Kita semua tahu bahwa bunglon adalah hewan yang bisa menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungan sekitar. Kemampuan ini Alloh desain dengan sedemikian rupa agar bunglon dapat menghindari diri dari pemangsa. Kemampuan ini tentu sangat bagus dimiliki oleh seekor bunglon, karena denganya ia bisa terlihat menyerupai warna lingkungannya. Warna tubuhnya melebur bersama warna lingkungan tempat ia berada.

Tapi tahukan kita bahwa hanya bunglon lah yang "pantas" memiliki kemampuan tersebut. Bagaimana jika manusia memiliki atau meniru kemampuan bunglon tersebut? saya rasa "tidak pantas". Mengapa? bunglon mengubah warna tubuhnya agar ia tidak terlihat oleh pemangsa sehingga ia terlihat sama dengan warna lingkungan. Namun bagaimana dengan manusia? haruskah ia memiliki kemampuan untuk "berkamuflase" dengan lingkungan sekitarnya? saya rasa jawabannya TIDAK.

Manusia adalah makhluk yang sempurna akal dan perasaan. Manusia mampu berfikir dan merasa, dengan kemampuan berfikir dan merasa manusia memiliki kecerdasan lebih diantara makhluk lain. Salah satunya kecerdasan dalam bersikap dan bertingkah laku. Sebagian besar tingkah laku manusia tentu didapat dari cara berfikirnya, dan cara berfikirnya tentu dipengaruhi tentang keyakinannya tentang suatu hal. Salah satunya keyakinan dalam berketuhanan, yakni beragama. Manusia yang beragama tentu memiliki pedoman yang mengatur tingkah lakunya sehari-hari. Berbeda dengan manusia jahiliyah yang hidupnya penuh dengan kebodohan karena tidak beragama.

Seperti halnya perintah berhijab/menutup aurat bagi perempuan muslim. Perintah ini diturunkan dengan banyak manfaat, salah satunya adalah sebagai identitas diri. Kita akan sangat mudah mengenali perempuan muslim dengan perempuan kafir dilihat dari hijab yang ia gunakan. Sehingga kita juga dengan sangat mudah mengambil keputusan bagaimana tata cara memperlakukan perempuan muslim tersebut. 

Sama hal nya dengan tindakan bermuamalah, sebagai seorang muslim kita memiliki pedoman yang jelas yakni Al-Qur'an dan Al-Hadits. Kita memiliki rambu-rambu dalam bertindak tanduk di lingkungan masyarakat. Apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan. Saya fikir aturan semacam itu sebagai fungsi perlindungan dan juga menjaga nama baik dan kehormatan kaum muslimin itu sendiri.

Manusia bukan lah bunglon, karena manusia memiliki "warna" tersendiri yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Sehingga, sangat salah apabila manusia memperlakukan dirinya sebagai bunglon yang merubah-rubah warna kulitnya bergantung pada lingkungan sekitarnya. Manusia memiliki "warna" yang harus ditunjukkan, khususnya bagi seorang muslim. Warna tersebut digunakan untuk membedakan mana muslim dan mana yang bukan. Sehingga lingkungan pun tahu bagaimana caranya memperlakukan diri kita, bukan sebaliknya.



Wallahu'alam 



Istilah rumahku syurgaku menurut saya bukan hanya sekedar slogan biasa. Banyak makna tersirat di dalam slogan tersebut. Banyak orang yang menafsirkan bahwasloga rumahku syurgaku adalah slogan yang bermakna bahwa rumah adalah tempat peristirahatan dan tempat berlindung paling indah. Sehingga disamakan dengan kenyamanan setingkat di syurga. 

Saya juga sepakat dengan penafsiran tersebut. Tapi saya memiliki penafsiran lainnya berkaitan dengan "rumahku syurgaku" ini. 

