Copyright by tettytanoyo. Powered by Blogger.
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

Pengalaman Melakukan Analisa Sidik Jari Anak-anak di All Smart Jawa Barat

 Pengalaman Melakukan Analisa Sidik Jari Anak-anak di All Smart Jawa Barat

Pengalaman Melakukan Analisa Sidik Jari Anak-anak di All Smart Jawa Barat

 

Di postingan sebelumnya, saya sudah membahas tentang Analisa Sidik Jari diri saya sendiri, kali ini saya akan bercerita tentang Analisa Sidik Jari anak-anak saya di All Smart Jawa Barat.


Baca: Menemukan Kembali Diri dengan Pindai Sidik Jari


“Coba, siapa yang anaknya dominan visual gaya belajaranya?” 


Tanya  konselor All Smart Jawa Barat ketika saya dan para orang tua murid mengambil hasil Analisa sidik jari anak-anak kami yang baru saja masuk SD.


Kemudian saya mengangkat tangan. Ternyata Aldebaran (6 tahun) dominan visual ketika belajar. Memang, Aldebaran tipikal anak yang anteng, tidak terlalu aktif, namun dia senang sekali dengan gambar. Dia senang mewarnai, melihat buku bercerita, melihat video pembelajaran, dibanding berlarian ke sana dan kemari.


Merancang Kurikulum Pembelajaran Sendiri di Rumah untuk Anak



Assalau’alaikum sahabat onlineku. Apa kabarnya hari ini? Semoga sehat dan bahagia selalu ya. Iya dong, jadi ibu harus selalu bahagia, karena ibu yang bahagia akan mencetak generasi yang bahagia pula.


Sebenarnya, topik ini sudah saya bahas semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Hanya saja, saya lebih sering membahsanya di Instagram, dan belum saya tuliskan kembali di blog ini. Maka dari itu, hari ini, saya akan menjelaskan bagaimana cara membuat Kurikulum Pembelajaran sendiri di rumah bagi anak-anak.


Pertama-tama, saya ingin memberitahu apa sih sebenarnya kurikulum itu?


Kurikulum pada awalnya tidak berkaitan dengan proses pembelajaran atau pendidikan, lho! Kurikulum berasal dari Bahasa Yunani, yaitu ‘Curir’ yang artinya Pelari, dan ‘Curere’ yang artinya ‘Tempat Berpacu’.


Istilah kurikulum ini justru berasal dari dunia olah raga, terutama dalam bidang Atletik pada zaman Yunani Kuno. Dalam Bahasa Perancis, Kurikulum berasal dari kata ‘Courier’ yang berarti ‘to run’ atau berlari.





Jadi penjelasannya adalah bahwa kurikulum adalah sebuah tempat atau lintasan yang memiliki tujuan tertentu. Ketika seorang pelari berlari, ia berlari pada tempat/landasan pacu, kemudian ia melakukan proses berlari menuju suatu tempat tujuan yakni garis finish.


Kemudian, istilah kurikulum ini diserap menjadi istilah dalam dunia pendidikan dan pembelajaran yang bermakna sebuah proses atau kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dan di dalam proses tersebut tentu banyak sekali komponen yang harus ada, agar tujuan pembelajaran tercapai dengan optimal.


Bicara soal komponen kurikulum, mari kita bahas satu persatu ya, karena ini lah yang akan menjadi pilar dalam membuat pembelajaran di rumah.


  1. Tujuan Pembelajaran




Sesuai dengan istilah awal kurikulum ini berasal, bahwa seorang pelari memiliki tujuan untuk sampai ke garis finish, maka begitu pun dengan pembelajaran. Kita sebagai orang tua, yang akan merancang kurikulum untuk anak-anak kita, harus memiliki tujuan atau garis finish yang terukur.


Kenapa harus terukur? Agar mudah dilihat dan dievaluasi keberhasilannya.


Bagaimana membuat tujuan pembelajaran untuk anak-anak di rumah?

Caranya bisa dengan melihat atau menurunkannya dari visi dan misi rumah tangga atau keluarga yang kita miliki.


Misalkan, visi dan misi keluarga kita adalah mencetak generasi soleh dan salihah, berkarakter baik dan menjadi anak yang bermanfaat bagi masyarakat.


Kita bisa menurunkannya menjadi beberapa tujuan pembelajaran, contoh:


‘Anak melakukan shalat di rumah, minimal tiga waktu shalat’ (untuk usia 5 tahun misalnya)

‘Anak mampu membereskan tempat tidur setiap hari, minimal melipat selimut dan menumpuk bantal’ (untuk usia 5-7 tahun misalnya)


Semua bisa menyesuaikan usia anak, panduan keterampilan motorik, kognitif, bahasa, dll bisa kita unduh di website Kemendikbud ataupun dalam artikel-artikel seputar pendidikan atau pengasuhan anak.


