Dan ketahuilah, bahwa harta dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan, dan di sisi Allah-lah Pahala yang besar (Q.S Al-Anfal:28)

Sebagai ibu dari seorang anak yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi, potongan Ayat Al-Qur'an di atas memang benar adanya.

Merawat anak dengan alergi protein susu sapi itu Masya Alloh.  Betul-betul menjadi cobaan tersendiri bagi saya dan suami.

Apalagi dalam keluarga kami belum diketahui siapa saja yang memiliki "bakat" alergi. Maka dari itu, perjalanan Kifah yang tumbuh sebagai anak yang alergi protein susu sapi menjadi sebuah pengalaman yang sering saya share di blog ini. 

Karena saya tahu, ibu dengan anak alergi, harus sama-sama saling menguatkan dan mendapatkan informasi dan edukasi seputar alergi anak.

Baca juga curhat saya tentang pengalaman merawat anak alergi dan asma.

Pekan Tanggap Alergi Generasi Maju

Bicara soal saling support dan memberikan informasi dan edukasi mengenai alergi anak, saya sangat mendukung adanya Pekan Tanggap Alergi Generasi Maju.

Karena saya merasa 'ada teman' untuk sharing, mendapatkan informasi dan edukasi, dan juga nasehat-nasehat dari para expert mengenai alergi anak.




Seperti pada Senin, 29 Juli 2020 kemarin. Saya mengikuti webinar via Zoom mengenai bagaimana cara merawat anak alergi di masa pandemi seperti saat sekarang ini.

Jujur saja, selama Pandemi Covid-19 yang dimulai pada pertengahan Maret 2020 hingga sekarang, saya dan suami cukup panik dan takut akan bahaya penularan Covid-19 karena Kifah anak pertama saya memiliki riwayat alergi dan sekarang mengidap penyakit Asma.

Asma pada Kifah memang belum sembuh total, bahkan di bulan Ramadhan kemarin, Kifah tertatih-tatih berpuasa walau ketika jam bangun sahur asmanya sering kali kambuh.

Di masa Pandemi ini, tentunya kekhawatiran saya naik 2x lipat.

Webinar yang bertajuk Tanggap Alergi di Masa Pandemi untuk Generasi Maju kemarin, menghadirkan Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr. Sp.A (K), M.Kes yang merupakan seorang ahli imunologi dan alergi anak.

Selain itu, hadir pula Bunda Anggi Morika Septi, Senior Brand Manajer SGM Eksplor Advance + Soya, serta Bunda Mediana Herwijayanti, yakni Digital Marketing Manajer SGM Eksplor Advance+ Soya. Dan satu lagi, Bunda Nastasha Rizky (artis dan Bunda yang memiliki anak dengan riwayat alergi protein susu sapi).

Bunda Anggi mengatakan bahwa memang pasti ada ketakutan sendiri bagi para orang tua, di masa pandemi seperti sekarang ini, bagaimana cara merawat dan melindungi kesehatan anak-anak yang alergi dengan protein susu sapi.

Maka dari itu, Pekan Tanggap Alergi Generasi Maju ini, ingin sekali mengajak dan menggugah para Bunda yang memiliki anak dengan alergi protein susu sapi untuk sama-sama belajar dan mendapatkan edukasi tentang alergi anak dengan benar sesuai dengan arahan para ekspert.

Bunda Anggi juga mengajak para Bunda agar selalu ingat 3K.

Apa itu 3K?




1. Kenali Gejala. Yaitu mengenali apa saja gejala alergi. Di website generasimaju.co.id/alergianak Bunda bisa mengecek, apakah anak mengalami alergi atau tidak.

2. Konsultasikan. Yaitu mengkonsultasikan pada dokter atau expert mengenai alergi anak. 

Di generasimaju.co.id/alergianak terdapat fitur live chat bersama expert dimana kita bisa melakukan chat bersama expert untuk bertanya seputar alergi anak.

3. Kendalikan. Alergi dapat dikendalikan, salah satunya dengan cara memberikan nutrisi yang tepat pada si kecil yang mengalami alergi.

Prof. Budi mengatakan berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), di masa pandemi ini, anak termasuk ke dalam kelompok yang rentan terkena infeksi, Indonesia adalah negara dengan angka terinfeksi tertinggi di ASEAN.

