review sunco minyak goreng baik dan sehat

Take care of your body. It's the only place you have to live in. -anonymous-

Rabu tanggal 25 Januari 2016 kemarin, saya berkesempatan hadir pada acara Simposium "Makanan Rumah, The Silent Killer?" yang bertempat di Ballroom Cheers Residental Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta.

Simposium ini diselenggarakan oleh minyak goreng Sunco dalam rangka memperingati hari Gizi Nasional dengan mengundang beberapa pakar di bidang kesehatan dan gizi.

Dan saat menghadiri acara tersebut itu pula hati saya terasa ditampar-tampar.

.....

Saya akui, salah satu hal tersulit menjadi seorang ibu adalah menyajikan menu seimbang dan bergizi di rumah. 

Banyaknya pekerjaan yang harus dieksekusi, menjadi 'pelayan' anak-anak dan suami di rumah, ikut berpartisipasi membangun masyarakat di lingkungan rukun warga dan rukun tetangga ikut menyita konsentrasi dalam memilih menu makanan sehat untuk diri sendiri dan keluarga.


Setiap pagi, kalau saya tidak "menzombie" karena over load pekerjaan di hari sebelumnya, masih bisa tuh oseng-oseng, tumis-tumis di dapur.

Tapi kalau sudah mepet pet pet, sementara suami harus pergi ke kantor dan anak pergi ke sekolah. Siap-siap aja deh saya sprint ke warung untuk beli sarapan pagi.

Beli apa sih biasanya?

Seperti pada orang Indonesia pada umumnya, kalau belum ketemu nasi ya belum berasa makan. Jadi ya saya seringnya beli nasi uduk, lontong, roti, dan yang paling bikin suka merasa bersalah adalah GORENGAN. 

*Bhay Food Combining

review sunco minyak goreng baik dan sehat


Padahal, menurut narasumber Dr. Entos Zainal, DCN, SP. MPHM yang merupakan Sekjen PERSAGI.

Tugas seorang ibu di rumah adalah mempersiapkan, merencanakan, dan mengelola keseimbangan gizi di rumah. Kenapa? karena gizi merupakan salah satu komponen utama untuk membentuk kecerdasan anak yang dimulai dari 1000 hari kehidupannya.
Jleb. Inget kalau masih suka ngasih makanan yang jauh dari gizi seimbang untuk suami dan anak di rumah. Kadang cuman goreng nugget atau telor dadar pakai kecap doang karena saking buru-buru dan sibuk sama urusan yang lain. 

"Maafkan ibumu ini, Nak."

T_______T



Makanan Warung Itu Tidak Sehat

Banyak orang beranggapan, kalau kita beli makanan di warung atau di luar rumah, makanan yang kita beli itu belum tentu sehat.

Karena memang faktanya yang bilang gitu. 

Apalagi namanya GO-RE-NG-AN itu ya. Minyak yang dipakai ngegoreng entahlah yang keberapa kalinya dipakai. Apalagi kalau liat langsung ya, tukang gorengan itu pakai minyaknya yang udah berubah warna sampe coklat bahkan item.

Padahal warna asli minyak goreng kan kuning keemasan, jadi kebayang dong itu dipake berapa kali goreng. 

Belum lagi gorengan yang katanya dipakein plastik/lilin waktu ngegorengnya, katanya supaya lebih kriuk dan gak mudah melempem. 

Gilaaakkkk.

Tambah panjang aja daftar penyakit yang bisa nyangkut di badan. Huftttt.

Makanan Rumah Lebih Aman?

Sebenernya ada iyanya ada nggak nya juga. 

Iyanya, karena kita bisa atur sendiri mulai dari bahan, cara memasak, peralatan masak yang lebih higienis, cara penyimpanan, cara penyajian, takaran dan lain sebagainya.  

Sementara nggaknya. Emang udah yakin bahan makanan yang kita gunakan sudah aman? sudah sehat? sudah ramah tubuh? sudah bergizi seimbang?

Jadi, walaupun kita lebih pro dengan masakan rumahan, penyakit-penyakit yang timbul karena kesalahan pola makan masih sangat bisa bersarang di tubuh setiap anggota keluarga dan menjadi silent killer yang menakutkan.

Silent Killer yang jelas-jelas sering terjadi adalah penyakit jantung.

Ini terjadi baru aja sama tetangga di rumah, yang tiba-tiba meninggal padahal sehari sebelumnya masih bisa chatting di grup Whatsapp, masih kumpul bareng di pos ronda, dan masih have fun bareng keluarga.

Konon menurut penuturan sang istri, suaminya ini mengeluh seperti masuk angin dan minta dikerokin.

Namun setelah beberapa saat. Suaminya itu langsung didera sakit di bagian dada, dan ketika dilarikan ke rumah sakit seketika dinyatakan meninggal karena serangan jantung.

Ngeri?

