aplikasi trac to go experience


Alhamdulillah, kita sudah memasuki bulan suci Ramadan 1442 Hijriah. Bulan yang kita tunggu tunggu sebagai bulan untuk meraih pahala dan berlomba lomba dalam ibadah dan kebaikan. Momentum bulan suci Ramadan juga sering diidentikan sebagai bulan muhasabah diri, baik itu dengan cara berdiam diri di rumah atau di masjid (i’tikaf) atau dengan melakukan wisata atau ziarah religi.


Bicara masalah ziarah religi, saat tidak pandemi seperti sekarang ini, biasanya banyak sekali umat muslim yang melakukan wisata religi atau ziarah pariwisata ke tempat tempat suci umat islam seperti ke Mekkah dan Madinah (melakukan umroh Ramadan). Karena dirasa akan menambah nuansa kesucian Ramadan, ajang muhasabah atau introspeksi diri, dan juga tentunya ajang untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.


Dengan melakukan wisata atau ziarah religi, kita bisa kembali melihat dan mengenang jejak jejak penyebaran Islam di seluruh dunia. Dari situlah kita bisa mendapatkan suntikan semangat kembali untuk menjadi muslim yang dicintai Allah SWT.


Di Indonesia sendiri, banyak sekali destinasi Ziarah Religi yang bisa kita kunjungi untuk mendapatkan pengetahuan dan semangat baru dalam menjalankan hari hari kita sebagai umat muslim.


Kita bisa mengunjungi Istana Maimun di Medan yang dibangun pada tahun 1888 oleh keturunan ke 9 kesultanan Deli, Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Ada juga Masjid Raya Baiturahman di Aceh. Masjid Raya Baiturrahman sempat hancur akibat serangan Belanda, dan dibangun kembali pada tahun 1879 1881 Masehi. 


Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah ini merupakan salah satu Wali Songo yang berperan menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Selain Sunan Gunung Jati, ada juga Masjid dan Makam Sunan Ampel yang terkenal di Surabaya, Jawa Timur.


Banyak sekali tempat ziarah religi yang bisa kita kunjungi di Indonesia, tersebar di wilayah Indonesia. 


Melakukan Wisata dan Ziarah Religi di Masa Pandemi


aplikasi trac to go experience


Banyak hal yang jadi terbatas kita lakukan semenjak virus covid 19 masuk ke Indonesia sekitar satu tahun yang lalu. Kadang kita merasa tidak aman dan nyaman ketika akan keluar rumah. Untungnya teknologi dan informasi berkembang dengan cepat. Dengan melakukan protokol kesehatan dan vaksinasi, tentunya bisa mengurangi kekhawatiran kita dalam menghadapi masa pandemi ini.


Jangan lupa protokol kesehatan 5 M ya, ketika melakukan aktivitas apapun kita di luar rumah, yakni:


1.Memakai masker

2.Mencuci tangan pakai sabun di air mengalir

3.Menjaga jarak

4.Menjauhi kerumunan

5.Membatasi mobilisasi dan interaksi


Jika terpaksa harus pergi keluar kota atau melakukan aktivitas di luar rumah, pastikan protokol kesehatan tetap dilaksanakan dan pilihlah transportasi yang aman. Melakukan semua protokol 5 M dan drivernya pun sudah dites kesehatan dan dinyatakan sehat dan aman untuk berkendara. 


aplikasi trac to go experience
Jalan-jalan keluarga harus cari yang aman dan nyaman



Terakhir saya keluar rumah untuk berwisata disaat pandemi, yaitu diakhir tahun lalu. Yakni ke pantai Pangandaran. Waktu itu sebenernya ada usulan untuk tidak membawa kendaraan pribadi, karena akan sangat lelah untuk bapak-bapak yang mengemudi, dan kasian juga ibu-ibu yang bawa anak kecil, tidak ada bala bantuan karena para bapak sudah gantian mengemudi.


Namun, saat itu, kami sekeluarga belum tahu informasi tentang sewa mobil yang aman di masa pandemi, padahal kami membutuhkan mobil yang cukup besar agar sekeluarga bisa masuk. 


Nah, buat Buibu yang memang ingin melakukan wisata, wisata/ziarah religi dengan keluarga atau kerabat.  Bisa menyewa mobil dari TRAC.


Kenapa menggunakan jasa sewa mobil dari TRAC?


Karena TRAC sudah mengedepankan SMART Protocol, yang meliputi:


1.Penyemprotan rutin unit kendaraan dengan disinfektan setiap sebelum dan sesudah digunakan.


2.Memastikan pengemudi yang bertugas telah melalui pemeriksaan kesehatan, diwajibkan menggunakan masker dan srung tangan.


3.Menyediakan Hand Sanitizer untuk penumpang.


4.Melakukan Physical distancing dengan membatasi jumlah penumpang.


Sewa Mobil Lewat Aplikasi TRAC To Go


Kalau sebelumnya saya bingung mau mendapatkan informasi tentang sewa mobil yang aman dan nyaman di masa pandemi ini, sekarang saya sudah tahu caranya. Yaitu dengan menggunakan aplikasi TRAC To Go.


Alhamdulillah ya zaman makin canggih aja, dulu kalau mau rental mobil harus telpon pemiliknya atau humasnya. Sekarang tinggal download aplikasi TRAC To Go aja, semua jadi lebih cepat dan beres.


aplikasi trac to go experience





aplikasi trac to go experience




aplikasi trac to go experience




aplikasi trac to go experience
Aplikasi TRAC To Go




Di dalam aplikasinya terdapat fitur sewa mobil, airport transfer, dan bus rental. Dan ada satu lagi fitur terbarunya yakni TRAC To Go Experience.


