Lahirnya Generasi Maju, Berawal dari Peran Ibu

| On
December 23, 2019

"Banyak dari kita yang disiapkan untuk menjadi ahli, tapi tidak disiapkan untuk menjadi orang tua" Elly Risman, Psikolog.

Peran orang tua, khususnya Ibu, bagi pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dinafikan lagi. Banyak cerita yang saya dapatkan, ketidakhadiran peran ibu, amat sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Sebut saja Mawar, ia ditinggal pergi oleh ibunya begitu saja ketika kecil, ayahnya seorang tukang ojeg, dan ia memiliki satu orang kakak laki-laki berusia sekolah.

Setiap hari, karena setiap hari ayahnya sibuk mencari nafkah, Mawar tak terurus dengan baik. Hampir setiap hari, ia makan dengan lauk mie instan saja.

Hingga suatu hari, Mawar terlihat sakit dan makin kurus, dan ternyata dokter memvonisnya menderita gizi buruk.

Hal itu tentu menggegerkan warga di desanya, karena baru pertama ada kejadian seperti ini. Akhirnya, para tetangga dan warga sekitar bahu membahu merawat Mawar yang menderita gizi buruk, hingga akhirnya Mawar kembali sembuh seperti sedia kala, walau membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena Mawar memiliki berat badan yang sangat kurang sehingga anggota tubuhnya pun tidak bisa digerakkan/lumpuh.

Lain Mawar, lain Melati.

Melati adalah seorang anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya (meninggal dunia) sejak kecil. 

Karena orang tuanya meninggal, ia dirawat oleh neneknya sendirian. Hingga ia tumbuh dewasa dan menikah dengan seorang laki-laki.

Namun, ternyata, ditengah perjalanan rumah tangganya, suaminya kerap mengeluhkan bahwa Melati kurang bisa berkomunikasi dengan orang tua suami, sehingga banyak sekali terjadi kesalahpahaman antara ia dan ibu mertuanya.

Melati nampak kurang luwes berkomunikasi dengan sosok orang tua barunya (Mertua) karena memang kurang mendapatkan roles model orang tua di kehidupannya, dan kurangnya mendapatkan cerminan sosok Ibu, karena memang sudah ditinggalkan sang ibu semenjak kecil.

Cerita tentang Mawar dan Melati ini bukan untuk membuka aib, atau menjudge bahwa Melati bukanlah menantu yang baik.

Kisah ini semata untuk kita gali hikmahnya, bahwa peran seorang ibu benar-benar vital dalam kehidupan seseorang. Bahkan hingga ia tumbuh dewasa.

Kadang, kita sendiri yang tidak menyadari bahwa ketidakhadiran sosok seorang ibu, bisa berdampak signifikan bagi kehidupan seseorang.

Bahkan Saya sendiri, kerapkali menyepelekan kehadiran sosok Ibu di dalam hidup Saya, padahal ibu lah yang semenjak Saya lahir mengorbankan tenaga, waktu, pikiran, uang, dan segalanya untuk saya. Hiks.

Bagaimana Menjadi Seorang Ibu yang Baik?


Pertanyaan ini tentunya menjadi pertanyaan yang sangat mendasar bagi saya, bagi kita, seorang ibu. Bagaimana caranya menjadi ibu yang baik?

Apakah dengan menyekolahkan anak di sekolah paling mahal? Memberikan mainan mahal? atau mengajak liburan ke luar negeri? atau seperti apa sih?

Menurut Firesta Farizal M.Psi,  psikolog anak dan keluarga, pada saat sesi talkshow perayaan Hari Ibu bersama SGM Eksplor, Jum'at 20 Desember 2019 kemarin mengatakan bahwa seorang ibu adalah care giver pertama bagi anaknya.

Sehingga, Ibu sangat berperan dalam kehidupan sang anak dalam hal sekecil apapun.

Misalkan, ketika anak sakit. Orang yang pertama memberikan perawatan adalah ibunya. Atau ketika anak terjatuh, hingga menangis, Ibu lah orang yang pertama kali menolong, mengusap-usap dan mengobati lukanya, hingga membujuk anak agar tidak menangis lagi.

Sehingga, peran ibu sangat bisa dirasakan jika anak dan ibu saling terkoneksi dengan baik. Apapun suasananya, apapun keadaannya, ibu adalah orang yang pertama kali dibutuhkan oleh sang anak.


Kedua, Ibu adalah sosok yang paling berpengaruh atau mempengaruhi kepribadian sang anak. Untuk itu, ada baiknya, seorang Ibu berhati-hati dalam berucap. Katakan hal yang positif saja, jangan sampai menyampaikan atau melakukan hal negatif kepada anak.

Sebisa mungkin, input yang didapatkan oleh anak sehari-hari adalah input yang positif. Karena sekecil apapun input yang diterima oleh anak, maka akan memiliki dampak, bahkan hingga ia dewasa.

Ketiga, menjaga kualitas interaksi. Nah, ini merupakan jawaban "Bagaimana menjadi Ibu yang baik?"

Memberikan yang terbaik untuk anak bukan berarti memberikan sesuatu yang selalu mahal, selalu mewah dan kekinian.

Puzzle dari stik es krim yang bisa dibuat sendiri di rumah

Memberikan yang terbaik untuk anak adalah memberikan kualitas waktu, kualitas interaksi kita bersama anak. 

