Copyright by tettytanoyo. Powered by Blogger.
Showing posts with label Minimalist. Show all posts

Ibu Rumah Tangga Bisa Terjebak Toxic Productivity?

 



"Kok aku ga produktif banget, ya?"

"Ibu rumah tangga lain kok bisa sih, bikin konten terus? Bikin blog, vlog, postingan instagram?"

"Apa aku males, ya?"

"Apa aku gak bisa atur waktu, ya?"

Familiar dengan kata-kata seperti di atas? Merasa gagal produktif setiap hari, merasa gak bisa atur waktu? seakan orang lain bisa menghasilkan banyak karya sedangkan kita ngga?


Mungkin saja, kamu (sebagai ibu rumah tangga) terjebak dalam toxic produktivity. Akhir-akhir ini, saya sering mendengar istilah ini di media sosial, karena penasaran, saya cari informasinya di google dan media sosial.




Apa itu Toxic Productivity?

“Toxic productivity adalah keinginan tidak normal untuk menjadi produktif setiap saat. Namun, produktivitas yang berlebihan justru bisa menyebabkan burnout dan mengganggu kesehatan mental yang malah membuat kamu menjadi kurang produktif. Dengan mengenali tanda-tandanya dan berusaha untuk meluangkan waktu untuk beristirahat, toxic productivity bisa diatasi.”

Polytron Siap Membantu Kita Menjadi Ibu Minimalis, Bersama Tiara Pot Pro dan Rice Cooker Donabe

 

review tiara pot pro polytron



“Tugas rumah tangga apa yang paling berat dikerjakan?” Tanya Pak Suami kepada saya, kala itu.

“Masak!” Spontan saya menjawab.

“Kenapa?” Pak Suami penasaran.

“Karena, membeli, mengolah, dan menghidangkannya butuh waktu yang bikin aku lelah, beib.”

 

Entah kenapa, memasak malah menjadi pekerjaan terberat bagi saya. Dibanding mengurus atau mengasuh anak, saya lebih memilih Lelah mengasuh anak, dibanding lelah memasak di dapur. Masak itu perlu persiapan, proses memasaknya, dan setelahnya (mengidangkan dan mencuci perabotan memasak itu bener-bener menyita waktu dan tenaga).

 

Aneh, ya? Padahal, banyak ibu lainnya yang justru hobi memasak dan berkreasi di dapur, namun apa daya? Saya mungkin bukan yang hobi memasak, ya sebatas bisa menyajikan makanan sehari-hari yang sangat sederhana, itu pan kadang-kadang, ketika semuanya memungkinkan.


5 Cara Agar Rumah Selalu Rapi Bersama Anak-anak

 

5 Cara Agar Rumah Selalu Rapi Bersama Anak-anak


"Rumah selalu rapi setiap hari? mana bisa, kan ada anak-anak?"


Begitulah pasti pertanyaan kebanyakan orang-orang, ada anak kecil di rumah, sudah pasti rumah bakal berantakan seperti kapal pecah.

"Kok, bisa, rumahnya rapi walau ada anak?" Seseorang pernah bilang begitu ke saya.


Ehem, ehem, langsung GR sih, sebenernya, hehehe. 


*Makasih, lho, sama yang udah bilang gitu ke saya, semoga tambah lancar rezekinya, amiiin.


Kembali ke pertanyaan di atas, emang beneran rumah bisa rapi walau ada anak-anak? Sebenernya ya kembali ke standar kerapihan itu sendiri. Saya sendiri merasa kalau saya ini orang yang cukup messy, ga raffi-raffi amad, kok.


Stop Multitasking! [Tips Manajemen Waktu di Rumah Agar Tetap Produktif]

 


Biasanya, seorang ibu itu kalau mengerjakan sesuatu itu maunya cepet beres, akhirnya semua dikerjakan sekaligus, karena konon katanya seorang perempuan/ibu itu bisa multitasking (mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu).


Apa benar seperti itu? Saya punya beberapa fakta tentang multitasking itu sendiri.





Fakta tentang multitasking:


1.Multitasking membuat otak bekerja lebih berat

2.Multitasking bisa menurunkan 40% prduktivitas

3.multitasking menurunkan IQ sebanyak 10 point

 

Sebenarnya, apakah kita (perempuan/ibu) itu beneran bisa multitasking? Jawabannya adalah yang kita lakukan sesungguhnya adalah switching atau berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Bukan multitasking, yakni mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Karena pada faktanya, hanya sedikit sekali orang ‘istimewa’ yang bisa melakukan multitasking.