Anak dengan alergi susu sapi memiliki sistem imun yang unik dan lebih sensitif dibandingkan anak yang lainnya, maka dari itu, anak dengan alergi protein sapi harus mendapatkan perhatian ekstra khususnya pada kesehatanya.

Alergi sendiri adalah respon tubuh yang tidak normal terhadap 'zat asing' yang masuk ke dalam tubuh.

Walaupun sebenarnya zat tersebut tidak berbahaya, namun sistem imun anak alergi akan meresponnya secara berlebihan, sehingga menimbukan, gatal, bengkak, ruam merah, sesak, dsb.

Zat yang memicu alergi disebut alergen. Biasanya, alergen terdapat pada makanan dan zat yang terhirup.

Makanan contohnya:

Susu sapi, makanan laut, kacang tanah, tree nuts (kacang polong, almond, mede), telur, gandum dan ikan.




Zat yang terhirup contohnya:

Tungau debu rumah, serbuk sari tanaman, kecoa, serpihan kulit  binatang, dan jamur kapang.




Apakah Alergi Susu Sapi Itu?

Alergi susu sapi diakibatkan oleh kasein dan whey, yakni protein susu sapi yang menyebabkan reaksi alergi. Angka kejadiannya sebesar 0,5 %- 7,5% dan manifestasi terbanyak yakni Dermatitis Atopik, yakni ruam merah pada kulit. Namun, kejadian alergi ini akan berkurang seiring dengan pertambahan usia.

Data dari klinik anak di RSCM Jakarta, tahun 2012 menyebutkan bahwa 31% pasien anak alergi terhadap putih telur dan 23,8 % alergi terhadap susu sapi.

7,5 % anak Indonesia mengalami alergi terhadap protein susu sapi, yang merupakan makanan penyebab alergi nomor dua setelah telur, pada anak-anak di Asia.

Dampak Apa Saja yang Ditimbulkan Jika Alergi Susu Sapi Tidak Segera Diatasi?


1. Dampak Kesehatan

Meningkatnya resiko penyakit degeneratif seperti obesitas, hipertensi, dan sakit jantung

2. Gangguan Tumbuh Kembang

Anak dengan alergi bisa mengalami keterlambatan pertumbuhan, karena berhubungan dengan jenis dan ragam pantang makanan

3. Ekonomi

Meningkatnya pengeluaran untuk biaya pengobatan ke Rumah Sakit, membeli obat-obatan, biaya perawatan di rumah, orang tua kehilangan pendapatan karena sering tidak masuk kerja, dll.

4. Psikologi

Anak dan orang tua bisa stress, bahkan bisa jadi orang tua jauh lebih stress. Dengan begitu kualitas hidup anak dan keluarga menjadi menurun.

Lakukan 3 K (Kenali, Konstasikan, Kendalikan)

Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Bunda Anggi, Prof. Budi pun menyarankan sebagai Bunda kita harus menjadi Bunda Tanggap Alergi dengan melakukan 3K. 

3K dilakukan agar alergi lebih bisa diatasi dan tidak menjadi kasus yang lebih berat lagi.


Kenali Gejala Alergi Protein Susu Sapi


1. Saluran cerna:  Diare (53%) dan Kolik (27%)

2. Kulit: Urtikaria (18%) dan Dermatitis Atopik (35%)

3. Saluran Nafas: Asma (21%) dan Rinitis (20%)

4. Umum: Anafilaksis (11%)

Bagaimana Membedakan antara Alergi dan Infeksi?


Di masa pandemi seperti ini, orang tua cenderung lebih khawatir dengan kesehatan si kecil.

Duh, anak saya batuk pilek, apa jangan-jangan terkena Corona ya?

Gejala Infeksi yakni:

1. Disertai demam
2. Batuk dan pilek terjadi sepanjang hari
3. Dahak yang dikeluarkan berwarna


Gejala Alergi:

1. Tidak disertai demam
2. Batuk, pilek, bersin biasanya terjadi saat malam hari
3. Dahak yang dikeluarkan bening/tidak berwarna

Tata Laksana Alergi (Rekomendasi dari IDAI)

Bagi anak yang memang menunjukkan gejala alergi, langkah selanjutnya adalah dengan MENGKONSULTASIKAN kepada dokter atau expert di bidang imunologi dan alergi anak.

