"Aku pengen resign, tapi masih belum bisa. Orang tua gak kasih izin, keluarga juga masih perlu sokongan ekonomi tambahan. Tapi jujur aja, aku galau banget sama anak."

"Sedih, aku merasa useless banget di rumah. Ibu nyuruh aku kerja, karena udah capek-capek sekolahin aku sampe sarjana, tapi malah di rumah terus, cuman momong anak. Aku merasa sakit hati dan gak berguna jadinya."

...

Dialog curhat seperti di atas itu seperti familiar. Yaps, familiar di kalangan perempuan atau ibu yang memutuskan bekerja di kantor atau tinggal di rumah, full ngasuh anak dan beberes setiap harinya. 

Kegalauan seperti ini sering sekali saya dengar dari teman-teman. Walau sekedar update status media sosial, atau curhat langsung ke saya. 

Saya ngerti kenapa mereka galau, toh saya pun pernah berada di posisi mereka. Sama-sama bingung antara anak dan eksistensi diri melalui pekerjaan.


Ujung-ujungnya, para perempuan atau ibu ini melakukan pembelaan diri dan pembenaran, atau kita kenal istilahnya Mom War, antara ibu bekerja dengan ibu rumah tangga.

Mom war yang tak kunjung usai, bahkan sampai muncul kata-kata ataupun gambar yang menyakitkan, baik untuk ibu bekerja maupun ibu rumah tangga.

Sebenernya, kalau saya boleh ngajak temen-temen berpikir sejenak, semua kegamangan dan pertarungan opini antara ibu bekerja vs ibu rumah tangga, gak harus terjadi jika kurikulum pendidikan di Indonesia agak diretouch sedikit mengenai peran gender atau jenis kelamin. Yaitu laki-laki dan perempuan.

Jadi, semata bukan karena pribadi masing-masing yang senengnya war atau gontok-gontokan, tapi lebih jauh lagi, ini semua dikarenakan kurikulum pendidikan Indonesia yang masih sangat kurang dalam memberikan edukasi tentang peran laki-laki dan perempuan di dalam hidup ini, tsahh.

Sex Education emang sering digembar-gemborkan, tapi lebih ke arah edukasi sex secara fisik, seperti pengenalan alat reproduksi, bagaimana menjaga tubuh kita dari orang lain, dll. 

Bagus sih, tapi menurut saya tetep kurang. Karena anak perempuan dan laki-laki juga perlu diberi tau sejak dini, peran perempuan dan laki-laki secara sosial, apa saja tanggung jawabnya, apa saja kewajibannya, dan apa saja tantangannya.

Baca juga: Dari Si Tomboy Jadi Si Feminim

Balik lagi ke peran perempuan dan laki-laki di masyarakat.

Sadar kah kita kalau dari kecil  kita diajarkan hal yang sama dengan laki-laki, ibarat kata, gak ada bedanya dengan teman laki-laki kita.

Secara materi semua plek ketiplek sama. Guru-guru berbasis mata pelajaran tentunya mengajarkan materi pelajaran yang sama seperti Trigonometri, Arus listrik, Penyerbukan, Reaksi Kimia, dan lain sebagainya.

Semuanya sama, tak ada perbedaan bukan? Bahkan kadang yang perempuan lebih jago ngitung jumlah rantai karbon dibanding laki-laki, padahal yang banyak kerja di pertambangan kan Bapak-bapak, yang bersinggungan sama bidang tersebut.

Menurut saya, tetap harus ada pendidikan/pembelajaran yang "membedakan" antara laki-laki dan perempuan. Terutama dalam memahami peran gendernya ketika ia terus beranjak dewasa.

Jangan sampai ketika dewasa anak perempuan itu berpikir "Ya emang dari kecil, gue diajarin ilmu x y z, ya mau gak mau, gue harus pake buat kerja."

Kita, orang dewasa ini macam disuruh mikir "lah kan emang begini seharusnya, lah kan emang sekolah itu buat kerja." Thats it.

Hmmmmm.

Kurikulum Indrustial

Indonesia memang menganut sistem kurikulum Industrial dimana terinspirasi dengan adanya Revolusi Industri.




Makanya, sejak dulu, kalau kita perhatikan semua mata pelajaran yang kita terima adalah berbasis kompetensi alias keahlian melakukan sesuatu yang sudah tersistem. Apalagi kurikulum SMK, mata pelajarannya adalah untuk melakukan hal tertentu yang terstruktur dan terorganisir. 

Kenapa seperti itu? Karena memang, kurikulum Industrial itu menyiapkan lulusannya menjadi seorang pekerja.

Bahkan, waktu kecil, saya kebayangnya kalau udah gede bakal jadi kasir di supermarket loh, suwer

Ya ampun itu kalau inget jadi ngakak sendiri.

Oleh karena itu, dengan adanya kurikulum 2013 berbasis karakter, saya sungguh gembira. Pemikiran akan kognitif yang agung sudah mulai berkurang. Anak-anak lebih dibina karakternya selain kognitifnya. Walau pun tetep sih, di lapangan ada yang tetap mengagung-agungkan  nilai ulangan, nilai ujian, nilai matematik, dsb.