 

Lebih Baik Singletasking

 



Yaps, setelah tahu bahwa sebenarnya kita gak pernah bisa benar-benar multitasking, maka yang saya lakukan adalah single tasking atau mengerjakan suatu pekerjaan satu-satu, sampai beres, baru berpindah ke pekerjaan lainnya.

 

Bagaimana cara melakukan singletasking yang efektif?

 

1.Membuat Jadwal dengan Kelompok Waktu


Dari pada membuat jadwal dengan rundown (seperti membuat acara) lebih baik mengerjakan pekerjaan dengan kelompok waktu. Biasanya saya membagi kelompok waktu dalam sehari menjadi empat bagian.


Pengelompokkan waktu tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut:




Catatan: Biasanya, sebelum tidur, saya melakukan pekerjaan rumah ringan terlebih dahulu, seperti cuci piring, sapu lantai, cuci baju (ringan kerena pakai mesin cuci), menyimpan barang pada tempatnya. Supaya apa? Supaya ketika bangun pagi mood kita jadi bagusssss.

 

Kenapa saya gak pakai jadwal ala Rundown acara? Karena pernah pakai dan seringnya jadwal jadi meleset, dan kalau meleset saya jadi stres, wkwkwk.


Dengan kelompok waktu, pikrian juga gak terlalu rumit menghafal jadwal, yang penting direntang waktu tersebut, tugas-tugas bisa selesai.

 

2. Fokus!


Apa yang membuat pekerjaan gak bisa selesai dengan cepat? Ya karena kita gak fokus! Bentar-bentar cek HP/Sosmed.


Gunakan mode silent atau getar saja, jadi notifikasi handphone gak selalu terdengar. Aktifkan suara handphone untuk panggilan penting saja. Sisanya bisa dibisukan atau dibuat mode getar.




Lakukan teknik Pomodoro. Teknik Pomodoro (Pomodoro ini artinya tomat, hehe) yaitu dengan cara, 25 menit melakukan pekerjaan, 5 menit istirahat. Di waktu istirahat bisa melihat handphone siapa tau ada hal penting, atau bisa beristirahat dengan minum teh manis hangat atau segelas susu.


Tapi ingat ya, kalau batas istirahatnya 5 menit, ya 5 menit aja. Jangan sampai, karena stalking sosial media, eh bablas jadi satu jam, haha.

 

3. Mindfulness


Lakukan kegiatan atau pekerjaan dengan se-mindfulness mungkin. Lakukan dengan penuh kesadaran dan kebermaknaan. Usahakan jangan mengeluh atau menggerutu. Fokus dan mindfulness ini jadi kunci kita untuk menikmati setiap pekerjaan yang kita lakukan. Karena sayang sekali jika kita menggerutu/tidak menyukai pekerjaan tersebut.


Pada akhirnya, pekerjaan itu memang akan kita kerjakan berulang setiap harinya. Jika kita tidak bahagia mengerjakannya, sama saja kita membuang waktu dengan percuma.


Jadikanlah pekerjaan kita menjadi sebuah hobi yang menyenangkan dengan mindfulness ini.

 

4.Reframing


Setelah melakukan semua pekerjaan dengan mindfulness, jangan lupa juga kita melakukan reframing. Hal ini kita lakukan untuk melihat semua pekerjaan atau aktivitas kita menjadi lebih positif, tidak membuat kita stres.


Reframing sendiri berarti mengubah sudut pandang dalam melihat suatu masalah yang terjadi, atau memaknai ulang sebuah peristiwa.


Ada sebuah ungkapan, “tidak ada kejadian yang baik dan buruk, yang ada, pikiran kita lah yang memaknai itu semua”


Reframing ini adalah teknik yang sudah banyak digunakan agar kita selalu berpikir positif. Walaupun kita ini ‘hanya ibu rumah tangga’ berpikir positif ini harus selalu dilakukan, karena banyak sekali penelitian yang mengatakan bahwa memang ibu rumah tangga itu mudah sekali stres karena banyaknya pekerjaan yang dilakukan di dalam rumah.


Contoh reframing dalam pengasuhan:


Ketika anak merusak mainan/barang dan suka marah-marah

Ubah menjadi “Mungkin ada kebutuhan sensorik yang belum distimulasi dengan baik, sehingga tubuhnya ‘menagihnya’ atau mungkin anak sedang belajar mengeluarkan emosinya, namun belum tersalurkan dengan baik”

 

Reframing dalam urusan domestik:


Ketika lelah selalu memasak setiap hari.


Ubah menjadi “Alhamdulillah masih ada bahan makanan yang bisa saya masak. Mungkin ini adalah tantangan, bagaimana menyederhanakan proses memasak. Misal dengan mencoba food/meal preparation

 

Reframing dalam pendidikan anak:


Ketika anak belum memiliki nilai sekolah yang bagus menurut kita.


