Ayo Kenali, 7 Gaya Hidup Inilah Yang Membuat Kondisi Keuangan Kita Seringkali Bermasalah

| On
September 14, 2017
sinarmas msig life


“Bumi beserta isinya mampu memenuhi segala kebutuhan manusia, tapi tidak keinginannya.” Albert Einsten.

Pernah dengar istilah biar tekor atau kesohor?

Kalau pernah, selamat! Berarti umur kita gak jauh-jauh amat sebenernya. Hahaha. Lah apa hubungannya? Hubungannya adalah, istilah biar tekor asal kesohor adalah istilah masyarakat terdahulu (((TERDAHULU))) mengistilahkan orang yang ‘gayanya selangit’ tapi sebenernya kemampuannya masih dibawah personal branding yang ia ciptakan tersebut.

Nah, yang begini ini, istilah gaulnya, atau istilah zaman sekarangnya adalah Middle Income Trap.

Apa itu Middle Income Trap?

Menurut Mas Aakar Abyasa Fidzuno, seorang CEO/Founder of Jouska Financial di Indonesia, Middle Income Trap ini adalah sebuah kondisi dimana seseorang yang memiliki penghasilan ‘ditengah’ namun ingin memiliki gaya hidup di kelas atas. Ada juga yang bilang, kelas menengah yaaaa gitu deh.

Wkwkwk.

sinarmas msig life
Mas Aakar dari Jouska Financial

Lebih konkritnya begini.

Seorang yang terkena Middle Income Trap bisa dilihat dari gaya hidupnya sehari-hari. Contoh: Misalkan penghasilan rata-rata perbulan adalah 5 juta rupiah, dia akan mencicil mobil MPV sejuta umat, Avanza atau Xenia misalnya. Eh, ketika gajinya naik menjadi 10 juta, kemudian ia kembali mencicil mobil dengan angka yang lebih mahal, begitu seterusnya, mengikuti income yang didapatkannya setiap bulan.

Emang ada yang larang?

Yang larang sih ngga ada, tapi yang menjadi bermasalah setelah bergaya hidup seperti ini BANYAK.

Dililit hutang, ditagih debt collector, asetnya disita, rumahnya digadai, hidup ngga tenang, tdan masih banyak lagi masalah-masalah yang ditimbulkan dari Middle Income Trap ini.

Lalu, apa sih gaya hidup yang bisa menyebabkan kita sering bermasalah dengan keuangan, apalagi ditambah dengan virus Middle Trap Income di kalangan kita?

1. Besar Pasak dari Pada Tiang

sinarmas msig life


Kalau ini sih udah jelas-jelas jadi malapetaka. Seperti yang sudah saya singgung diatas, biar tekor asal kesohor. Akhirnya memanfaatkan pinjaman ke bank, menggunakan kartu kredit semaunya tanpa pikir panjang, dan berbagai cara lainnya dimanfaatkan untuk menambah pendapatan seiring pengeluaran yang tidak terkendali. 

Bahkan tidak sedikit berlanjut kepada kasus kriminal seperti kasus penipuan sebuah travel yang akhirnya menyeret pemiliknya menuju jeruji besi.

Alasannya tidak lain dan tidak bukan, besarnya pasak dari pada tiang. Keinginan atau pengeluaran kita terlalu banyak, tidak sebanding dengan income yang didapatkan.

2. Gaya Hidup Konsumtif

sinarmas msig life


Alasan supaya kekinian atau kepingin punya foto instagramable juga menjadi salah satu pintu kita terjerumus dalam masalah-masalah keuangan.

Setiap hari harus “ngafe” supaya dibilang gaholll, setiap bulan traveling keluar negeri supaya dibilang keren, beli barang-barang branded biar gak dibilang kampungan, setiap makanan yang lagi in, meskipun harganya mahal dan gak kemakan ataiu gak doyan, tetep di beli biar feed instagram bagus, biar status bisa selalu check in di tempat-tempat yang bikin orang mupeng.

Semua gaya konsumtif ini suatu saat akan menjadi bom waktu dan akhirnya menjadi masalah keuangan yang akan meneror dan membuat hidup kita menjadi berantakan.

Barang-barang yang benar-benar dibutuhkan tidak terbeli, sedangkan barang yang hanya untuk cekrek upload di media sosial begitu menumpuk dan menjadi sumber masalah baru.

