Mempertimbangkan Anak Masuk TK

| On
May 08, 2015
Muhammad Kifah Abdullah Sidik, 4 tahun
Sekarang Kifah hampir 4 tahun dan mau masuk ke TK A tahun ini.

***

Kenapa saya berencana mendaftarkan Kifah masuk TK A tahun ini karena memang ini sudah merupakan keinginannya sendiri. Kifah sudah kepingin sekolah karena melihat teman-temannya yang setiap hari ke sekolah setiap pagi dan Kifah sering minta untuk nyusul temen-temennya ke sekolah. *lengkap dengan tasnya*

Saya gak pernah maksa Kifah untuk sekolah. Sementara ibu-ibu zaman sekarang ada yang cenderung berlomba-lomba untuk memasukkan anak ke sekolah sedini mungkin. Bahkan saya pernah melihat banner sebuah sekolah yang pendidikannya dimulai sejak usia 0 tahun. *tepuk jidat*



Sebagai orang kurikulum *ecieee pamer amat* saya gak terlalu sepakat kalau seorang anak disekolahkan dari masih bayi. Kenapa? kalau keperluan anak adalah stimulasi dan lain-lain, itu bisa dilakukan di rumah oleh ibunya. Kan untuk belajar sosialisasi? anak tetangga masih banyak yang juga balita, ajak main bareng sama anak tetangga. Dan kalau yang masih dekat posyandu, disitu juga ada BKB (Bina Keluarga Balita) yang biasanya mewadahi ibu-ibu yang sedang menstimulasi tumbuh kembang anak.

*jadi inget sebuah TK yang kena kasus hukum, ternyata biaya sekolahnya 300 jutaan setahun*

Saya jadi teringat percakapan di kelas Kurikulum Pendidikan Dasar. Dosen saya bilang:

"Di Indonesia itu aneh, anak itu dijejali berbagai pengetahuan banyak banget sampe mabok. Kalau dibilangin malah jawab begini: Dikasih banyak aja gak pinter-pinter, apalagi sedikit"

Ya padahal jelas-jelas itu pemahaman yang salah ya saudara-saudara. Liat Finalandia dan Selandia Baru, mata pelajaran anak sekolah hanya sedikit. Mereka dibuat fokus sama satu bidang sejak kecil. 


*Back to the topic*


Kifah saya sekolahkan ke TK A dengan beberapa pertimbangan, yaitu:

*sudah ada kemauan dari diri sendiri* 
Karena pada dasarnya prinsip pendidikan salah satunya itu keinginan untuk mencari tahu dari dalam diri manusia. Saya merasa sudah tertanam 'rasa penasaran' Kifah tentang sekolah. Bukankan belajar dengan rasa penasaran akan lebih baik ketimbang dengan paksaan?

*cukup usia mental* 
Usia perkembangan anak 4 tahun memang sudah membutuhkan ruang belajar yang lebih luas. Di sekolah Kifah bisa belajar bertemu dengan banyak orang. Teman-teman sebayanya, guru, orang tua temannya, pedagang, dan yang lain. Pernah waktu saya ajak Kifah ke sekolah dia bertemu dengan murid-murid di TK B yang usianya lebih besar. Ada beberapa yang bersikap ramah ketika bertemu orang lain, dan ada pula yang bersikap tidak ramah. Dari situ Kifah bisa belajar mengenal karakter orang lain yang ada di lingkungan masyarakat. Karena memang hakikat belajar salah satunya adalah mempersiapkan individu untuk hidup di tengah masyarakat.

*sekolah yang dipilih tidak memberikan beban belajar yang berlebihan* Kalau saya liat proses pembelajarannya, di sekolah Kifah nanti lumayan santai belajarnya. Gak neko-neko, belajar yang berat-berat. Jam belajarnya pun hanya 2 jam perhari (mulai pukul 08.00-10.00) selama 3 hari dalam satu minggu. Yakni hari senin, rabu, dan jum'at.

Waktu saya daftar ke sekolah, ada seorang ibu yang nyeletuk.

"disini mah belajarnya nyantai banget, jadi anak-anak belum bisa baca. Kalau di sekolah X lebih bagus, keluar TK udah jago baca" 

Saya gak sepakat. Tujuan Taman Kanak-Kanak itu memang bukan untuk belajar membaca. Di TK anak-anak lebih baik banyak belajar tentang afektif dan psikomotorik, bukan tentang kognitif. 