Ubah menjadi “Alhamdulillah ia masih bisa belajar, dan ini adalah tantangan bagi saya untuk menemukan gaya belajar yang tepat untuknya dan menggali potensi terbaik yang ia miliki.”

 

Dengan teknik reframing (menyederhanakan atau meminimalisir pikiran kita yang ruwet). Insya Alloh kita akan lebih bisa menjalani hari-hari dengan lebih positif. berpikir sederhana/tidak ribet dalam mengasuh, mendidik, dan menjadi ibu rumah tangga.

 

Tips Manajemen Waktu di Rumah Agar Tetap Produktif

 

Di atas sudah saya singgung tentang stop multitasking dan mulailah untuk singletasking. Memang tidak mudah untuk menerapkan singletasking, awalnya pasti akan terasa aneh dan kaku. Pikiran dan tangan ini rasanya ‘gatal’ untuk mengerjakan pekerjaan lainnya saat kita mengerjakan satu pekerjaan.


Coba ditahan ya, Bu. Insya Alloh pasti bisa.


Nah, di atas juga sudah saya tulis tentang bagaimana mengerjakan pekerjaan rumah dengan kelompok waktu. Silakan dibuat kelompok waktu tersebut, dan saya punya tips bagaimana agar bisa lebih produktif dengan menggunakan kelompok waktu tersebut.

 

Namanya, Jam Emas!




Jam emas adalah waktu-waktu dimana energi kita sedang ‘naik’, sedang semangat-semangatnya. Istilah gampangnya, mood kita sedanga sangat bagus kondisinya.


Jam emas ini saya sering artikan dengan waktu PRODUKTIF. Dimana saya harus memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya.


Seperti menulis out line blog, sosmed, menulis draft tulisan, mencatat ide, membuat caption, mendesain visual menggunakan canva, dll.


Pokoknya, di waktu ini, saya sedang merasa sangat ‘hidup’ dan bersemangat.

 

Jam Emas dari waktu ke waktu


Jam Emas ini gak mesti stagnan ya, karena kehidupan kita pun sangat dinamis. Tahun ini punya satu anak, tahun depan dua anak, dan seterusnya. Jadi gak ada waktu pasti untuk jam emas ini. Biasanya sangat menyesuaikan dengan kondisi dan situasi.



 

Enaknya punya jam emas:


1.Tahu kapan waktu terbaik, paling semangat, mood, untuk melakukan sebuah pekerjaan.

2.Berasa punya GOALS atau tujuan hidup/mimpi yang setiap hari bisa dicicil.

3.Berasa Happy, karena kita sudah mengisi ‘satu slot’ waktu kita, untuk melakukan hal produktif.

4.Lebih santai, minim stres dalam mengasuh anak, karena energi kita tersalurkan untuk hal yang kita senangi.

 

Tips!




1.Lakukan PEKERJAAN YANG BERAT (seperti menulis draft blog, sosmed, caption, membuat konten, dll) di waktu dimana energi/mood kita dengan FULL POWER!


2.Lakukan hal yang MEMBOSANKAN ketika energi kita sedang SURUT. Kalau saya mencuci baju di malam hari, sudah agak low batt, tapi kan cuci bajunya pakai  mesin, jadi no problemo.


 

Akhirnya, dengan memiliki jam emas, saya punya ‘jatah waktu’ untuk membuat diri saya bahagia dan merasa produktif. Walau itu hanya membuat out line atau draft blog (satu dua paragraf) tapi saya merasa lebih berdaya dan bahagia. Mood jadi bagus, aktivitas lebih ringan dan bawaanya gak emosian, hahaha.


Jika tidak ada pekerjaan rumah sebelum tidur, berarti saya mendapaatka BONUS waktu, yeay! Biasanya saya gunakan untuk nonton vlog ibuk-ibuk Korea yang lagi beberes seperti HamiMommy, Haegreendal, Sisletter, Honey Jubu, dll. Nonton satu episode Drama Korea, atau bermain game.

 

Saya punya rekomendasi game yang bisa digunakan untuk megisi waktu bonus ini:

Solitaire

 


Solitaire ini sebenernya game jadul di PC Windows tahun 90’an, inget deh dulu games di PC ya cuma solitaire ini. Cara mainnya yaitu mengurutkan kartu bernomor besar ke kecil dengan warna selang-seling merah dan hitam. Sekarang, permainan Solitaire bisa dimainkan secara online.