TRAC To Go Experience merupakan fitur terbaru dari aplikasi TRACToGo. Customer dapat memilih paket wisata yang disediakan oleh masing masing cabang TRAC yang ada diberbagai kota di Indonesia seperti Bali, Malang, Jogjakarta, dan masih banyak lagi.


aplikasi trac to go experience




aplikasi trac to go experience





aplikasi trac to go experience




aplikasi trac to go experience
Fitur TRAC To Go Experience




Di dalam fitur TRAC To Go Experience ini juga tersedia pilihan akomodasi mulai dari mobil penumpang berkapasitas 4 orang sampai Bus dengan kapasitas sampai 45 orang.


TRAC juga bekerja sama dengan vendor-vendor terpercaya seperti hotel bintang 4 dan 5, tempat wisata, serta beberapa restoran.


Wah asik ya, satu aplikasi bisa kita gunakan untuk sewa mobil atau sewa bus, bahkan bisa untuk mendapatkan paket wisata sekaligus dengan penginapan dan tempat makan. Cocok sekali untuk Family Trip anti rempong atau wisata bareng teman sekantor.


Aplikasinya sangat mudah didownload via Google Play atau Apple Store ya.


GooglePlay Store bisa diunduh di: 

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.trac.tractogo&hl=en&gl=US

Apple App Store bisa diunduh di:

https://apps.apple.com/us/app/trac-to-go/id1459840738


Tetap Bisa Berwisata Dengan Aman ditengah Pandemi


aplikasi trac to go experience


Saya gak nyangka, fase hidup saya akan menemukan hal yang diluar dugaan seperti ini. Yaitu menghadapi pandemi karena virus yang sedang menyebar. Untungnya, kemajuan teknologi dan informasi bisa kita ‘andalkan’ untuk bisa tetap bertahan.


Apapun aktivitasnya, baik untuk bekerja, bersilaturahmi, belanja, berwisata, apapun itu, jangan lupa tetap terapkan Protokol Kesehatan ya, dan pastikan asupan makanan yangs sehat agar tubuh tetap sehat dan fit. 


Tentunya, hidup kita tetap harus berjalan, sesuolit apapun, pasti ada solusinya. Jangan sampai kita menyerah dalam menghadapi ujian pandemi ini. Mudah mudahan, kondisi akan segera membaik dan kita bisa menjalani aktivitas sehari hari dengan rasa aman dan nyaman kembali. Amiin.


 


Setahun sudah pandemi berlalu, setahun pula lah, genap, Kifah belajar dari rumah secara daring.


Awalnya, kesulitan belajar secara daring ini saya alami bersama putra sulung saya Kifah. Mulai dari gak mood belajar, gak mau mengerjakan tugas, bosan, dan lain sebagainya.


Namun, seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Kifah (dan saya juga) bisa menyesuaikan diri dengan segala kondisi yang serba terbatas ini.


Selalu ada hal baru yang bisa kita pelajari dari setiap kejadian. Ya, karena sekolah jadi on line, pembelajarannya melalui video call, zoom meeting, google class room, dll. Anak-anak jadi memiliki pengalaman baru untuk belajar secara jarak jauh. 


Pembelajaran Jarak Jauh


Walaupun PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) ini masih sangat sederhana, namun anak-anak lambat laun jadi terbiasa dan berusaha beradaptasi bahwa, belajar tak melulu di ruang kelas secara bersama-sama, belajar tak melulu tatap muka secara langsung, belajar bisa dari mana saja, bahkan kita bisa menciptakan kelas virtual kita sendiri.


Berangkat dari sana lah, anak yang awalnya menolak untuk melakukan kelas online atau PJJ, sekarang justru menyukai kelas dan pembelajaran berbasis internet. Karena mereka merasa memang internet memudahkan mereka untuk mengakses ilmu pengetahuan dari mana dan kapan saja.


Karena itu, selain belajar daring di sekolah, Kifah pun mencari pembelajaran virtual lainnya yang mendukung minat dan hobinya.


Sebenernya, Kifah anak yang sangat aktif bergerak, kinestetiknha mendominasi. Selama ini, dia suka ikut ekskul Karate dan juga senang bermain sepak bola. Namun sayangnya, pandemi membatasi itu semua.


Tetapi, selain aktif bergerak, menurut pengamatan saya sehari-hari, Kifah juga suka menggambar. Ia suka menggambar sendiri, baik itu gambar biasa atau gambar bercerita seperti komik.


Ia sangat suka melihat tutorial cara menggambar manusia, komik, dll dari Youtube. Kemudian mempraktekannya sendiri di rumah.


Sebelumnya, apakah Mama sudah tau ada 8 kecerdasan anak yang harus kita ketahui sebagai orang tua?


Apa saja itu?


1. Kecerdasan Bahasa atau Linguistik.


Biasanya anak hobi membaca, menulis dan bercerita. Kita juga bisa mengetahuinya ketika ia berbicara atau berkata-kata.


2. Kecerdasan Matematis- Logika


Biasanya anak hobi tanya jawab, berhitung, dan bereksperimen. Anak suka menghitung benda disekitarnya, mengembangkan logika-logika berpikir secara matematis.


3. Kecerdasan Visual Spasial


Biasanya anak hobi menggambar, mencorat-coret dan mendesai sebuah gambar atau ruang/rumah/tempat. Mereka sangat senang berimajinasi.


4. Kecerdasan Kinestetis


Biasanya anak cenderung 'tak bisa diam', ia sangat suka bergerak, melompat, berlari, menari, berolah raga, dan lain sebagainya.


5. Kecerdasan Musikal


Biasanya anak senang bernyanyi dan bersenandung dan menyukai atau berminat dalam memainkan alat musik.