YAIYAAALAAAHHH.

*Makanya kalau dada gak enak atau berasa celenit-celenit sedikit aku suka parno sendiri T__________T

Serangan jantung begitu apalagi kalau bukan dipicu oleh penyumbatan pembuluh darah di jantung. Dan tersangka utamanya adalah timbunan lemak jenuh yang ada pada makanan yang kita konsumsi sehari-hari.

Kesalahan Pola Makan

Cung siapa yang suka ngitung kandungan gizi beserta takarannya setiap makanan yang masuk ke dalam perut?

Atau sama aja kayak saya? Asal ada makanan ya dimakan, asal pengen sesuatu ya tinggal buka mulut, kelar.

Padahal menurut PERMENKES No. 30 Tahun 2013, batas konsumsi lemak, gula, dan garam adalah:

Gula: Per orang, Per hari yaitu 50 gram atau 4 sendok makan. Garam: 2000 mgr natrium/sodium atau 5 gram garam  atau setara dengan satu sendok teh. Lemak: 67 gram atau setara dengan 5 sendok makan minyak.


Ya ampyun, saya baru tahu kalau ternyata ada peraturan dari Menteri Kesehatan soal takaran atau batasan konsumsi gula, garam, dan minyak setiap harinya. 

Huhuhu. 

Dan menurut salah satu narasumber yaitu Ibu Theresia Irawati, SKM, M.Kes. dari Kemenkes ini, sebagai salah satu cara untuk hidup sehat adalah menyeimbangkan apa-apa saja yang masuk ke dalam tubuh.

Karena menurut beliau, penderita Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia seperti penyakit jantung dan diabetes cenderung mengalami kenaikan akhir-akhir ini.

Jarang Bergerak

Selain pola makan yang salah, salah satu faktor resiko PTM yang dijelaskan oleh Ibu Theresia ini adalah:

Orang Indonesia sekarang cenderung MAGER alias MALES GERAK


Ini  sih bukan ketampar lagi, tapi ketendang dan terhemmpaaasss sama ucapan Ibu Theresia.

review sunco minyak goreng baik dan sehat

Apa-apa yang serba ONLINE membuat manusia Indonesia cenderung diam di tempat, apa-apa nungguin kurir datang. 

Mwahaha, kena deh!

Salah satu Narasumber lainnya yakni Ibu Tirta Prawita seorang praktisi dan pengamat di dunia kesehatan mengatakan bahwa:

Penyakit jantung dan diabetes, sekarang ini bukan hanya milik orang kaya. Seluruh lapisan masyarakat bisa terkena The Silent Killer ini karena pola makan dan pemenuhan gizi yang salah. 


Memilih Minyak Goreng Baik

Tidak usah jauh-jauh. Yuk kita ke dapur masing-masing.

Sudahkah minyak goreng di rumah kita baik dan sehat? Apa saja kandungannya? Berapa kali digunakan untuk menggoreng? Sudah berubah menjadi warna apakah sekarang? Masih dipakaikah sampai saat ini?

review sunco minyak goreng baik dan sehat


Hahaha. Duuuhhh. 

Dasar buibu ya kalau suka ngehemat tuh gak kira-kira. Minyak goreng pasti dipakai berkali-kali dan milih minyak goreng merk apa aja deh yang penting lagi diskon di mini market.

*tunjuk idung sendiri

Apalagi tanggal tua begini. Padahal kesehatan diri sendiri dan keluarga yang jadi taruhannya. 

Memang Apa sih Ciri-ciri #MinyakGorengBaik?

review sunco minyak goreng baik dan sehat

Selain kita bisa melihat kandungan gizi yang ada pada kemasan, minyak goreng baik juga bisa dilihat dari:

1. Karakternya seperti air dan sedikit nempel di makanan.

Minyak goreng yang encer membuat lebih #DikitNempel pada makanan. Sehingga minyak yang terkonsumsi juga jauh lebih sedikit.

2. Tidak mudah beku

Salah satu ciri minyak goreng yang sedikit kandungan lemak jenuhnya adalah minyak goreng yang tidak mudah beku. 

3. Bening

Perubahan warna pada minyak goreng merupakan ciri bahwa minyak goreng mengalami kerusakan atau oksidasi.


Sunco #MinyakGorengBaik

Dari sekian banyak merk minyak goreng kelapa sawit yang beredar di Indonesia, salah satu merk yang memenuhi syarat #MinyakGorengBaik adalah Minyak Goreng Sunco.

review sunco minyak goreng baik dan sehat

Karena memiliki salah satu ciri yakni tingkat kekentalan yang menyerupai air, Sunco menjadi salah satu merk minyak goreng yang sedikit nempel di makanan. 

