Yang Hilang di Ramadan Tahun Ini. Bisakah #JadiLebihBaik?

| On
June 20, 2017

“Barang siapa yang bergembira menyambut bulan Ramadan, maka diharamkan jasadnya terkena api neraka”

Saking mulianya bulan Ramadan, ketika kita bergembira menyambut datangnya bulan suci yang ditunggu seluruh umat muslim saja, Allah pun menjamin bahwa api neraka tidak akan pernah bisa mendekati hambaNya.

Dari tahun ke tahun, semenjak kecil, saya sangat menunggu berbagai ritual ibadah dan moment yang hanya bisa ditemui di bulan Ramadan.

Seperti, berpuasa bersama keluarga, membuat takjil, masak makanan untuk berbuka, itikaf, dan shalat tarawih.

Tapi, semakin dewasa, saya merasakan ada beberapa moment Ramadan saya yang “hilang” karena kesibukan menjadi istri dan juga ibu.

Semua wanita tentunya sepakat, ketika sudah menikah, moment bulan suci Ramadan, pasti akan terasa berbeda.


Apa saja yang “hilang” di Ramadan tahun ini?

1. Shalat Tarawih di Masjid

Sebenarnya, sudah semenjak anak pertama saya lahir, saya sudah sangat jarang shalat Tarawih di masjid. Karena memang saya khawatir, ketika membawa balita ke Masjid, anak akan rewel dan mengganggu jamaah yang lainnya.

Akhirnya, semenjak Kifah lahir, sampai sekarang adiknya Aldebaran lahir, saya sudah sangat jarang shalat tarawih berjama’ah di masjid.

2. Mengkhatamkan Al-Qur’an

Duh, mungkin ini sayanya aja yang kurang tekad dan cari-cari alasan. Ya, mengurus balita membuat energi terkuras cukup lumayan. Kadang kala, “godaan” untuk istirahat ketika anak tidur masih sangat besar. Dan akhirnya, tadarus Al-Qur’an pun tidak sebaik Ramadan tahun-tahun sebelumnya.

Padahal, dulu saya senang ketika bisa menghatamkan Al-Qur’an minimal 1x di bulan Ramadan. Rindu rasanya bisa khatam lagi. Hiks.

3. Menghadiri Kajian

Wah, yang satu ini paling favorit. Apalagi waktu masih lajang dulu, seneng rasanya bisa hadir di tausiyah ustadz favorit. Rasanya siraman rohani dari para ustadz dan guru-guru saya menjadi oase di tengah padang pasir, tsaahh.

Tapi yaitu tadi, keterbatasan semenjak memiliki dua orang anak membuat saya kehilangan kesegaran siraman rohani. Mendengar langsung ceramah atau tausiyah yang penuh hikmah dari para ustadz dan ustadzah masih jadi cita-cita.

Ya paling akhirnya saya siasati dengan mendengar tausiyah lewat TV atau internet. Walau tetap sih ya, rasanya beda dengan mendengar ceramah atau tausiyah secara langsung.

4. Itikaf di Masjid

Sebenarnya saya kepingin banget bisa Itikaf lagi di mesjid Ramadan ini. Tapi, apa daya Aldebaran masih 1 tahun, masih belum tega kalau harus ngajak untuk tidur di masjid. Padahal tahun sebelumnya saya sudah bisa pergi itikaf sama Abang Kifah, karena usianya waktu itu sudah lumayan besar. Sudah bisa diajak itikaf di masjid.

Tapi Allah ngasih rezeki bayi lagi tahun ini, jadi saya harus rela kehilangan moment itikaf tahun ini. Hiks.

5. Memasak berbagai menu berbuka dan sahur

Karena dua anak yang sedang aktif-aktifnya, ritual masak untuk sahur dan berbuka jadi berkurang. Saya lebih sering membeli menu berbuka puasa dan juga untuk makan sahur.
Sedih juga sih sebenernya, padahal moment Ramadan harusnya bisa dijadikan moment berkreativitas di dapur.

Kadang, banyaknya “kehilangan” ini membuat saya berfikir, apakah Ramadan tahun ini bisa #JadiLebihBaik ? Karena saya merasa, amalan dan ibadah Ramadan tahun ini, tidak sebaik amaliyah Ramadan tahun-tahun sebelumnya.

Tapi, di satu sisi, saya juga merasa bahwa mungkin amalan dan ibadah yang saya lakukan dialihkan dalam bentuk yang lain.

Misalnya, lebih sabar melatih anak berpuasa, berlatih sabar dalam mengelola emosi, bersabar menahan lapar dan dahaga ketika kelelahan mengurus anak-anak. Apalagi Ramadan tahun ini termasuk Ramadan yang cukup menantang bagi saya, karena Aldebaran masih mengkonsumsi ASI. Fisik saya jauh lebih teruji di Ramadan tahun ini.

Jadi Lebih Baik

Ya, menjadi lebih baik di bulan Ramadan tahun ini adalah impian saya dan mungkin menjadi impian bagi setiap muslim. Kesalahan dan kekurangan di 11 bulan yang lalu, rasanya ingin sekali diperbaiki di bulan penuh ampunan ini.

Walaupun saya banyak kehilangan moment ibadah dan amaliyah di bulan Ramadan ini. Saya berusaha menjadi lebih baik dengan menjadi ibu dan istri yang lebih sabar. Walaupun tidak bisa pergi ke Masjid atau ke majelis ilmu, saya berusaha menyimak tausiyah dan ceramah via televisi atau pun internet.

Begitu juga dengan kegiatan memasak makanan. Seperti yang sudah saya katakan di atas, di bulan Ramadan tahun ini saya jarang membuat takjil, juga makanan untuk berbuka dan sahur.