6. Kecerdasan Interpersonal


Yakni kecerdasan dalam berinteraksi dengan orang lain. Biasanya anak suka bekerja sama dengan temannya, menjadi pemimpin, dan senang berorganisasi.


7. Kecerdasan Intrapersonal


Yakni kecerdasan memahami dirinya sendiri, biasanya anak suka berpikir sendiri seperti sedang melamun, memiliki pemikiran out of the box.


8. Kecerdasan Naturalistik


Yakni kecerdasan yang mengarah pada kesukaannya kepada dunia hewan dan tumbuhan. Anak biasanya senang memelihara hewan dan menyukai kegiatan seperti berkebun atau bercocok tanam.


Walaupun pandemi ini membatasi ruang gerak kita untuk memberikan pembelajaran kepada anak, namun masih banyak cara untuk mengembangkan minat dan bakat mereka. Salah satunya dengan bergabung dalam pembelajaran jarak jauh yang bisa dilakukan dengan internet.


Karena saya melihat hobi dan minat Kifah pada kecerdasa visual dan spasial, maka saya menawarkan kepadanya, apakah mau kalau mengikuti kelas on line menggambar atau membuat komik?


Kifah langsung menjawab, maaauuu. Dan akhirnya, selama 9 pertemuan, Kifah bergabung di kelas membuat komik bersama Kreasa.


Kelas komik yang diselenggarakan oleh Kreasa ini dimulai untuk anak usia 6 tahun, ya, Ma. Terdiri dari 9 pertemuan melalui zoom meeting.


Kifah mengikuti kelas membuat komik dari Kreasa


Materi dari kelas membuat Komik dari Kreasa ini, mencakup:


1. Pengenalan terhadap gambar. Anak dibebaskan untuk menggambar sesuai dengan imajinasinya.


2. Pengenalan cerita komik


3. Teknik membuat karakter


4. Teknik membuat karakter imajinatif (buah, sayur, benda, hewan, dll)


5. Teknik membuat alur cerita


6. Teknik menggambar benda


7. Membuat cerita komik dengan tema tertentu


8. Membuat cerita komik dengan tema tertentu


9. Final Percentation, di pertemuan terakhir ini, anak diminta mempersentasikan karya yang telah mereka buat.


Beberapa materi di kelas menulis komik Kreasa



Kelebihan Kelas Membuat Komik dari Kreasa


Kifah sedang menyimak materi membuat karakter komik


Menurut saya ada beberapa kelebihan yang saya dan tentunya Kifah rasakan ketika mengikuti kelas membuat komik dari Kreasa.


1. Pengajar adalah seorang Ilustrator Profesional. Kemarin Kifah belajar bersama Kak Agah.


2. Kelas dibuat secara Fun, nuansa anak-anak sekali begitu, tujuannya mungkin agar anak tidak tegang dan mudah bosan.


3. Anak-anak diberikan kebebasan untuk berkreasi sesuai dengan minat dan kreativitasnya.


4. Pertemuannya cukup lama, yakni 9 pertemuan. Dan dilakukan  2 pertemuan selama seminggu, jadi total sekitar satu bulan ya pembelajarannya.





Testimoni dari Kifah sendiri, pembelajarannya cukup menyenangkan, dia bisa berimajinasi dan bertemu teman yang baru.


Saran untuk Kelas Komik dari Kreasa.


Menurut saya, akan lebih enak lagi kelasnya, jika ada modul/buku materi yang dikirim ke rumah masing-masing peserta/siswa. Agar pembelajarannya lebih efektif dan anak-anak lebih semangat untuk belajar menggambar.


Terima kasih Kreasa, kelas membuat komiknya sangat bermanfaat dan menambah motivasi Kifah untuk lebih berkreasi.


Ada yang sudah pernah bergabung dengan kelas membuat komik dari Kreasa juga?


Sharing yuk di kolom komentar :)

 

Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah


“Ummi kok jadi tua?”

“Ummi kok jadi gendut?”

“Ummi kok jadi jelek?”


Ya itulah sekelumit ocehan dan komentar anak anak melihat Umminya yang sudah sekian lama bersama mereka di rumah.


Saya tidak bekerja, dan ditambah lagi karena pandemi, saya gak kemana mana sama sekali setahun belakangan ini, jadi ya full bersama mereka di rumah. Alhasil, mereka kok kayak ngeh gitu dengan ‘progres’ emaknya ini. *Progres ke arah negatif sih sebenernya, soalnya komentar mereka jujur begitu, hahaha.

Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Satu tahun full bersama mereka di rumah aja


Memang sih, selama pandemi ini saya gak banyak beraktivitas di luar rumah, apalagi Kifah juga sekolah online, setiap hari gak kemana mana. Ternyata berdampak buruk juga nih terhadap ‘Performa’ diri saya. Males gerak alias MAGER, males olah raga, dan satu lagi, MALES SKIN CARE AN.


Ya awalnya saya pikir kan toh gak kemana mana, kan? Jadi buat apa deh pake skin care rutin siang malem, jadinya gitu, jarang bersihin wajah, jarang pakai night cream, jarang pakai UV protection, dan jarang pakai serum.


Padahal sebelumnya saya udah pakai serum loh, karena kan katanya menginjak usia kepala tiga, wajib nih pakai serum, supaya gak gampang keriput dan banyak memiliki masalah kulit.


Jerawat dan Kulit Kusam


Alarm kalau wajah saya gak keurus itu adalah JERAWAT. Beberapa kali muncul jerawat di area dagu, dahi, dan juga pipi. Padahal saya merasa gak keluar rumah lho, tapi kok aneh banget, wajah jadi jerawatan dan keliatan kusam (banyak komedo dan sel kulit mati menumpuk kayaknya).