Ingat ya, bukan berarti kita tidak boleh mengkonsumsi minyak, karena minyak sendiri merupakan sumber lemak yang dibutuhkan oleh tubuh. Tapi, jauh lebih baik konsumsi lemak/minyak kita setiap hari harus tetap seimbang dan sesuai kebutuhan.

review sunco minyak goreng baik dan sehat
Demo masak setelah kegiatan simposium.
Ternyata minyak goreng Sunco juga bisa diolah menjadi makanan lain.


.....

Saya jadi mikir ulang, menjadi seorang nutrisionist di rumah itu gak mudah ya. Perkara cari minyak goreng aja harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya dari pada beresiko terkena Penyakit Tidak Menular atau PTM.

Seperti kata Brand Ambasador Sunco, Christian Sugiono. 

"Waktu masih kepala dua sih makan apa aja masuk, kalau sekarang, udah kepala tiga, namanya makan harus dijaga supaya gak cepet sakit. Jadi, untuk hidup sehat harus punya pola makan dan juga pula tidur yang sehat dan seimbang"

Yalah, dulu waktu masih kuliah makan apa juga masuk. Sekarang udah MAHMUD ABAD, makanannya harus disortir dulu biar gak gampang sakitttt.


.....

Terima kasih ya Sunco sudah "menampar" saya dengan simposiumnya. 



Jadi Kepo sama Sunco?

Klik MinyakGorengSunco.Com || ResepSehat.Com


atau 




.....


Buibu yang lain, gimana pengalamannya pilih-pilih minyak goreng? 


Sharing bareng yuk :D




Ahem,

Label #NikahMuda di blog ini udah lumayan lama nganggur. Soalnya yang punya blog sibuk nyeritain anaknya dan warna warni jadi emak rumah tangga.

Sampai lupa, padahal dulu ada proses panjang sebelum menuju kesini. 

Ketika belum kenal blog, saya pengen banget cerita pengalaman saya tentang nikah di usia muda plus sambil kuliah juga. Keputusan yang cukup anti mainstream bagi sebagian orang waktu itu.

Entah ya kalau sekarang, apakah orang atau orang tua lebih menyambut pernikahan yang dilakukan di usia yang dibilang dini, tapi ya semata untuk menangkal efek buruk pergaulan bebas dan segala kegeloan zaman sekarang.

Bukan maksa anaknya nikah muda buat dapet mantu anak orang kaya ya kayak di pelem pelem India. 


Mwahahaa.

Balik lagi ke soal cerita nikah sambil kuliah. 

Dulu saya bingung mau nulis pengalaman saya ini dimana, sampai akhirnya sekarang saya rutin nulis di blog ini. 

Beberapa email dari pembaca blog ini pun masuk dengan segudang curhatan tentang niatan mereka untuk menikah sambil kuliah gegara baca tulisan menikah saat kuliah.  

Daannn yeay, karena udah punya 'media' sendiri, apa salah dong saya nerusin lagi label #NikahMuda dan mudah-mudahan banyak yang baca juga.

Agar supaya pembaca blog gak susah susah ngimel pribadi, karena udah ada jawabannya di postingan. Jadi aku lanjutin aja ya label #NikahMudanya. Supaya gak lupa juga sih sama pengalaman yang dulu-dulu.

Bial makin cayang cama cuami, cama anak, karena pernah cucah cenang bareng eeeaaaaaa.


.....

Menikah sambil kuliah itu emang bukan perkara mudah, apalagi dua-duanya harus mendapatkan fokus yang tinggi untuk dijalanin. 

Masa sih bisa dijalanin bareng?

Ya tergantung sih, dimana ada niat dan kerja keras, dua-duanya bisa dijalanin bareng. Yang baik-baik gak usah lah dibentur-benturkan, selama dua-duanya merupakan suatu kebaikan.

Kuliah baik, nikah juga baik, ya berati secara logika bisa dijalanin bareng.

ASAL YA ITU TADI. 

Kembali ke niat dan kerja keras bersama antara suami dan istri nantinya.

Jadi, apa aja yang harus didiskusikan antara calon pasangan dan juga keluarga?

1. Soal Nafkah

Ini penting dan realistis. Bagaimana selanjutnya nafkah keluarga. Apakah suami akan menanggung nafkah keluarga seluruhnya? Apalagi kalau suami kuliah, apakah sudah bisa bekerja atau menghasilkan rupiah untuk menopang keuangan di rumah?

Dari mana saja pos keuangan?

Apa orang tua masih memberikan uang jajan atau uang kuliah kepada masing-masing anak?

Karena ada juga orang tua yang mau ngasih 'uang jajan' buat anaknya. Menikahkan anak semata untuk menghindari zina, supaya gak bablas bergaul dengan lawan jenis, supaya anaknya lebih terjaga. 

Soal uang, orang tua masih dengan senang hati memberikan walau sudah gugur ya segala kewajibannya sebagai orang tua.

Apakah akan berwirausaha?