Biasanya anak akan diberikan obat-obatan sesuai dengan gejala alergi oleh dokter.

ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, jika anak memiliki alergi tetap berikan ASI dan ibu menyusui sebisa mungkin menghindari makanan pencetus alergi.


Apabila dengan SANGAT TERPAKSA KARENA ALASAN MEDIS maka boleh memberikan nutrisi yang lain, seperti formula soya sebagai alternatif berdasarkan rekomendasi dokter.

Tips Menghadapi New Normal/Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) untuk Anak Alergi Susu Sapi




1. Tidak melakukan penundaan imunisasi

2. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan SDIDTK (Stimulasi Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak)

3. Tetap menjaga kesehatan dengan nutrisi yang lengkap dan seimbang, perbanyak makan buah dan sayuran, dan aktivitas fisik yang sesuai.

4. Ajari anak mencuci tangan dengan menggunakan sabun, memakai masker, dan menghindari kerumunan

5. Berjemur di depan rumah setiap pagi sekitar 10-15 menit untuk mengoptimalkan asupan vitamin D yang baik untuk daya tahan tubuh anak.

Bunda Mediana Herwijayanti, Digital Marketing Manager SGM Eksplor Advance+ Soya, Pekan Tanggap Alergi Generasi Maju ini diharapkan mampu mengedukasi dan memberikan informasi seluas-luasanya kepada masyarakat agar lebih aware terhadap kasus alergi anak.

Dengan paparan yang dikatakan oleh dr.Budi bahwa alergi bisa berakibat buruk jika tidak segera diatasi, maka Pekan Tanggap Alergi Generasi Maju bisa dijadikan sebagai referensi dan pengetahuan tentang bagaimana mengatasi alergi pada anak.

Dan tidak hentinya, kampanye 3K yakni Kenali, Konsultasi, dan Kendalikan. Menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk bisa menjadi Bunda Tanggap Alergi.




Di dalam webinar kemarin, ada juga Bunda Natasha Rizky yang menceritakan pengalamannya mengatasi anaknya yang kedua, yang mengalami alergi protein susu sapi.

Awalnya ia sangat khawatir, bagaimana dengan pertumbuhan dan perkembangan anaknya karena mengalami alergi susu sapi. Karena asupan nutrisi pasti akan terbatas.

Nah, ada tips nih dari Bunda Natasha, sebagai Bunda Tanggap Alergi, yaitu:

1. Cari tahu gejala alergi itu seperti apa, sebagai Bunda kita harus peka.

2. Konsultasikan kepada expert apabila memang si kecil menunjukkan gejala alergi.

3. Memberikan nutrisi pengganti yang lain, misalkan dengan memberikan formula soya.

4. Kreasikan menu makanan si kecil, agar asupan nutrisinya tetap seimbang.

5. Dan yang terpenting, mintalah dukungan suami dan keluarga untuk merawat anak dengan alergi protein sapi. Karena suami dan keluargalah yang bisa menyemangati.

Yuk, Bunda, kita jadi Bunda Tanggap Alergi. Jangan lupa melakukan 3K.

Untuk mengetahui tentang gejala alergi pada anak dan chat dengam para expert, kunjungi www.generasimaju.co.id/alergianak

Dan untuk mengetahui banyaknya keseruan Pekan Tanggap Alergi Generasi Maju, Bunda bisa membuka akun instagram @soya_generasimaju dan Facebook Fan Page: Soya Dukung Generasi Maju.

Pastikan jangan terlewat acara edukatif dan informatifnya seputar alergi anak, ya Bunda.

***

Saya sendiri, sebagai Bunda yang memiliki anak alergi protein susu sapi, sangat terbantu dengan adanya Pekan Tanggap Alergi Generasi Maju.

Walau dulu Kifah alergi terhadap protein susu sapi, sekarang Kifah siap jadi Generasi Maju


Saya merasa tidak sendirian, dan mendapatkan support untuk terus mendukung si kecil jadi generasi maju walau dengan segala 'kekurangan' yang ada pada diri mereka.

Apakah si kecil di rumah memiliki alergi protein susu sapi juga, Bund? Sharing yuk di kolom komentar.





