Ku tau cinta itu tak mau kehilangan
Ku mau sendiri menikmati habis senyummu
Ku berdiri di bawah rintihan hujan
Karena ku tahu tak ada yang datang
Menemui cinta yang terlalu lama



Foto Kifah waktu baru lahir

Saya merasa bersyukur menjadi salah satu orang yang beruntung merasakan indahnya menikah di usia muda. Saya menikah diusia yang belum genap 20 tahun pada tahun 2010. Dan masih harus berjuang menempuh perkuliahan S1 semester lima di sebuah Universitas di kota kembang Bandung. Kemudian, berselang satu tahun setelah pernikahan, saya pun dikarunia seorang baby boy yang Alhamdulillah lulus S3 ASI di ulang tahunnya yang ke-2.

Jujur saja, ketika masa kehamilan mulai tri semester pertama hingga tri semester ketiga saya belum ngeh tentang pemberian ASI ekslusif untuk bayi. Sebatas tahu bahwa ASI itu sangat baik untuk bayi dibandingkan susu formula tanpa tahu teknis dan strategi pemberian ASI. Walaupun hampir setiap bulan saya check up ke Bidan, tak ada percakapan khusus antara saya dan Bu Bidan mengenai pemberian ASI ekslusif kepada bayi terutama pada usia 0 sampai 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun. Bahkan dalam rumah bersalin tersebut justru terpajang berbagai merk susu formula bayi mulai usia 0 bulan. Tepuk jidat. 




 Abi Ijang


Itu judulnya udah kayak Om Mario Teguh yaa..

Hal yang menyenangkan disela-sela ngerjain tugas yang tidak kunjung berakhir dan sangat menantang adalah telepon dari misua aka suami. Namanya juga Long Distance Realationship, paling banter teteleponan atau chatting via BBM atau WA. 

Ceritanya saya dan suami LDRan antara Bandung dan Bogor. Ga jauh sih emang, jarak 3-4 jam juga nyampe lewat Tol Cipularang. Tapi yang jadi soal adalah kita belum pernah pisah-pisahan gini sebelumnya. Dulu sih kemana-mana selalu bareng. Bahkan mau beli makanan ke mini market juga bareng. Tapi sekarang kita ketemu cuma seminggu sekali atau dua minggu sekali. Sesuatu bangeettt yaaaa...




Jeng.. Jeng.. Jeng...

Udah pada tahu  belum nih tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN? Apa ya ituuu?
Nah untuk yang belum tahu ada beberapa informasi terkait dengan Masyarakat Ekonomi ASEAn kemudian disingkat MEA. 

MEA ini merupakan bentuk kerjasama antara Indonesia dan semua negara-negara di ASEAN (udah tahu kan negara ASEAN itu apa aja?). Kerjasama ini merupakan bentuk hubungan lebih lanjut ketimbang kerjasama yang lalu-lalu. MEA sendiri akan dimulai pada tanggal 31 Desember 2015. 

MEA bekerjasama dalam bidang Politik dan keamanan, Ekonomi, dan Sosial Budaya. Kali ini saya akan mengulas mengenai kerjasama MEA di bidang sosial dan budaya yakni pendidikan. Apa yang akan dilakukan oleh dunia pendidikan Indonesia untuk menjawab tantangan MEA ini?

Sebenernya ini post yang bener-bener tertunda semenjak lebaran kemarin. Berhubung banyak sekali aktifitas yang dilakukan jadi baru bisa kali ini posting tentang review tempat wisata.

Langsung aja ya...

Banyak orang yang udah tahu tempat ini kayaknya yaa.Tapi gak apa-apa lah ya untuk sekedar informasi dan referensi tempat wisata saya tulis tentang lokasi wisata ini.


Floating market aka pasar terapung atau penduduk sekitar menyebutnya Situ Umar terletak di Lembang Kabupaten Bandung Barat. Lokasinya yang berada tidak jauh dari Jakarta ini (sekitar 3-4 jam) via Tol Cipularang membuat para wisatawan betah untuk berlama-lama disini. Selain udara yang sejuk khas Bandung utara, di pasar terapung ini banyak terdapat spot-spot yang menyejukkan mata. Nuansa taman yang hijau dan danau yang terbentang luas membuat kita bisa refreshing sejenak ketika berada disana.