Setiap hari masing-masing anggota keluarga beraktifitas sesuai dengan peranannya masing-masing. Seorang ayah bekerja setiap hari karena memang tugasnya mencari nafkah yang halal bagi keluarganya. Seorang ibu bertugas sebagai manajer dalam rumah tangga, mengatur rumah secara fisik (membersihkan, menata, memperindah, dan lain sebagainya), mengatur rencana pengeluaran dan pemasukan keuangan, mengatur gizi keluarga, bahkan mengatur penampilan setiap anggota keluarga. Dan seorang anak berkewajiban mentaati perintah orang tua, selama tidak bertentangan dengan Qur'an dan Hadits. 

Setiap anggota keluarga berkolaborasi demi terwujudnya cita-cita atau visi rumah tangga mereka masing-masing. Terutama orang tua (ayah dan ibu) mereka adalah pilot dan co-pilot dalam penerbangan menuju cita-cita mulia ini. 

Dalam sebuah rumah-lah pribadi-pribadi (ayah, ibu, dan anak) ini berkolaborasi dan berkembang bersama. Sehingga rumah lah yang pertama kali membentuk karakter masing-masing anggota keluarga. Dan tentunya karakter ini akan di bawa baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Seringkali kita melihat anak atau bahkan seorang ayah /ibu yang penampilannya urakan atau tidak rapi. Ada juga anak atau seorang ayah/ibu yang gaya hidupnya sangat boros, tidak mampu mengendalikan keinginan untuk membelanjakan uang untuk hal yang tidak perlu. Dan ada seorang anak dan seorang ayah/ibu yang berprilaku jorok atau tidak bersih, sehingga perilaku hidupnya tidak sehat.

Hal-hal diatas merupakan karakter seseorang ketika berada di masyarakat, dan saya yakin karakter tersebut sangat dipengaruhi oleh karakter atau perilaku yang dibentuk di rumah. Misalnya ada seorang ayah yang suka bermalas-malasan ketika bekerja, atau anak yang malas mengerjakan tugas sekolah. Mungkin di rumah manajemen waktu yang diterapkan kurang  baik. Atau ada seorang ibu yang sangat boros, bisa jadi di rumah memang tidak ada pengaturan atau SOP sistem pengeluaran dan pemasukan keuangan yang disepakati bersama (sistem keuangan keluarga tidak jelas/buruk).

Menurut saya, fungsi-fungsi ini lah yang menjadikan keluarga disebut sebagai institusi terkecil dari pendidikan. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak, merupakan kumpulan karakter dan personal yang berinteraksi secara intens di dalam rumah. Karakter yang dibentuk di rumah inilah "pakaian" masing-masing anggota keluarga dalam bermasyarakat. Alangkah sedihnya apabila ada seorang ayah yang memiliki kedudukan atau prestasi tinggi di dalam bidang pekerjaan namun memiliki "pakaian" yang tidak baik. Pastinya kerugian bukan hanya timbul bagi dirinya dan keluarganya, tapi lebih jauh lagi kerugian ini akan ditanggung oleh masyarakat dan negara (contohnya koruptor).

"Rumahku syurgaku" memang kalimat yang sangat sederhana, Namun bagaimana caranya agar kalimat tersebut menjadi sebuah filosofi dalam membina sebuah institusi yang bernama keluarga. Bagaimana caranya agar seluruh anggota institusi tersebut 'berpakaian" seperti para penguhuni syurga, yang memberikan keindahan akhlak dan nilai manfaat yang besar bagi seluruh lapisan masyarakat. 

"Tidak ada yang lebih hangat selain dekapan seorang ibunda"


Diah (kanan)

Namanya Diah, usianya belum genap 5 tahun ketika saya bertemu dengannya ketika Himpunan Mahasiswa jurusan tempat saya kuliah dulu melakukan program P2M singkatan dari Pengabdian Pada Masyarakat. 
P2M sendiri merupakan suatu program yang dilakukan secara swadaya oleh mahasiswa dalam rangka mengamalkan tri dharma perguruan tinggi, yakni pengabdian. 