Sejak wajah saya kembali jerawatan, akhirnya lambat laun saya jadi rajin lagi menggunakan skin care, pagi dan malam hari. 


Ketika jerawat sudah hilang, PR besar berikutnya adalah menghilangkan wajah kusam dan tak sedap dipandang. Apalagi anak anak komplen aja, “Ummi kok jadi tua.” Adeuh pengen uyel-uyel aja pipi mereka sampe merah. Bikin emaknya tambah insecure aja.


Akhirnya saya Googling deh, apa sih yang membuat kulit wajah kita bisa kusam? Toh kan gak pergi keluar rumah, gak kena debu atau kotoran di jalan? Nah, kenapa ya kira kira? 


Selain terkena debu dan kotoran, berikut ini adalah penyebab kulit kita bisa kusam walaupun di rumah aja.


1.Tidak Eksfoliasi alias tidak membersihkan sel kulit mati yang menumpuk pada kulit. Penumpukan sel kulit mati ini ternyata bisa menyebabkan kulit wajah kita nampak kusam dan muram. Haha, udah kayak takdir aja ya, muram.


2.Kurang minum dan nutrisi. Nah, ini saya banget, saya merasa kurang minum, padahal harusnya sekitar 2 liter air harus saya konsumsi setiap hari. Saya pernah hitung, ternyata konsumsi air minum saya baru setengahnya saja, hiks. Kekurangan cairan atau dehidrasi juga sangat berpengaruh pada ‘penampakan’ kulit kita.


3.Stres dan Kurang Tidur. Yang stres sama Belajar Daring coba angkat tangannya, Mak? Nah ini dia juga jadi biang keladi kulit saya jadi kusam. Setiap hari harus mikirin belajar daringnya Kifah yang sudah tepat satu tahun. Beneran bikin stres dan kurang tidur.


4.Hormon dan Make Up. Menurunnya hormon estrogen pada perempuan juga memicu peningkatan kadar minyak di wajah, sehingga wajah nampak kusam. Selain itu, pemakaian make up yang kurang cocok  juga bisa membuat kulit menjadi kering sehingga membuat kulit wajah tidak berseri bak bidadari.


Ya baiklah, saya sendiri memang mengakui keempat alasan di atas memang bisa menjadi faktor kenapa wajah saya bisa kusam. Terutama kurangnya konsumsi air minum dan stres karena pandemi covid 19 yang tidak berkunjung usai ini. 


*Saya udah setahun gak ke Mall gaes, gak kemana mana gaes. Coba, gimana gak stres? Mwahahaha.


Kembali Menggunakan Skin Care Secara Rutin


Karena di rumah aja pun bisa menyebabkan kulit kusam, akhirnya saya tobat deh, kembali lagi ke jalan yang benar. Saya janji akan rajin membersihkan wajah dengan teratur setiap hari, melakukan eksfoliasi secara rutin, dan menggunakan skin care yang cocok untuk membuat wajah tidak kusam dan lebih bercahaya.


Untuk pembersihan wajah, biasanya saya pakai produk pembersih dengan menggunakan kapas, ditambah dengan face wash juga. Sementara itu, untuk eksfoliasi, saya menggunakan scrub lembut, dan untuk skin care rutin ( pagi dan malam ) saya menggunakan serum (salah satunya).


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah


Produk yang coba saya pakai untuk ‘Menetralkan’ kembali dan juga mencerahkan wajah saya adalah. Scarlett Brightly Ever After Serum Plus face washnya pun saya pakai produk yang sama, yaitu produk Scarlett Brightly untuk mencerahkan wajah juga.

Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Hanya 75 ribu saja


Kenapa saya coba Scarlett, karena banyak yang udah pakai (di media sosial) dan harganya juga cukup terjangkau, hanya 75 ribu saja. Belinya bisa di Shopee (https://shopee.co.id/scarlettofficialshop) Buat para pejuang uang belanja tetap aman sih, menurut saya harganya cukup bersahabat yaaa.


Kandungan Scarlett Brightly Ever After Serum ini ada apa aja?


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah


Lavender Water. Fungsinya untuk melawan bakteri penyebab jerawat, mengatasi peradangan pada kulit, detoksifikasi kulit, meningkatkan sirkulasi darah dan menghaluskan kulit.


Phyto Whitening. Mencerahkan kulit wajah dan sangat aman bagi kulit, tanpa menyebabkan iritasi kulit.


Niacinamide. Melembabkan kulit, mengatasi jerawat, menyamarkan noda hitam dan mencegah kanker kulit melanoma.


Glutathione. Meningkatkan kelembapan dan elasitisitas kulit, memberikan perlindungan dari radikal bebas, membuat kulit lebih sehat dan terlihat glowing.


Vitamin C. Fungsinya adalah menghilangkan flek dan bekas jerawat, mencegah dan melindungi kerusakan sel dan jaringan kulit akibat paparan radikal bebas yang menyebabkan penuaan dini pada kulit.


Penggunaan Scarlett Brightly Ever After Serum Selama 2 Minggu Untuk Menghilangkan Noda Bekas Jerawat.


Jadi, pas banget abis dapet jerawat segede Stupa Candi Borobudur, langsung aja deh saya eksekusi bekasnya pakai Scarlett Brightly Ever After Serum.


Review Scarlett Brightly Ever After Serum.


Start tanggal 9 Maret 2021 sampai tanggal 22 Maret 2021.


Foto pertama (Tanggal 9 Maret 2021)

Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Awalnya bekas jerawat ini agak merah kehitaman dan tebal.


Foto kedua (Tanggal 22 Maret 2021)


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Setelah saya pakai dua minggu, noda bekas jerawat  memudar.


Bekas jerawat saya membandel karena ukurannya besar dan nodanya cukup hitam pekat. Selain itu, masalah saya lainnya adalah kulit kusam karena komedo juga. 


