Mempersiapkan Mental Untuk Menghadapi Persalinan

| On
May 20, 2020

"Anaknya kok kecil ya"

"Kok bayinya item ya, padahal ibu bapaknya putih"

"Idungnya kok mancung ke dalem sih, dek"

"Ngapain sih pake caesar, lebih baik kan lahiran normal, males jalan kali dulu ya waktu hamil"

Sounds familiar?

Setiap ibu hamil yang baru saja melahirkan pasti pernah merasakan situasi, dimana harusnya bahagia tapi mendadak mood jadi berantakan.

Ya, mood berantakan karena komentar orang disekitar terhadap kondisi ibu pasca melahirkan maupun kondisi bayinya.

Tiga kali melahirkan, sedikit banyak saya mengalami hal yang sama.

Ada kerabat yang mengomentari warna kulit bayi, atau mengomentari kondisi ibu pasca melahirkan karena merasa lebih 'senior'.

Rasanya tentunya sangat tidak enak. Membuat mental kita down atau jatuh sebagai ibu. Padahal kita telah berjuang antara hidup dan mati. Kok bukannya diberikan motivasi dan apresiasi, tapi malah dikritik sampai menangis di dalam hati.

Maka dari itu, berbekal dari tiga kali menghadapi persalinan, saya ingin berbagi tips bagaimana mempersiapkan mental untuk menghadapi persalinan nanti.


1. Niat 


Jarang sekali dari kita yang menyadari bahwa niat itu sangat penting dan memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap apa yang akan kita perbuat.

Ternyata, ketika kita sedang hamil, niat yang baik itu sangat diperlukan.

Jangan sampai kita lupa berbismillah dan bertawakal lillahita'ala kepada Allah SWT. Kita berniat hamil dan melahirkan nanti untuk memiliki keturunan yang soleh, sehat, baik dan menjadi insan yang bermanfaat.

Kenapa saya bilang kita harus meluruskan niat?

Karena ada juga, perempuan yang hamil karena niat lain. Seperti ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain, ingin dipuji, atau dengan niat-niat yang tidak baik lainnya.

Niat yang kuat untuk menjadi ibu bagi generasi soleh solehah, akan membantu menguatkan mental ibu untuk menghadapi persalinan.


2. Berdo'a



Selain niat, kita jangan pernah lupa akan kekuatan do'a.

Saya pernah berdo'a di kehamilan ketiga, ingin melahirkan dalam kondisi yang hening dan tenang, alhamdulillah terkabul.

Saya datang ke rumah bersalin pukul 3.30 dini hari dan melahirkan setelah adzan shubuh. Suasananya sangat hening, bahkan tidak ada ibu bersalin lainnya selain saya sendiri.

Berdo'a meminta sesuatu yang baik juga mempengaruhi kesiapan mental kita saat menghadapi persalinan. Karena naluri kita sebagai ibu pasti tidak bisa dibohongi, ada hal yang membuat kita nyaman atau tidak untuk menghadapi persalinan nanti.

Jika saya berdo'a ingin melahirkan dalam kondisi hening, mungkin ada ibu hamil yang ingin melahirkan didampingi suami atau ibu/keluarga.

Dan ketika do'a itu terkabul, mental kita sebagai ibu semakin kuat.

3. Dukungan Suami


Komunikasi antar suami istri ini sangat penting untuk dilakukan. Sejak hamil, usahakan segala sesuatu yang kita inginkan atau kita butuhkan dikomunikasikan kepada suami.

Misal, bagaimana nanti setelah melahirkan?

Apakah suami yang akan mengurus segala kebutuhan dan pekerjaan rumah tangga? atau akan menyewa jasa ART?

Atau mungkin untuk sementara waktu tinggal di rumah orang tua? Agar ada yang membantu merawat ibu dan juga bayi.


Semua itu harus didiskusikan dengan baik. Biasanya perempuan itu suka memberikan kode-kode saja kepada suami, bahkan ada yang cenderung diam.

Tapi please, untuk menghadapi persalinan, apapun yang ada di pikiran kita atau apapun yang kita perlukan nantinya pasca melahirkan harus disampaikan dengan baik kepada suami. 

Hal ini tentunya berguna untuk menjaga kesehatan mental ibu pasca melahirkan, agar tidak terjangkit PPD (Post Partum Depretion) karena kurangnya komunikasi, kelelahan mengurus bayi, sakit setelah melahirkan, dsb.