Kala itu bulan Januari 2010 himpunan mahasiswa melakukan pengabdian pada masyarakat di kabupaten Subang Jawa Barat. Tepatnya di dusun Cibuluh, Parung Jaya. Kami melakukan pengabdian selama satu minggu di desa tersebut. Program kerja dan acara yang kami selenggarakan cukup beragam, sesuai dengan berbagai bidang kerja yang ada di himpunan itu sendiri. Misalnya bidang Agama, biasanya bidang agama melakukan pengajian atau ta'lim bagi warga sekitar dan menyelenggarakan Taman Pendidikan Al-Qur'an bagi anak-anak di lokasi P2M. Sedangkan bidang lain, seperti olah raga melakukan perlombaan-perlombaan olah raga antar warga. Sedangkan bidang pengembangan sumber daya organisasi biasanya akan berkolaborasi dengan karang taruna setempat untuk berdiskusi dan sharing pengalaman seputar organisasi.
Iseng-iseng utak-atik facebook dan laptop, eh nemu foto-foto jadul..
Ternyata hidup ini sudah begitu lama, menengok ke belakang dan melihat apa yang telah kita alami dan kita lakukan merupakan cara yang cukup ampuh untuk makin mengenali siapa diri kita sekarang :)

awal masuk kuliah di UPI tahun 2008




Sekitaran semester 3 (foto diambil di Jl.Braga Bandung, 
waktu hunting tugas kuliah Fotografi)



Awal semester 4 ketika aktif di kepengurusan Himpunan Mahasiswa
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan



Semester 5 Study tour "Objack" ke Museum Fatahillah Jakarta



PAB HIMA Tekpend angkatan 2009


PAB HIMA Tekpend angkatan 2010




Hamil Kifah (waktu semester 7) lokasi di Kebun Binatang Bandung



Wisuda 20 Desember 2012



Foto bareng "model-model" Hijabeez..Hehehe tahun 2013




Wah, ternyata perubahan demi perubahan sudah saya alami. Mulai dari kuliah tahun 2008, hingga menikah di saat kuliah. Dan akhirnya saya sekarang kembali lagi. 


Lain kali penting deh posting foto-foto waktu jaman kuliah. Insya Alloh, Soon.


@tettytanoyo :)
Sore kemarin saya dan teman-teman SMA dulu berkumpul di rumah. Melepas rasa rindu dan bercengkrama bersama setelah sekian lama tak jumpa. Karena setelah lulus SMA kami semua berpencar-pencar ke berbagai daerah.Saya sendiri hijrah ke Bandung setelah lulus SMA, yang lainnya pun demikian, ada yang hijrah ke Bogor, Jakarta, Tangerang, Lampung dan lain sebagainya. 

Masa SMA adalah masa yang sangat indah. Setiap episodenya membuat rindu, apalagi kami semua dahulu dipersatukan dalam wadah organisasi Rohis (Rohani Islam) yang ada di sekolah. Banyak hal yang kami lalui dan pelajari bersama dalam organisasi tersebut. Tapi ternyata yang membekas lebih besar adalah nilai ukhuwah yang kami bangun bersama. Saling berbagi cerita, saling mengingatkan, berbagi kesedihan, dan lainnya jadikan sebagai bumbu persahabatan yang kami bangun.

Alhamdulillah, Alloh memberikan saya kesempatan untuk kembali kesini. Ke tempat dimana kami pernah belajar dan berbagi bersama. Alangkah senangnya apabila kami bisa bersama-sama lagi, berasa ada semangat baru. Apalagi moment pergantian tahun ini sangat pas untuk memulai lagi kebersamaan yang sempat jadi Long Distance Relationship.Hihihi... 