Buah-buahan adalah salah satu sumber vitamin dan nutrisi yang penting bagi tubuh. Ada banyak sekali  manfaat buah-buahan bila dikonsumsi dengan porsi yang tepat, beberapa diantaranya seperti menurunkan berat badan, sumber antioksidan, mencegah penyakit tertentu, sebagai sumber vitamin dan lain sebagainya.

Pokoknya, bagi Mama yang punya kesibukan dan jadwal yang padat. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan membuat jus buah-buahan, membut jus kegemaran dengan juicer atau blender. Lihat rekomendasi juicer lainnya di sini.

Masalahnya, dalam menikmati   jus favorit, dibutuhkan berbagai bahan tambahan lain agar nutrisi
dan manfaat buah menjadi lebih maksimal untuk kesehatan dan kebugaran tubuh.

Mama tidak usah khawatir!

Di artikel ini akan dibahas mengenai berbagai jenis resep buah, kandungan jus serta manfaat jus yang bisa Mama buat sebagai referensi jus favorit selama di rumah aja.

1. Jus Stroberi Susu (2 porsi)



Bahan-bahan:

- 20 buah stroberi
- 500 ml susu UHT atau Full Cream
- Es Batu (secukupnya)
- 2 sendok makan gula pasir

Cara membuat:

1. Cuci bersih stroberi, kemudian rendam dengan air matang. Setelah itu potong stroberi dengan ukuran kecil.

2. Masukkan es batu ke dalam juicer atau blender, jangan lupa dengan menambahkan 2 sendok makan gula pasir dan susu cair.

3. Blend semua bahan hingga tercampur rata, tuang ke dalam gelas dan siap disajikan.

Kandungan dan Manfaat

Stroberi dikenal memiliki kandungan Vitamin C, antioksidan, senyawa tumbuhan dan mangan.

Sedangkan manfaat dari jus stroberi pada umumnya adalah dapat menjadi detox yang dapat membersihkan tubuh dari berbagai racun, menjaga kesehatan jantung, memperkuat daya tahan
tubuh, dan mencegah penuaan dini pada kulit.

2. Jus Sayur Bayam (1 Porsi)


Bahan-bahan:

- 2 genggam bayam
- ½ buah apel (kiwi, timun, atau buah lain yang disukai)
- 1 sendok makan perasan air jeruk nipis
- ½ sendok makan madu
- 200 ml air
- 2 iris potongan nanas (optional)

Cara membuat:

1. Cuci semua bahan yang sudah disiapkan. Setelah itu masukan bahan-bahan tersebut ke dalam blender kecuali madu.

2. Blender 2 detik dan kemudian berhenti selama 3 detik. Ini dilakukan supaya menghindari oksidasi yang
berakibat pada berkurang dan bahkan hilangnya kandungan nutrisi olahan buah. Lakukan hal ini sampai bahan menjadi halus.

3. Bila Mama suka, saring hasil jus tersebut. Apabila Mamanrasa masih kurang serat, Mama dapat langsung menuangkannya ke dalam gelas.


4. Tambahkan madu dan aduk hingga merata.

Kandungan dan Manfaat

Biasanya jus sayur bersifat langu atau beraroma tidak sedap saat diminum. Dengan adanya sedikit tambahan buah dan jeruk nipis, maka akan mengurangi adanya bau tidak sedap pada jus, apalagi saat diminum.

Ada berbagai kandungan yang baik pada bayam, yakni adanya Vitamin A yang berfungsi sebagai penambah kesehatan mata, Vitamin C yang berfungsi sebagai penambah kekebalan tubuh. Juga adanya serat dan mineral yang baik untuk menurunkun resiko penyakit kardiovaskuler.

Manfaat dari mengkonsumsi jus bayam pada umumnya adalah sebagai penurun berat badan
dan peningkat imun pada tubuh.


3. Jus Tomat Segar (1 Porsi)



Bahan-bahan:

- 3 buah tomat
- 2 batang seledri
- 2 sendok makan jeruk nipis
- 1 sendok makan madu (sesuai selera)
- Air matang secukupnya
- Es batu

Cara membuat:

1. Cuci bersih tomat lalu rebus kurang lebih selama 4 menit

2. Siapkan juicer atau blender, masukan seledri dan tomat. Setelah itu tambahkan air dan 2 sendok makan jeruk nipis

3. Tambahkan air matang dan biarkan sampai lembut

4. Taruh jus di dalam gelas

5. Tuangkan madu di atas tomat dan es batu secukupnya.


Kandungan dan Manfaat

Ada banyak kandungan yang baik dalam buah tomat. Beberapa di antaranya seperti kandungan Potasium yang baik bagi sistem elektrolit dalam tubuh.