Rumus menuliskan tujuan pembelajaran yang tepat





Ada cara untuk menuliskan rumus tujuan pembelajaran dengan tepat namun cukup sederhana. Yakni rumus ABCD (Audience+Behaviour+Condition+Degree). 


Audience (Anak/siswa/orang/peserta didik)


Behaviour (Kemampuan/sikap yang diinginkan)


Condition (Bagaimana anak/siswa bisa melakukan sikap tersebut, seperti dengan lancar, dengan urut, dengan menggunakan bantuan alat, dll)


Degree (Seberapa tinggi, seberapa banyak, kemampuan tersebut harus dicapai oleh anak, biasanya menggunakan batas minimal kemampuan yang dilakukan).


Contoh:


Anak (A) + mampu mewarnai (B) + tanpa keluar garis (C) + sebuah gambar berukuran A4 (D)


Anak (A) + mampu menghafal (B) + dengan lancar (C) + minimal 3 surat pendek di juz 30 (D)


Anak (A) + mampu melompati tali (B) + tanpa terjatuh (C) + dengan ketinggian tali minimal 10 cm dari tanah (D)


Contoh di atas merupakan cara menulis tujuan pembelajaran untuk anak. Tidak perlu dengan kata atau kalimat yang sulit, yang terpenting tergambar jelas tujuan tersebut, dan ketika anak mampu atau tidak mampu mengerjakannya bisa dengan mudah kita ketahui dan amati.


Tujuan pembelajaran ini layaknya peta. Misalkan kita ingin pergi ke Bandung, jika kita sudah tahu tujuan kita, maka dengan cara apapun, kita akan bisa sampai ke sana. Mau naik motor, angkot, mobil, kereta, pesawat, banyak cara untuk pergi ke sana. 


Namun sebaliknya, jika kita tidak memiliki tujuan, sebagus apapun kendaraan yang kita gunakan, maka kita tidak akan pernah sampai kemanapun atau akan asal pergi ke suatu tempat tanpa tujuan saja. Kira-kira begitulah fungsi dari tujuan pembelajaran ini.



  1. Menyiapkan Media dan Metode Pembelajaran


Mungkin kita sudah ‘horor’ mendengar kata media dan metode pembelajaran. Padahal, hal ini sangat mudah kita lakukan bahkan kita buat sendiri dengan apa yang ada di sekitar kita ataupun dengan kemampuan yang kita miliki.


Namun, yang sangat saya sayangkan saat ini adalah ketika begitu banyak media dan metode pembelajaran yang tersedia (apalagi di internet), mainan edukasi, buku edukasi, tetapi kita sendiri tidak tahu apa arah dan tujuan pembelajarannya. 


Kita banyak mencari berbagai macam kit untuk belajar, buku untuk belajar, mainan edukasi, hingga pusing sendiri untuk memilih dan menggunakannya.


Yang benar adalah kita tahu dan paham dulu tujuan pembelajarannya, baru kita memilih dan memilah media dan metode belajarnya.  Jadi, jangan kebalik ya ibu-ibu. Menumpuk berbagai media untuk belajar, namun tidak jelas peruntukannya.


Media pembelajaran ini bisa kita cari atau buat bahkan dengan sederhana, mudah, dan sesuai dengan kemampuan kita sendiri sebagai orang tua.


Contoh, ketika mengenalkan Aldebaran tentang indera penciuman dan peraba, saya membawanya ke dapur, untuk mencium berbagai aroma rempah dan bahan makanan di dapur. Sedangkan untuk belajar indera peraba, saya mengajaknya untuk menyentuh berbagai benda yang ada di sekelilingnya, seperti batu, plastik, kayu, kain, dsb.


Belajar mengenal rasa dengan bahan yang ada di dapur



Jadi sebenarnya, ketika kita sudah tau apa yang menjadi tujuan pembelajaran, maka kita akan dengan mudah berkreasi dengan apapun yang ada di sekitar kita, semuanya mudah, murah, dan menyenangkan.


Media pembelajaran yang digunakan bisa dengan media cetak visual (Buku, poster, gambar, foto, dll), media audio, media audio visual. Metode yang digunakan bisa dengan demonstrasi, praktek langsung, melakukan pengalaman langsung, dll. 