3. Tidak Memiliki Pit Stop



Meskipun kita sudah sadar dengan gaya hidup kita yang besar pasak dari pada tiang atau konsumtif, ternyata gak serta merta membuat keuangan kita terbebas dari masalah. Karena sadar saja tidak cukup, harus ada aksi yang menyertainya.

Buatlah pit stop kita sendiri!

Sampai kapan kita akan menghabiskan semua uang dan penghasilan kita untuk melakukan hal yang mubadzir? Kita sendiri lah yang harus menentukan, kapan semua sikap konsumtif kita harus diakhiri.

4. Tidak Melakukan Financial Check Up



Ah, penghasilan saya kan memang besar. Ya gak apa-apa dong kalau gaya hidup saya seperti ini?

Coba lakukan Financial Check Up sendiri, apa yakin penghasilan yang kita miliki ini murni bisa kita nikmati sendiri? Hitunglah berapa gaji kita, berapa hutang kita, berapa cicilan yang harus dibayarkan, apakah properti yang kita miliki sudah memiliki kelengkapan surat-surat?

Jangan salah loh, banyak orang yang tidak peduli dengan kelengkapan surat properti yang mereka miliki. Alih-alih selama ini hidup dengan ‘glamour’, tahu-tahu suatu saat properti yang ia memiliki tidak memiliki kelengkapan surat dan diharuskan membuat kelengkapan surat dengan biaya yang sangat tidak murah.

Nah, kalau udah begini kan jadi bingung dan rugi sendiri akhirnya.  

5. Terlalu Berani Mengambil Resiko



Penghasilan saya diatas 10 juta perbulan, gak apa-apa dong saya mengambil cicilan rumah seharga 5 juta perbulan dikawasan yang cukup elit?

Pepatah lama mengatakan, hidup ini bagai roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Sebaiknya, jika kita akan membuat keputusan, apalagi menyangkut keuangan/hutang dipikirkan lagi mateng-mateng.

Hari ini penghasilan memang diatas 10 juta. Tapi, apa yakin 15 tahun lagi kita gak akan sakit? Atau gimana kalau amit-amit meninggal duluan (gak punya asuransi jiwa) anak istri yang akan menanggung hutang kita?

Gaya hidup yang ‘terlalu berani’ inilah yang juga menjerumuskan kita ke dalam jurang masalah keuangan dan juga masalah hidup yang amat sangat dalam.

6. Tidak Memiliki Tujuan Keuangan

Mas Aakar menjelaskan pentingnya memiliki tujuan atau rencana keuangan

Let it flow. Hidup itu biarkan mengalir seperti air.

Mwahaha, kayaknya saya seneng banget ya sama pribahasa.

Iya mengalir sih mengalir, lah kalau mengalirnya ke samudra yang biru, lah kalau mengalirnya ke got gimana? Apa masih mau mengalir begitu aja?

Sama seperti tujuan hidup lainnya, keuangan kita pun harus memiliki tujuan.

Misalkan, kita bekerja sebagai karyawan swasta, bukan PNS dimana PNS mendapatkan dana pensiun di hari tua kelak.

Sebagai karyawan swasta, kita dituntut ‘kreatif’ dalam berinvestasi jangka panjang, supaya kelak gak merepotkan anak, gak merepotkan sanak keluarga. Dan yang masih menjadi tren investasi jangka panjang biasanya adalah bidang properti, seperti tanah atau rumah.

Jika kita memang memiliki tujuan keuangan yang tepat, kita bisa mengalokasikan sebagian penghasilan kita untuk menabung properti, membangun rumah kost, atau membangun lahan perkebunan/pertanian.

Nah, ketika kita tidak memiliki tujuan-tujuan tersebut, keuangan kita akan lebih tertata rapi dan terhindar dari masalah-masalah keuangan yang akan menggerogoti kita baik sekarang atau pun nanti.

Kira-kira, tujuan keuangan apa yang kamu punya nih sekarang?

7. Tidak Mau Berasuransi

Masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mau berasuransi, terutama asuransi kesehatan dan asuransi jiwa. Masalahnya, kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi kesehatan kita ke depan, dan jangan sampai kita berhutang untuk biaya pengobatan kita sehingga menimbulkan masalah baru bagi keuangan keluarga.