Pertimbangan orang tua untuk menyekolahkan anak memang berbeda-beda. Beda tujuan, beda orientasi, beda target. Tapi yang terpenting jangan sampai kebutuhan anak yang sesungguhnya terbengkalai karena 'kepentingan' orang tua semata. Apalagi buat pamer-pamer ke orang lain kalau anaknya udah jago bahasa A B C D dan ngitung x y z sejak kecil. 



Semoga Bermanfaat :)



Related Post: 

Perkembangan Anak Usia 4-5 Tahun



9 comments on "Mempertimbangkan Anak Masuk TK "
  1. anak saya baru akan tk tahun ini juga mabk, kayaknya tk B langsung, suami juga gak boleh anak cepet sekolah, biar dia main aja, jadi dirumah saya ajarin yg saya bisa, sambil main aja...

    ReplyDelete
  2. Wah samaan dong Mak. Sebenernya saya masih ragu juga awalnya, tapi ngeliat anaknya sudah punya keinginan ya kenapa nggak, asalh ngga berlebihan aja :)

    ReplyDelete
  3. anak saya 3 th 9 bulan, udah masuk PG. udah 2 bln ini ditemani aja di kelas padhal sy pengennya dia bisa main sama teman dan guru jadi guru juga ga sungkan kalo mau megang anak. anak sy emang jarang main sm teman sebaya nya selian di lingk seklh krn saya keluar rumahnya jika memang perlu banget baru keluar, ngga menyengajakan untuk ajak main anak dg teman sebaya kecuali pas keluar rmh ketemu tmn sbaya ya main. wajar ngga mba keinginan sy atau sy berlebihan?

    ReplyDelete
  4. Jangankan orangtua, pendidik pun masih ada yag ngotot ngajarin calistung padahal sudah sering diberi tahu. Banyak juga orangtua yang menuntut anaknya harus bisa calistung ketika lulus TK. Saya juga ngajar PAUD mak...dengan konsep bermain

    ReplyDelete
  5. Mbak Kania: Kalau tujuan sekolah untuk memfasilitasi anak belajar ya bagus mbak. Belajar disini dalam arti luas, misalnya anak yang pemalu disekolahkan untuk menjadi anak yang pemberani. Atau anak yang minder jadi percaya diri, anak yang takut kalau bertemu orang lain, jadi mau berkomunikasi. Selama memang sekolah tujuannya memfasilitasi anak untuk 'memperbaiki kekurangan' tersebut, saya rasa ga ada masalah mbak. Kalau pun anak masih malu, ya namanya juga masih adaptasi. Tapi yang penting nanti 'goal' nya adalah perubahan sikap anak yang tadinya malu jadi pemberani, dan yang lainnya.

    Kalau memang tujuannya seperti itu, gak masalah mbak. Yang penting tidak memaksakan pembelajaran yang sesungguhnya tidak diperlukan oleh anak.

    Begitu mbak kalau menurut saya :)

    ReplyDelete
  6. Mbak Ika: Iya mbak betul, katanya sekarang tuntutan masuk SD harus udah bisa calistung. Ya sebenernya perlu dipertanyakan lagi, kalau institusi sekolah sudah kayak rekrutmen pegawai (sdm/murid harus punya kompetensi tertentu untuk masuk ke institusi sekolah) berarti sekolah sudah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Saya gak setuju kalau ada SD yang nantinya minta murid yang masuk ke sekolahnya harus sudah bisa calistung (ini gurunya gak mau repot atau gimana).

    Malah sekarang karena banyak TK dan PAUD yang tidak mengajarkan calistung, menjamurlah berbagai lembaga bimbingan belajar yang katanya bisa membuat balita pandai calistung. :)

    ReplyDelete
  7. Bravoo mbakk ..
    aq jg ada temen yg nyekolahin anaknya dari 6 bulan.. ckckckcck itu pamer life style apa gmn aq jg ga ngerti haha.

    ReplyDelete
  8. @Mbak Zilqi: artis pun nyontohinnya begitu, 1,5 tahun belajar abcdefg.. hadeuuhhh

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D