Saran saya sih, sebelum memutuskan menikah sambil kuliah, lebih baik ada perencanaan wira usaha. Lebih baik sudah berani membuka usaha meski hasilnya masih jauh dari target.

Tapi bukankah Allah menyukai hambanya yang berproses? 

Lebih baik merencanakan pos keuangan dulu, diskusikan dengan calon pasangan dan keluarga, dari mana sumber keuangan yang akan didapatkan setiap hari atau setiap bulannya.

Karena menikah sambil kuliah itu beda ya dengan orang yang menikah tapi sudah bekerja. Mereka sih mudah untuk menghitung besar pemasukan dan pengeluaran rumah tangga, tapi buat yang mau 'nekat' menikah sambil kuliah, plan berwirausaha lebih baik dibicarakan bersama.


Satu lagi, nyerempet materi juga.

Soal mahar, yang biasanya sensitif nih. 

Gak perlu yang mahal-mahal dan aneh-aneh. Coba cek harga sepeda lipat di toko sebelah, siapa tahu calon pasangan pengennya dikasih sepeda buat berangkat ngampus bareng ya kan?

Aheeeyyyy


2. Tempat Tinggal

Mau tinggal terpisah atau bersama orang tua?

Ini juga harus dipertanyakan bersama. Jika tinggal terpisah pastia akan ada cost tambahan untuk sewa rumah dan lainnya. Tetapi bila tinggal bersama dengan mertua, pengeluaran untuk sewa rumah bisa dihilangkan. 

Tapi harus dipertimbangkan pula bagaimana teknis tinggal bersama mertua. Bagaimana tentang pembagian "wilayah" rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, memasak makanan, mencuci baju, dll.

Karena suatu saat, hal-hal kecil seperti ini akan memicu "konflik" yang akan mengganggu stabilitas rumah tangga jika tidak dikelola dengan baik. 


Klik: Tentang Ibu Mertuaku

3. Penyelesaian Kuliah

Bagaimana kuliah dan penyelesaiannya?

Karena kebanyakan yang nikah sambil kuliah itu kuliahnya gak beres sesuai rencana. 

Ini juga harus jadi komitmen, jangan sampai keasyikan ngurus rumah, ngurus anak, atau sibuk cari nafkah, kuliah jadi terbengkalai.

Dari awal harus ada komitmen bersama bahwa kuliah tetap harus berjalan dan lulus tepat pada waktunya. 

Misalkan kuliah harus disiplin, tugas kuliah harus jadi prioritas, membaca buku, baca artikel ilmiah harus rutin setiap minggu atau bulan.

Jangan sampai menikah malah menghilangkan iklim atau suasana belajar dan mencari ilmu. 

Harapanya sih, dengan menjalani berdua, setiap ilmu pengetahuan bisa dikejar dan digapai dengan maksimal. Syukur-syukur berdua bisa dapet beasiswa karena kegigihan dalam belajar yang gak pernah surut. 

Semangat mencari ilmu dan menyelesaikan amanah belajar dari orang tua harus terus menggebu, gak boleh sedikitpun dilupakan dan dilakukan dengan 'seadanya'.

Karena menikah dan mencari ilmu adalah ibadah dan hal yang disukai Allah, jadi lakukan keduanya dengan penuh tanggung jawab.

Sip.



4. Tentang Anak

Saya pernah dicurhatin tentang masalah anak. 

Jadi ada temen yang mau nikah sambil kuliah, dia bingung mau punya anak dulu atau nggak. Soalnya kalau udah punya anak otomatis bakal gunjang ganjing lah kegiatan kuliah, kecuali bisa dikondisikan dengan menitipkan anak pada pengasuh, orang tua, atau day care.

Saya sih bilang, kalau memang belum memungkinkan atau supporting systemnya belum ada, yaudah gak apa-apa tunda dulu aja punya anaknya.

Eh, yang nanya malah bilang:

"Kalau udah siap nikah, ya harus siap punya anak dong!"

LAAHH TADI KAN NANYA. DIJAWAB MALAH GAK TERIMA. 


Yasudahlah.

Jadi intinya soal anak ini kembali ke 'kepercayaan' dan kesiapan masing-masing. Kalau memang takut gak ada support system di keluarga atau di lingkungan, yaudah tunda aja dulu sampai lulus kuliah. 


Tapi kalau memang lihat adanya bala bantuan untuk punya anak nanti, ya gak apa-apa punya anak juga. 

Yang penting kan anak terurus, terjaga, kuliah juga gak terbengkalai. 

Kerepotan sendiri itu gak enak cyin, jadi mending diminimalisir aja ya hal-hal yang sekiranya akan menjadi 'kendala' dan menghambat kinerja rumah tangga yang akan dibangun.