Namanya juga pasar terapung, di sana banyak dijual aneka jajanan khas Bandung dan juga makanan-makanan pereda rasa lapar. Tapiii... kalo menurut saya sih harga makanan disana cukup menguras kantong. Karena harga yang dipasang bisa 3 sampai 4 kali lipat dari pada harga normal. Buat yang jalan-jalan dengan budget ngepas disarankan minimal bawa air minum sendiri (karena harga minuman juga mahal) atau bawa cemilan sendiri yang muat dibawa di tas. Sebenernya gak boleh tuh bawa makanan/minuman dari luar, tapi gapapa lah ya asal ngga ketahuan. 

*hehehe... saran untuk melanggar peraturan ini mah*

Tiket masuknya cukup terjangkau kok. Hanya Rp.15.000,- saja. dan itu bisa ditukar dengan "Welcome Drink" berupa hot tea, hot coffee, hot milk, lemon tea, dan lain-lain.

 Tiket masuk



Alhamdulillah, hari ini adalah hari ke-10 bulan suci Ramadhan 1435 Hijriyah atau bertepatan tanggal 7 Juli 2014. Sudah 10 hari lamanya umat Islam sedunia menunaikan kewajibannya berpuasa di bulan Ramdhan. 
Walaupun sebenernya puasa tadi saya tidak berpuasa karena sakit, tapi Insya Alloh besok saya akan berpuasa kembali. 

Bulan Ramadhan sering dijadikan bulan momentum. Kenapa? karena bulan ini adalah bulan yang paling istimewa bagi umat Islam diantara 11 bulan yang lainnya. Di bulan ini pintu ampunan dibuka lebar, pintu taubat diberikan, dan pintu keberkahan juga dibuka seluas-luasnya oleh Alloh SWT.

Banyak yang menjadikan bulan ini menjadi bulan perubahan. Misalnya, saat pertama kali mulai menutup aurat (bagi perempuan), atau menyempurnakan pemakaian jilbab menjadi lebih syar'i. Bulan ini juga kerap kali dijadikan ajang permulaan untuk beramal lebih baik lagi. Seperti tilawah sehari satu juz, istiqomah shalat dhuha setiap hari, istiqomah qiyamul lail setiap hari, bersedekah lebih banyak dari biasanya, menghindari diri dari pembicaraan yang kurang manfaat/ghibah, dan lain sebagainya.

Saya sendiri menjadikan bulan Ramadhan ini juga sebagai sarana meningkatkan kualitas diri. Berusaha meningkatkan amalan yaumiyah, berusaha lebih baik secara karakter/akhlak sebagai individu, berusaha menjadi insan yang lebih bermanfaat untuk masyarakat. Dan bulan ini pun ingin saya jadikan sebagai bulan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Sehingga 1 syawal nanti saya ingin merasakan bak kupu-kupu yang baru saja keluar dari kepompong.

Ramadhan ini sangat indah, sayang jika terlewat begitu saja. Karena belum tentu kita berjumpa kembali dengan bulan yang penuh berkah ini. Ramadhan ini juga ingin rasanya lebih dekat denganMu, 'berdialog' denganMu dalam do'a dan ibadah, lebih tawakal padaMu, lebih merasa terikat padaMu. 




Kabulkan Yaa Rabb...




Yiiipiiiieee...


Weekend kemarin kita sekeluraga (abi-ummi-kifah) jalan-jalan ke sebuah tempat rekreasi yang ada di Jalan Raya Gunung Kapur-Ciseeng Kabupaten Bogor. Lokasinya terletak di Ciseeng Bogor. Tempat ini bisa diakses melalui BSD-Puspiptek-Prumpung-Ciseeng atau Bogor-Parung-Ciseeng/Bogor-Jampang-Ciseeng. 
Lokasinya memang tidak terlalu mencolok/tidak kelihatan dari jalan raya, jadi memang harus teliti untuk melihat sekeliling jalan untuk menemukan tempat wisata ini.


Plang nama



Tanggal 12 Juni 2014 kemarin adalah ulang tahun anakku semata wayang 'Muhammad Kifah Abdullah Sidik' Walaupun ulang tahunnya gak dirayakan seperti anak-anak pada umumnya, ummi dan abi selalu berharap kifah jadi anak yang shaleh, sesuai dengan nama yang disematkan yakni hamba Alloh yang memperjuangkan kebenaran. Aamiin.