Klik untuk memperbesar gambar


[Sp.] Yuk Atur Uangmu!

Terkait  masalah keuangan yang timbul akibat 7 gaya hidup kita yang ternyata kurang tepat bahkan cenderung salah kaprah ini, Sinarmas MSIG Life mengadakan temu Blogger dari Komunitas Kumpulan Emak Blogger, pada tanggal 9 September 2017 di kawasan Karet Kuningan Jakarta Selatan membahas bagaimana caranya kita terhindar dari masalah keuangan dan bagaimana caranya kita mengatur keuangan yang tepat.

Di acara Sinarmas bersama KEB

Caranya sederhana, cukup dimulai dari diri sendiri dengan tidak bergaya hidup konsumtif dan terjebak dalam Middle Income Trap tadi.

Kita harus bisa memeriksa, apakah penghasilan sesuai dengan kebutuhan, apakah masih bisa digunakan untuk berinvestasi, apakah masih bisa digunakan untuk liburan, dan lain sebagainya.

Dan cara yang paling sederhana lainnya untuk menghindari masalah keuangan adalah dengan berasuransi.


Sinarmas MSIG Life adalah salah satu perusahaan asuransi terkemuka yang ada di Indonesia. Didirikan pada tanggal 14 April 1985, PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Life telah mengalami perkembangan dan perubahan.

Hadir pertama kali sebagai PT Asuransi Jiwa Purnamala Internasional Indonesia (PII), untuk kemudian berubah nama menjadi PT Asuransi Jiwa Eka Life, dan dalam perkembangannya berganti nama lagi menajdi PT Asuransi Jiwa Sinarmas pada tahun 2007 sebelum akhirnya melakukan joint venture dengan Mitsui Sumitomo Insurance, CO., Ltd pada tahun 2011.

Sejak saat itu, 50% kepemilikan PT Asuransi Jiwa Sinarmas SMIG atau dikenal juga sebagai Sinarmas MSIG  Life (SMiLe) dibawah PT Sinarmas Multi Artha Tbk dan 50% Mitsui Sumitomo Insurance, Co., Ltd.

Sinarmas MSIG Life melayani lebih dari 790.000 nasabah individu dan kelompok di 69 kota. Tersebar di 113 kantor pemasaran dan 10.500 aparat marketing.

Sinarmas MSIG Life team


Brand SMile (Sinarmas MSIG Life) diperkenalkan kepada masyarakat luas pada tahun 2013 untuk meningkatkan corporate brand awareness.

MSIG Life dinobatkan oleh Infobank sebagai Digital Brand of The Year terbaik ke-3 untuk kategori Asuransi Jiwa pada bulan Maret 2015. Selain itu, Majalah Investor mendaulat Unit Bisnis Syariah Sinarmas MSIG Life sebagai Asuransi Syariah Terbaik untuk aset diatas Rp. 200 Miliar pada Best Syariah 2015 di bulan Agustus 2015.

Produk Asuransi Sinarmas MSIG Life terdiri dari Asuransi Dasar Tradisional (Power Save, Smile Multi Invest, Smile Personal Accident, Smile Medical, Smile Hospital Protection Plus), Asuransi Unit Link (Smile Link 88, Smile Link 99, Smile Link Pro 100, Smile Link Proasset), Asuransi Syariah (Asuransi Tradisional Syariah, Asuransi Unit Link Syariah).


Sumber: www.sinarmasmsiglife.co.id silakan akses web ini untuk mempelajari masing-masing produk asuransi dari Sinar Mas MSIG Life.


***

Nah, itu tadi 7 gaya hidup yang baiknya kita hindari agar hidup kita tenang, tentram, sejahtera, tanpa terbelit masalah keuangan.

Hidup ini bukan tentang siapa lebih keren dari siapa secara materi. Tetapi sejauh mana kita mensyukuri apa yang telah diberikan dalam hidup. Mengikhtiarkan yang terbaik untuk diri sendiri dan keluarga, seraya tetap qanaah dalam menjalani apapun yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Cieee bijak cieee, pasti abis ikut seminar via Youtube.

*Millenials sekali.