Buku adalah salah satu media atau sumber belajar yang mudah dan murah untuk didapatkan


Dan untuk anak yang sudah lebih besar, bisa mengakses internet di rumah, semuanya akan serba mudah lagi. Media dan sumber belajar begitu melimpah saat sekarang ini, bahkan anak juga bisa melakukan bimbingan belajar online jika ada materi yang memang harus anak kuasai.


Ketika Pandemi berlangsung, saya juga melakukannya untuk Kifah. Selain belajar secara mandiri di rumah, mengacu pada kurikulum yang saya dapat dari Kurikulum Nasional. Dia juga mengakses pembelajaran secara online.


Salah satu kelas atau pembelajaran online yang bisa diakses adalah Kelaspintar.id Kelas Pintar adalah sebuah solusi belajar online dengan menggunakan metode pintar, personal, dan terintegrasi yang didesain untuk meningkatkan minat belajar dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.


Kelas Pintar percaya bahwa setiap anak atau siswa memiliki gaya dan cara belajar yang berbeda - beda.





Untuk itu, Kelas Pintar menggunakan pendekatan PERSONAL melalui metode penyampaian materi yang disesuaikan dengan beragam karakter siswa, baik itu melalui Visual, Audio, maupun Kinesthetic (V.A.K).


Dan untuk memastikan kurikulum pendidikan di Indonesia bisa diserap oleh siswa, Kelas Pintar menggunakan metode pembelajaran PINTAR yang menggunakan pendekatan Learn, Practice, dan Test. Metode yang digunakan menggunakan video pembelajaran, latihan dan juga simulasi ujian. Fasilitas materi juga diberikan dengan animasi, video pembelajaran, audio, dan E-book.


Semua sudah tersedia dengan mudah ya, tinggal kita yang menyesuaikannya dengan kebutuhan pembelajaran anak. 


3. Evaluasi


Ketika tujuan pembelajaran dibuat seperti apa yang saya jelaskan di atas, maka dengan sangat mudah kita membuat evaluasinya. Karena semua terukur, maka kita bisa membuat daftar tujuan pembelajaran apa saja yang sudah dicapai anak dan yang belum tercapai.


Untuk tujuan pembelajaran yang sudah bisa dicapai, kita bisa menceklisnya dan untuk tujuan pembelajaran yang belum tercapai, kita bisa menganalisis apa yang membuat anak belum bisa mencapainya.


Kita juga bisa mengganti media dan metode pembelajarannya, bila dirasa kurang cocok untuk anak. dan berusaha untuk terus menggali dan menemukan cara agar anak mencapai tujuan pembelajaran tersebut.



Evaluasi ini tentunya sangat penting ya, untuk mengetahui sejauh mana anak-anak mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang kita inginkan. Baik tujuan pembelajaran yang bersifat kognitif, afektif, motorik, mental spiritual, bahasa, dan yang lainnya.



Mudah, kan membuat kurikulum pembelajaran sendiri untuk anak di rumah? Mau mencoba membuatnya untuk anak-anak di rumah?


Juma Si Boneka Barbie: Mengembalikan Dunia Anak Melalui Lagu



Aku punya Boneka Barbie

Bonekanya lucu sekali

Mata Bulat Rambut Keriting

Bajunya juga warnanya blink-blink


Ketika mendengar lirik lagu Boneka Barbie milik Juma di atas, saya jadi flash back ke masa kecil, dimana dulu saya ngefans sama Sherina, Meisyi, Chikita Meidi, Trio Kwek-Kwek, Joshua, Geovany dan Saskia, dan masih banyak lagi penyanyi cilik lainnya. Setiap hari Minggu juga gak pernah saya lewatkan acara seru Dunia Anak di TV, yang isinya akan memutar lagu anak banyak sekali. 


Kalau kita melihat hari ini, rasanya sudah gak ada lagi yang namanya artis atau penyanyi cilik dan acara khusus anak yang memutar lagu anak di TV. Sepertinya, kita kehilangan mereka pasca hadirnya internet dan smart phone dalam kehidupan kita. Sekarang, akses hiburan di internet jadi milik siapa saja, tak kenal batas usia, termasuk anak-anak.


Gak sedikit anak-anak yang hafal, lagu dan personilnya BTS atau Blackpink, plus dengan koreografi ala boy band dan girl band tersebut. Belum lagi serangan aplikasi joget atau dance challenge, duh yang ini bikin saya miris, lagu dan gerakan koreografinya beneran bukan untuk anak, bahkan beberapa waktu yang lalu, ada lirik lagu yang jelas mengisahkan tentang pornografi.


Sebagai orang tua, kita pun kecolongan.