Saya adalah seorang istri dan juga ibu dari seorang anak laki-laki yang bernama Muhammad Kifah Abdullah Sidik.

Lahir di sebuah desa kecil, Cigarawangi, Rancah, Ciamis, 30 Mei 1990. 


Menyelesaikan studi Strata 1 Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2012. Oleh karena itu, saya sangat mencintai ilmu pendidikan.

Hobby saya adalah traveling alias jalan-jalan. Siapa sih yang gak suka sama traveling? 

Hihi.

Nge-blog adalah hobi baru yang sangat saya suka. Selain bisa mengeksplorasi keterampilan menulis, nge-blog juga bisa menyalurkan hobi saya yang lain yaitu fotografi. 

Fotografi yang saya suka sih foto-foto yang bersifat makro. Seperti foto produk, makanan, pokoknya yang makro-makro deh fotonya. Soalnya paling gak pede kalo moto orang atau landscape.

Untuk dunia tulis menulis sendiri, saya masih dibilang newbie banget. Pernah sih berkontribusi jadi redaksi mading Rohis waktu SMA dan beberapa kali mengikuti event lomba mading. Yah waktu itu masih zaman ABG, masih lucu-lucunya. 

Cita-cita saya sih maunya jadi Blogger profesional dan juga menjadi penulis buku Best Seller. *gapapa dong mimpi, mumpung gratis*

Aamiin.

Karena menulis membuat kita memiliki karya abadi yang bisa diwariskan kepada anak cucu dan juga bermanfaat bagi orang lain dong tentunya. 

Saya senang bertemu dan berkenalan dengan banyak orang. Menjalin silaturahmi dan mengeksplorasi hal-hal baru dari orang lain. 

Ingin bersilaturahmi dengan saya?

email   : tettytanoyo@gmail.com
FB       : Tetty Hermawati Sidik
twitter :  @tettytanoyo


Terima kasih telah berkunjung ke blog ini ya :)







Pagi itu saya naik angkot ke suatu tempat, sekitar jam 6 pagi. Di dalam angkot saya berbaur dengan banyak penumpang. Anak sekolah, karyawan, dan juga para pedagang. Mereka semua tentu saja berangkat pagi-pagi demi memulai aktifitas tanpa kesiangan bahkan tanpa kegagalan.

Disudut dekat pintu angkot ada beberapa anak laki-laki berseragam sekolah. Putih biru dan putih abu-abu. Di sisi satunya lagi ada seorang anak laki-laki (seusia anak berseragam putih abu) menjinjing sebuah tempat yang berisi beragam mainan yang terbuat dari bambu (batang dan akar bambu). Disebelahnya duduk seorang bapak yang juga membawa barang yang sama. Saya kira bapak tersebut adalah ayah atau pamannya. Mereka nampak akrab. 

Semua penumpang tentu punya tujuan masing-masing. Ada yang hendak ke sekolah, ada yang ke tempat kerja, dan mungkin ada pula ke suatu tempat untuk menjajakan dagangan. Ada satu hal yang membuat saya terus bercakap-cakap sendiri dalam hati. Yakni ketika melihat seorang anak berseragam abu, lengkap dengan tas dan sepatunya yang bagus. Sedangkan satunya lagi seorang anak (dengan usia yang saya perkirakan sama) menenteng barang dagangan (mainan dari bambu). Ia berkemeja kotak dengan warna yang sudah pudar, bercelana panjang, sepatu, dan kulit yang agak gelap (mungkin karena sengatan matahari). 

What do you think about it?

Dalam situasi yang sama, keadaan yang sama, kendaraan yang sama, usia yang sama, namun mereka memiliki KESEMPATAN yang berbeda. Kita tidak sedang menghakimi, bahwa yang berseragam akan lebih sukses dari yang tidak berseragam. Tapi mari berpikir betapa berwarnanya hidup ini. Begitu banyak skenario yang dimainkan setiap hari. Mereka hanya saling menatap, mereka mungkin sedang berpikir, apa yang mereka jalani hari ini memang sudah jadi bagian dari drama kehidupan mereka masing-masing.