Semenjak dulu saya selalu yakin kita semua diberkahi oleh Alloh dengan potensi masing-masing, dan akan semakin baik dan bermanfaat apabila potensi tersebut kita gabungkan dan menjadi suatu yang hebat. Jujur saja, bagi saya ini seperti 'mengembalikan lagi energi yang sempat hilang'. Karena sahabat-sahabat saya itu adalah energi penggerak bagi saya. Yaps, mereka adalah salah satu sumber inspirasi untuk saya. 

Semoga apa yang telah kita bangun sejak 2008-2014 ini menjadi sesuatu yang berarti dan bermakna bagi kehidupan kita kelak. Kita semua adalah orang-orang pilihan yang Alloh persatukan. Kita ada untuk saling melengkapi, kita ada untuk saling menyayangi, kita ada untuk saling memberikan yang terbaik satu sama lain.


Uhibbukum fillah 'Chocolate'

Tetty, Resty, Dita, Wihda, Anita, Asy-Syifa, Ira, Fitri, Fauziyah, Nidaul..



"Ingat-lah Allah SWT, maka hati kan tenang"



Janji-Nya, janji siapa yang paling pasti dan tidak akan ingkar? tentu hanya Allah SWT. Hanya Dia pemilik janji yang tak akan pernah diingkari, berbeda dengan janji yang dibuat oleh manusia, seringnya lupa bahkan janji palsu pun banyak.

Fitrah manusia adalah memiliki kebutuhan mengenai eksistensi diri (pengakuan diri). Manusia mana yang ingin keberadaannya tidak diakui oleh lingkungan sekitarnya. Keberadaannya diacuhkan dan diabaikan atau dianggap tidak ada. Saya meyakini semua manusia di dunia ini sangat ingin "diakui" oleh lingkungan sekitarnya, baik masyarakat maupun keluarga.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang rumah tangga. Disitu diceritakan ada sepasang suami istri yang memiliki konflik/masalah dalam rumah tangganya. Sang suami bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan, begitupun sang istri, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta juga. Karena belum memiliki keturunan, mereka berdua leluasa untuk bekerja dan memiliki kesibukan masing-masing di luar rumah. Namun, mereka masih tinggal satu atap dengan orang tua sang istri, mereka belum berencana memiliki tempat tinggal sendiri dikarenakan kondisi finansial yang belum memadai. Singkat cerita, masalah rumah tangga mereka bermula dari sini. Sang suami hanya lah pegawai swasta biasa yang memiliki penghasilan pas-pasan. Sedangkan sang istri memiliki penghasilan yang lebih besar dari pada suami. Hal ini memicu konflik pada rumah tangga mereka. Sang istri masih sangat menghormati suaminya sebagai kepala keluarga yang menanggung nafkah bagi keluarganya, tapi tidak bagi mertua dan kakak ipar sang suami. Mereka makin hari makin tidak menghormati sang suami. Sindiran, ejekan dan hal lainnya silih berganti datang dari mulut mertua dan kakak ipar. Mereka selalu meyakinkan sang istri bahwa suaminya hanyalah benalu dan tidak bisa menjadi suami yang baik. 


Menurut kisah di atas, jelas bahwa eksistensi diri adalah kebutuhan. Pengakuan, penghargaan, dan penghormatan diri adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Tapi masalahnya, terkadang pengakuan diri identik dengan prestasi yang kita miliki. Walaupun tidak sepenuhnya benar bahwa pengakuan diri identik dengan pengakuan diri tapi biasanya orang yang memiliki "nilai lebih" lebih mudah mendapatkan pengakuan diri dari orang lain. Seperti lebih dari segi materi, kedudukan, ilmu, dan lain sebagainya.