Setelah menggunakan Scarlett Brightly Ever After Serum selama 2 minggu, hasil yang  saya rasakan adalah:


1.Noda bekas jerawat memudar


2.Kulit wajah terlihat lebih baik/lebih cerah dari sebelumnya


Tekstur Scarlett Brightly Ever After Serum


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Teksturny agak cair tapi tidak lengket ketika diaplikasikan di wajah


Menurut saya, tekstur Scarlett Brightly Ever After Serum ini, sama seperti serum pada umumnya. Bening, agak pekat sedikit (pekat tapi agak cair gitu, deh). Sehingga, ketika diudapkan ke seluruh wajah bisa merata dan menyerap dengan baik.


Aroma Scarlett Brightly Ever After Serum ini adalah aroma asli bahan yang terkandung di dalamnya, jadi gak ada wangi bunga atau parfum. Mungkin, kalau terbiasa dengan skin care yang wangi wangi, Scarlett Brightly Ever After Serum  ini agak berbeda ya wanginya.


Baca juga: Review Body Care Scarlett Untuk SPA ala Rumahan


Harga Scarlett Brightly Ever After Serum  dengan Kualitasnya.


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah



Di atas sudah saya sebutkan harganya. Untuk produk serum 75 ribuan, saya rasa, semua ibu rumah tangga di rumah boleh mencobanya, kalau memang punya masalah kulit kusam dan ada noda bekas jerawat.


Saya cukup puas dengan serum Scarlett Brightly Ever After Serum  by Scarlett ini. Bagi yang ingin mencoba Scarlett Brightly Ever After Serum , untuk hasil yang lebih maksimal, saya sarankan menggunakan semua rangkaiann Scarlett Brightly Ever After dari Scarlett ya.


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Kemasannya mungil dan lucu


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Saya juga pake Whitening Facial Washnya juga. Wangi dan ada butiran gel scrubnya.



Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Ini enakeun di wajah 


Apakah ada yang sudah pernah coba Scarlett Brightly Ever After Serum by Scarlett juga? Sharing yuk di kolom komentar.

 
cara mengatasi tantrum pada anak


“Anak itu dititipkan kepada kita tanpa manual booknya, maka dari itu orang tua harus senantiasa belajar bagaimana cara mengasuh dan mendidik anak-anaknya tanpa putus asa.”


Kenapa saya menyelipkan kata ‘Putus Asa’ pada kutipan di atas? Karena saya pernah merasakan berada di titik terendah mengasuh anak, bisa dibilang hampir ‘putus asa’.


Mengapa demikian? Penyebabnya adalah tantrum pada anak yang tidak kunjung usai. Tantrum yang menyita dan menguras seluruh energi, emosi, waktu, pikiran, dan lain sebagainya.


“Ulangi!”

“Buang!”

“Bikin lagi!”


Begitulah jeritan Kifah saat masih berusia 2 sampai 3 tahun ketika apa yang saya lakukan itu ‘Salah Prosedur” di matanya.


Misalkan saya membuatkan segelas susu. Entah apa yang salah, saya pun tidak paham. Ia kemudian menjerit dan memerintahkan untuk “Buang!” “Ulangi!” yakni meminta saya membuat ulang susunya tersebut. Entah takarannya yang salah, gelasnya yang salah, atau tingkat kehangatan airnya yang salah, sampai sekarang pun masih menjadi misteri bagi saya dan suami.


Sedihnya lagi, kejadian seperti ini sering terjadi di malam hari, bahkan tengah malam. 


Saya pernah bercerita di blog ini, ketika saya tinggal di daerah Parung Bogor, tetangga berdatangan ke rumah. Membawa air do’a, kacang hijau, garam, dan lain lain. Mereka mendengar teriakan Kifah dan menyangka kalau Kifah diganggu ‘penunggu rumah’ karena rumah yang saya tempati sudah lama kosong sambil menunggu penyewa datang oleh pemiliknya.


Tentunya saya merasa rumah itu baik baik saja, tidak ada masalah. Yang bermasalah adalah tantrumnya Kifah yang menjadi jadi jika malam telah jiwa. Membuat saya stres dan ketakutan jika malam datang, karena ia pasti akan menjerit jerit mengingingkan sesuatu.


cara mengatasi tantrum pada anak
Kakak Kifah yang dulu pernah tantrum ketika batita



Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tantrum didefinisikan sebagai kemarahan dengan amukan karena ketidakmampuan mengungkapkan keinginan atau kebutuhan dengan kata kata. Dari definisi tersebut, terlihat bahwa tantrum umumnya terjadi pada anak anak. 


Tantrum paling sering dialami oleh anak anak yang berusia dua tahun. Mengapa demikian? Sebab, pada usia tersebut, seorang anak sedang mengembangkan kemampuan berbahasa. 


Anak balita belum bisa mengungkapkan perasaan, keinginan dan kebutuhannya secara tepat. Ia merasa kesal dan frustasi saat orang dewasa terutama orang tua tidak mengerti sesuatu yang dimaksud. Rasa kesal dan frustasi inilah yang pada akhirnya menyebabkan tantrum. 


(Buku Anti Stres Hadapi Tantrum Pada Anak, Dian Farida Ismyama, Hal. 16)


Memiliki anak yang sering sekali mengalami tantrum, alias emosi yang meledak tidak terkontrol dengan baik tentu menyebabkan orang tua menjadi frustasi, minder, dan malu jika tantrum yang dilakukan oleh anak terjadi ketika berada di ranah publik. Atau minimal sedang bersama rekan atau keluarga orang tua. Kesannya, “Kok gak bisa sih mengontrol tingkah laku anak? Sampai jerit jerit ngga karuan begitu?”