 

Mahjong




Saya suka main mahjong waktu pertama kali punya gadget. Yaitu main mencocokkan gambar gitu aja, mirip-mirip sama Onet. Iya, saya kalau main game sereceh itu, gak pernah main game yang sulit, haha. Supaya bisa happy-happy aja, gak mau  malah jadi stres karena main game.

 

Hidden Object




Ini games yang paling saya suka, karena menguji ketajaman mata, jadi memang dari kecil saya lebih suka games dengan model uji ketajaman mata atau daya ingat. Lumayan kan ibu rumah tangga memang paling diuji ketajaman matanya dan daya ingatnya, wkwkwk.

 

Tapi ada satu pengecualian, kalau saya sedang sakit, sangat lelah, nggak saya paksakan untuk mengisi jam emas saya dengan hal yang biasa saya lakukan. Tetap ya, kita juga harus tahu batasan kapasitas diri kita.

 

Bagi saya, jam emas ini sangat penting. Agar kita tidak tersiksa dan merasa dikejar-kejar pekerjaan rumah tangga. Karena semua ada porsinya masing-masing. Karena ibuk-ibuk di rumah kadang lupa akan kebahagiaan dirinya sendiri.

 

Jadi, begitulah saya mengatur waktu saya di rumah agar tetap bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dan tetap bisa produktif ngeblog dan bersosial  media.


Semoga bermanfaat yaa :)

 

 


Ketika Ibu Kelelahan

 


Pernahkah di suatu hari, kita merasa sangat kelelahan? Padahal kita sudah beristirahat, sudah makan, sudah tidur, sudah melakukan hiburan sejenak, namun lelah itu tak kunjung pergi. Kemudian kita menjadi gak mood, mudah marah, sensitif, sedih dan lainnya?


Kalau iya, kemugkinan kita sedang mengalami yang namanya PARENTAL BURNOUT.

 

Apa itu Parental Burnout? Parental Burnout merupakan kondisi yang dialami oleh orang tua ketika merasakan kondisi kelelahan secara fisik maupun mental. Banyak orang tua yang MENGABAIKAN kondisi tersebut karena merasa bersalah atau malu mengakui bahwa ia mengalami kelelahan. Namun, Parental Burnout yang tidak diatasi justru dapat mempengaruhi pola asuh yang diterapkan pada anak (Halodoc).




Ciri-ciri umum ketika kita sedang mengalami Parental Burnout adalah:


1.Sedih berlebihan

2.Merasa tidak dicintai

3.Mudah marah/sangat sensitif

4.Mudah stres dan kebingungan

5.Sudah beristirahat namun terasa masih lelah dan ada pikiran yang mengganjal


Saya sendiri beberapa kali  mengalami yang namanya Parental Burnout. Karena dengan kondisi tiga anak laki-laki tanpa asisten rumah tangga, hari-hari saya dipenuhi berbagai macam kesibukan yang terus menerus bagai tanpa akhir. Seperti mengasuh anak dengan berbagai problematikanya, membersihkan rumah, memasak, mencuci, semua saya lakukan sendiri.

Pengalaman dalam melewati kondisi seperti itu (Parental Burnout) menjadi catatan tersendiri bagi saya, untuk saya ingat dan saya cari solusinya.

 

Berdasarkan pengalaman, beberapa hal berikut ini yang saya lakukan ketika mengalami Parental Burnout.


1.’Menjauhi’ Anak-anak



Kalau ibu sedang lelah, hal yang paling kelihatan adalah sikap kepada anak atau pasangan. Biasanya ke anak lebih mudah marah, emosi, dll. Padahal ‘Trigger’ marahnya gak seberapa.

Kalau sudah seperti ini, biasanya saya ‘menjauhi’ anak-anak dulu untuk sementara waktu. Gak main bareng dulu, atau gak belajar bareng dulu. Pokoknya target-target kegiatan anak dicancel dulu sampai waktu yang tidak ditentukan, wkwkwk.

Gak perlu idealis, yangpenting anak-anak ‘ga jadi korban’ pelampiasan rasa lelah ibunya.

 

2.Tidur




Tidur merupakan hal yang sangat istimewa buat ibu-ibu, lho. Ya, nggak?


Apalagi kalau punya bayi, tidur itu MEVVVAAAHHHH sekali. Makanya, kalau ada kesempatan buat tidur, baik itu tidur bareng anak atau nitip anak-anak ke bapaknya sebentar, mending istirahat dengan jalan tidur ajaaa.


Tidur pun kadang masih suka halu ya ngedenger suara bayi ya atau anak, wkwkwk. Sabar ya Buibu, tapi kita memang harus berusaha beristirahat dengan tidur yangberkualitas. Supaya bisa refresh lagi.

