"Saya Gak Bisa Bahasa Enggreesss"

| On
May 26, 2015
Image Source

Sudah hampir 7 tahun yang lalu.

Tetapi 'goresannya' masih ada hingga sekarang, bahkan nangkring cantik di Ijazah S-1 saya. 

Apa sih?

Nilai C nempel di Ijazah pada mata kuliah BAHASA INGGRIS. 

Ganggu banget gak sih? yaiyalah ganggu, orang rata-rata nilainya A sama B, eh ini nongol C. *somboonggg amattt* Etapi sebenernya bukan ini yang mau saya ceritain. Tapi kisah dibalik nilai C tersebut. 

---------

Zaman sekarang adalah zaman yang maju banget lah ya, secara teknologi, secara media, secara keilmuan, pendidikan dan kemajuan-kemajuan lainnya. 

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh insan modern di abad ini adalah bahasa asing? Sepakat gak?

Kalau menurut saya iya.

Kenapa? 

Informasi yang kita bisa akses ketika kita bisa berbahasa Inggris akan lebih luas lagi. 



Contohnya, waktu saya kuliah, buku dan jurnal ilmiah harus senantiasa dibaca, baik sebagai tugas kuliah, ataupun untuk menyusun makalah.

Yaiyalah, kalo kita nunggu referensi dari Bahasa Indonesia itu susahnya minta ampun. Bukan berarti gak ada sih. Hiks banget kan kalau kita ga bisa bahasa Inggris?

Belum lagi era komunikasi. Banyak mahasiswa yang mimpi untuk sekolah di luar negeri. Ya masa sekolah di luar negeri pake bahasa Sunda. Kan engga mungkin. Seminimalnya adalah Bahasa Inggris.

Di India contohnya. Walaupun negara mereka masih sama dengan Indonesia. Sama berkembangnya maksudnya.  Mereka mewajibkan warga negaranya berbahasa dalam 3 bahasa. Yakni bahasa Hindi, bahasa ibu, dan bahasa Inggris. 

"Ya kan mereka dulunya di jajah Inggris. Kita kan dijajah sama Belanda. Coba kalau kita dijajah Inggris, pasti kita pada jago Bahasa Inggrisnya"

Yang komen kayak gini mending ke laut aja.

Okay. Back to the topic.

Kenapa akhirnya bisa ada nilai C di mata kuliah Bahasa Inggris. Sejarahnya begini:

Pada tahun 2008 saya kuliah, di semester pertama, saya harus mengontrak mata kuliah umum, salah satunya ya Bahasa Inggris itu.

Awal perkuliahan sih saya pede aja masuk kelas Bahasa Inggris.

Pertama, waktu SMA saya duduk di kelas Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) walau akhirnya sekarang 'konsep' sekolah tersebut dibubarkan karena menuai banyak kontroversi.

Tetapi, di dalam kelas RSBI, kami dituntut berbahasa Inggris se-aktif mungkin di semua mata pelajaran. Bahkan, mata pelajaran sains seperti Biologi dan Kimia sempat diajar oleh guru 'luar biasa' yang langsung didatangkan dari LIPI yang merupakan lulusan luar negeri.

Ada hal lucu yang saya ingat waktu belajar Biologi. 

Bu Guru tersebut menyebutkan kata "FANJAY" saya bergumam dalam hati "apaan tuh fanjay?" Dan ternyata ibu guru yang berasal dari LIPI itu sedang membahas tentang JAMUR alias FUNGI. Mwahahaha.

Kedua, saya sering ikut perlombaan dalam Bahasa Inggris. 

Ketika SD saya pernah ikut lomba Story Telling. Ketika SMP pernah ikut olimpiade Bahasa Inggris. Dan ketika SMA saya ikut lomba News Presenter dalam Bahasa Inggris.

Walaupun gak pernah menyabet gelar juara, seenggaknya saya memiliki kepercayaan diri yang cukup, untuk berbahasa Inggris baik secara lisan ataupun tulisan.

Tapi, itu semua berakhir ketika saya masuk kelas Bahasa Inggris. Percaya diri saya rontok seketika.

Suatu hari di kelas, Dosen Bahasa Inggris memberikan contoh soal TOEFL untuk dikerjakan oleh semua mahasiswa. Kemudian dilakukan pembahasan bersama setelah mengerjakan soal.

Daaannnn... taaaddaaaa.. dari sekian banyak mahasiswa di kelas, hampir semuanya mendapatkan hasil test yang buruk.

Mungkin faktor lupa, karena udah lama gak ketemu sama yang namanya Grammar. Jadi nilai kita semua waktu itu kacau balau.

Lalu, apa yang pertama kali keluar dari mulut sang dosen?

"Kalian semua, 12 tahun belajar di sekolah, sampai hari ini gak bisa-bisa Bahasa Inggris!"

*MAAKKKJLEEEEBBB*


Ya ampyunn, kata-katanya sadis amat. 

Setelah itu, sang dosen menjelekan sistem pendidikan di Indonesia. Yang membuat para pelajar tidak bisa berbahasa Inggris walau sudah sekolah selama 12 tahun.

Kami akui memang hasil test kami tidak begitu baik, tapi setidaknya bukan sama sekali kami tidak bisa. Ada faktor lupa, ada faktor gugup, dan lain sebagainya.