Saya pernah berada di posisi tersebut. Dimana anak orang lain jauh lebih ‘kalem’ dibandingkan Kifah pada saat itu. Hingga kerap kali nyinyiran pun terlontar kepada saya dari para Ibu yang menurut saya kurang empati terhadap permasalahan yang dialami oleh keluarga yang lain. 


Maka dari itu hingga sekarang, saya dan suami sangat paham betul, ketika ada anak yang tantrum di depan umum. Bagaimana perasaan orang tuanya, sehingga berusaha tidak men-judge atau malah menghakimi orang tua tersebut tidak bisa mendidik anak.


Pengalaman Tak Terlupakan


Menghadapi tantrum pada anak, apalagi saat itu anak pertama, saya dan suami masih belum memiliki banyak ilmu, tentunya membuat hal tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Dimana setiap hari terasa sangat lelah sekali karena emosi yang terus menerus terkuras untuk menghadapi tantrum yang terjadi pada anak.


Pengalaman orang tua yang menghadapi tantrum pada anak, tentunya menjadi sebuah pelajaran bagi orang tua lainnya. Agar mampu mengetahui DO and DON’T ketika anak kita memiliki gejolak emosi yang hampir serupa.


Review Buku: Anti Stres Menghadapi Tantrum Pada Anak


cara mengatasi tantrum pada anak
Buku anti stres hadapi tantrum pada anak karya Mbak Dian Farida Ismyama


Bicara masalah tantrum pada anak, Mbak Dian Farida Ismyama, seorang Parenting Blogger yang saya kenal dengan baik,  menuliskan pengalamannya menghadapi tantrum putrinya dengan sangat baik pada sebuah buku yang berjudul ‘Anti Stres Hadapi Tantrum Pada Anak’.


Di buku anti stres hadapi tantrum pada anak ini, Mbak Dian menceritakan bagaimana ia berjuang menghadapi tantrum pada anaknya yang berlangsung cukup lama. Bahkan Mbak Dian mengikuti berbagai macam pelatihan untuk menghadapi situasi tantrum pada anaknya hingga konsultasi dari satu psikolog ke psikolog lainnya.


Sungguh saya salut dengan perjuangan Mbak Dian yang mampu sabar, tegar, hingga jatuh bangun belajar mengenai tantrum pada anak. Belajar dan belajar terus, agar masalah tantrum tersebut bisa diatasi dengan baik.


Menurut saya, sharing pengalaman sebagai orang tua seperti ini sangatlah penting. Karena menurut pengalaman saya dulu, dunia terasa sangat gelap, saya kebingungan harus bagaimana, lingkungan tidak mendukung, justru malah menghakimi, ketika tantrum pada anak tak kunjung berlalu.


Dengan membaca kegigihan Mbak Dian dalam mencari jawaban dan solusi atas masalah tantrum ini, saya merasa bahwa ternyata saya tidak sendiri. 


Banyak sekali orang tua berada pada ujian yang sama, namun tidak tahu harus kemana dan berbuat apa. Menurut saya, sharing pengalaman dari Mbak Dian ini sangat mencerahkan, untuk para orang tua yang sedang ‘terjebak’ situasi tantrum pada anak.


Selain itu, yang saya suka dari Buku Anti Stres Hadapi Tantrum Pada Anak karya Mbak Dian ini adalah cerita yang sangat relate dengan keseharian kita sebagai orang tua ketika terjebak dalam situasi tantrum anak. 


Contohnya ketika Mbak Dian menceritakan anaknya yang terus merengek, sedangkan Mbak Dian dalam kondisi yang sangat lelah. Emosi jadi tidak terkendali, dan BOOM! Pecahlah tantrum pada putrinya. 


Jujur saya sering sekali dalam kondisi tersebut, dan ujung ujungnya malah ikutan stres, bingung mau ngapain. 


Satu lagi. Buku ini sangat aplikatif! Tak hanya sekedar teori. Mbak Dian menceritakan bagaimana ia belajar menerapkan pola-pola komunikasi yang efektif, agar ia dan putrinya yang sedang tantrum, bisa berkomunikasi dengan baik dan mencari solusi atas masalah yang sedang terjadi. 


Contohnya, mendengar dan menerima perasaan anak dengan cara mengucapkan, “Saat main tadi, kamu kesal, ya?”  Orang tua harus bisa membuka saluran negatif pada anak/memvalidasi emosi anak, agar emosinya kembali stabil dan kekecewaannya terobati. 


Bahasa tubuh yang positif, juga diperlukan. Seperti kontak mata, anggukan persetujuan, posisi lengan terbuka, dan bahasa tubuh positif lainnya juga dituliskan pada buku ini. Mbak Dian menuliskan cara mempraktekannya di buku ini, lho. 


Cara-cara, trik, tips itulah yang wajib diketahui orang tua, agar tantrum pada anak tidak berkelanjutan hingga dewasa, karena emosi anak yang tidak stabil dan orang tua pun bisa stres berkepanjangan jika tantrum pada anak ini tidak segera diatasi.