4. Bicara dengan Keluarga Terdekat


Selain berkomunikasi dengan suami, untuk mempersiapkan mental menghadapi persalinan, mulailah berbicara juga dengan keluarga terdekat atau orang tua.

Misalkan kita memilih metode persalinan yang agak berbeda dengan orang tua atau keluarga kita, jangan lupa untuk menjelaskan hal ini kepada mereka.

Agar setelah melahirkan nanti, tidak ada mis komunikasi atau komentar yang tidak diinginkan dari pihak keluarga atau orang tua.

5. Membaca Informasi Terkait Persalinan


Jangan pernah berhenti belajar dan menggali informasi ya Bumil. Saat ini, banyak sekali informasi yang bisa kita akses seputar persalinan.

Seperti berbagai metode persalinan, prenatal yoga, senam hamil, dan bagaimana membuat persalinan menjadi menyenangkan, dan tidak menakutkan.

Berdayakan diri dengan ilmu pengetahuan, baik secara online atau pun mengikuti kegiatan pelatihan, agar mental kita siap untuk menghadapi persalinan nanti.

Kesiapan mental ini sangat penting bagi ibu hamil karena banyak efek yang ditimbulkan ketika kesehatan mental ibu hamil terganggu.

Tanpa persiapan, ibu pasca melahirkan rentan sekali terkena depresi paca melahirkan dan tentunya akan berpengaruh pada perkembangan ibu dan bayi.

Untuk memperoleh informasi mengenai kesehatan mental, kita bisa mencari berbagai artikel yang ada di internet.

Namun, jika masih belum puas dengan berbagai artikel yang ada di internet, kita bisa berkonsultasi langsung dengan dokter terpercaya melalui aplikasi Halodoc.

Aplikasi Halodoc ini memungkinkan kita untuk berkonsultasi secara daring (video call, chatting, dll) dengan dokter yang terpercaya. Selain itu, kita juga bisa membeli obat karena Halodoc bekerja sama dengan Apotek untuk melakukan pembelian obat.


Terakhir, banyaklah bersedekah.


Mungkin aneh tapi nyata, tapi berdasarkan pengalaman pribadi,  banyak bersedekah ini bisa membuat hati kita lebih tenang dan siap menghadapi persalinan.

Selain itu, bersedekah pun bisa menolak bala atau bahaya/musibah. Dengan bersedekah, tentu kita berharap hanya kepada Allah SWT dan meyakinkan diri bahwa persalinan kita akan berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang kita inginkan.


Jika kita sudah berdo'a, berusaha, mencari ilmu dan juga bersedekah. Insya alloh kita akan lebih siap untuk menghadapi persalinan.

Mental kita akan jauh lebih siap dan lebih tenang. Bahkan ketika banyak kritik atau nyinyiran kerabat/netizen terhadap kondisi ibu dan bayi sekalipun.

Ada yang punya pengalaman lain seputar mempersiapkan mental untuk menghadapi persalinan? 

Yuk sharing di kolom komentar
17 comments on "Mempersiapkan Mental Untuk Menghadapi Persalinan"
  1. Ya Alloh, niat saya dulu apa ya pas pingin hamil? Haduuuh..


    Jalin komunikasi sama banyak baca, kl saya. Dulu zaman hamil pertama dan kedua belum musim internet dalam genggaman, jd modalnya ya buku. Hehe..

    ReplyDelete
  2. Jadi ingat banget mbak pertama kali hamil dan bisa merasakan bagaimana niat dan harapannya. Btw kalau bicara soal mental mungkin untuk anak kedua mentalnya lebih siap dan santai hehe

    ReplyDelete
  3. Selain semua itu, yg saya lakukan saat mau melahirkan Fahmi adalah minta maaf dan doa dari ibu dan suami. Saat itu posisi janin sungsang, saya siap masuk ruang operasi. Tapi kuasa Allah, dokter RSUD Pagelaran mengatakan saya bisa melahirkan dengan normal, asal saya sabar.
    Saya merasakan panas luar biasa. Tapi saya janji akan sabar. Alhamdulillah Fahmi kecil lahir dengan selamat. Dan setelah itu saya merasakan dingin yg teramat sangat. Sampai selimut dua tidak cukup menghangatkan saya.

    ReplyDelete
  4. Bagus tips2nya mba.. insya Allah berguna bagi para Bumil yg sedang bersiap menyambut kelahiran baby. TFS ya..