Tetep ya, orang tuanya terbawa nuansa zaman dulu pas sekolah, dimana nilai kognitif dan rangking yang jadi acuan kecerdasan anak.

Galau Akan Masa Depan

Coba deh, siapa yang cita-cita masa kecil, gak sinkron sama kerjaan atau pun kondisi masa kini? Berapa banyak sih orang yang sukses meraih cita-cita masa kecilnya? Dan beneran happy dengan keadaannya sekarang?

Ya mungkin ada, tapi ga banyak. Trus kita termasuk yang mana?

Ada gak sih yang mikir, "kok tiba-tiba gue jadi guru ya? Tiba-tiba gue jadi PNS? Tiba-tiba gue jadi blogger?" Semuanya bak diluar rencana.

Tak Tahu Peran, Tak Punya Pilihan

Karena ketika kita gak tau siapa diri kita, apa peran kita, ujung-ujungnya kita gak punya pilihan, ketetapan hati, dan keputusan di masa depan.

Dosen saya dulu pernah nyeletuk, "Udah gak zaman tuh sekarang Ibu memasak di dapur, ayah berangkat ke kantor. Karena sekarang, ibu juga bisa berangkat ke Kantor dan Ayah bisa masak di dapur."

Iya sih, tapi kok saya dengernya gak enak ya waktu itu. Seakan-akan gak ada batasan lagi antara tanggung jawab laki-laki dan perempuan.

Baca Juga: Susahnya Menikah

Karena pesan pendidikan yang blur tentang peran perempuan dan laki-laki ini, jujur aja, saya pun merasa jadi korban dan menjadi generasi yang kebingungan.

Gak punya pandangan, pemahaman, dan keputusan sejak kecil. Kehidupan dijalani dengan let it flow tanpa gambaran yang jelas tentang masa depan akan seperti apa, pekerjaan apa yang bisa dilakukan, peran apa yang harus saya "mainkan" semuanya tak terencana sejak di bangku sekolah dasar.

Padahal kita sekolah lama loh, TK 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, Kuliah 4 tahun. 17 tahun yang sia-sia kalau sampai gak tau tujuan hidup sendiri *so sad

Peran Guru

Di sekolah, memang pelaksana kurikulum yang paling utama adalah guru. Tapi, dengan beban mata pelajaran yang begitu berat, apa masih bisa mengakomodir hal lainnya dengan segala keterbatasannya?

Guru Bimbingan Konseling

Memang sih, guru BK paling pas untuk jadi konselor atau orang tua yang mengarahkan anak didik diluar mata pelajaran, tapi kadang guru BK lebih identik dengan kasus anak, kedisiplinan, dll. Dan guru BK juga hanya ada di tingkatan sekolah menengah saja, padahal di tingkat sekolah dasar pun, fungsi dan peran perempuan dan laki-laki itu penting disampaikan.

Ini bisa jadi salah satu solusi, peran guru BK ini harusnya lebih diarahkan untuk memberikan gambaran peran dan tanggung jawab anak-anak di masa depan nanti, termasuk peran gendernya sebagai perempuan dan laki-laki. Perannya dalam membangun keluarga, masyarakat, membangun bangsa dan lainnya.

Bukan hanya soal profesi atau cita-cita sebagai seorang xxxxx, tapi berbagai peran yang akan disandang oleh manusia dewasa harus bisa dijelaskan oleh seorang guru BK di sekolah. 


Jangan Meremehkan Anak Usia Sekolah Dasar

Karena di usia ini lah anak-anak akan sering bertanya "eksistensinya" di dunia ini. Mulai dari "asalnya dari mana" "terbuat dari apa" "kenapa kita ada"  dan bahkan anak-anak suka berimajinasi ingin jadi apa kelak dia ketika dewasa dengan cara belajar dari lingkungan sosial.

Mengenal Peran Gender Sejak Kecil, Meminimalisir Kegalauan di Masa Depan


Seperti yang sudah saya katakan di atas, kita menjadi generasi yang kebingungan karena kita kurang atau bahkan tidak paham tugas dan fungsi kita masing-masing.

Sebagai perempuan, sejak kecil kita tidak menerima pendidikan yang lengkap mengenai tugas dan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.  Tidak semua keluarga mengerti bagaimana mengedukasi anak-anaknya akan perannya sebagai perempuan dan laki-laki.

Bersyukurlah kalau kamu dilahirkan dari keluarga yang memang mengerti dan paham cara mengarahkan anak. Sehingga, ketika dewasa, anak sudah tidak kebingungan dan mantap mengambil peran di masyarakat.

Lah kalau ngga?

Agar Perempuan Tidak Berujung Pada Kegalauan

Andai peran dan fungsi perempuan di keluarga dan masyarakat diajarkan sejak dini, mungkin Mom war tentang ibu bekerja dan ibu rumah tangga akan bisa diminimalisir.




Pertama, mental perempuan akan lebih siap. Karena sudah ada gambaran akan masa depan. Jika bekerja akan lebih siap mempersiapkan mental, diri, kompetensi, dan pengetahuan tentang seluk beluk ibu bekerja.