Review Kelas Coding for Kids dari Educourse, Belajar Coding Menyenangkan Selama di Rumah Aja

 

Review kelas coding untuk anak educourse


“Didiklah anakmu sesuai zamannya”


Sebuah nasehat lama bagi para orang tua, yang kedengarannya sederhana, namun realisasinya sungguhlah tak mudah. Kenapa tak mudah? Karena pergantian zaman atau masa tentu memiliki tantangan sendiri-sendiri. Tantangan yang harus ditaklukan oleh kita sebagai orang tua dalam rangka mendidik anak-anak, mempersiapkan mereka untuk dewasa kelak. Seperti, sistem pembelajaran abad 21 yang harus ditaklukan, pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematic) dan pembelajaran lainnya yang memicu Critical Thingking dan kreativitas lainnya.


Apa tantangan mendidik anak zaman sekarang? Menurut saya, adalah tantangan dalam dunia digital dan informasi. Bagaimana tidak, anak-anak kita sudah fasih sekali dengan kehadiran gadget dan internet. Juga mudahnya mengakses informasi dalam genggaman tangan.


Masalah terbesarnya adalah, bagaimana agar teknologi digital dan informasi tersebut, mampu dimanfaatkan untuk kebaikan, bukan sebaliknya.


Istilah kecanduan gadget, internet, dan lain sebagainya tentu sudah sangat kita kenal. Banyak orang tua yang mungkin akan menghindari hal tersebut demi kebaikan anak-anaknya. Namun, sebagai orang tua, saya rasa kita tidak bisa menghindari perkembangan teknologi terus menerus, yang harus kita lakukan adalah membekali anak pengetahuan dan juga sikap (akhlak), untuk hidup berdampingan dengan perkembangan teknologi.

 

Anak-anak dan Rasa Ingin Tahu


Kita juga pernah kecil, dan disaat itulah rasa keingintahuan kita sangat tinggi. Mencoba hal baru, kemudian merasakan sensasi menyenangkan ketika apa yang membuat kita penasaran terungkap oleh tangan kita sendiri.


Setuju?


Di saat pandemi seperti sekarang ini, rasa ingin tahu anak-anak saya di rumah pun tetap tumbuh. Hampir setiap hari, Kifah mencari informasi tentang dunia sepak bola di internet (dia ingin sekali jadi pemain sepak bola, tapi gak bisa latihan karena terhalang pandemi). Dia juga suka main game, dan mencari bahan belajar via internet ketika melakukan sekolah daring.


Hmm, baiklah, memang anak-anak akan tetap berinteraksi dengan gadget dan internet pada waktunya.

 

Belajar di Kelas Coding


Review kelas coding untuk anak educourse
Kifah seneng di rumah punya kegiatan positif baru



Sudah jatuh ke air, yaudah mandi aja deh sekalian. Hehe. Sudah kepalang sering berinteraksi dengan gadget dan internet, mari kita pelajari saja lebih lanjut ‘Apa saja yang bisa dilakukan oleh teknologi?’ Salah satunya adalah dengan belajar bahasa pemrograman atau coding.


Menurut Menteri Pendidikan Nasional, Nadiem Anwar Makarim. Ada tiga skill Bahasa yang harus dikuasai anak-anak untuk mempersiapkan diri di masa depan, yakni:


1.Bahasa Inggris. Tentunya kita sudah tau, bahwa bahasa inggris adalah bahasa internasional yang wajib kita kuasai.


2.Bahasa pemrograman atau coding. Yakni bahasa mesin, bahasa untuk memerintah mesin atau komputer menjalankan program-program yang kita inginkan.


3.Bahasa Data. Yaitu kemampuan membaca dan menganalisis data statistik.

 

Terima kasih Bapak menteri atas wejangannya, sehingga saya memiliki ‘arah’ dalam memberikan edukasi atau bekal hidup untuk anak-anak. Karena saya rasa, sekolah formal saja tidak cukup, kita juga harus membekali anak-anak kita dengan lifeskill dan pengalaman yang memotivasi mereka agar ingin belajar lagi dan lagi.


“Emangnya kalau dari kecil anak sudah diberikan les coding, akan langsung jago jadi programer?


Jawabannya adalah, nggak.


Tujuan saya memberikan Kifah kelas coding adalah untuk MENSTIMULASI terlebih dahulu minat dan daya pikirnya akan suatu hal yang baru. Saya ingin, dia menemukan pengalaman, motivasi, dan wawasan baru. Bahwa ada beragam ilmu pengetahuan yang bisa digali dan mungkin bisa dijadikan passion atau profesi di masa depan. Who knows, bahkan pekerjaan jenis apa di masa depan untuk anak-anak kita pun kita gak tau, kan?