5. Tentang Cita-Cita

Menikah muda atau menikah sambil kuliah itu identik dengan penghambat jalan meraih cita-cita. Apalagi nada sumbang di luar sana yang selalu bilang:

"Ya kalau udah nikah, punya anak, boro-boro bisa lanjut S2."

atau

"Jangan harap deh bisa mimpi jalan-jalan keliling dunia kalau udah nikah. Udah gak bebas, udah gak bisa sendirian kemana-mana."

Sebenernya ini juga harus didiskusikan ya. Apalagi sebagai kaum perempuan, yang nantinya akan all out di rumah ngurus anak dan suami.

Bagaimana dengan cita-cita masing-masing?

Misalkan ada yang mau jadi dokter spesialis kandungan, mau jadi dosen, mau jadi penulis atau mau jadi travel blogger *uhuk* 


Cara mewujudkannya gimana ya? 

Sebagai calon suami istri yang bisa dikatakan calon tim, calon orang-orang yang akan sukses bersama, baiknya harus terbuka soal cita-cita, mimpi, harapan masing-masing.

Bukan apa-apa, dengan merencanakan support dari calon pasangan, pernikahan yang akan dibangun akan menjadi lebih 'hidup' dan terarah, serta tidak mematikan potensi masing-masing pasangan.

Bukankah pasangan yang baik adalah yang saling membangun satu sama lain? Jadi jangan lupa diobrolin ya, supaya kedepan suami istri adalah pasangan yang benar-benar hebat dan tak terkalahkan.

Ciyaaatttt Ciyaaattt Ciyaaattt.


.....

Sampai sini segitu dulu ya, Next akan aku jabarin lagi satu-satu atau aku ceritain pengalaman menikah sambil kuliah dulu di blogpost dengan hashtag #NikahMuda.

Oia tambahan.

Cukup banyak yang ngeimel tentang bagaimana caranya mendapatkan Ridho dan Restu orang tua?

Aku sih suka jawab, dengan punya rencana atau plan minimal 5 point di atas, kamu akan one step ahead dengan restu orang tua. 

Kenapa?

Karena orang tua pun akan memberikan pandangan berbeda kalau kamu punya visi dan misi yang jelas untuk membangun rumah tangga ke depan.

Gak ujug-ujug minta nikah karena abis nonton sinetron kecil-kecil jadi manten.

Jadi jawabannya, coba perjelas alasan, rencana, visi, dan misi kamu untuk menikah sambil kuliah. Supaya orang tua yang tadinya "awkward" sama niat tulus ikhlas kamu, berubah menjadi supporter terdepan dan mendukung kamu habis-habisan.




Any opinions? Drop your comments!


8 Etika Menjenguk Bayi Baru Lahir yang Sering Diabaikan


Jenguk bayi adalah agenda wajib kalau ada temen atau saudara yang baru aja lahiran.

Yaeyalah, kalau bayinya belum lahir namanya kondangan. 

Bahaha.

Iya sih biasanya gitu, setahun setelah kondangan memang agenda berikutnya adalah JENGUK BAYI ke rumah pasangan suami istri yang baru jadi mahmud dan pahmud. 

Jenguk bayi ini biasanya janjian, atau perseorangan (((PERSEORANGAN))) ya sih kadang aku kalau jenguk bayi gak pengen rame-rame sama temen, soalnya berisik! 

Kasihan ibu dan bayi yang harusnya bobo siang karena abis begadang jadi keganggu karena kedatangan rombongan tamu yang suka haha hihi tak sadarkan diri kalau dia itu GANGGU BANGET.

Dijenguk kok bilang ganggu sih! Harusnya kan seneng!


Yaeya laaahhh, kalau situ bertamunya khilaf sama etika. Mentang-mentang temenan sama mamahnya, mentang-mentang sobatan sama papahnya, mentang-mentang belom nikah *eh

Jadi jenguk bayi berasanya maik ke kostan temen aja. 


Hiyaaahhh... Wadezig.. Wadezig!

Beberapa orang yang sudah makin mature pasti makin ngerti juga etika ketika jenguk bayi orang lain walaupun itu temen, ada hal yang harus diperhatiin secara sopan santun ataupun sekedar menjaga kesehatan psikologis ibu yang baru saja melahirkan.

Klik: Apakah Baby Blues Datang Lagi Pada Persalinan Kedua?

Dan akhirnya aku ngeresume hal apa saja yang biasanya diabaikan oleh "para tamu" yang sedang menjenguk bayi merah yang baru saja menatap dunia fana ini.


1. Suara

TOLONG YA TONE SUARANYA DIBIKIN MERDU DULU KEK TULUS ATAU RAISA.

Haha Hihi barang temen emang sesuatu banget apalagi udah lama gak ketemu dan sekalinya ketemu di salah satu anggota gengs yang baru aja ngelahirin.

Kalau kamu masih amaze temen kamu udah bisa menghasilkan seorang bayi, padahal dulu di kelas paling rame atau paling sering nyontekin PR kamu, teuteup ya harus dijaga volume suaranya.