Kedua, begitupun dengan Ibu rumah tangga. Memilih jadi ibu rumah tangga karena pilihan dan kesiapan mental, bukan hanya nasib semata. Dan sudah tau, apa yang akan dilakukan jika saya tidak bekerja di kantor. Menjadi seorang wirausahawan kah, menjadi seorang relawan di dunia pilantropi kah, atau menjadi pelayan masyarakat dengan aktif di komunitas.

Baca juga: 5 Inspirasi Wirausaha Bagi Muslimah dari Brand Tas Heejou

Coba deh bayangin, jika pendidikan kita sudah berpikir sejauh ini. Khususnya bagi perempuan, maka hidupnya akan lebih bahagia dan jauh dari kegalauan, antara bekerja atau tidak.

Karena semuanya sudah dipersiapkan sejak kecil, mentalnya disiapkan, diberikan informasi yang lengkap tentang kemungkinan atau resiko dari pilihan yang akan diputuskan. Perempuan pun gak akan saling "serang", saling menjatuhkan karena alasan pilihan hidup.

Ibu bekerja bahagia dan mantap dengan keputusannya, ibu di rumah pun bergembira karena ini merupakan gambaran kehidupan idealnya sejak kecil.

Gak galau dan gak merasa salah dalam ambil keputusan.

"Karena ibu yang bahagia itu adalah koentji untuk melahirkan generasi yang bahagia, dan semuanya sudah dipersiapkan dengan baik bahkan semenjak sang ibu masih belajar mengeja namanya sendiri."


Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi berdasarkan pengalaman dan pengamatan, dan tidak menerima perdebatan dalam bentuk apapun. Terima kasih :D


Harapan orang-orang terhadap fasilitas hotel dapat berbeda yaa. Bahkan setelah menginap di hotel yang sama, akan ada pemandangan yang sedikit berbeda dari dua orang yang berbeda.

Namun ada beberapa hotel, yang menjadikan hal ini sebagai masalah. Terlebih lagi jika Kita berada di hotel bintang 5 di Jakarta yang memang ada beberapa hal yang harus Kita perhatikan, termasuk pelayanan yang seharusnya Kita dapatkan dari hotel mewah.

Inilah keuntungan yang akan Kita dapatkan dari hotel bintang 5, yaitu:

Layanan penuh pertimbangan, tidak mengganggu dan dapat diandalkan.

Tentunya salah satu hal yang penting dan menentukan adalah hotel mana yang dapat menawarkan fasilitas yang kita inginkan. Karena hotel bintang 5 yang benar-benar hebat, menjadikan fasilitas yang diinginkan pelanggan ini tertanam ke dalam benak staf mereka. 

Mendapatkan staf pembersih misalnya dari seorang manajer untuk memberikan pelayanan apa pun yang diperlukan oleh pelanggan, bukanlah hal yang mudah. Terutama ketika orang menganggap karyawan di bisnis perhotelan ini memiliki perputaran yang cepat.

Jika staf tidak peduli maka para tamu juga tidak akan merasa puas akan pelayanan yang diberikan oleh hotel bintang 5 tersebut. 

Seorang staf yang pro-aktif, menawarkan layanan yang penuh perhatian dan dapat diandalkan, sepadan dengan harga mahal yang dibayar oleh para tamu.

Hotel mewah akan memanggil dengan nama Kita.

Hotel yang bagus akan memanggil pelanggannya dengan nama Kita secara personal. Bahkan jika ini adalah pertama kalinya Kita menginap di sana. 

Diterima dengan nama, dengan cara yang tulus, memberi Kita pelayanan yang dipersonalisasi sehingga menambahkan perasaan senang ketika Kita menginap di hotel teraebut.

Tentu saja, jika Kita pelanggan tetap, lagi-lagi, orang akan mengharapkan ucapan pribadi, tetapi lebih dari itu, pelayanan pribadi akan lebih membekas di hati.

Kenyamanan murni.

Jangan lupa mengapa kita memilih hotel tersebut. Kita akan tetap di sana baik untuk bisnis atau liburan. Apa yang kebanyakan orang pikirkan tentang hal pertama di pagi hari? 

Sebuah hotel mewah atau hotel bintang 5 di Jakarta harus menawarkan tempat tidur yang sangat baik, dengan tempat tidur yang bersih dan relatif baru. 

Jika Kita tidak dapat tidur, berarti Kita akan menghabiskan waktu dengan lelah, marah, sia-sia dan tidak akan menikmati apa yang dapat ditawarkan hotel.

Perhatian terhadap detail.

Hotel-hotel terbaik di dunia tidak murah tetapi Kita berharap mereka dapat menawarkan semua yang Kita butuhkan, termasuk layanan transfer. 

Hotel mewah juga akan menawarkan layanan berupa mobil mewah gratis atau paling tidak hotel tersebut memiliki koneksi dengan sopir taxi, sehingga pada saat Kita membutuhkan alat transportasi, pihak hotel dapat langsung menghubungi Kita dengan cepat tanpa membuat Kita menunggu terlalu lama. 