    ReplyDelete
  5. Sumpah kesel banget sama yang mulutnya nggak bisa direm kayak gitu.
    Suami dan keluarga terdekat harus jadi garda terdepan untuk menjaga kesehatna mental ibu ya, mbak..

    ReplyDelete
  6. apa ya niat saya dulu pas hamil hahaha ga ada sih, cuma suka anak kecil aja :) lucu kayaknya kalau punya anak sendiri hahaa karena biasanya ngasuh ponakan

    ReplyDelete
  7. Waktu kali pertama menghadapi persalinan itu takut cemas dan lain lain karena belum ada pengalaman. Terlebih kondisi waktu itu bayi melintang posisinya. Alhamdulillah lahir sehat. Dan iya banget perlu komunikasi keluarga yang baik bahkan dari sebelum melahirkan jadi pada saat abis lahiran bisa bersinergi kompak suami pun jadi suami siaga karena dukungan keluarga itu bikin kita tambah kuat ^^

    ReplyDelete
  8. aku jadi ingat nih ibuku pernah cerita sewaktu ngelahirin aku, kebetulan aku lahirnya sungsang pantat deluan yang keluar eh perawat di rumah sakit lagi proses melahirkan bilang aduh kepalanya nggak ada.. stress dong ibuku untung ditenangin sama dokternya dan tuh perawat dimarahin sama dokter, aku bisa ngebayangin gimana stressnya ibuku saat itu

    ReplyDelete
  9. Anakku semua cesar. Ibuku keceplosan juga sih kok bisa cesar padahal tidak ada keturunan cesar wkwkkwk. Emangnya penyakit keturunan? Tapi ya gitu doang, ibuku nggak kebanyakan drama, cuma kurang pengetahuan saja. Habis itu ya sibuk ngurusin cucu2nya.

    ReplyDelete
  10. Kalau saya kurang lebih hampir sama untuk mempersiapkan persalinan. Harus sering ngobrol dengan orang terdekat yang sudah berpengalaman. Supaya tau juga apa aja yang harus dipersiapkan dan kira2 kondisinya apa yang harus dihadapi :)

    ReplyDelete
  11. Dukungan suami, berdoa, dan doa dari ibu itu penting banget buatku untuk melewati persalinan dengan baik. Alhamdulillah 3x melahirkan sehat dan selamat semuanya.

    ReplyDelete
  12. kalau aku malah lebih nyaman tidak berbagi atau berbicara dengan keluarga, cukup sama suami, nanti malah banyak masukan tambah stres mau lahiran hehehe. Masing-masing orang menyiapkan mental dengan caranya sendiri ya sambil tetap berdoa tentunya

    ReplyDelete
  13. Yang paling penting memang meningkatkan hubungan yang intens dengan Allah ya Mbak.
    Trus banyak berzikir. Yang lainnya, pastinya persiapkan sistem support yang baik setelah lahiran, karena masa pemulihan kan lumayan menyita energi.

    ReplyDelete
  14. Lebih terasa sejak punya anak kedua.
    Bahwa komunikasi suami-istri ini harus terjaga dan saling menguatkan.
    Saling membantu dan gak boleh ada yang namanya ngambeg.
    Kalo gak suka, dibicarakan di waktu yang tepat agar sama-sama enak.

    Mental ini yang ngefek banget ke psikologis anak yaa, kak..

    ReplyDelete
  15. Kalo aku yang paling utama jaga perasaan dan kondisi psikologis mba. Pokoknya ga mau denger berita berita buruk gitu, terus banyakin nonton komedi hehe biar lebih relaks

    ReplyDelete
  16. paling bener udah minta suami untuk ngejagain bumil dari omongan2 keluarga dan tetangga yang nyelekit. soalnya emang biasanya omongan2 mereka gak terbendung haha.. yg penting ibu2 yg abis lahiran berusaha rileks saja dan nggak terlalu urusin apa kata mereka.

    ReplyDelete
  17. faktor luar kayak omongan orang emang kadang bikin mood bumil rusak, padahal kan kita tahu kalau lagi hamil semuanya harus dijaga terutama ketenangan jiwanya. suka sebel sih kadang kalau ada komentar kayak gitu. tips di atas udah betul banget sih, bumil emang butuh support system yg kuat, terutama suami nya. semoga setiap bumil di dunia ini ga lagi ngerasain hal kayak gini lagi yaa huhuhu :(

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D