Bisa jadi, temen kamu itu udah susah payah boboin bayinya sampe gak tidur semaleman. Eh, siangnya kamu datang dengan suara mirip petasan nyambut besan datang ke rumah.

Plis. Kamu harus lebih peka liat mata temen kamu yang udah sembap karena gak tidur semalaman tadi.


2. Pembicaraan

Boleh lah ngobrol basa-basi asal mengikuti norma dan kaidah yang berlaku. Misalnya nanya:

"Gimana sih rasanya hamil dan ngelahirin itu?"

"Gimana sih pertama kali merasa jadi ibu?"

Yang positif-positif gitu ajalah nanyanya. Gak usah:

"Yah, Loe udah gak bisa heng ot bareng kita lagi."

"Yah, selamat begadang ya, rempong deh sekarang jadi emak-emak"

Plisss. 

Walaupun realitanya memang bakal seperti itu, yaudah sih gak usah diomongin.

Klik: Cara Menghilangkan Stretch Mark Pada Ibu Hamil


3. Mengomentari Fisik Bayi

"Kok idungnya pesek, gak kayak papahnya."

"Kok item sih bayinya."

"Kok kecil sih, tetangga sebelah rumah gue kemaren pas lahir bayinya gede."

"Kok anu sih, kok itu sih, and bla bla bla...."


STOP. 


Lebih baik jangan dilanjutkan sebelum darah temen kamu mendidih perlahan dan kamu diusir keluar.


Mending cari topik pembicaraan lain yang lebih menghibur dan menyejukkan.


"Alhamdulillah ya, bayinya cantik, manis, insya alloh jadi anak shalihah."

"Wah, bayinya mirip ayah bundanya, gedenya pasti ganteng."


Tapi untuk menghindari kepeleset lidah, mending gak usah diomongin deh tentang fisik si bayi.

Kalau kamu lihat hidungnya emang pesek, yaudah sih biarin aja. Atau kulitnya yang gelap, gak gemuk, gak chubby. Yang namanya bayi itu beda-beda sesuai genetika ayah dan ibunya. 


Gak mesti dicari kekurangannya trus diomongin, apalagi jadi bahan ledekan. 




4. Langsung Menggendong

Kalau kamu datang dari luar rumah, usahakan jangan langsung gendong bayinya yah. Cukup liat aja dari luar box bayi atau tempat tidurnya. 


Bisa aja kamu itu membawa kuman atau virus yang bisa menularkan penyakit ke tubuh bayi. Apalagi sebelum gendong kamu belum cuci tangan pakai cairan antiseptik.

Atau bisa jadi ibunya sendiri merasa gak enak bayinya digendong orang lain. Karena ada juga loh ibu yang risih kalau anaknya langsung ditimang-timang sama orang, berasa gak nyaman.



5. Menanyakan Proses Melahirkan 

Biasanya yang udah pernah melahirkan duluan ujug-ujug jadi sotoy dan seolah paling benar.

"Kamu sesar ya? Kurang gerak kali pas hamil."

"ASInya gak keluar juga? Kurang makan sayur pasti. Aku dulu ASInya deres banget kok."

"Lahiran di RS? Aku kemaren di Bidan aja cepet banget lahirannya."


EIIYYYY CAPEEE DEHHH.


Please ya kalau kamu gak ingin hubungan silaturahim sama temen kamu putus jangan pernah ngomong kek gini waktu jenguk bayi yang baru lahir.


Soalnya ibu baru ngelahirin itu sama banget kayak monster yang baru lahir juga, SEEEENNNSSIIIIHHHH.


Wkwkwkwk.

6. Mau Kerja atau Tidak Sehabis Melahirkan


Sebenernya ini bener-bener bukan urusan kamu.

Kalau si tuan rumah gak membicarakan ini duluan, jangan ditanyain lah. Soalnya ini sensitif banget. 

Dan bisa berujung pada Mom War berikutnya.

Klik: Ini Dia 20 Topik yang Selalu Bikin Mom War!

Apalagi sampe ada yang ngomong:


"Aduh kasian bayi kecil gini udah mau ditinggal kerja."

Mamahnya bisa kray kray kray semaleman nanti. Just remember, ibu melahirkan itu sensitif banget perasaannya. 

Klik: Underestimate


7. Nyampah

Kalau kamu bawa makanan atau disediain makanan sama tuan rumah, usahain 


JANGAN NYAMPAH!


Abis ngelahirin itu boro-boro bisa beresin rumah, jalan aja masih sakit apalagi kalau ada luka bekas jahitan.


Jadi tolong sadar diri yah, jangan nyampah di rumah orang. Syukur-syukur kamu bantuin beberes sapu-sapu, sebelum pulang.

Yeaayy, kamu bakalan dapet point plus banget nih kalau begini.

*Dipeluk ibu-ibu rempong sekecamatan*


8. Datang Tanpa Pemberitahuan


Nahhhh, ini juga gengges banget.