Selain itu layanan penjemputan atau pengantaran bandara lagi-lagi sangat berharga, tidak hanya menghemat waktu Kita untuk mengatur taksi, tetapi memberi Kita keamanan selama menggunakan alat transportasi tersebut.

Pelayanan hotel bintang 5 yang baik dan memuaskan bagi tamu tentunya mampu mendatangkan rasa kepuasan tersendiri bagi para tamu yang datang. 

Dari segi fasilitas dan pelayanan itulah yang membedakan antara hotel bintang 5 dengan hotel bintang 1, 2, 3 maupun 4. 

Dari segi harga pun hotel bintang 5 di Jakarta juga memiliki harga yang jauh lebih mahal. Sehingga dibalik dari harganya yang cukup mahal itulah yang menjadikan pihak hotel haruslah lebih mengedepankan pada pelayanan dan fasilitas untuk para tamu agar para tamu juga merasa puas atas pelayanan yang diberikan.

Karena mengingat bahwa tamu adalah raja. Agar Kita tidak kecewa, tak salah rasanya jika membaca travel blog terlebih dahulu agar mendapatkan referensi yang cukup.

Alhamdulillah, kandungan saya memasuki trimester terakhir yakni di usia 36 Weeks. Menurut prediksi, Hari Perkiraan Lahir adalah minggu awal Oktober 2018. Sedangkan ketika USG kemarin, perkiraan persalinan adalah akhir September 2018.

Seneng campur deg-degan sih, ternyata 9 bulan itu gak berasa sama sekali. Tau-tau, dede bayi udah mau launching bulan ini, Insya Alloh.

Ada yang berbeda di kehamilan pertama dan kedua, yaitu saya ikut senam atau yoga hamil.

Entah dulu saya kurang update atau gimana, yang jelas dulu tuh saya belum pernah ikutan yoga untuk ibu hamil, baik waktu hamil Kifah maupun hamil Aldebaran.

Alhamdulillah banget, dikehamilan ketiga ini bisa kenal yoga hamil di klinik bidan deket rumah. Tempatnya dekat, gak nyampe 15 menit udah nyampe. Harganya pun terjangkau, hanya 35 ribu rupiah saja setiap kali kita datang ke klinik untuk melakukan yoga ibu hamil. Jadwalnya Sabtu atau Minggu, durasinya sekitar 1,5 jam.

Menurut beberapa sumber yang saya baca, yoga bagi ibu hamil ini memiliki banyak manfaatnya, yaitu:

1.Membantu tubuh tetap sehat dan bugar selama kehamilan. Yaps, benar sekali. Banyak yang salah sangka kalau hamil itu kita gak boleh berolah raga. Hal tersebut justru salah kaprah. Ibu hamil harus tetap banyak berolah raga asal tidak membahayakan dirinya dan janin yang dikandungnya.

2.Melatih pernafasan. Latihan pernafasan ini beneran ngefek loh. Pertama, tubuh kita jadi relaks dan santai. Pikiran jadi tenang dan mood pun lebih baik. Dan yang gak kalah penting lagi adalah latihan pernafasan ini sangat baik untuk mempersiapkan persalinan nanti. Karena, latihan pernafasan yang baik dapat mengurangi rasa sakit saat kontraksi dan memudahkan proses mengejan.

3.Membantu meningkatkan keseimbangan tubuh dan mengurangi sakit pinggang. Ini pun benar saya rasakan sendiri loh. Waktu hamil Aldebaran, pinggang rasanya sakit banget. Bahkan pernah ketika saya tidur terlentang, saya gak bisa bangun lagi karena saking sakitnya. Dikehamilan kali ini, karena ikut kelas Yoga untuk ibu hamil, nyeri pinggang berkurang dan tubuh terasa nyaman.

4.Melatih diri dan mempersiapkan area pinggul untuk melahirkan. Dalam gerakan yoga ibu hamil, banyak gerakan yang membantu kita untuk mempersiapkan otot pinggul agar menjadi lebih lentur. Tentunya ini sangat membantu untuk persiapan persalinan nanti.

5.Membantu merelaksasi tubuh dan melatih diri mudah beristirahat. Ibu hamil kadang sangat cemas dengan kondisi janin yang dikandungnya, sehingga sering merasa was-was dan tidak nyaman. Selain mengatur asupan makanan, tingkat stres, yoga bagi ibu hamil pun membantu ibu hamil secara psikologis. Biasanya, dengan rutin melakukan yoga, ibu hamil akan lebih mudah untuk tidur dan beristirahat.

6.Ikhtiar untuk Mengubah posisi janin. Ketika memasuki usia kandungan 6 bulan, posisi janin saya masih sungsang, alias kepala di atas dan kaki di bawah. 

Kemudian, bidan di klinik yang menjadi instruktur Yoga menyarankan beberapa posisi yang bisa mengubah posisi janin yang seharusnya (yaitu kepala di bawah dan kaki di atas). Alhamdulillah, tidak lama kemudian, setelah rutin melakukan gerakan yang diajarkan ketika Yoga, dede bayi di dalam kandungan berpindah posisi ke posisi yang seharusnya.