Di samping itu ada Likopen yang dianggap sebagai antioksidan yang baik bagi tubuh, serta adanya Vitamin C yang dianggap mampu menambah sistem imunitas tubuh.

Sedangkan manfaat dari mengkonsumsi jus tomat
adalah dapat mengatur sistem pencernaan, menurunkan kolesterol, dan sebagai detoksifikasi
racun yang ada di dalam tubuh.


Selamat mencoba yaaa :D


"Anaknya kok kecil ya"

"Kok bayinya item ya, padahal ibu bapaknya putih"

"Idungnya kok mancung ke dalem sih, dek"

"Ngapain sih pake caesar, lebih baik kan lahiran normal, males jalan kali dulu ya waktu hamil"

Sounds familiar?

Setiap ibu hamil yang baru saja melahirkan pasti pernah merasakan situasi, dimana harusnya bahagia tapi mendadak mood jadi berantakan.

Ya, mood berantakan karena komentar orang disekitar terhadap kondisi ibu pasca melahirkan maupun kondisi bayinya.

Tiga kali melahirkan, sedikit banyak saya mengalami hal yang sama.

Ada kerabat yang mengomentari warna kulit bayi, atau mengomentari kondisi ibu pasca melahirkan karena merasa lebih 'senior'.

Rasanya tentunya sangat tidak enak. Membuat mental kita down atau jatuh sebagai ibu. Padahal kita telah berjuang antara hidup dan mati. Kok bukannya diberikan motivasi dan apresiasi, tapi malah dikritik sampai menangis di dalam hati.

Maka dari itu, berbekal dari tiga kali menghadapi persalinan, saya ingin berbagi tips bagaimana mempersiapkan mental untuk menghadapi persalinan nanti.


1. Niat 


Jarang sekali dari kita yang menyadari bahwa niat itu sangat penting dan memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap apa yang akan kita perbuat.

Ternyata, ketika kita sedang hamil, niat yang baik itu sangat diperlukan.

Jangan sampai kita lupa berbismillah dan bertawakal lillahita'ala kepada Allah SWT. Kita berniat hamil dan melahirkan nanti untuk memiliki keturunan yang soleh, sehat, baik dan menjadi insan yang bermanfaat.

Kenapa saya bilang kita harus meluruskan niat?

Karena ada juga, perempuan yang hamil karena niat lain. Seperti ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain, ingin dipuji, atau dengan niat-niat yang tidak baik lainnya.

Niat yang kuat untuk menjadi ibu bagi generasi soleh solehah, akan membantu menguatkan mental ibu untuk menghadapi persalinan.


2. Berdo'a



Selain niat, kita jangan pernah lupa akan kekuatan do'a.

Saya pernah berdo'a di kehamilan ketiga, ingin melahirkan dalam kondisi yang hening dan tenang, alhamdulillah terkabul.

Saya datang ke rumah bersalin pukul 3.30 dini hari dan melahirkan setelah adzan shubuh. Suasananya sangat hening, bahkan tidak ada ibu bersalin lainnya selain saya sendiri.

Berdo'a meminta sesuatu yang baik juga mempengaruhi kesiapan mental kita saat menghadapi persalinan. Karena naluri kita sebagai ibu pasti tidak bisa dibohongi, ada hal yang membuat kita nyaman atau tidak untuk menghadapi persalinan nanti.

Jika saya berdo'a ingin melahirkan dalam kondisi hening, mungkin ada ibu hamil yang ingin melahirkan didampingi suami atau ibu/keluarga.

Dan ketika do'a itu terkabul, mental kita sebagai ibu semakin kuat.

3. Dukungan Suami


Komunikasi antar suami istri ini sangat penting untuk dilakukan. Sejak hamil, usahakan segala sesuatu yang kita inginkan atau kita butuhkan dikomunikasikan kepada suami.

Misal, bagaimana nanti setelah melahirkan?

