculah Asma.

*Hayati lelah lagi*

Ibarat kata, mati satu, kok jadi tumbuh lagi yang baru. Dermatitis Atopik sembuh, kenapa malah beralih ke Asma?

Awalnya, saya gak tahu kalau Kifah Asma. Tapi yang jelas, setiap batuk itu lama sembuhnya. Batuknya juga terus-terusan, dan lama-lama Kifah bernafas menggunakan mulut, dan cuping hidungnya terlihat kembang kempis.


Asma atau sesak nafas  Kifah itu biasanya kambuh ketika:

1. Makan makanan yang salah atau jajan sembarangan.
2. Terlalu lelah atau capek bermain.
3. Kena cuaca yang terlalu dingin.

Jadi, memang ketika Kifah terlalu aktif bermain, salah makan, atau sedang mudik ke Bandung Utara yang cuacanya almost 22-28 derajat setiap harinya, membuat saya hampir “kewalahan” untuk merawat Kifah.

Karena apa? Karena semuanya seakan berbanding terbalik. Kifah yang super aktif bergerak, mendapat ujian penyakit Asma karena alergi. Rasanya tuh mangkel, kesel, dongkol banget. Karena setiap dia kelelahan, ujung-ujungnya Kifah sesak nafas.

Baca juga: Petualangan Seru Bersama Morinaga Chil Go!

Bahkan, saking seringnya Asmanya kambuh dan harus berobat ke dokter, saya dan Abbiy sepakat membeli alat uap/nebulizer sendiri untuk keadaan emergensi di rumah ketika Kifah sesak nafas di rumah.

Khawatir akan masa depannya. Bisakah anak alergi tetap berprestasi?

Sebagai ibu pada umumnya, tentunya saya berpikir jauh ke depan. Bagaimana pendidikan anak-anak kelak, bagaimana karakternya, bagaimana kesehatannya, apakah mereka bisa meraih mimpi dan cita-cita mereka? Apalagi dengan special case ini, Kifah si anak alergi. 

Apakah dengan “keterbatasan” yang ia miliki, ia akan tetap bisa mendaki gunung dengan teman-temannya, ikut bela diri, ikut kemping dengan gerakan pramuka di sekolah,  atau sekedar ikut jalan sehat keliling komplek?

Baca juga: Underestimate

cara mengatasi alergi anak
Semoga nanti Ummi bisa datang ke wisuda Sarjana, Magister, dan Doktoralnya Kifah ya Amiinnn.

Apakah kelak dia bisa menaklukan segala tantangan dan meraih cita-citanya kelak? Dan lucunya, Kifah bercita-cita ingin menjadi dokter kulit kalau gede. Dia merasakan, alergi yang ia alami mempengaruhi keadaan kulitnya yang sering ruam dan gatal. Hehehe.


Waspada gejala alergi. Deteksi dini lebih baik.

Lega rasanya, ketika ada kampanye yang mengatakan bahwa “Anak Alergi Tetap Bisa Berpestasi” rasanya seperti sebuah angin segar bahwa anak yang memiliki “keterbatasan” tetap bisa tumbuh dengan optimal dan berprestasi dikemudian hari.

Saya menulis ini agar pembaca blog saya yang budiman, dimanapun berada, apalagi yang sedang hamil dan akan melahirkan, tidak melakukan kesalahan yang saya lakukan di masa lalu. Karena memiliki anak berisiko alergi sungguh sebuah tantangan tersendiri.

1. Jika ada riwayat alergi pada keluarga, sebisa mungkin jauhkan alergen seperti protein sapi/susu sapi dan produk turunannya seperti keju, kacang, dll dari anak-anak.

2. Apabila muncul ruam pada tubuh bayi, segeralah periksa ke dokter. Walaupun itu hanya untuk memastikan apakah ruam tersebut adalah alergi atau bukan. Karena kadang, ruam merah di tubuh bayi yang baru lahir, banyak dikaitkan dengan beberapa mitos.

3. Beri asupan gizi anak yang tidak mengandung alergen. Kita bisa menggunakan susu kedelai/susu soya atau susu asam amino sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan gizi anak setiap hari.


Itu tadi pengalaman dan infromasi yang bisa saya berikan ya, semoga bermanfaat untuk kita semua. Sebelum close tab, boleh dong nonton video yang satu ini.






Sumber:

morinaga
www.ayahbunda.co.id
www.konimex.com
eprints.undip.ac.id
4 comments on "Anak Alergi Tetap Bisa Berprestasi!"
  1. Bungsuku juga alergi susu sapi Mbak, tapi pas usia 3 bulanan sembuh sendiri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kifah sampai setahun lebih baru sembuh Mbak :)

      Delete
  2. Memang umuran segitu rentan alergi, klau diatasi dgan baik jadi hilang lama kelamaan

    ReplyDelete
  3. Wah alerginya parah juga dulu. Susah pastinya kalau produk turunan susu sapi juga bikin alergi.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D