Kalau kamu, punya tips atau cara ampuh apa nih dalam mengelola keuangan?

26 comments on "Ayo Kenali, 7 Gaya Hidup Inilah Yang Membuat Kondisi Keuangan Kita Seringkali Bermasalah"
  1. Kl uda ngomongin duit aku mati gayaaaa :(

    ReplyDelete
  2. Keren tulisannya. Good luck, ya.

    ReplyDelete
  3. Tulisan ny bikin aku meringis, point2ny ngena banget. Aku blm bisa kelola keuangan dgn baik, sediih.

    ReplyDelete
  4. iya lho aku cuma ngandelin asuransi kantor doang sekarang

    ReplyDelete
  5. Belom pernah ikut asuransi 😲

    ReplyDelete
  6. Good info untuk semuanya temasuk yg pemuda
    Kunbal y

    ReplyDelete
  7. Money is more taboo than sex.. 😁😁😁

    ReplyDelete
  8. wahhhh kelas menengah gehe aku banget hihihi,invoice cair lgs mikirin makan dimana kita?hahhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun, suka merasa bersalah kalau abis "buang2 uang" hikz

      Delete
  9. Bermanfaat sekali infonya, jadi tahu deh, bagaimana kita mengatur keuangan.

    ReplyDelete
  10. Point 4 & 5 belum saya lakukan nih. Tapi point yang lain Insya Allah tetap dalam koridornya. Saya paling takut sama utang. Jadi apa adanya aja

    ReplyDelete
  11. dalem banget itu mas aakar waktu jelasin soal middle income trap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya aku jadi kesuat2 dengernya haha

      Delete
    2. Iya aku jadi kesuat2 dengernya haha

      Delete
  12. Jaman sekarang memang harus pintar-pintar kelola keuangan ya..berasuransi salah satunya. Biar masa depan terjamin.

    ReplyDelete
  13. Jangan sampai deh harus besar pasak daripada tiang. Memang harus pandai ya mengatur keuangan keluarga dan penting mengambil asuransi

    ReplyDelete
  14. Hahaha.. kelas menengah ngehe. Ada duit dikit langsung deh kulineran. Bener ya kuta kudu pintar2 mengatur keuangan kita kalau nggak mau terjebak di lingkaran setan si'ngehe' itu. ^_^

    ReplyDelete
  15. wkwkwk, kelas menengah ngehe 😂
    ini mah pas banget sama teori fisika. gaya lebih berat dari pada masa hasilna kaberatan da loba gaya 😂

    ReplyDelete
  16. Wah kalo gaji baru 5 juta dulu belum nyicil mobil. Gak kebayang cicilannya aja 3 juta 😂

    ReplyDelete
  17. Sejak mau punya anak aku rada mulai melek finansial. Mulai bikin reksadana yang sebulan ya enggak banyak tapi kalo udah 5 tahun berasa, deh, ada hasilnya. Hehe.. Tapi suka kelepasan juga sih mba, apalagi kalo ke mol, ya ampun yah itu makan, main sama anak-anak udah abis berapaaah.. Huhuw..

    ReplyDelete
  18. Berani banget penghasilan 10 jt nyicil rumah 5 juta? hehe.
    Kapan hari di sharuing keuangan ada yg bilang utang tu gk boleh lbh dr 30% kalau mau aman, katanyaaaa :D

    ReplyDelete
  19. Serem juga tuh gaya hidup yg naik sdikit saja penghasilannya eh sudah beli barang mewah gonta ganti. Untungnya sy bkn tip org yg gila beli barang barang bermerek

    ReplyDelete
  20. Siapa lebih dari keren dari siapa secara materi hmm.. mikirin ini mah nggak habis-habis ya mba, secara di atas langit masih ada langit, sepakat banget kuncinya memang harus bersyukur sama apa yang kita punya, nggak usah pusing sama yang belum ada..

    ReplyDelete
  21. Penyakit banget ini middle trap alias semakin meningkat penghasilan semakin bnyk pula pengeluaran. Hrsnya kan enggak boleh seperti itu. Semakin tinggi penghasilan harusnya semakin bnyk asset yang dimiliki dan enggak perlu nambah hutang.

    ReplyDelete
  22. Noted. Kudu bener2 melek nih supaya gak kejebak sama 7 hal itu...

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D