Walaupun prestasi identik dengan pengakuan diri, alangkah baiknya apabila pengakuan diri di mata Allah menjadi prioritas utama dibandingkan pengakuan diri di mata manusia. Alangkah seringnya kita (saya sendiri) lebih mementingkan prestasi dan pengakuan diri di mata manusia. Kita lupa bahwasanya manusia juga perlu memberikan "prestasi" nya kepada Allah SWT. Sehingga keberadaan kita di dunia ini diakui dan dihargai oleh Alloh SWT (walaupu sebenarnya kita lah yang butuh ke Alloh, bukan sebaliknya). Saya selalu teringat ucapan Kh. Abdullah Gymnastiar atau AA Gym yang selalu bilang "apabila kita berharap kepada manusia maka bersiap-siaplah untuk kecewa" 


Mengukir sebuah prestasi di dunia bukanlah hal yang salah, bahkan Allah memerintahkan kita untuk ber-fashtabikul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Selama prestasi tersebut ada dalam jalan kebaikan, kenapa tidak? Tapi dengan niat yang lurus ikhlas karena Allah semata.



Perkenalkan..

Nama saya Muhammad Kifah Abdullah Sidik

Panggilan "Kifah" atau "Kikif"

Saya lahir di Bandung pada tanggal 12 Juni 2011

Sekarang usia saya 2,5 tahun

Saya sedang aktif bergerak, berbicara, bernyanyi, menari, dan bertanya ini itu

Nah, ini fotoku bersama Abi dan Ummi

Hobiku adalah bernyanyi, menari, main bola, main sepeda, jalan-jalan, bermain wayang golek, dan masih banyak lagi. Kalau ummi tanya aku mau jadi apa, pasti aku jawab "Aku, mau jadi pilot" hehehe. Aku sangat suka jalan-jalan ke Lanud Husain Sastra Negara waktu masih tinggal di Bandung, disana aku melihat banyak pesawat terbang yang super besar. Rasanya senang sekali kalau aku bisa terbang mengendarai pesawat itu.

Salah satu hobiku yang lain adalah bermain wayang golek. Orang sunda biasanya bilang '"ngadalang". Tokoh favoritku adalah Cepot, Semar, Dewala, Arjuna, dan Rama. 

Cepot 



Dewala



Semar


Aku sangat menyenangi tokoh-tokoh pewayangan, Aku juga sangat senang menonton pagelaran wayang golek Giri Harja milik Asep Sunandar Sunarya (walau hanya lewat dvd). Aku sangat senang dengan musik degung dan budaya Sunda lainnya. 


Jika sudah besar nanti Aku ingin sekali mementaskan wayang golek untuk anak-anak. Do'akan yaa... 



"Kifah"



Alhamdulillah wa syukurillah.. bisa menulis lagi disini.

Tepat di tahun 2014 ini kami sekeluarga  berhijrah dari kota Bandung ke kota Depok, tidak terlalu jauh memang, tapi banyak perubahan dan pengalaman yang kami rasakan bersama.

Pertama, perbedaan suhu udara. Yaps, Bandung adalah kota yang sedemikian sejuk bahkan cenderung dingin di saat-saat tertentu (seperti pada musim hujan). Di Bandung, mandi setiap hari tidak lebih dari dua kali, dan itu pun seringnya menggunakan air hangat untuk mandi. Karena memang shubuh hingga dzuhur kadang Bandung masih sangat dingin (apalagi kami tinggal di daerah Bandung Utara tepatnya di Jl. Geger Kalong Girang, dekat pesantren Daarut Tauhid milik KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym).
Disini (baca:Depok) suhu udara lumayan membuat kami berkeringat, mandi bisa lebih dua bahkan tiga kali, dan sebelum tidur pun kami masih berani untuk mandi. Kipas angin pun tidak pernah berhenti dinyalakan sepanjang hari.