Melihat pemandangan sepanjang di dalam angkot membuat saya terus berpikir. Seseorang diberi kesempatan untuk "bersenang-senang" menuntut ilmu hingga jauh, disisi lain ada yang sedang bekerja keras untuk lembar demi lembar rupiah. Ironi bukan?

Hikmahnya. Saya sendiri sulit melihat kesempatan yang begitu banyak datang (dan mungkin saya biarkan pergi). Karena mata ini masih tertutupi air mata penyesalan akan hal yang tidak dapat saya dapatkan. Sayang sekali bukan?


Judulnya emang cukup nyelekit, apalagi kalau kalimat itu ditujukkan untuk diri kita. Siapa yang malas? siapa yang bodoh?

Kita simak cerita berikut terlebih dahulu deh. 

*suatu waktu di kamar kos seorang perempuan*

Ada seorang mahasiswi yang sedang "ngedumel" sendiri di kamar kos-nya. Ketika hendak berangkat ke kampus tiba-tiba turun hujan deras.

"Aduh, hujan. Gimana nih? mau berangkat ke kampus tapi motor belum ada, masih dipinjem, jangan-jangan yang minjem juga kejebak hujan nih" Gerutunya dalam hati.

"Yah, gak bisa berangkat ke kampus deh" 


Ada yang aneh dengan cerita di atas? Saya rasa tidak ada. Tetapi izinkan saya bercerita mengenai latar belakang mahasiswi yang satu ini. 

Dia adalah mahasiswi yang datang jauh merantau dari sebuah desa. Niatnya ke ibu kota adalah untuk kuliah. Pada masa awal kuliah dia sangat rajin ke kampus. Tentunya dengan berjalan kaki. Walaupun tempat kos nya jauh, ia tetap bersemangat bulak-baliik ke kampus setiap hari. Apabila sedang ada keperluan dia pun tidak segan untuk naik angkot atau bis kota segala jurusan. Walau panas atau pun hujan ia tetap bersemangat.

Suatu saat, orang tua dari mahasiswi ini merasa kasihan dengan keadaan putrinya di tanah rantau. Putrinya selalu nampak kelelahan karena harus berjalan kaki menuju kampus, dan harus menggunakan kendaraan umum jika ada keperluan di luar kampus. Untuk itu sang orang tua memberikannya sepede motor sebagai reward kerja kerasnya selama ini. Mahasiswi itu pun kegirangan.

Waktu berselang, motor kesayangannya menjadi tumpuan kemanapun ia pergi. Ke kampus, ke toko buku, ke pasar, dan ke tempat-tempat lainnya. Motor pemberian orang tuanya itu menjadi soulmate-nya sepanjang hari.

Namun, apa yang terjadi?

Suatu saat terjadilah dialog yang saya tuliskan di awal tulisan ini. Dia mengeluh, saat ia tak bisa berangkat ke kampus karena hari hujan dan motor kesayangannya sedang tak bersamanya. Padahal sebelumnya dia seorang yang begitu semangat dan cekatan walaupun harus berjalan tiap hari ke kampus. Tapi sekarang, dia terlena dengan kehadiransebuah sepeda motor. Hingga ia LUPA bahwa dulu ia pernah "bisa hidup" tanpa kehadiran soulmate-nya itu.

Kenapa ia mendadak lupa dengan adanya KAKI yang Tuhan ciptakan? yang sebelumnya dia gunakan tanpa lelah untuk menuntut ilmu? Kenapa ia mendadak BODOH? padahal dulu dia menggunakan payung disaat turun hujan.

Saya sendiri mungkin pernah menjadi mahasiswi malas dan bodoh tersebut. Seringkali lupa dengan apa yang sebelumnya BISA kita lakukan sebelum adanya "penolong" yang datang begitu saja dan juga bisa pergi kapan saja.

Cerita tadi hanyalah analogi bahwa seringkali kita menempatkan sesuatu yang bersifat kebendaan menjadi satu-satunya penolong sehingga kita lupa dengan kemampuan yang kita miliki sebelumnya. Alih-alih tak ada kendaraan, kita malas dan tak bisa keluar rumah, padahal ada tukang becak, tukang ojeg, bahkan kaki sendiri tersedia untuk berjalan. 


Kadang kita harus membatasi diri dengan hidup yang serba nyaman yang pada akhirnya malah melenakkan. Sehingga potensi-potensi terbaik dalam diri kita terabaikan begitu saja. 