Yoga hamil bersama sungguh menyenangkan


7.Bisa bersosialisasi dan curhat sesama ibu hamil. And whaatttt, ini adalah salah satu manfaat yang sangat penting. Ngobrol sesama ibu hamil itu bikin bahagia dan plong. Apalagi ketika ada masalah dengan kondisi janin dan lain sebagainya, kita bisa saling curhat dan saling memberikan masukan dan juga saran.

8.Lebih dekat dengan janin. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, ketika memasuki usia kandungan 6 bulan, dede bayi posisinya masih sungsang. Nah, ketika yoga, ibu hamil pun disarankan untuk selalu berkomunikasi dengan janin agar ia berpindah posisi ke posisi yang seharusnya.

Sebenernya, Yoga bagi ibu hamil ini gak mesti kita lakukan di klinik bidan aja sih. Di rumah pun sangat mungkin kita melakukan Yoga untuk ibu hamil. Tinggal putar musik yang bisa merelaksasi, dan menggelar matras, siap deh buat Yoga di rumah.

Agar makin nyaman melakukan gerakan Yoga, enaknya emang pakai matras sih, apalagi ada gerakan table top yang mengharuskan kita membentuk gerakan seperti bayi merangkak gitu. Telapak tangan dan tumit bisa sakit kalau gak pake matras.

Ada matras biasa, ada juga air track for pool (yang bisa dipakai di atas air atau di kolam renang gitu). Sedangkan yang biasa dipakai di rumah atau ditaruh di lantai itu airtrack tumbling mat, nah ini sih yang lagi saya cari buat latihan Yoga di rumah.


Mint Green Airtrack Tumble Cheerleaders Mat

Dan ada juga inflatable air track gymnastics, hampir sama sih dengan yang airtrack tumbling mat, bisa dipakai di lantai atau di tanah/rumput sekalipun. Dan ini keliatannya empuk banget kalau dipake buat Yoga di rumah.


airtrack tumbling mat

Pengennya sih punya salah satu di rumah, biar makin semangat Yoga ibu hamilnya. Karena manfaatnya bisa saya rasakan dan memang benar mengurangi ‘tantangan-tantangan’ selama kehamilan.

Kalau, Mommies sekalian, pernah atau sedang ikutan Yoga hamil juga kah sekarang? Cerita-cerita Yuk, di kolom komentar :D


Halo, Assalamu'alaikum.

Gak kerasa, bulan ini sudah masuk minggu ke-36 dikehamilan yang ketiga. Beberapa produk dan perlatan bayi sudah mulai saya kumpulkan.

Ada yang sudah lengkap, tapi ada juga yang belum. Masih mempertimbangkan faktor kebutuhan dan efisiensi.

Karena waktu hamil Aldebaran dulu, banyak barang yang akhirnya tidak terpakai dan akhirnya dihibahkan kepada orang lain.

***

Sebagai ibu rumah tangga, kadang-kadang kita merasa begitu lelah karena harus melakukan berbagai pekerjaan sendirian terutama jika tidak ada pembantu dan apabila suami (pasangan) bekerja di luar rumah. 

Terpaksa, kitalah yang harus memasak, mencuci pakaian dan perabotan dapur, menyapu, mengepel, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut seringkali tertunda dan bahkan tidak terselesaikan apabila kita punya bayi.


Jika punya bayi, saat hendak mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, kadang-kadang bayi yang tadinya terlihat tidur lelap tiba-tiba terbangun dan membutuhkan kita di sisi-nya. 

Entah itu sekedar untuk ditemani atau ditimang hingga disusui. Begitulah pengalaman yang sering dirasakan oleh ibu-ibu. Tidak peduli pagi, siang, bahkan malam sekalipun.

Terus menerus menggendong bayi tentu saja bukan alternatif terbaik. Mengingat banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan dengan cepat agar tak menyita waktu dan tenaga. 

Susahnya kalau bayi udah "bau tangan" Mamanya

Tapi masalahnya, jika diletakkan begitu saja di tempat tidur, bayi kadang-kadang tidak bisa tidur nyenyak tanpa ditemani atau tanpa ditimbang.

Karena alasan tersebut, biasanya banyak ibu-ibu yang memilih menggunakan ayunan untuk menidurkan bayi agar bayi bisa lebih lelap dan tidur lebih lama. 

Tapi sayangnya, terbiasa menggunakan ayunan membuat bayi jadi cenderung manja. Kondisi ini akan lebih merepotkan lagi apabila kita sering bepergian atau sering menginap di rumah keluarga terutama orang tua maupun mertua.

Karena tidak hanya bayi dan berbagai perlengkapannya yang perlu di boyong, melainkan ayunan pun perlu juga dibawa. Kondisi tersebut semakin merepotkan jika tempat untuk menggantung ayunan tidak ada.

Selain itu, ayunan juga perlu digerak-gerakkan atau digoyang-goyangkan (diayun-ayunkan) setiap waktu. Terasa sangat merepotkan.