Giveaway Spesial untuk Pembaca Blog tettytanoyo.com di Instagram


cara mengatasi tantrum pada anak


Nah, ada GIVEAWAY SPESIAL untuk pembaca setia blog ini. Saya akan mengadakan Giveaway tanggal 19 Maret sd 23 Maret 2021 di akun instagram @tettytanoyo


Syarat dan Ketentuan Giveaway Buku 'Anti Stres Hadapi Tantrum pada Anak"


1. Follow akun instagram @dian_ismyama @tettytanoyo @momopururu @syarifani89 @ayuna.family @anisa.ae @vitarinda @penerbitdivapress

2. Share artikel ini, di IG STORIES atau FACEBOOK teman-teman ya, pilih saja salah satu.

3. Dan jangan lupa jawab pertanyaan, "Kenapa ingin memiliki buku ini? tuliskan alasannya ya"


Peserta Giveaway yang beruntung akan mendapatkan Buku Anti Stres Hadapi Tantrum pada Anak karya Mbak Dian ini, dan jangan lupa, ulas bukunya di media sosial setelah mendapatkan buku ini yaa.


cara mengatasi tantrum pada anak
Semangat ya, Buk! Tantrum pasti akan berlalu



Saya sendiri sangat menyukai buku ini, ah andai saya buku ini terbit ketika saya menghadapi 'kelamnya' berada ditengah-tengah tantrum pada anak yang saya alami setiap hari.


Sekali lagi, buku ini saya rekomendasikan untuk para ibu, calon ibu, bahkan calon pengantin. Agar nanti, pada saatnya ada gejala tantrum pada anak, kita tidak gagap lagi menghadapinya, karena sudah memiliki ilmu pengetahuan tentang tantrum pada anak.


Jangan lupa ikutan Giveaway-nya, ya!  






pengalaman menyapih anak bayi


Menyapih anak ketiga, ternyata sama sulitnya dengan menyapih anak pertama. Banyak kendala dan juga ‘drama’ tersendiri ketika akan melakukannnya. 


Dulu, ketika anak pertama, karena belum adanya pengalaman, saya ‘takut’ untuk menyapih bayi, takut gagal maksudnya, dan takut payudara bengkak karena harus mengehentikan produksi ASI.


Ternyata, walaupun sudah berbekal pengalaman menyapih pada anak pertama dan kedua, ketakutan akan kegagalan itu masih ada lho. Apalagi si bungsu ini sedang lucu-lucunya, sedang sayang-sayangnya. Duh, kasian kalau harus disapih diusianya yang sudah menginjak 2 tahun.


Menyapih Dengan Metode Tradisional


Tentunya, dengan keterbatasan pengalaman dan ilmu, anak pertama saya, Kifah, saya sapih dengan cara tradisional. Yaitu dengan menggunakan cara ‘menakutnakuti’ supaya dia tidak mau menyusu lagi.


Pertama-tama, saya mencoba dengan menggunakan kayu putih. Ternyata Kifah masih mau menyusu walau sudah pakai kayu putih. Kedua, saya pakai Brotowali (saran dari ibu mertua) karena Brotowali itu pahit, dan pahitnya nempel lama di lidah. Eh beneran gusti, itu si Kifah ga mau nyusu lagi, nangis kejer karena lidahnya pahit.


Rewel kah?


Iya, dengan cara tradisional begitu, anak jadi rewel karena marah dan kecewa. Tiba-tiba rasa ASInya jadi pahit dan gak enak lagi. Sebelum tidur malam, saya sudah menyiapkan banyak sekali susu UHT kesukaan Kifah, supaya ketika dia bangun, ada susu atau minuman yang dia suka sebagai pengganti ASI.


Besoknya, alhamdulillah Kifah gak rewel lagi, jadi total nangisnya hanya semalam saja. Cuma memang, cara menyapihnya membuat dia kaget dan marah. Duh, maaf ya Kifah.


Baca juga: Tips Menghindari Ruam Popok Pada Bayi


Menyapih Aldebaran, Anak Kedua.


Apakah saya menyapih dengan cara tradisional lagi?


Untuk Aldebaran, proses menyapihnya ini cukup membuatnya sedih. Kenapa? Karena ASI saya berhenti tidak berproduksi lagi karena saya hamil Aksara (anak ketiga). Karena tidak ada ASInya, Aldebaran rewel dan harus disapih secara mendadak, waktu itu usianya baru 20 bulan.


Karena waktu itu saya sedang ‘mabok’ karena hamil. Aldebaran sering menginap di rumah neneknya, Jadi, sambil menginap ya sambil disapih. Kira-kira satu minggu dia menginap, ketika pulang ke rumah, dia sudah gak rewel nanyain ASI lagi.


Menyapih Aksara dengan Cinta


pengalaman menyapih anak bayi
Sounding kalau Aksa sudah besar , memakan waktu yang cukup lumayan


Terkadang saya masih sangsi, apakah benar anak yang disounding dan diajak ngobrol bahwa harus lepas ASI karena sudah berusia 2 tahun akan mengerti? Mengerti apa yang kita ‘minta’ dan ‘merelakan’ tidak menyusu lagi. 


Karena saya penasaran, maka saya coba.


Pertama, sounding beberapa bulan sebelumnya. 


Saya bilang ke Aksara, kalau bulan depan dia udah gak boleh menyusu lagi, karena sudah besar. Tentu Aksara cuek-cuek saja, gak merespon apapun, wkwkwkw. Dia tetep minta ASI terutama kalau mau tidur malam atau lagi di dalam mobil/di perjalanan.


Bulan berikutnya, saya sounding lebih intens lagi. Tapi tetep aja anaknya cuek bebek dengan watados-nya. Dia tetep mau ASI setiap mau tidur malam.


Sampai usianya sudah 2 tahun lebih 2 bulan, saya membulatkan tekad untuk menyapih Aksara. 


Malam pertama, saya sudah siapkan susu kesukaannya untuk mengganti ASI. Tapi GAGAL. Aksara menangis meraungraung. Gak berhenti nangisnya, mana tengah malam, duh malu sama tetangga.


Dan beneran, tetangga ngomong gini, “Saya paling gak tega deh denger anak nangis.”