Maka dari itu, fokus saya sebenarnya bukan menjejali Kifah berbagai les atau hal-hal yang bersifat materi semata. Tapi lebih ke stimulasi, agar ia bisa menkonstruk pemikiran baru dan mendapat motivasi untuk menggali ilmu pengetahuan lebih dalam lagi.

 

Belajar Coding di Educourse


Review kelas coding untuk anak educourse
Tiap hari makin pensaran sama materi baru 



Akhirnya Kifah belajar coding di Educourse, yaitu kelas belajar coding for kids berbasis daring atau online tentunya, via zoom meeting.


Belajarnya codingnya gimana? Bikin pemrograman? Ya, betul! Namun, bahasa pemrograman yang diberikan kepada anak, menyesuaikan dengan usia anak-anak. Bukan seperti bahasa HTML, Java, PHP, Phyton, C++ dan lain sebagainya. Duh, ini mah level emaknya juga gak bisa, wkwkwk.

 

Review kelas coding untuk anak educourse
Ms. Zia, gurunya Kifah di Educourse



Kelas coding for kids di Educourse sangat menyesuaikan dengan usia dan kemampuan anak-anak. Daftar kelasnya, yaitu:


1.Usia 5-8 tahun (menggunakan stratch) Level Junior One dan Junior Two.


2.Usia 9-12 tahun (menggunakan sctratch) Level Intermediate dan Pre Advance.


3.Usia 10-14 tahun (menggunakan Tynker) Level Intermediate.

 

Pembelajaran Kelas Coding di Educourse


Review kelas coding untuk anak educourse
Makin penasaran juga sama coding


Setelah mengikuti kelas coding di Educourse, saya mengamati progres belajar Kifah (10 tahun) setiap pekannya. Ada beberapa yang saya garis bawahi, yakni:


1.Belajar mengenai logika


Ketika belajar coding atau bahasa pemorgraman, Kifah belajar logika untuk memberikan instruksi. Contohnya, ketika belajar menggerakan objek ke kanan, kiri, atas, dan bawah Kifah belajar tentang logika pada sumbu X dan Y (ini pelajaran SMP ya kalau ga salah tentang kuadran dengan sumbu X dan Y).


Dimana jika objek ingin digerakkan ke kiri, maka yang ditulis huruf x dengan angka negatif, umtuk bergerak ke atas, maka ditulis y dengan angka positif, jika ingin bergerak ke kanan maka ditulis x dengan angka positif, dan jika ingin bergerak ke bawah, maka ditulis y dengan angka negatif.


Selain itu, ada pembelajaran logika “Jika” “Maka”. Apabila kita memberikan perintah tertentu, misalkan ketika kursor menyentuh objek atau warna tertentu, maka akan terjadi reaksi atau respon tertentu.


2.Analisis Masalah


Membuat coding tentu tidak selamanya mulus, pasti ada ‘syntax error’ ketika melakukan proses coding. Sehingga membuat program yang kita inginkan, belajar dengan tidak mulus atau sesuai keinginan.

Pada saat Kifah tidak berhasil menjalankan program yang ia inginkan, kemudian ia melakukan analisis masalah terhadap coding yang ia buat. Menerka apa yang terjadi, mencari akar masalahnya, dan berusaha menemukan solusinya.


3.Memecahkan Masalah

Setelah melakukan proses analisis, biasanya ia mencoba untuk mencari solusi dengan melakukan cek ulang semua codingnya dan jika masih bermasalah, ia akan bertanya kepada tim pengajar dari Educourse atau mencarinya di internet (biasanya Kifah mencari informasi di Youtube).


4.Ketelitian dan Fokus


Nah, ini dia yang saya suka. Kifah itu anaknya kurang fokus dan teliti, karena ia anaknya terlalu kinestetik, sukanya bergerak ke sana ke sini sejak kecil. Maka dari itu, dengan mengikuti kelas Coding dari Educourse, Kifah jadi belajar fokus dan ketelitian. Karena ia harus benar-benar mengecek apakah coding yang dia lakukan sudah benar atau belum.


5.Ketekunan dan Kerja Keras


The power of penasaran sih nampaknya, hehe. Ketika ada games yang dia buat dan belum benar-benar sesuai yang diinginkan, maka ia akan terus ngulik coding games tersebut hingga program/gamesnya benar-benar bisa dijalankan dengan baik.