Tapi itu dulu.

Sekarang ibu-ibu sudah bisa bernafas lega karena sudah ada ayunan elektrik yang tersedia dengan harga cukup terjangkau. Tapi tetap saja kalau kita membutuhkan tempat untuk menggantung ayunan. 

Jika ingin lebih simpel dan modern, Mama bisa melirik bouncer bayi.

Sumber gambar: https://thoroughlyreviewed.com/baby/best-baby-bouncer/

Apa itu baby bouncer?

Bouncer bayi atau baby bouncer sesuai dengan namanya adalah ayunan bayi namun didesain lebih praktis, lebih modern, dan ergonomis. 

Ayunan bayi modern ini menggunakan tenaga listrik untuk memberikan ayunan secara otomatis sehingga kita tidak perlu repot-repot untuk mengayun bayi setiap kali bouncer tersebut berhenti berayun.

Aldebaran usia 1 bulan, seneng kalau diboboin di Bouncer


Meskipun banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan jika menggunakan alat ayun seperti ini, namun kita tidak boleh latah dan tetap harus waspada. 

Pasalnya, seaman apapun peralatan yang digunakan untuk bayi, tetap membutuhkan pengawasan ekstra dari orangtua (Mama).


Walau demikian, sebagian besar bouncer bayi yang dijual di toko online maupun offline sudah dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan dan keamanan maksimal bagi bayi. Jika faktor kenyamanan dan keamanan yang menjadi concern utama.

Pastikan Mama tidak hanya tergiur karena harganya yang murah saja. Melainkan, perhatikan juga fitur safety dan kualitas bouncer yang ditawarkan. 

Agar tidak salah membeli, berikut beberapa tips yang bisa dijadikan sebagai panduan untuk membeli bouncer yang bagus.

1. Belilah bouncer yang didesain dengan penyangga yang kokoh dan stabil terutama saat dalam keadaan hidup (on).

2. Pilihlah yang alasnya dilengkapi dengan karet yang tidak licin sehingga bayi tidak akan mudah tergelincir

3. Pilih bouncer sesuai dengan kebutuhan. Bouncer tipe rak cocok untuk bayi yang sudah memasuki usia MPASI. 

4. Sedangkan bouncer tipe penjaga cocok untuk menidurkan bayi dalam waktu lama agar bisa ditinggal bekerja, bouncer manual cocok untuk bayi kurang dari 5 kg

5. Semakin banyak kunci (sabuk pengaman) yang tersedia pada bouncer maka akan semakin baik dan semakin aman untuk bayi.

6. Beberapa fitur tambahan (musik, getar, dan penggerak elektrik) membuat harga bouncer kadang-kadang meningkat drastis. Jika tidak dibutuhkan, pilihlah bouncer yang minim fitur.

***

Gimana nih, Ma? Sudah punya pilihan Bouncer seperti apa yang akan digunakan untuk bayi nanti? Atau punya pengalaman seputar memilih Bouncer?

Sharing yuk, di kolom komentar.


Assalamu’alaikum, apa kabar hari ini? 

Apakah keluarga sehat semua? Mudah-mudahan semuanya sehat yaa. Mamaknya strong, Ayahnya strong, anak-anaknya juga kuat dan sehat, amiinn.

Saya sendiri sekarang sedang menunggu kelahiran bayi ketiga saya, Insya Alloh due datenya adalah bulan ini. Semua pekerjaan sedikit demi sedikit saya kurangi dan fokus untuk menyambut kelahiran dede bayi.

Bicara soal tentang kehamilan, yang namanya ibu hamil itu rentan banget ya terhadap stres. Malah ada yang merasa tidak bahagia selama menjalani kehamilannya. Ada yang takut akan persalinan, ada yang merasa kurang perhatian, ada pula yang khawatir berlebihan terhadap kondisi diri sendiri dan janin.

Padahal, merasa bahagia saat hamil itu sangat diperlukan ya. Karena ibu yang stres akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam rahim.


Bahagia Dalam Rumah Tangga dan Keluarga

Kebahagiaan sendiri memang sangat relatif, bagi setiap orang, definisi bahagia itu berbeda-beda. Ada yang bahagia karena memiliki banyak anak di rumah. Ada yang bahagia ketika hanya cukup memiliki satu anak saja.

Kemudian ada yang bahagia karena pasangannnya sangat romantis, atau pun sebaliknya. Ada yang bahagia ketika pasangannya memberikan keleluasaan untuk mengembangkan diri.

Ya, kebahagiaan itu memang berbeda bagi setiap orang, tergantung bagaimana kita memaknainya.

Pernah suatu ketika, teman saya bercerita kalau rumah tangganya terasa tidak bahagia. Padahal kalau secara kasat mata, ia baik-baik saja, memiliki anak dan berkecukupan secara finansial. Tapi ia bilang kalau dirinya kurang bahagia di rumahnya. Suaminya jarang sekali mengajak liburan atau sekedar bersantai bersama anak-anaknya di luar rumah. Suaminya selalu beralasan kalau ia sangat lelah bekerja, dan tidak ingin pergi keluar rumah di hari libur.