Apakah suami yang akan mengurus segala kebutuhan dan pekerjaan rumah tangga? atau akan menyewa jasa ART?

Atau mungkin untuk sementara waktu tinggal di rumah orang tua? Agar ada yang membantu merawat ibu dan juga bayi.


Semua itu harus didiskusikan dengan baik. Biasanya perempuan itu suka memberikan kode-kode saja kepada suami, bahkan ada yang cenderung diam.

Tapi please, untuk menghadapi persalinan, apapun yang ada di pikiran kita atau apapun yang kita perlukan nantinya pasca melahirkan harus disampaikan dengan baik kepada suami. 

Hal ini tentunya berguna untuk menjaga kesehatan mental ibu pasca melahirkan, agar tidak terjangkit PPD (Post Partum Depretion) karena kurangnya komunikasi, kelelahan mengurus bayi, sakit setelah melahirkan, dsb.


4. Bicara dengan Keluarga Terdekat


Selain berkomunikasi dengan suami, untuk mempersiapkan mental menghadapi persalinan, mulailah berbicara juga dengan keluarga terdekat atau orang tua.

Misalkan kita memilih metode persalinan yang agak berbeda dengan orang tua atau keluarga kita, jangan lupa untuk menjelaskan hal ini kepada mereka.

Agar setelah melahirkan nanti, tidak ada mis komunikasi atau komentar yang tidak diinginkan dari pihak keluarga atau orang tua.

5. Membaca Informasi Terkait Persalinan


Jangan pernah berhenti belajar dan menggali informasi ya Bumil. Saat ini, banyak sekali informasi yang bisa kita akses seputar persalinan.

Seperti berbagai metode persalinan, prenatal yoga, senam hamil, dan bagaimana membuat persalinan menjadi menyenangkan, dan tidak menakutkan.

Berdayakan diri dengan ilmu pengetahuan, baik secara online atau pun mengikuti kegiatan pelatihan, agar mental kita siap untuk menghadapi persalinan nanti.

Kesiapan mental ini sangat penting bagi ibu hamil karena banyak efek yang ditimbulkan ketika kesehatan mental ibu hamil terganggu.

Tanpa persiapan, ibu pasca melahirkan rentan sekali terkena depresi paca melahirkan dan tentunya akan berpengaruh pada perkembangan ibu dan bayi.

Untuk memperoleh informasi mengenai kesehatan mental, kita bisa mencari berbagai artikel yang ada di internet.

Namun, jika masih belum puas dengan berbagai artikel yang ada di internet, kita bisa berkonsultasi langsung dengan dokter terpercaya melalui aplikasi Halodoc.

Aplikasi Halodoc ini memungkinkan kita untuk berkonsultasi secara daring (video call, chatting, dll) dengan dokter yang terpercaya. Selain itu, kita juga bisa membeli obat karena Halodoc bekerja sama dengan Apotek untuk melakukan pembelian obat.


Terakhir, banyaklah bersedekah.


Mungkin aneh tapi nyata, tapi berdasarkan pengalaman pribadi,  banyak bersedekah ini bisa membuat hati kita lebih tenang dan siap menghadapi persalinan.

Selain itu, bersedekah pun bisa menolak bala atau bahaya/musibah. Dengan bersedekah, tentu kita berharap hanya kepada Allah SWT dan meyakinkan diri bahwa persalinan kita akan berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang kita inginkan.


Jika kita sudah berdo'a, berusaha, mencari ilmu dan juga bersedekah. Insya alloh kita akan lebih siap untuk menghadapi persalinan.

Mental kita akan jauh lebih siap dan lebih tenang. Bahkan ketika banyak kritik atau nyinyiran kerabat/netizen terhadap kondisi ibu dan bayi sekalipun.

Ada yang punya pengalaman lain seputar mempersiapkan mental untuk menghadapi persalinan? 

Yuk sharing di kolom komentar
Review Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer

Assalamu'alaikum, apa kabar Mama-mama semuanyaaa?

Semoga baik-baik saja ya, walaupun dalam masa #DiRumahAja dan #JagaJarak semoga tetap sehat dan bahagia selalu.

Siapa yang lagi hamil atau menyusui? Alhamdulillah, semoga ibu dan bayinya sehat selalu, atau mungkin ada yang dibawa berpuasa, semoga ibu dan bayinya sehat dan kuat menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan ini.