 

Beberapa Games yang sudah Kifah buat sendiri:


Review kelas coding untuk anak educourse
Flying Cat aka Kucing Ngapung/Terbang. Bt, kucingnya terbang mencari uang ini, wkwkwk



Review kelas coding untuk anak educourse
Mengumpulkan Koin. Tadinya itu ini gambarnya apel, sama Kifah diganti jadi gambar koin uang, emang dia materialistis sekali anaknya ya, hahaha.



Review kelas coding untuk anak educourse
Kucing Mencari Jalan Pulang. Kucing sedang mencari jalan pulang, namun di tengah jalan, ia diganggu oleh beberapa ekor lady bug atau kepik. Semoga selamat sampai tujuan ya, Cing.


Review kelas coding untuk anak educourse
Game Ping-Pong. Ini games yang biasanya suka ada di PC atau hape jadul deh kayaknya. Seru ini mainnya bisa berdua.



Review kelas coding untuk anak educourse
Roket di Luar Angkasa. Ini juga kayaknya games zaman punya Nokia jadul. Nembakin musuh di ruang angkasa wkwkwkwk.


Kelebihan Mengikuti Kelas Coding di Educourse:

 

Review kelas coding untuk anak educourse
Pembelajarannya menyenangkan


1.Dalam satu kelas, muridnya tidak terlalu banyak, hanya sekitar 10 orang.


2.Kelas bisa dipilih saat weekend atau weekday.


3.Dilakukan secara daring via zoom meeting, sehingga sangat mendukung program  belajar anak di masa pandemi.

 

 

Saran untuk kelas coding di Educourse:


Menurut saya, salah satu hal yang mungkin bisa ditambah lagi yakni waktu atau durasi. Satu jam itu benar-benar gak kerasa untuk anak belajar coding, hehehe. Karena memang anak-anak yang langsung mengerjakan sendiri coding dari games yang akan dibuat. Karena kelasnya online, jadi memang agak ‘makan waktu’ ketika anak harus melihat ke layar stratch untuk mengkoding games, dan juga layar zoom meeting. Mungkin waktu atau durasinya bisa lebih menyesuaikan dengan tingkat kesulitan anak ketika sedang belajar  di dalam kelas.

 

Review kelas coding untuk anak educourse
Akhiranya ketagihan bikin games sendiri



Over all, saya sangat suka dengan kelas coding dari Educourse ini. Kifah sangat termotivasi untuk membuat banyak games, logika dan daya analisis masalahnya juga terasah. Dan juga yang gak kalah penting, ketekunan dan ketelitiannya juga ikut terstimulasi.

 

Sekian review kelas Coding for Kids Educourse dari saya, alhamdulillah, banyak sekali manfaat yang saya rasakan juga sebagai orang tua. Kifah jadi bisa meluangkan waktu lebih positif dengan gadget atau perangkat teknologi yang ada di rumah.


Sebagai orang tua, kadang kita sangat takut ketika anak kecanduan gadget atau selalu bermain-main dengan game atau gadgetnya. Namun, ketika semua itu diarahkan dengan benar, dijadikan sarana belajar, maka semuanya bisa berubah ke arah yang positif dan tentunya bermanfaat bagi anak.

 

Ada yang punya pengalaman ikut kelas Coding for Kids juga, Ma? Atau lagi menimbang-nimbang ikut kelas belajar on line untuk anak selama di rumah aja?

 

Sharing di kolom komentar, yuk!


***


Educourse is an intelligent future education platform for STEAM learning with AI (Artificial Intelligence) and AR (Augmented Realty). Educourse menyelenggarakan beberapa pembelajaran berbasis STEAM seperti kelas Coding for Kids, Coding for Teens, Fun Science, Crazy Math, Junio Engeneer,.


Ada juga kelas Bahasa, yakni English, Japan, Korea, Turki, dan lain-lain. Ada juga Visual Art Drawing, Craft and DIY. Pokoknya masih banyak banget kursus yang bisa diikuti di Educourse. 


Klik https://educourse.i-gen.co.id/ untuk melihat banyak kursus lainnya, dan kunjungi Instagram @educourse.id untuk bertanya langsung dengan Educourse.

PPDB Seleksi Usia, Mengatasi Masalah dengan Masalah

 



PPDB Seleksi Usia, mengatasi masalah dengan masalah


***


Daftarin anak ke sekolah di usia lebih tua agar lebih siap (NO)

Daftarin anak ke sekolah di usia agar bisa masuk ke sekolah negeri (YES)

 

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo mengakui bahwa ada sejumlah orangtua mempermasalahkan kriteria usia yang dijadikan pertimbangan dalam sistem PPDB. Kebijakan mengenai kriteria usia, lanjut Heru, merupakan bagian dari pembangunan sumber daya manusia dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Heru menjelaskan, tujuan dari penambahan kriteria usia dalam PPDB DKI Jakarta yakni agar siswa dari kalangan tidak mampu dan tertinggal bisa menikmati fasilitas pendidikan yang lebih baik dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang di masa depan. “Gubernur memprioritaskan anak-anak yang berusia lebih tua yang tertinggal serta sekolah di pinggiran untuk bisa masuk di sekolah negeri dan menikmati fasilitas pendidikan,” imbuhnya.