 

3. Gak Main Sosmed




Biasanya, kalau mood lagi gak bagus, lagi capek/Burn Out, kalau liat postingan orang lain, atau postingan yang bersebrangan dengan suasana hati, bawaannya suka sensi dan emosi. malah kadang jadi julid sama orang lain, hahaha.


“Ih, ok bisa, sih, dia produktif banget? Ih kok bisa sih kayaknya ajak main anaknya terus?”


Nah, daripada julid, nyinyir, marah, lelah, lebih baik PUASA SOSMED dulu untuk sementara, sampai keadaan diri kita membaik dan siap melihat realita kehidupan kembali.

 

4. Melakukan Hobi yang tertunda




Hobi ini tentu beragam ya, ada yang hobinya bisa dilakukan di rumah aja, ada yang harus keluar rumah, semua sih sah-sah saja menurut saya.


Saya sendiri lebih suka keluar rumah sebenernya, jalan-jalan atau muter-muter aja keliling naik mobil. tapi selama pandemi ini jadi terbiasa di rumah aja.

 

Di rumah seringnya baca buku lama, kalau lagi gak ada buku baru, nelepon temen, foto-foto, masak atau beli makanan kesukaan. tapi ya paling enak beli sih, jajan tipis-tipis buat nyenengin hati. Selain itu, saya biasanya juga nonton film yang bisa ditonton via HP atau Laptop. Kadang-kadang juga main game yang saya download di HP. Dulu sih sukanya main ONET sama POU, wkwkwk.


Kalau sekarang, saya bisa main game online juga yang sederhana aja, bukan yang susah macam Mobile Legend atau FF yak, haha. Main game onlinya bisa di Plays.org. Saya paling suka mainan jadul macam tetris, tembak-tembakan, wkwkwk mainan pas bocah dulu yang ada di Game Bot itu loh.


Tapi, di Plays.org ini banyak juga mainan lainnya yang gak kalah seru. Banyak game kekinian yang bisa dimainkan untuk sekedar mencari hiburan, atau pun game yang bertema edukasi, seperti game yang saya mainkan di bawah ini. 


Ini adalah game tentang Geografi (karena dulu saya suka Geografi). 











5. Diam saja




Kadang, diam atau ngahuleung juga bisa jadi obat capek. Diam sambil rebahan, sambil nonton TV, nonton drama, ya intinya gak kepengen banyak pikirann gitu.


Tapi kalau nonton film yang alurnya bikin pusing dan pensaran, malah nambah beban pikiran deh, hehehe. Cari genrenya lebih baik yang komedi, komedi romantis atau film keluarga aja. Kan gak berat dan gak jadi beban pikiran baru buat kita.

 

Diam saja, juga kadang bisa membuat kita berkontemplasi, merenung, dan melakukan REFRAMING kembali pelan-pelan.


Selain itu, ketika ibu sedang Burn Out, baiknya sih ini jangan dipendam ya. Justru kita ceritakan kepada suami. Karena suami kita adalah orang terdekat yang harus menjadi garda terdepan dan siap siaga ketika terjadi sesuatu pada diri kita. Bahkan hal yang telihat ‘sepele’ seperti kelelahan ini.


Ceritakan kepada suami atau pasangan kita, apa yang sedang kita rasakan, dan meminta tolong untuk menjadi bagian dari solusi.


Saya selalu bilang kepada suami, bahwa tugas rumah tangga itu gak terlalu berat, karena mereka benda mati yang bisa ditunda atau diurus kapan saja, sebisanya. Berbeda dengan mengasuh anak, itu yang paling membuat saya sangat kelelahan. Misal ketika saya sedang ngantuk berat dan ingin tidur, tiba-tiba anak  menangis pengen makan, main, ke kamar mandi. Disitu saya merasa lelah yang sangat/Burn Out.


Maka dari itu, saya meminta suami agar membantu saya menjaga anak walau hanya sebentar saja, karena saya harus menuntaskan kelelahan saya dulu dengan istirahat atau dengan ‘Me Time’ sejenak. Karena kalau tidak, dampaknya akan kemana-mana dan berkepanjangan, saya jadi emosian dan sensitif sekali untuk menjalani hari-hari.


Dalam masyarakat Patriarki seperti di Indonesia ini, memang tidak mudah ya meminta bantuan suami, karena dianggap kurang sopan, apalagi ada yang melihat suami kita membantu mengasuh anak, bisa jadi bahan pergunjingan dan pergibahan, betul? Karena dianggap tidak lazim atau tidak lumrah, seorang bapak mengasuh anak.


Kita bener-bener harus ‘klop’ dengan suami dan bisa berkomunikasi serta berbagi tugas dengan baik. Toh dalam Islam pun, tugas mengasuh anak bukan hanya tugas seorang istri, namun kerja sama yang sinergi bersama dengan suami.