Ya ampun, Bapak Ibu, namanya anak lagi disapih, harusnya maklum dong ya. Sebagai orang tua, saya selalu maklum kalau ada anak yang menangis, tantrum, dll. Saya menaruh empati pada orang tua yang sedang berjuang mendidik anakanak mereka. Toh, berasa banget, mendidik anak sangat tidak mudah.


Malam berikutnya.


Malam berikutnya saya coba lagi, sebelum tidur, Aksara minum susu dulu. Nyanyi-nyanyi dulu, dibikin happy dulu deh pokoknya.


Tapi, ternyata beberapa menit kemudian, dia nangis minta ASI supaya bisa tidur. Dan selanjutnya Aksara nangis lagi meraung-raung. Karena sudah bertekad mau menyapih, ya udah saya usahakan tetap tenang dan tersenyum, walau sebenernya udah ga tahan juga mau menyerah.


Lama-lama, Aksara tidur, saya kasih susu lagi beberapa teguk sambil bilang, “Aksara sudah gede, sekarang minumnya susu di gelas dinosaurus, ya.”


Akhirnya malam itu berlalu juga. Besoknya, Aksara ga minta ASI lagi. Walau kadang dia keceplosan mau minta ASI, sambil minta dipangku atau tiduran di kasur. Kalau udah gitu, harus segera kita alihkan deh, bisa sambil nyanyi, mainan, atau jalan-jalan ke luar rumah.


Beberapa hari sih ya masih gitu, masih minta ASI secara gak sengaja. Tapi lambat laun dia mulai terbiasa minum susu di gelas Dinosaurus kesayangannya.


Baca juga: Membuat Udara di Rumah Bersih dan Sejuk


Kenapa Saya Menyapih di Usia 2 tahun?



pengalaman menyapih anak bayi
Ini waktu Aksara tepat 2 tahun usianya, habis ultah diajak kepantai deh



Tentu karena perintah di Al Qur’an sudah ada ya. Menyapih anak dimulai ketika usianya sudah menginjak 2 tahun. Di dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 233 berbunyi:


Dan ibu iu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”


Sudah jelas di dalam ayat Al Qur’an, jika anak sudah berusia 2 tahun, maka bisa dilakukan penyapihan, tentunya dengan cara cara yang baik. Bahkan ada pertimbangan terhadap ibunya, ada penekanan pada ayat “Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya.” Saya rasakan sendiri, semakin besar usia anak, memang ada rasa ketidaknyamanan ketika memberikan ASI, tidak sama ketika anak masih dibawah usia 1 tahun.


Selain itu, WHO juga menyarankan agar anak disusui hingga usia 2 tahun lho. Memberikan ASI selama 2 tahun atau lebih banyak memberikan manfaat bagi ibu dan anak, menjaga kesehatan ibu dan anak, memberikan kenyamanan bagi ibu dan juga anak.  Bahkan ada ibu yang lebih lama menyusui (lebih dari 2 tahun) karena merasakan banyak manfaat dan kenyamanan tersebut.


Namun, kalau saya memang memilih untuk menyapih anak ketika usia 2 tahun karena faktor dari diri saya sendiri yang merasa sudah kurang nyaman, dan produksi ASI yang semakin berkurang.


Saya Merasa Tidak Nyaman


Karena Aksara sudah besar, tentu sudah sangat tidak nyaman dalam prose menyusui. Selain itu, saya sering sakit bahu dan punggung, karena ketika menyusu, Aksara selalu ingin sambil tidur miring. Jadi, otomatis semalaman, saya tidur dengan posisi tidur miring sepanjang malam. 


Sakit bahu dan punggung itu beneran gak enak, mau diurut pun sedang covid gini, gak berani minta urut sama tukang urut langganan.


Baca juga: 5 Kebiasaan Sehat yang Harus Diajarkan Pada Anak



Aksara Suka Pelampiasan Gak Mau Makan Karena Ada ASI



pengalaman menyapih anak bayi
Sebelum disapih, Aksara susah banget disuruh ngemil. Ini foto sama nenek, makan donat di pinggir pantai, sambil menikmati angin sepoi-sepoi 


Ketika masih ASI, duh, Aksara kadang susah makan, karena maunya menyusu aja sampai ketiduran. Makanya BB-nya susah untuk naik. Berbeda setelah disapih, dia jadi mau banyak makan makanan dan juga camilan. Minum air putih, minum susu pun jadi lebih banyak. Aksara gak mau makan kalau lagi sakit atau gak enak badan aja.


Menyapih Tradisional VS Menyapih Dengan Cinta, Mana yang Lebih Baik?



pengalaman menyapih anak bayi
Tetap semangat, konsisten, dan bermental baja ya Mak, menghadapi anak yang lagi masa-masa aduhai 😂



Menurut pengalaman pribadi, dua-duanya memiliki tantangan masing masing. Proses menyapih dengan cara tradisional memang bisa jadi ‘jalur cepat’ namun anak nampak marah dan kecewa. Sementara menyapih dengan cinta, membutuhkan waktu yang lebih lama. Karena proses sounding-nya memakan waktu yang tidak sebentar.


Namun yang pasti sama adalah, rewelnya. Hihihi. Ini sulit untuk ditawar dan dari tiga anak saya, semuanya rewel dengan caranya masing masing. Memang kita sebagai ibu yang dituntut harus sabar dan konsisten tidak mudah menyerah, ketika akan menyapih anak dari ASI. Tapi Insya Alloh, usia 2 tahun adalah usia yang sudah cukup pas untuk menyapih, karena daya berpikir anak pun sudah semakin tinggi. Mereka bisa kita aja ‘berdamai’ meski dengan cara yang berbeda beda.


Nah, itu dia sekelumit pengalaman saya ketika menyapih Aksara. Apakah Buibu punya pengalaman tak terlupakan ketika menyapih anak? Yuk berbagi cerita di kolom komentar :D