Dosen yang pelupa. 

Salah satu 'keganjilan' yang saya temui di kelas adalah, dosen bahasa Inggris kami seringkali lupa. Misalkan minggu kemarin ada mahasiswa yang nilainya bagus, tapi minggu ini hasil tesnya buruk. Lagi-lagi sang dosen 'menyindir' malah kadang terang-terangan bahwa kami ini 'bodoh'.

Memang ketika awal masuk kelas, saya kaget. Karena kursi di kelas tidak hanya terisi oleh angkatan kami, tapi oleh beberapa angkatan di atas kami yang bahkan jaraknya jauh. 

Mereka masih 'kontrak ulang' mata kuliah Bahasa Inggris. Karena nilai mereka masih BL alias belum lulus.

ckckck.

Perjuangan mendapatkan nilai C di mata kuliah ini sangat luar biasa. Saya sendiri kaget, hampir satu kelas mendapatkan nilai sama, yaitu C. Dan yang lebih buruk dapat nilai D atau E sehingga diberi nilai BL (belum lulus) agar bisa mengikuti remedial.

'Kisah tragis' juga dialami teman-teman saya ketika mengikuti remedial di rumah sang dosen.

"Tau gak? masa kita dipermaluin loh"
"Kenapa?"
"Waktu kita mau ujian remedial, di rumahnya itu kan ada anjingnya. Trus anjingnya itu dipanggil. come here, come here. Anjingnya langsung datang gitu deh"
"Trus Ibu x bilang, anjing saya aja ngerti Bahasa Inggris"

Gubrak. Sakitnya tuh nyampe ke ubun-ubun.


------------


Semenjak itu lah, saya langsung DOWN. Bukan saya aja sih sebenernya, teman-teman saya pun merasakan hal yang sama. Saya merasa bodoh, gak bisa bahasa Inggris, dan takut untuk berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris.

Mental saya jadi melempem. Padahal dulu sempet was wes wos ngomong Bahasa Inggris. Sekarang jadi ciut banget banget banget.

Sampai-sampai saya gak pernah berani ikutan test TOEFL dan semacamnya. Ya karena takut itu. Takut salah dan merasa bodoh.

Apa pesannya?

Sebagai pendidik, ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Padahal pembelajaran saya waktu itu sudah memasuki pembelajaran Andragogik (orang dewasa) tidak Pedagogik (anak-anak) lagi. Tapi trauma belajar masih bisa saya alami.

Kebayang gak? kalau anak kecil yang diginiin, apa jadinya kalau dia besar nanti? pasti bakal jadi anak yang minder banget.

Berprofesi sebagai pendidik, bukan hanya memerlukan keahlian 'konten' saja, tapi harus memiliki ilmu pendidikan yang memadai. Karena mendidik manusia itu unik, banyak tantangannya, gak bisa instan, harus sabar dan kreatif.

Kalaupun ingin mengajar, setidaknya gunakan komunikasi yang baik dan efektif. Menjudge orang lain payah dan bodoh itu benar-benar sebuah tindakan 'bullying' yang tidak disadari. 

-----------

Dan, akhirnya. 

Demi menyembuhkan 'trauma' saya akan Bahasa Inggris, saya memberanikan diri untuk ikut test Bahasa Inggris di suatu lembaga. 

Alhamdulillah, nilainya masih memuaskan. Ternyata saya ini gak bodoh-bodoh amat. Ternyata saya masih bisa kok. 

Dan hikmah penting yang saya bisa ambil adalah, don't judge people. Karena ia akan sangat merasa minder dan mengalami kemunduran yang luar biasa.

Jangan pernah lakukan hal itu! titik. 


Semoga Bermanfaat :)





5 comments on ""Saya Gak Bisa Bahasa Enggreesss" "
  1. Fanjay kirain saudaranya Sanjay. Eh siapa lagi ini.
    Wah gawat juga ya mak ada dosen begini. Untung cuma dosen mt kuliah dasar bukan dosen pengampu mata kuliah seminar. Bisa tua di kampus nanti. Semoga beliau berubah jadi lebih manusiawi. Aaamiiin.

    ReplyDelete
  2. Wah dosennya sadis gitu ya mbak, bikin gak semangat belajar lagi
    Kalo kita dijajah Belanda dan Jepang harusnya bisa bahasa Belanda dan Jepang dong ya :D

    ReplyDelete
  3. wah setuju banget mbak. jika kita berpikir tidak bisa maka kita akan bnar2 tidak bisa. Semoga para pendidik bisa memilah2 peserta didiknya agar tidak dicaci, hina, dsb. Mereka haruslah memberikan sebuah motivasi. Bukan sebuah kritikan yang menghasilkan keminderan peserta didik

    ReplyDelete
  4. Sama mbak, bahasa enggres saya juga kacau banget dulu tapi untung ga ketemu dosen kayak gitu, ga pernah ambil kuliah inggris juga dink. Trus ikut kursus terpaksa karena pengin kuliah keluar negeri meski ga punya duit hehe. Sayang ya harusnya pendidik ngasih semangat, kesian muridnya

    ReplyDelete
  5. Kalau aku ada nilai D di ijazah, Matematika Ekonomi wkwkww...pengen banget bisa jago enggres, kemampuanku so so hihihi

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D