Hmmm, saya juga kadang sedikit banyak merasakan kegalauan teman saya tersebut. Sebagai istri, kita merasa bosan setiap hari ada di rumah dan mengerjakan pekerjaan di rumah yang itu-itu saja. Tetapi sebaliknya, suami menghabiskan sebagian besar waktu di luar rumah untuk bekerja, sehingga di hari libur suami inginnya leyeh-leyeh di rumah.

Hehehe, emang jadi gak singkron ya. Keinginan suami dan istri tidak bertemu di tempat yang sama. Ujung-ujungnya suami istri bertengkar, istri stres, dan keluarga pun terenggut kebahagiaanya.

Padahal, menurut data BPS, dimensi keharmonisan keluarga memiliki pengaruh tertinggi dalam membentuk kebahagiaan seseorang, dengan indikatir 80,5.

Dan  sebenernya ada kabar baik nih, masih berdasarkan data dari BPS, Indeks kebahagiaan Indonesia mengalami peningkatan, darii 68,28 pada tahun 2014 menjadi 70,69 pada tahun 2017, dengan skala 0-100. Indeks kebahagiaan Indonesia ini disusun oleh tiga dimensi yaitu Kepuasan Hidup, Perasaan, dan Makna Hidup.

Sejalan dengan temuan study dari Harvard Study of Adult Development yang menyatakan bahwa, memiliki hubungan yang dekat dan berkualitas dengan keluarga dan orang terdekat, membuat orang menjalani hidup lebih sehat dan bahagia.

Kuncinya adalah Komunikasi


Seperti cerita dari teman saya, kurangnya komunikasi dapat memicu konflik di dalam rumah tangga. Memang saya akui, yang namanya pernikahan itu adalah ajang belajar seumur hidup, tidak ada batasannya, bahkan sepanjang pernikahan itu sendiri.

Dan salah satu aspek yang sangat penting dalam pernikahan adalah komunikasi antar suami istri. Komunikasi ini bukan hanya tentang bicara setiap hari, karena bisa saja kita bicara setiap hari dengan pasangan, namun ternyata kita gagal dalam berkomunikasi.

Salah satu gagalnya ciri gagalnya proses komunikasi dalam keluarga adalah terjadinya konflik.

Komunikasi macam apa yang seharusnya ada dalam sebuah rumah tangga?

Komunikasi yang seharusnya ada dalam rumah tangga adalah komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal atau bisa juga disebut komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaski orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non verbal.

Mengapa harus komunikasi interpersonal? Karena komunikasi interpersonal bagi sebuah rumah tangga adalah komunikasi yang menjadi ujung tombak dlam penyelesaian konflik.

Dengan adanya komunikasi tersebut, setiap pasangan suami istri dapat lebih terbuka dengan pasangannya dalam penyampapaian atau penyelesaian masalah.

Bagaimana Meminimalisir ‘Stres’ dalam Keluarga?

Jika kita sudah berusaha untuk berkomunikasi dengan baik bersama pasangan dan anak-anak. Kita pun harus berusaha untuk meminimalisir stres yang mungkin bisa terjadi di dalam keluarga.

Stres yang tejadi pada keluarga biasanya terjadi karena masalah anak, keuangan,  dan hubungan pernikahan.

Bagaimana caranya menghindari stres karena masalah anak?

1.Mengajarkan Disiplin. Anak harus diberikan pemahaman mengenai tanggung jawab, hak dan kewajiban, serta hal apa saja yang boleh dan tidak boleh ia lakukan sebagai anggota keluarga di rumah.

2.Mengajarkan Berbagi. Anak yang diajarkan berbagi dengan sesama atau lingkungannya yang membutuhkan, akan belajar empati dan tidak mudah merengek ketika keinginannya tidak terwujud.

3.Komunikasi. Sekecil apapun masalah bersama anak, sebagai orang tua, kita harus mengusahakan untuk bicara hati ke hati dengan anak.

Bagaimana cara mengindari stres karena masalah keuangan?



1.Saling Terbuka. Jika suami istri memiliki penghasilan, atau pun hanya suami saja, keterbukaan terhadap keuangan harus dilakukan. Suami istri harus saling mengetahui, berapa uang yang masuk dan keluar setiap bulan atau tahunnya. Kemudian merencakan keuangan bersama, apalagi jika kondisi keuangan keluarga sedang tidak stabil.

2.Memiliki Tabungan Pribadi. Suami dan istri boleh saja memiliki tabungan pribadi, namun bukan untuk saling merahasiakan. Tujuan adanya tabungan pribadi adalah ketika suami atau istri memiliki kebutuhan pribadi, tidak harus mengganggu kondisi keuangan keluarga. Dan tentunya kita harus memastikan bahwa pengeluaran pribadi tersebut tidak mengganggu keadaan keuangan keluarga dan sesuai dengan rencana keuangan yang sudah disusun bersama.