Mengingat pada saat hamil dulu, saya merasa, setiap kehamilan itu punya rasa yang berbeda-beda.

Ada yang bilang bawaan janin, ada yang bilang faktor usia dan kesehatan ibu, faktor hormon dan mood/tingkat stres juga, dll.

Tapi tetap sih, walau berbeda-beda rasanya, yang saya fikirkan adalah bagaimana saya hamil dengan aman dan sehat. Tidak ada masalah apapun dengan diri saya dan juga bayi di dalam kandungan.

Makanya kalau ada orang yang ribut-ribut soal jenis kelamin bayi, saya tuh agak gimana gitu.

Kalau saya pribadi, jenis kelamin itu nomer kesekian, yang penting adalah hamil aman, sehat, gak kurang sesuatu apapun.

Aman disini adalah aman dari segi asupan makanan, asupan obat dan vitamin, kegiatan saya sehari-hari, hingga produk skin care pun harus aman untuk saya dan bayi.

Karena saat hamil itu biasanya hormon berubah, pernah saat hamil anak kedua atau ketiga (duh saya lupa, wkwkwk) wajah saya itu kusaaammm paraaah.

Komedo banyak, kulit itu seperti kering bersisik gitu deh, bikin gak pede. Udahnya badan melar, kulit kusam, paduan sempurna untuk membuat ibu hamil jadi bad mood, kan?

Tapi memang galaunya itu pasti kalau mau pakai skin care itu pasti tanya-tanya dokter atau nakes dulu, aman atau ngga. Kalau rajin, googling dulu, cari banyak review produk skin care yang aman untuk ibu hamil dan menyusui.


Review Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer
Hamil dan menyusui adalah moment yang gak terlupakan, jangan lupa untuk selalu bahagia dan selalu sehat ya, Ma.

Faktanya, 80% Mama merasa kulit kusam dan kering saat kehamilan, dan 20% Mama timbul jerawat selama masa kehamilan.

Kemudian, 58% Mama mengganti skin care saat hamil dan menyusui, dan 27% Mama tidak memakai skin care karena takut berpengaruh ke janin, malas, dan alasan lainnya.

Dilansir dari media online, banyak masalah kulit yang terjadi pada saat kita hamil. Seperti stretch mark, jerawat, Melasma atau bercak hitam saat hamil, ruam merah, kulit kusam, dll.

Perubahan hormon pada tubuh yang menjadi penyebab utama munculnya masalah-masalah tersebut.

Seperti munculnya jerawat, munculnya jerawat ini disebabkan oleh produksi minyak berlebih oleh tubuh. Sehingga wajah yang berminyak sangat rentan menjadi kotor dan menimbulkan jerawat.

Jerawat juga bisa terjadi bukan hanya pada wajah, tetapi bisa menyebar ke area leher, dada, dan punggung.

sumber: ibupedia.com

Dan fakta yang lebih mencengangkan lagi adalah hanya 1 orang dari 9 Mama yang familiar mengenai bahkan toksin yang terkandung di dalam produk skin care.

Memang apa aja sih yang gak boleh ada dalam produk skin care untuk ibu hamil dan menyusui?

1. Fragrance
2. Alcohol
3. Chemical Sunscreen
4. Mercury
5. Retinol
6. Paraben

Bahan-bahan ini tidak boleh ada pada produk skin care yang digunakan oleh ibu hamil dan menyusui, agar hamil tetap aman dan nyaman.

Dicatat baik-baik ya, Ma.

Review Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer

Review Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer
Kemasannya mungil, desainnya simpel, dan mudah untuk dibawa kemana-mana ❤️

Jujur aja, saya baru tau merk Mama's Choice ini. Karena di kehamilan sebelumnya saya cenderung 'malas' mencari tau produk skin care untuk ibu hamil. 

Seharusnya sih gak gitu ya, karena saya merasakan sendiri kulit wajah kusam itu gak enak banget.

Alhamdulillah, di masa menyusui anak ketiga ini, saya mencoba Brand Mama's Choice ini, yaitu Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer.

Dari nama produknya sendiri kita sudah cukup tau ya, bahwa kegunaannya adalah sebagai moisturizer atau pelembap wajah yang bisa digunakan sehari-hari.

Apa saja kandungan Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer ini?