Sumber: 
https://mediaindonesia.com/humaniora/322211/kriteria-usia-dalam-ppdb-demi-pemerataan

 

Setaip tahun, tepatnya di tahun ajaran baru, di timeline facebook maupun sosial media lainnya pasti terjadi kekisruhan soal PPDB online. Isinya rata-rata adalah bentuk protes orang tua yang anaknya tidak bisa masuk ke sekolah Negeri karena tidak masuk kriteria usia. Hal ini tentunya menjadi sebuah keresahan, bagi kami selaku orang tua. Walau pun saya belum merasakannya langsung, namun, 2 tahun lagi, saya harus mendaftarkan anak saya ke Sekolah Menengah Pertama.

 

Banyak orang tua yang mengeluh, karena anak-anak mereka tidak bisa masuk ke sekolah negeri karena usia yang masih muda. Sementara, para pendaftar lainnya berusia jauh lebih tua, dan diprioritaskan masuk ke sekolah negeri tersebut.

 

Contohnnya pada kasus pendaftaran usia SMA, batas maksimal usia yang diperbolehkan adalah 21 tahun untuk masuk ke Sekolah Menengah Atas. Ketika para pendaftar dengan usia mendekati 21 tahun jumlahnya lebih banyak, otomatis, anak yang berusia 14-16 tahun tidak bisa masuk, kerena kuotanya sudah habis!

 

Merujuk pada pernyataan Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo, pendaftaran sekolah negeri, seleksi berdasarkan usia ini diharapkan bisa menjadi solusi atas masalah anak-anak yang putus sekolah atau kaummiskin, agar bisa menikmati fasilitas pendidikan yang berkualitas.

Namun, nyatanya, peraturan ini membuat anak-anak yang berusia lebih muda (14-16 tahun, usia normal anak masuk SMA) terancam putus sekolah juga! Kalau sudah begini, menurut saya, sama seperti mengatasi masalah dengan masalah baru.

 

Kalau saya mencoba berpikir sendiri, solusi yang bisa diambil adalah:

 

1.Menunggu tahun berikutnya,agar usianya nambah lagi satu tahun.

2.Sekolah di sekolah Swasta aja, karena kemungkinan besar akan diterima.

 

Akan tetapi, jika pemerintah ‘memberikan’ solusi seperti ini, tidak semua orang tua bisa melakukannya.

Pertama, menunda sekolah anak itu bukanlah hal yang mudah. Bagaimana dengan semangat dan motivasi belajarnya? Apa yang anak harus lakukan di masa menunggu? Dan masalah lain yang akan muncul kemudian.

 

Kedua, dari sisi ekonomi. Tidak semua orang tua mampu menyekolahkan anak ke sekolah swasta, mengingat biayanya yang tidak murah. Kalau sudah begini, bukankah bisa memicu anak menjadi putus sekolah?

 

Lalu, dimana letak keadilan bahwa pendidikan adalah hak semua anak, sesuai dengan Undang-undang:


Pada pasal 9 (1), UU 23/2002 dikatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya

 

Hmmm, sementara definisi anak menurut undang-undang adalah:


UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAKDalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: ... Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

 

Gimana dong yang usianya sudah 21 tahun???

 

Bagaimana Solusinya?

Saya sendiri memikirkan beberapa hal yang bisa dilakukan, agar akses pendidikan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia.


1.Menambah jumlah sekolah, sesuai dengan data anak berusia sekolah di wilayah tertentu. Menambahkan kuota pendaftar peserta didik baru, tanpa menambah jumlah sekolah, sama seperti sebuah bis yang ingin mengangkut banyak penumpang, tapi kursinya gak ada penambahan, ya gak bisa ikut semua akhirnya.


Solusinya, menunggu bis gratis lain? Atau pakai bis lain yang pakai tiket/tarif lebih mahal.

 

2.Menurunkan range batasan usia anak, jangan sampai 21 tahun. Karena semakin besar range-nya tentu makin banyak jumlah pendaftarnya.

 

Lalu, bagaimana dong untuk pemerataan pendidikan anak-anak yang putus sekolah? Terutama yang sudah menginjak 17+ ?