Ujug-ujug datang tanpa pemberitahuan. Apalagi baru pulang banget dari RS atau rumah bersalin. 

Ya mending kalau rumahnya lagi rapi, penampilan lagi fresh.

Lah kalau rumah masih porak poranda, tampang masih kucel belom mandi, masih pake daster yang bau ASI. 

Gimana? Kan maluuu tauuukkk.


Jadi, kalau mau dateng jenguk bayi yang baru lahir, pastiin dulu kasih kabar ya ke tuan rumah yang mau kita kunjungi. Supaya bisa siap-siap dan menerima tamu dengan senang hati.


.....

Sebenernya udah banyak banget artikel yang bahas soal ini, tapi ya gitu deh yang mengabaikan 8 hal ini juga masih banyak bangeettt.


Kalau kamu pernah ngalamin yang mana? Atau mau berbagi 
tips and trik ketika sedang menjenguk bayi yang baru lahir?

Sharing Yuk :D





Underestimate atau dengan kata lain menganggap seseorang lemah, remeh, kecil, tidak mampu.


Para hakim sosial baik di dunia nyata maupun dunia maya sudah berhasil membuat saya underestimate terhadap diri saya sendiri beberapa tahun ini.

Tepatnya saat saya membesarkan anak, mengasuhnya, dan mendidiknya sejak dia lahir.  

Saya memandang diri saya 'gagal' 'not well prepared' 'tidak mengikuti kaidah psikologi dan parenting' 'abai terhadap psikologis dan pendidikan anak' dalam membesarkan dan mendidik anak-anak saya.

Why? Kenapa saya bilang seperti itu?

Ekspektasi Timeline

Sosial media bukan barang baru, setiap orang punya, bangun tidur pun yang disempatkan membuka timeline facebook, twitter, instagram. 

Hampir seluruh aspek kehidupan kita berkorelasi dengan akun media sosial bukan?

Apa yang kita lihat, secara tidak sadar 'mengedukasi' 'mencitrakan' 'meminta' otak bawah sadar kita untuk meniru apa yang kita saksikan di timeline. 

Orang lain berlibur ke luar negeri, langsung terbersit kapan ya bisa travelling kesana. Nabung ah nabung!

Orang lain S2 ke luar negeri, langsung searching kesempatan beasiswa via google.

Yayaya, betapa mudah timeline mempengaruhi dan mengintimidasi perasaan dan perilaku kita sehari hari. 

Pun hal yang sama soal parenting!

Buku Balita

Betapa saya merasa gagal ketika Kifah gak suka baca buku!

.
.
.


Karena beberapa teman di timeline mengaplod beberapa gambar buku balita lengkap dengan caption:

"Alhamdulillah ya, makanan sehari-hari baby XYZ buku selemari"

"Alhamdulillah, walau harganya mahal, yang penting investasi buat kecerdasan anak di masa depan."


DAN KARENA ANAK GUE GAK BACA BUKU BERARTI DIA KAGAK CERDAS.
.
.
.

Lagi, itu cuman cara berpikir sesaat saya ketika baca timeline. Cuma sesaat. 


Permainan Edukatif

"Hari ini, kakak Fernando Jose belajar fisika atom dengan metode Z di rumah, cuman pake kardus bekas aja kok bund!"

#GigitKardusBekasKulkas

"Bikin percobaan kimia. Bikin pelangi pake sabun cuci piring dan susu cap naga, yeay! Belajar apapun bisa di rumah, asalkan kreatif ya bundanya. Yuk dicoba di rumah bunda ;D"

.
.
.

Dan abis baca itu pun saya langsung merasa bukan ibu yang kreatif dan pemalas. 


Seketika inget ijazah sarjana Kurikulum dan Teknologi Pendidikan di lemari, saya yang harusnya khatam banget sama media pembelajaran edukatif, bikin permainan yang merangsang motorik kasar dan halus anak, keok sama timeline facebook. 


Makanan Bergizi

"Hari ini makanan dede makan sayur dengan vitamin A,B,C,D,E,F,G,H,I,J,K. Lengkap dengan dessert puding coklat belgia kesukaannya, yummie!"

#PostingFotoFlatLay di IG


*Brb Manjat Menara Sutet
*Di rumah cuman masak sayur asem doang sama tempe goreng


....

Pernah merasa gini gak Mom?

Saya merasa DOWN banget soal parenting karena ngeliat hal semacam ini berkeliaran di timeline media sosial.


Merasa GAGAL, merasa UNDERESTIMATE sama diri sendiri. Orang lain kok bisa, aku kok nggak. Padahal waktu yang kita punya sama. 

Bacain anak buku, bikin permainan edukatif, bikin masakan yang bergizi tinggi. Apa sayanya males atau gimana sih?