Support pasangan ketika kita sedang Burn Out/lelah, mudah marah atau emosian, bisa dalam bentuk:

1.Membantu dalam hal yang ada kaitannya dengan anak. Misal ikut membantu memandikan atau mengajak anak bermain.

2.Menjadi ‘air/oase’ ketika ibu sedang marah/emosinya sedang menjadi-jadi.

3.Memberikan apresiasi kepada ibu. Misal dengan memberikan hadiah untuk ke salon, spa atau beli baju di Mall/E-commerce. Wih, dijamin hilang deh tuh lelahnya wkwkwkwk.

 

Sebuah pengakuan dosa, nih.


Duluuuu, iya duluuu, saya tuh jadi ibu idealis banget. Semua harus perfect, terutama dalam pengasuhan anak dan pengaturan rumah tangga. Tapi jujur itu semua membuat saya mudah Burn Out dan tersiksa sendiri. Akhirnya saya menemukan ritme dan formulasi yang tepat. Bahwa kita harus mengakui bahwa kapasitas kita terbatas, gak apa mengakui kalau kita ini banyak kurangnya, kita ini bukan super mom. Dan kita ini sangat boleh beristirahat dan menjeda rutinitas kita.


Karena ibu yang bahagia, sehat jiwa dan raganya, akan bertumbuh dengan anak-anak yang bahagia pula.


Setuju?


Post Power Syndrome



Sebenernya mau nulis ini tuh 10 tahun yang lalu, namun apa daya, aku tak tau harus nulis dimana waktu itu. Belum punya blog, dan gak tau harus menyuarakan isi hati ke siapa. Sampai akhirnya, 10 tahun selanjutnya saya baru nulis tentang ini. Yaitu sekarang, wkwkwk.


Entah kenapa, saya pengen nulis dengan judul Post Power Syndrome, jadi perasaan yang paling menggambarkan saya waktu itu ya Post Power Syndrome ini. 


Post Power Yyndrome atau sindrom pasca kekuasaan adalah kondisi ketika seseorang hidup dalam bayang-bayang kekuasaan yang pernah dimilikinya dan belum bisa menerima hilangnya kekuasaan itu. Post Power Syndrome sering dialami oleh orang yang baru saja memasuki masa pensiun. ( Alodokter).


Biasanya, PPS ini dialami oleh para pensiunan ya, yang sudah tidak lagi bekerja atau punya kekuasaan/jabatan. Jadi di sini saya hanya pinjem istilahnya aja, karena saya merasa ada gejala yang mirip, walau memang gak semuanya. Seperti, kurang bergairah dalam menjalani kehidupan. Merasa hampa, merasa gak berguna, gak punya teman, gak punya prestasi, dll.


Nah, kalau saat ini, istilah tepatnya kalau untuk saat ini yaitu insecure mungkin ya. 


Insecure adalah perasaan cemas, tidak mampu, dan kurang percaya diri yang membuat seseorang merasa tidak aman. Akibatnya, seseorang yang insecure bisa saja merasa cemburu, selalu menanyakan pendapat orang lain tentang dirinya, atau justru berusaha memamerkan kelebihannya. (Alodokter)


Ya, rasa ngga percaya diri, minder, hampa, jenuh, gak bergairah, kurang pergaulan, ketinggalan dari orang lain dll. Perasaan itu hinggap pada diri saya 10 tahun yang lalu, setelah saya menikah dan punya anak.


Kehidupan yang Berubah




Kenapa saya menyebutnya ‘Post Power Syndrom’ karena dulu saya aktif di sekolah, kampus, dan lain-lain. Saya merasa dulu saya punya tempat beraktualisasi diri, punya teman diskusi, bisa menyalurkan kreativitas, dll. Sementara setelah punya anak, hal itu semua berasa terhenti.


Saya gak punya tempat aktualisasi diri, gak ada tempat menampung kreativitas, gak punya teman diskusi selain suami, dan merasa ketinggalan oleh teman-teman yang mungkin sudah bekerja atau berkarir dengan baik. Sementara saya di rumah ya gini-gini aja, ngerjain hal yang sama setiap hari, gak ada teman untuk berbagi (teman di sini adalah teman sesama perempuan yang bisa saling support atau minimal saling mendengar curhat/isi hati).


Ya mungkin kita punya suami, atau keluarga suami, tapi saya merasa tetap ada yang beda ketika saya diskusi dengan teman sesama perempuan seperti di kampus dulu. Dan mungkin kalau pun kita punya saudara atau tetangga, ada kalanya kita ga sefrekuensi dan gak nyambung untuk ngobrol hal yang lain, hal yang ingin kita diskusikan.