3.Konsultasi dengan Perencana Keuangan. Jika dirasa kita sudah sulit mengatur keuangan keluarga secara pribadi, dan masalah keuangan keluarga sudah gonjang-ganjing, tidak ada salahnya untuk meminta nasehat dari financial planner atau perencana keuangan.

Bagaimana cara menghindari stres akibat hubungan pernikahan?



1.Mengendalikan Emosi. Mengendalikan emosi dalam pernikahan memang susah-susah gampang. Menurut John Gottman, PhD dari University of Washington, rasio 5:1 sangat penting untuk menjaga pernikahan. Artinya setiap ada 1 interaksi negatif dengan pasangan, harus ada setidaknya 5 interaksi positif selanjutnya.

2.Mengkompromikan Cara Membesarkan Anak. Perbedaan  cara pengasuhan anak bisa jadi sumber konflik jika tidak dibicarakan dengan baik. Maka dari itu, berdiskusi mengenai masalah ini sangat penting untuk kita lakukan bersama pasangan  kita.

3.Mengembalikan Gairah Pernikahan. Setelah lama menikah, mungkin kita bosan akan rutinitas sehari-hari seperti mengurus rumah, anak, bekerja, dan lain sebagainya. Sesekali kita bisa loh jalan berdua dengan suami untuk makan malam berdua, nonton di bioskop, atau istilahnya ngedate berdua tanpa membawa anak-anak.

Sundate bersama Sunlife



Ngomongin masalah ngedate bersama pasangan, Sun Life Financial Indonesia ternyata menginisiasi sebuah program yang bernama Sundate dalam rangka menyambut Hari Pelanggan Nasional.

Apa itu Sundate?

Sundate adalah sebuah persembahan dari Sun Life Financial Indonesia kepada nasabah setianya sebagai wujud apresiasi  perusahaan dengan memberikan pengalaman menyenangkan bersama keluarga, sekaligus mempererat kedekatan nasabah dan perusahaa, selaku mitra terpercaya perencana keuangan keluarga di Indonesia.




Sundate ini akan dilaksanakan di 5 kota besar yaitu Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali dan Medan.

Elin Waty, selaku Presiden Direktur dari Sun Life mengatakan bahwa, “Sun Life memahami pentingnya keharmonisan keluiarga dalam membantu meningkatkan kebahagiaan seseorang, karena sejalan dengan misi Sun Life untuk  membantu keluarga Indonesia meraih kehidupan yang #LebihBaik. Bagi  Sun Life, layaknya keluarga, nasabah adalah aset terpenting bagi perusahaan yang harus dijaga dan dilindungi dengan baik. Karenanya, kami memiliki aktivitas Sundate, sebagai sarana menjalin keakraban antara anggota keluarga, sekaligus meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan nasabah, khususnya di momen Hari Pelanggan Nasional.”


Konsep Sundate ini sejatinya adalah mengembalikan kembali aktivitas kebersamaan keluarga yang sekarang ini sudah tergeser dengan era digital. Dimana setiap anggota keluarga hanya sibuk dengan gawainya masing-masing, tidak mampu berkomunikasi dengan baik dengan ayah, ibu, anak, kakak, maupun adik.


Selain untuk nasabah Sun Life, inisiasi Sundate ini juga dilakukan untuk mengajak masyarakat Indonesia agar bisa merancang waktu khusus di akhir pekan bersama keluarga. Melakukan aktivitas bersama, melepaskan gadget sebentar, dan melakukan Quality time yang bertujuan untuk menambah kebahagiaan dan keharmonisan seluruh anggota keluarga di rumah.

Wah, seru yaa inisiasi dari Sun Life ini.




Dilakukan dilima kota besar, aktivitas Sundate ini akan melibatkan 3.000 nasabah Sun Life dan keluarganya. Dan sebagai puncak apresiasi terhadap nasabahnya, Sun Life akan memfasilitasi 3 keluarga yang beruntung dan terpilih untuk terbang ke Jepang bersama keluarga untuk meluangkan waktu dan melakukan Quality Time bersama keluarga pada bulan Oktober 2018 nanti.

Seneng banget ini ya kalau terpilih jalan-jalan ke Jepang bareng keluarga.

Bahagia itu Kita yang Menciptakan

Memang ya, menata hati itu yang paling susah. Apalagi kalau dalam sebuah keluarga banyak sekali karakter yang berbeda dan bersatu padu. Bukan hanya untuk diinginkan, kebahagiaan keluarga pun mesti kita ciptakan dan rencanakan. Gak ujug-ujug datang begitu saja.

Menurut saya, insiasi Sun Life menghadirkan #Sundate2018 ini perlu diacungi jempol. Karena memang saking “lelahnya” kita sampai lupa untuk saling berkomunikasi, berbicara dari hati ke hati dengan suami, istri, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya.

Kalau menurut Mamak sekalian, apa sih makna kebahagiaan di dalam keluarga dan bagaimana cara merancang quality time bersama ditengah hiruk pikuk aktivitas harian kita?

***


Sumber referensi: 

https://bit.ly/2MDJbfq

Manajemen Konflik Rumah Tangga. Febriani W Nurcahyanti