Kumpulan "sesaat demi sesaat" perasaan yang saya liat di timeline media sosial itu numpuk jadi satu dan kemudian mengerdilkan kemampuan diri. 

Kalau kata orang Sunda mah, "Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok"

Artinya tetesan air pun makin lama kalau sering mah bisa bikin batu jadi bolong.

.
.
.


TRUS LOE NYALAHIN ORANG YANG UPLOAD STATUS ATAU FOTO?

.
.
.

Ya nggak lah.

Ini soal saya menilai diri sendiri yang terlalu underestimate, gak percaya diri, merasa serba salah, merasa gak layak, merasa salah metode, merasa gak jadi orang tua yang baik.


Walaupun memang pemicunya adalah media sosial.


Ini kembali ke diri saya, kenapa bisa semudah itu merasa gagal dan tidak percaya diri.


Dan, itu berjalan beberapa tahun belakangan. And Yes! I feel tired.

.....


Bergulat dengan perasaan seperti itu memang sangat melelahkan ya Moms! Do you feel the same?

Sadar

Saya merasa terlalu berlebihan menilai diri saya sendiri sejauh ini.

Perfectionis! Mudah dipengaruhi!

Dan ujung-ujungnya marah dan kecewa dengan diri sendiri. Beuuhh. 

*tepuk pipi kanan kiri*


Ingat Prestasi

Saya terlalu fokus sama kekurangan, lupa sama prestasi yang sudah saya raih sejauh ini. 

Pencapaian apa yang sudah Kifah raih? Apa yang paling saya suka dari Kifah? Apa yang membuat saya bangga sama Kifah? Karakter baik  apa yang saya sudah bisa saya tanamkan ke Kifah?

Kenapa saya lupa? Kenapa gak saya kalkulasi?

And you know what?

Setelah Kifah mulai bisa membaca, menulis huruf, berhitung sampai seratus, baca do'a makan, do'a masuk kamar mandi, do'a mau tidur, sholat lima waktu walau masih bolong, saya mulai sadar kalau ternyata saya terlalu underestimate sama diri sendiri. 

Setelah Kifah berubah jadi anak penurut, Kifah bisa membedakan mana baik dan buruk, saya jadi lebih menghargai diri. 

Hey, kamu sudah berhasil sampai ke titik ini loh!

Bukan lebay, tapi ternyata penghargaan terhadap diri sendiri membuat saya berangsur mengikis kata underestimate dari otak bawah sadar.

"Ternyata anak saya udah bisa ini loh"


"Ternyata dia berbakat di bidang ini loh"


"Ternyata dia bisa sabar"


"Ternyata dia selalu buang sampah pada tempatnya"


"Ternyata dia bangun Shubuh, kemudian Sholat dua rakaat"



Prestasi dan "keajaiban" yang ditunjukkan oleh anak, lama kelamaan mampu mengikis rasa underestimate atau tidak percaya diri yang sudah numpuk dan mengendap secara tidak disadari.  


Dulu saya selalu beranggapan, orang tua lain hebat, bisa melakukan banyak hal untuk anaknya. Sebaliknya saya tidak. 


Sekarang perlahan mind set itu saya ubah.


Orang tua lain bisa melakukan hal A pada anaknya, sedangkan saya mampu melakukan hal Z untuk anak saya. Karena kesukaan saya beda, kelebihan anak saya juga beda. 


Tidak perlu melakukan hal yang sama dengan orang tua lain. Tidak perlu menjadi rendah diri kalau kita tidak bisa melakukan apa yang dilakukan orang tua lainnya.


Gak perlu baper kalau anak sendiri sukanya main sepeda dibanding main mainan edukatif di rumah. 


Karena kondisi psikologis orang tua yang nyaman, lebih berarti ketimbang mengikuti seluruh "standar" orang lain dan membuat jantung ngos-ngosan.


Lebih Santai


Setelah berpikir mendalam ala ala filsafat itu lah saya sekarang berpikir cenderung lebih santai. Idealisme luntur gak jadi soal, yang penting saya bahagia di berbagai macam keadaan.


Anak lain hobi baca buku, anak saya hobi lari di lapangan, udah bukan lagi perkara yang bikin baper. Saya tidak perlu merasa gagal lagi dan underestimate atas diri sendiri.


Dengan keterbatasan saya sebagai orang tua, saya hanya perlu menerima "kode" yang diberikan oleh anak-anak saya kelak.


Timeline media sosial dengan segala dampak yang ditimbulkannya biarlah jadi inspirasi dan motivasi tersendiri. 


Sekarang saya harus merdeka, tidak perlu meremehkan diri sendiri, menganggap gagal, malas, dan label negatif lainnya. 


Fokus terhadap apa yang sudah saya capai, memaksimalkan ikhtiar lebih penting ketimbang baper sama diri sendiri. 





.....


Bagaimana perasaan Moms selama ini? 
Apakah pernah merasa underestimate juga?