Yaps, kejenuhan, lingkaran pertemanan yang terbatas, membuat saya merasa sangat down, serasa Post Power Syndrome, berasa insecure, berasa gak berharga, dll. Dan hal itu saya rasakan cukup lama, hingga saya bisa bangkit dan mencoba mengobatinya sebisa yang saya lakukan dengan keterbatasan-keterbatasan saya saat itu.


Penerimaan




“Ayo dong, move on, move one!”


Ya, itu mungkin suara hati saya dulu, tapi saya masih blank gimana caranya move on. Aktivitas saya terbatas di rumah, teman-teman saya jauh berkurang, dan itu pun paling bisa saya hubungi secara on line aja.


Pernah saya coba, macam ikut pengajian ibu-ibu komplek, arisan RT, aktivitas di lingkungan tempat tinggal seperti Posyandu, PKK, dll. Tapi tetep aja, saya merasa “Ini gak gue banget, dunia gue gak di sini”.


Walau kadang saya merasa, oh mungkin ini saatnya saya ‘hijrah’ ke kehidupan baru, tapi hati saya masih belum bisa sreg, masih belum bisa enjoy menjalani itu semua, saya masih berusaha mencari, apa sih yang saya suka? Apa sih passion saya? Mungkin gak sih saya berbaur dengan masyarakat yang heterogen secara usia, latar belakang, dll? 

Itu pikiran-pikiran saya dulu, ya. Bener-bener mencari cara untuk mengaktualisasi diri, mencari kembali ruang untuk saya bertumbuh dan berkembang. Tapi ya dengan segala lika-likunya, saya belum bisa 100% mendapatkan ‘kehidupan’ saya kembali.


Bertahun-tahun itu saya mencoba menerima, berusaha belajar, bahwa saya gak bisa berjalan ke belakang, mau jadi mahasiswa aktif seperti dulu lagi, itu udah gak akan mungkin terjadi. Saya juga gak bisa berkarakter seperti dulu lagi, yang bisa mencurahkan hidup untuk organisasi, dll. Hari ini saya punya tanggung jawab lain yang harus saya lakukan, yakni keluarga, anak dan suami saya.

Saya gak bisa bergaya hidup seperti layaknya sin gelillah dulu, kan? 


Lambat laun, saya mencoba menerima, walau memang tetap sulit juga, karena saya masih melihat  bahwa banyak teman-teman yang bisa berkembang di luar sana, mereka berkarir, menjadi guru, dosen, karyawan, dll. Saya tetap berusaha mengatasi perasaan-perasaan itu, sambil mencoba bangkit.


Saya rasa, fase penerimaan/accepting ini sangat perlu waktu. Bukan karena kita gak ikhlas menjadi Ibu Rumah Tangga, tapi memang menikah itu perubahan besar dalam hidup, kita sebagai manusia biasa tentu harus beradaptasi dan belajar menerima perubahan besar itu. Gak bisa dipungkiri, semua orang berproses, dan kita gak bisa memprediksi berapa lama proses itu terjadi?

Sebentar kah? atau bahkan seumur hidup kah? Dan kita sama sekali tidak bisa menjudge proses yang dialami oleh setiap orang.


Menurut saya, penerimaan atau accepting ini proses panjang. Saya pun masih sangat berproses hingga saat ini, bahkan hingga 10 tahun. Toh kita bukan robot, yang tinggal ganti program/soft warenya aja, maka semuanya bisa langsung berubah. We will take times, dan saran saya, nikmati aja semua proses itu dengan apa adanya. Kita gak perlu menjadi orang lain, kita gak perlu berlagak sempurna, berlaga seperti gak ada apa-apa. Kalau kita merasa gak percaya diri, merasa ketinggalan, merasa insecure, atau apapun itu, jangan segan untuk bicara ke suami atau orang/sahabat yang kita percaya.


Karena menurut saya, semakin kita berusaha ‘membuat topeng’ seakan kita baik-baik saja, ingin keliatan sempurna, itu akan semakin menyakiti diri kita sendiri.


Adaptasi


Sama dengan proses penerimaan, proses adaptasi pun gak mudah. Ketika saya punya anak pertama, beradaptasi dengan ritme hidup saya sendiri pun sulitnya bukan main. Awalnya saya gak harus ngurusin orang lain, tiba-tiba 24 jam harus mengurus bayi. Jam tidur berantakan, jadwal makan, jadwal pergi keluar rumah, semuanya gak ada yang bisa diprediksi. Belum lagi kalau anak sakit, lelahnya bukan main.