1. Terbuat dari Natural Rice Extract

2. Menggunakan Mineral Sunscreen bukan Chemical Sunscreen yang berbahaya bagi kulit sensitif terutama bagi ibu hamil dan menyusui.

3. Dermatologically Tested dan Hypoallergenic.

4. Non Comedogenic, Fragrance Free, alcohol free, paraben free, Hydroquinon Free dan retinol free.

5. Mengandung Rice Extract yang bisa membuat kulit glowing luar dalam 

6. Mengandung Mineral Sun Screen dengan SPF 25++ 

7. Mengandung Hyaluronic Acid yang bisa menghidrasi kulit dengan baik.

Dan satu lagi yang penting, Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer ini sudah bersertifikat HALAL MUI.

Review: Setelah Mencoba Selama 3 Hari


Review Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer
Saya sedang mencoba  Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer, Mama sudah coba juga?



Kondisi saya sekarang sedang menyusui bayi berusia 18 bulan.

Kulit wajah kadang terasa kasar dan kusam (komedo dan kulit mati). Walau di rumah aja, jarang terkena sinar matahari kecuali keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari, kulit wajah tetap gak nyaman dan kusam lho.

Mungkin karena saya masih menyusui dan kondisi lingkungan yang rentan polusi, sehingga berdampak pada kondisi kulit wajah saya.


Setelah 3 hari penggunaan:

Tekstur


Review Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer
Teksturnya ringan dan gak lengket

Menurut saya, tekstur dari Mama's Choice Daily Protection Moisturizer ini cenderung ringan dan tidak lengket.

Padahal wajah saya ini tipe berminyak, tapi Mama's Choice Daily Protection Moisturizer tidak membuat wajah saya mengkilap.

Fragrance/Aroma

Mama's Choice Daily Protection Moisturizer ini tidak mengandung pewangi, tapi aroma dari krimnya tidak berbau obat-obatan atau bahan kimia lho, justru wanginya natural, saya suka.

Saya paling suka menggunakan Mama's Choice Daily Protection Moisturizer sehabis mandi pagi. Karena biasanya saya tetap harus keluar rumah untuk membeli bahan makanan.


Review Mama's Choice Daily Protection Face Moisturizer
Bumil dan Busui, jangan lupa Skin Care-an pakai Skin Care yang aman yaaaa 😘

Over all, Mama's Choice Daily Protection Moisturizer sangat bersahabat di kulit wajah saya, dan membuatnya tetap lembab serta terjaga dari pengaruh buruk sinar UV dan polusi.

Saran saya khususnya untuk ibu hamil, tetap jaga kesehatan dan kecantikan kulit wajah walaupun sedang hamil dan mager berat untuk melakukan perawatan. Agar hamil aman glowing luar dalam.

Saya pernah malas merawat wajah karena hamil, hasilnya wajah saya kusam dan noda bekas jerawat justru sulit hilang jika dibiarkan terlalu lama tidak dirawat.

Jadi, semager apapun, tetaplah jaga dan rawat kulit wajah kita walaupun sedang hamil dan menyusui, jangan lupa pilih produk yang aman, nyaman, dan tentunya halal bagi ibu hamil serta menyusui ya.

Buat bumil dan busui cantik yang mau coba Mama's Choice Daily Protection Moisturizer ini, bisa membeli produknya di LAZADA dengan kode voucher diskon:

MAMATETTY

(Minimal pembelian 150 ribu, akan mendapatkan potongan harga sebesar 25 ribu).

Mau coba produk lainnya? Yuk intip-intip instagram
@mamaschoiceID yang mau belanja bisa ke: https://mamaschoice.id/shop/


***

Masa hamil dan menyusui jangan sampai dijadikan beban atau alasan untuk bermalas-malasan dalam menjaga kesehatan fisik termasuk wajah ya.

Tetap jaga asupan makanan dan nutrisi agar kulit tetap sehat dan ternutrisi dengan baik, olah raga ringan yang sesuai dengan masa kehamilan, dan jangan lupa juga merawat kecantikan kulit wajah agar glowing luar dalam dengan produk perawatan kulit wajah/skin care yang aman untuk ibu hamil dan menyusui.

Masalah kulit apa aja nih yang pernah muncul pada masa hamil dan menyusui? 

Sharing yuk :D