Mainan dengan harga mahal, tidak akan bermakna apa-apa, jika hanya dimainkan anak seorang diri. Mungkin ada dampaknya, tetapi tidak banyak.

Berbeda dengan mainan sederhana (bahkan bisa membuat sendiri) Jika dimainkan bersama, ada interaksi dengan anak, Ibu terlibat dalam permainan, Ibu ikut memberikan stimulasi, justru itu lah yang terbaik.

Memberikan waktu kita, perhatian kita, kualitas diri kita, full 100% untuk anak. Ibu benar-benar hadir dalam berkegiatan dengan anak.

Jangan sampai, raga kita ada bersama anak, tetapi pikiran kita ada di media sosial, di gadget, dsb.

*Ini juga jadi PR tersendiri buat saya, supaya makin fokus ketika berinteraksi dengan anak-anak di rumah.

Keempat, jadilah Ibu yang bahagia

Terima kasih SGM Eksplor atas hadiah dan apresiasinya di Hari Ibu


Ternyata, menjadi Ibu yang bahagia, lebih penting dibandingkan sekedar menjadi ibu yang baik.

Ketika kita punya banyak "goals" untuk berperan menjadi Ibu yang baik, jangan lupa bahwa sebagai ibu kita pun memiliki hak untuk menjadi seorang individu yang bahagia.

Menjadi ibu yang bahagia tentunya akan relatif bagi setiap orang.

Ada yang bahagia jika bisa memiliki me time sendiri. Ada yang bahagia jika bisa istirahat dengan cukup. Ada yang bahagia jika membeli barang-barang favoritnya, dan lainnya.

Jadi, jangan sampai salah kaprah, bahwa untuk jadi Ibu yang baik kita harus berkorban mati-matian untuk anak, tetapi mengesampingkan kebutuhan psikologis kita sebagai ibu. Terutama kebutuhan untuk berbahagia. Karena pada dasarnya Happy Mom will raise Happy Kids, right?

Menyiapkan Gizi dan Nutrisi Terbaik


Pertanyaan mendasar kembali muncul ke permukaan, apakah gizi yang baik itu harus mahal? 

Jawabannya pun relatif sebenernya.

Tapiiii, menurut saya pribadi, ibu sekarang adalah ibu yang sangat smart dan cenderung kreatif.



Ibu zaman sekarang lebih banyak memiliki referensi untuk membuat hidangan kaya akan nutrisi dan gizi sesuai pedoman isi piringku, tanpa mengeluarkan budget yang berlebihan.

Banyak sekali menu makanan sehat dan bergizi tapi murah meriah yang bisa diakses via youtube, instagram, facebook, pokoknya asal ada kemauan, pasti bisa deh.

Beda ya sama Ibu zaman dulu yang harus beli majalah atau buku resep masakan untuk mengelola berbagai jenis makanan bergizi untuk keluarga.


Melengkapi Gizi Si Kecil dengan Segelas Susu Setiap Hari



Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, bahwasanya peran ibu adalah untuk mendampingi, menstimulasi, dan juga memberikan nutrisi serta gizi seimbang dalam menu makanan keluarga khususnya untuk anak.

Karena peran ibu ini sangat penting untuk mencetak Generasi Maju untuk Indonesia Maju di masa depan.

Saya sendiri selalu mencoba memberdayakan diri untuk membuat menu bergizi di rumah, dengan segala keterbatasan yang saya miliki, guna mendukung anak-anak agar menjadi Generasi Maju.

Susu pertumbuhan juga saya berikan agar nutrisi mereka terlengkapi. Terutama Minyak Ikan dan Omega 3 & 6 yang sangat penting untuk dikonsumsi anak-anak.

Dan saya mempercayakan susu SGM Eksplor untuk melengkapi gizi anak-anak di rumah agar potensi prestasi mereka semakin terasah.


Ibu, Lahirnya Generasi Maju, Berawal dari Peran Ibu


Di moment hari Ibu ini tentunya saya sangat berharap Ibu Indonesia makin cerdas, makin berkualitas, makin bahagia tentunya.

Karena seperti yang kita ketahui, perempuan adalah laksana tiangnya negara, jika rusak perempuannya, makan runtuhlah negara tersebut.


Begitupun seorang Ibu, jika peran ibu semakin kuat, semakin baik, saya percaya, Indonesia akan menjadi Indonesia Maju karena Ibu-ibu hebat ini akan melahirkan keluarga yang hebat, dengan anak-anak yang cerdas, hebat, berkarakter baik, dan insya alloh bisa menjadi Generasi Maju di masa yang akan datang.

Bagaimana peran ibu terutama di zaman sekarang? Apa pendapat kamu? Yuk sharing di kolom komentar.

7 comments on "Lahirnya Generasi Maju, Berawal dari Peran Ibu"
  1. Peran seorang ibu itu memang menjadi salah satu hal yang dibutuhkan anaknya ya

    ReplyDelete
  2. SGM ini memang susu yang rekomendasi banget nih ya buat si kecil

    ReplyDelete
  3. Menjadi ibu yang bahagia itu juga sangat perlu nih ya Mbak

    ReplyDelete
  4. Wah selamat hari Ibu juga nih ya Mbak, seru banget kelihatannya acaranya

    ReplyDelete
  5. Wah Ibu dapat hadiah juga nih ya dari SGM. Selamat hari Ibu nih Mbak :)

    ReplyDelete
  6. Duhhh jadi inget mamah :(

    ReplyDelete
  7. Ku, jadi seorang ibu, masih banyak belajar

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D