Tapi, sesekali saya masih menyempatkan diri untuk memasak. Masa iya di dalam 30 hari gak masak sama sekali? Hehehe. Wah bisa jebol pertahanan kantong.

Ada beberapa menu yang biasa saya masak walaupun dengan resep sederhana dan “suka-suka”. Iya, jadi bumbunya suka-suka, yang penting enak dan pas dilidah sendiri dulu deh minimal.

Salah satunya Ayam Kecap Santan.

Sebenernya ini terinspirasi dari resep semur ayam, cuman saya tambahin santan supaya ada rasa gurihnya. Tapi, ya itu tadi, bumbunya suka-suka yaks. Mwahaha.

Bicara soal #JadiLebihBaik di bulan Ramadan dan menu Ayam Kecap Santan,  ternyata ada hubungannya loh.

Jadi, di bulan Ramadan ini, Kecap Indofood mengajak kita #JadiLebihBaik untuk menyiapkan hidangan sahur dan berbuka puasa. Kenapa kecap Indofood mengajak kita jadi lebih baik? Karena kecap Indofood sendiri melakukan proses yang lebih baik untuk menghasilkan kecap yang enak dan gurih alami, yaitu dengan melakukan proses fermentasi selama 6 bulan untuk membuat formula kecap yang terbaik untuk dikonsumsi.

Nah, untuk buka puasa hari ini , saya memasak menu andalan Ayam Kecap Santan dengan menggunakan kecap Indofood.

Bahan Ayap Kecap  Santan
Ayam Kecap Santan sudah jadiiiii
Bahan:

500 gram daging ayam segar
65 ml santan kental
Kecap Indofood secukupnya
Air secukupnya
7 buah cabe rawit merah atau sesuai selera

Bumbu:
6 Siung bawang merah
3 Siung bawang putih
Ketumbar secukupnya
Cengkeh secukupnya
Kayu manis secukupnya
3 cm jahe
3 cm lengkuas
1 batang serai
Garam secukupnya

Cara membuat:

1. Rebus ayam, buang kaldunya.
2. Haluskan semua bumbu, kemudian tumis di wajan.
3. Masukkan air dan santan kental, aduk hingga merata.
4. Masukkan kecap Indofood sesuai selera.
5. Masukkan ayam yang sudah direbus sebentar sebelumnya.
6. Aduk pelan dan tunggu hingga mendidih.
7. Ayam Kecap Santan siap disajikan.

Gimana? 

Gampang banget ya bikinnya.

Bumbunya ini suka-suka, jadi mungkin ada yang gak suka bisa dikurangi ataupun ditambah. Pokoknya sesuai selera ya.

Oh ya, kenapa saya buang kaldu ayamnya, karena jika ayam langsung direbus dengan bumbu, biasanya setelah Ayam Kecap Santan dingin, akan terbentuk gumpalan yang membeku dari lemak ayam yang larut dalam kaldu. Jadi, saya buang dulu supaya nanti kalau kuahnya dingin gak menggumpal-gumpal.

Dan satu lagi, kenapa cabe rawitnya saya pisah, karena saya suka pedes sedangkan Abbiy gak suka pedes. Jadi, ini sebagai alternatif supaya kita berdua tetep bisa makan bareng meskipun ditengah perbedaan selera. Hehehe.

Nah, itu tadi menu Ayam Kecap Santan yang suka saya buat di rumah. Walapun Ramadan tahun ini saya banyak “kehilangan”, saya sadar, saya harus tetap menjadi pribadi lebih baik dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun.

Seperti halnya kecap Indofood yang berinovasi menjadi lebih baik. Semoga, Jadi Lebih Baik Kecap Indofood bisa menginspirasi untuk selalu berubah ke arah kebaikan di bulan suci Ramadan. Amiin.

Kalau Mama lainnya, ikhtiar apa nih yang dilakukan di ramadan tahun ini, supaya terus #JadiLebihBaik? Sharing di kolom komentar Yuk :D
 
12 comments on "Yang Hilang di Ramadan Tahun Ini. Bisakah #JadiLebihBaik?"
  1. aku suka masakan ayam pakai kecap. hmm enak!

    ReplyDelete
  2. kalau ayam mah ga ada bosennya ya, Teh.

    ReplyDelete
  3. Semoga bisa dimampukan berjumpa dengan Ramadhan tahun depan, dan selama menanti Ramadhan tahun depan, setiap harinya sesudah Ramadhan ini berlalu,kita bisa #JadiLebihBaik. Aaamiinn

    ReplyDelete
  4. Wah ternyata ayam kecap kalo ditambahin santan juga enak ya mba :) oke deh harus dipraktekin

    ReplyDelete
  5. Santa ayam pake kecap indofood ya, inovasi baru nih

    ReplyDelete
  6. Waaah baru tahu santan bisa berjodoh dengan kecap. Kapan-kapan aku cobain resepnya, ah. :)))

    ReplyDelete
  7. Ramadan selalu ngangenin ya mbak, Insyaallah kita dipertemukan lagi tahun depan. Dan resep ini mau akoh sonteek :D enaaak pasti nih

    ReplyDelete
  8. Iya mak dy, akubjg baru tauu, penasaran pengin cobain ;)

    ReplyDelete
  9. Kalo diliat bumbunya mirip sama semur, cuma beda di santan aja ya

    ReplyDelete
  10. Aku baru tau soal membuang kaldu ini bia ga menggumpal. Jadi pengen bikin juga, deh. By the way semoga anak-anak cepat gede biar puasa berikutnya bisa tarawehan lagi, khataman quran dan banyak-banyakin ke ke kajian, ya.

    ReplyDelete
  11. Ayam kecap dikasih santan gini jadi lebih gurih ya. Makin enak ini :D

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D