 

3.Maksimalkan program kesetaraan atau paket C, dong!


Paket C (kejar paket C) adalah pelayanan pendidikan pada jenjang menengah kejuruan melalui jalur non formal. Program paket C merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat usia sekolah dan usia dewasa yang karena berbagai sebab tidak melanjutkan pendidikan.

 

Jadi, kalau dilihat dari definisi di atas, sebenernya, untuk usia yang sudah dewasa, bisa mendapatkan pendidikan pada program kejar paket C. Nah, program paket C ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik tentunya.

 

Saya ingat, ketika SMA dulu, ada SMA kelas terbuka untuk anak lainnya. Sekolahnya hanya hari Jum’at dan Sabtu, namun nanti akan tetap sama mendapatkan Ijazah dari SMA. Menurut saya, program ini sangat bagus untuk mengentaskan masalah kesempatan belajar.

 

Nah ini, saya menemukan sebuah jurnal tentang Sekolah Terbuka dengan judul, SEKOLAH MENENGAH ATAS TERBUKA (SMA TERBUKA): SEBUAH MODEL PENDIDIKAN YANG FLEKSIBEL.

 

Berikut abstraksinya:

Data Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional (BalitbangDepdiknas, 2000) mengungkapkan bahwa pada tahun ajaran 1999/2000 terdapat jumlah lulusan SMP/MTs sebanyak 2,66 juta orang. Dari jumlah lulusan ini, yang melanjutkan pendidikan ke tingkat pendidkan berikutnya hanya 1,78 juta anak (66,9%). Pada tahun yang sama, jumlah peserta didik yang putus sekolah pada pendidikan sekolah menengah berjumlah 243.100 peserta didik dari 5,6 juta peserta didik (9,03%). Apabila data ini dapat dianggap sebagai keadaan ratarata setiap tahun, maka akan terjadi akumulasi yang semakin besar dari tahun ke tahun mengenai jumlah peserta didik yang putus sekolah pada pendidikan menengah dan peserta didik yang tidak melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah; terlebih lagi jika tidak dilakukan intervensi. Menghadapi keadaan yang demikian ini, dibutuhkan suatu model/sistem pendidikan alternatif yang inovatif dan fleksibel yang dapat mengatasi masalah/kendala kesempatan belajar. Dalam kaitan ini, SMA Terbuka sebagai sebuah alternatif model/sistem pendidikan yang inovatif dan fleksibel telah dirintis di 7 lokasi di 6 provinsi sejak tahun 2001/2002. Tulisan ini akan membahas berbagai aspek tentang model/sistem pendidikan SMA Terbuka sebagai sebuah model pendidikan yang fleksibel.

 

 Sumber: Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 2, Desember 2008

 

Di beberapa berita online yang saya baca, sekolah terbuka ini memang belum dioptimalisasi keberadaanya. Dan saya pun tidak tahu, apakah sekarang masih ada konsep sekolah terbuka seperti ini?


Padahal, dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, Pembelajaran Jarak Jauh dengan model Blended Learning (Online dan Offline) harusnya bisa dioptimalisasi dengan baik.


Helooo, ini udah tahun 2021 dimana seorang bayi pun sudah punya akun tik-tok dan Instagram.

 

Peraturan dan Realita


Menurut saya, sebagai orang awam, hanya seorang orang tua biasa, yang namanya peraturan adalah hal yang fleksibel, seperti halnya peraturan yang saya terapkan di rumah untuk anak-anak saya. Kalau ada masalah, ya saatnya monitoring dan evaluasi. Jika ada masalah, kita harus temukan solusi agar semuanya bisa berjalan seadil-adilnya. Solusi masih melahirkan masalah? Ya terus dicari akar permasalahannya sampai dapat dan buat solusi lagi yang lebih baik.


Karena bagaimana pun, kita tidak boleh bertindak tidak adil bagi sebagian orang. Apalagi jika konteksnya pemerintah atau negara, tentu harus memberikan win-win solution bagi masyarakatnya.

 

Baiklah, itu saja opini saya tentang PPDB yang menyeleksi anak berdasarkan usia, menurut saya hal ini justru mengatasi masalah dengan masalah baru. Menyelamatkan yang putus sekolah, namun membuat yang lain terancam putus sekolah.

 

Semoga pihak-pihak terkait bisa segera menyelesaikan masalah ini. Ada komentar atau solusi lain? Yuk sharing di kolom komentar.

 

*Biasakan diskusi yang membangun ya, bukan saling menjatuhkan. Terima kasih.