Menurut saya, jadi ibu atau istri itu adaptasi yang sungguh luar biasa, dan sekali lagi, perlu proses yang panjang, smooth, dan sesuai dengan diri kita apa adanya. Adaptasi ini memang sangat berat, karena kita benar-benar dididik dengan berbagai macam masalah dan keadaan. 


So, kalau ada yang pernah denger cerita ibu yang terkena Baby Blues atau Post Partum Depretion, itu bener-bener kita dituntut untuk bisa menjadi teman terbaik untuk mereka, jangan menghakimi, jangan menjudge, karena beradaptasi menjadi seorang ibu itu sangat tidak mudah. Thats why, menikah adalah ibadah yang paling lama, dan menjadi ibu adalah jihad yang luar biasa.


“You takes many risk for your life, and you learn to survive”


Know Your Self (Maksimalkan Peran, Maksimalkan Potensi)




Bertahun lama saya mencari, apa sih yang saya suka? Apa yang bisa saya lakukan untuk ‘menyelamatkan’ hidup saya? Hingga singkat cerita, tahun 2014 saya buat blog ini. Saya cari banyak hal di internet, karena itu adalah hal yang bisa saya lakukan saat itu. Akhirnya saya bertemu dengan komunitas Emak Blogger (Thank you KEB) dan saya beranikan diri memperkenalkan diri di komunitas tersebut, nulis blog alakadarnya, dan gak tau mau nulis apa. I Just do it, what I can do it.


Dari blog ini akhirnya ada secercah harapan waktu itu, saya mulai berkomunitas, mengenal para blogger, membaca kisah hidup banyak orang di blog mereka. Dan hal itu membuka wawasan saya tentang banyak hal.


Saya juga coba ikut lomba blog. Seringnya tentu kalah, tapi ada suatu ketika tulisan saya menang lomba beberapa kali. Banyak hadiah yang dikirim ke rumah, dan banyak teman blogger yang mengucapkan selamat.


Oh, Wow! ternyata memang bener, selama ini saya butuh ruang kreativitas, ruang diskusi, dan apresiasi dari orang lain. Bukan untuk sombong atau gimana ya, tapi saya merasa ketika tulisan saya menang lomba, diapresiasi orang lain, ada semacam kekuatan yang muncul, bahwa saya gak selemah seperti yang saya pikir sebelumnya. Saya bisa berkarya, saya bisa bersuara.


Dua hal yang saya ambil dari pengalaman saya adalah “Maksimalkan Peran, dan Maksimalkan Potensi”


Dua hal ini yang saya pegang hingga saat ini.


1.Maksimalkan Peran

Sekarang saya sudah jadi ibu, setiap hari ada di rumah, dan saya harus  memaksimalkan peran saya ini. Saya gak perlu berangan-angan, seandainya saya jadi dosen, seandainya saya jadi ini, jadi itu, yang saya perlu lakukan adalah memberikan dan melakukan yang terbaik untuk apa yang saya jalani saat ini. 


Saya jadi ibu, waktu saya banyak untuk mereka di rumah. Ya, ini saatnya saya memberikan yang terbaik, yang saya punya, untuk mereka. Karena toh, setiap orang tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan. Jadi buat apa kita meratapi setiap kekurangan?


2.Maksimalkan Potensi

Saya merasa saya punya potensi yang saya miliki sejak kecil dulu. Saya senang belajar, berdiskusi, bersosialisasi, berorganisasi, dll. Saya punya kemampuan mengakses internet, saya punya kemampuan berkomunikasi, saya bisa membuat ide-ide baru, saya bisa berkreasi, dsb.


Ketika saya sadari saya punya itu, maka saya harus memaksimalkan apa yang saya punya. Gak perlu semuananya, karena sekarang saya memiliki tanggung jawab lainnya. Saya hanya memilih apa yang paling saya suka, dan maksimalkan di situ supaya saya bisa mengaktualisasikan diri.


Support System




Support System adalah hal yang paling dasar yang harus kita miliki, karena tanpa itu ya akan sulit bagi kita untuk bangkit. Komunikasi kepada suami, anak dan keluarga sangat penting, apa yang kita fikirkan, apa yang kita inginkan, apa visi dan misi yang ingin kita gapai, tentu harus tersampaikan dengan baik. 


Alhamdulilah akhirnya masa-masa itu terlewati, dan saya sekarang senang menjalani hobi menjadi seorang Blogger dan Social Media Enthusiast. Karena saya akhirnya bisa sharing, mendapatkan apresiasi, dan juga bonus materi, hehehe.


Apa Mama pernah merasakan hal yang sama? Yuk, sharing di kolom komentar