Kedua, perbedaan bahasa (khususnya intonasi). Di Bandung sendiri sudah tidak terlalu banyak yang menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Banyaknya pendatang, pengaruh arus informasi dan komunikasi juga membuat warga Bandung banyak menggunakann bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan ketimbang bahasa Sunda. Tapi, letak perbedaannya adalah pada intonasi. Di Bandung, masyarakat berbicara dengan nada yang rendah dan intonasi yang cukup halus (mungkin karena udara yang sejuk dan gaya bicara orang Sunda yang memang lembut). Berbeda dengan di Depok kebanyakan warga merupakan warga pendatang dari berbagai daerah, dan tersentuh budaya betawi (mungkin karena dekat Jakarta) sehingga nada dan intonasi bicara cukup tinggi dan keras. Pernah satu ketika kami mendengar seseorang yang terdengar sedang marah-marah. Eh, ternyata orang tersebut bukan sedang marah-marah, tapi sedang ngobrol dengan tetangga sebelah. hehehe.


Selain itu, ada cerita lucu ketika awal menempati rumah kontrakan disini. Anak saya  Kifah nangis kenceng jam 10 malam. Bagi kami itu sudah biasa, kalau sedang marah dan ngambek Kifah nangisnya ga ketulungan. Ga da yang bisa bikin dia diam. Kecuali dirinya sendiri, itu pun karena kecapean karena nangis ber jam-jam.

Tiba-tiba tetangga-tetangga berdatangan, ada yang panik kemudian ngasih saran untuk ambil sapu lidi, lempar kacang hijau, baca surat Yasin, dll. Katanya rumah yang kami tempati cukup lama kosong dan bisa jadi dihuni oleh makhluk halus yang mengganggu anak kecil (kami cuma bengong dan bingung mau ngomong apa). Kemudian ada yang datang lagi ke rumah, bawa air minum sambil komat-kamit baca sesuatu (sepertinya sedang baca do'a) karena memang bapak dan ibu tersebut datang dengan meggunakan setelan orang sehabis shalat (sang Ibu menggunakan mukena, sang Bapak memakai sarung). Kami juga bingung, yang jelas kami ceritakan bahwa anak kami memang seperti itu ketika marah atau ngambek.



Perbedaan ketiga, menurut saya pribadi harga-harga kebutuhan pokok di Depok sini lebih mahal ketimbang di Bandung. Sejauh yang saya tahu memang UMK Bandung lebih rendah dibanding Depok dan Bogor (karena rumah yang kami sekarang terletak di perbatasan Depok-Bogor). Bisa jadi harga barang disini memang jauh lebih tinggi ketimbang di Bandung. Sebagai contoh untuk parkir saja, di Bandung satu jam pertama untuk sepeda motor masih Rp.1,000,- sedangkan di Depok satu jam pertama untuk biaya parkir sekitar Rp.2,000,- s/d Rp.3,000,- (itu baru parkir). Harga makanan juga agak lebih tinggi disini. Seporsi nasi+soto seharga Rp.17,000,-. di Bandung kami perkirakan harganya Rp.12,000,- hingga Rp.15,000,- (paling mahal). *kami membandingkan dengan kualitas makanan dan tempat makanan tersebut dijual*



Yaps, itulah sekelumit perbedaan-perbedaan yang kami rasakan antara Bandung dan Depok. Mudah-mudahan kami sekeluarga kerasan tinggal disini. Dan segera mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar. (berhubung baru dua minggu tinggal disini dan masih tersisa 4 tahun lagi)



Selamat malam, Selamat beristirahat :)



"Hujan membuat semua jadi indah, tak sedikit bait-bait syair terlahir karenanya"


Gara-gara hujan. Ya, gara-gara hujan sejak sore keinginan untuk kembali menulis datang lagi. Setelah sekian lama, akhirnya. Entah kapan terakhir kali saya menulis, mungkin karena kesibukan akhirnya jadi lupa untuk mengasah otak dan jari-jemari. Mungkin tulisan terakhir saya adalah setahun yang lalu (waktu bikin skripsi).


Ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu.
Yang terpenting mulai saat ini, menulis harus menjadi agenda wajib yang harus saya lakukan.


Insya Alloh :)