Wallahu'alam


1. Winner Giveaway 'Giveaway Ayo Menikah' thesultonation.blogspot.com 


Tulisannya ada di sini.

2. Juara ke-3 Hijab Syar'i Story Giveaway dari aisyahauliawahida.blogspot.com 


Tulisannya ada di sini.

3. Postingan terbaik lomba blog Honda Smart Technology bersama blog detik.

Tulisannya ada di sini.

4. Postingan terbaik lomba blog Samsung Galaxy S6 dan S6 Edge bersama blog detik.


Tulisanya ada di sini.

5. First Winner Tempra Mom of The Month 2015


Tulisannya ada di sini.

6. First Winner #GakMasalahDong Tropicana Slim Blog Competition




Tulisannya ada di sini.

7. Juara Ke-3 Kreasi Takjil W'Dank Bajigur 


Tulisannya ada di sini.

8. Postingan Terpilih lomba blog Samsung Galaxy Note 5 #StartWithNote5 bersama Idblognetwork dan Blogois.


Tulisannya ada di sini.


9. Salah satu postingan terbaik dalam lomba blog My 7 Days Fruit Diary bersama Sunpride. 

Tulisannya ada di sini.

10. Juara 1 Blog Competition "Attack Easy Detergen, Gerakan Mencuci Gembira"


Tulisannya ada di sini

11. Juara ASUS Blog Competition bersama Komunitas Blogger Gandjel Rel "Jepret Kuliner"

Tulisannya ada di sini

#Repost @weekend.review with @repostapp ・・・ Alhamdulillah foto ini memenangkan Kompetisi jepret kuliner menggunakan kamera ponsel @asusid yg diselenggarakan oleh komunitas blogger @Gandjelrel Jangan lupa follow @weekend.review ya kaka buat liat hasil jepretan yang lainnya . . Ada yang masih belum makan siang? Masih sibuk sama kerjaan? Kenalin Nih "Mie Tampar" Mie dengan kuah rempah yg khas ditambah dengan level kepedasan sesuai selera. Bikin lidah berasa ditampar-tampar pokoknya . . . Ada 4 level kepedasan yg bisa kamu pilih. Ditimang = Tidak Pedas Diusap = Sedang Dijitak = Pedas Ditampar = Super Pedas Ini aku pesen Mie Tampar Ikan Diusap Berkuah. Cocok bgt lah buat cemilan di musim hujan kek gini . . . Lokasi: Cibinong Bogor. Persis di seberang Stadion Pakan Sari. Harga mulai 17k per porsi Review lengkap di blog: http://www.tettytanoyo.com/2017/02/mie-tampar-kuliner-mie-nusantara-yang-menampar-lidah-para-pecinta-kuliner-di-cibinong-bogor.html?m=1 . . . #zenfone3id #gakadamatinya #2ndthgandjelrel #zenfone #zenfonego #zenfans #noodles #instafood #foodblogger #foodporn #mietampar #mienusantara #kulinerbogor #kulinercibinong #weekendreview
Sebuah kiriman dibagikan oleh Tetty Hermawati (@tettytanoyo) pada


12. Juara Blog Competition "Hotel Pon X Luminor Hotel Pecenongan Jakarta Selatan"

Tulisannya ada di sini


Saya suka nulis puisi, sampai-sampai waktu masih SMP ada temen yang hampir tiap hari minta dibikinin puisi. Puisi-nya nggak jauh-jauh tentang dia yang selalu di PHP-in sama cowok di sekolah. Waktu itu saya sih masih mau-mau aja nulis puisi roman picisan gitu, satu diary penuh semua sama puisi "konyol" ala ABG. 

*ketawa deh kalo inget*

Satu-satunya prestasi waktu bikin puisi adalah waktu ada perlombaan baca puisi di sekolah. Saya sadar bahwa saya ngga bisa baca puisi, apalagi yang mendayu sambil menghayati, ngga deh. Akhirnya saya beritikad untuk menyumbangkan naskah puisi untuk dibacakan oleh teman sebagai perwakilan kelas.

Daaannn... tadaaaa... alhamdulillah puisinya dapet juara ke-1. Puisi tersebut berjudul "Ibu" dan yang membacakan (temen saya) adalah seorang anak yang sudah tidak memiliki seorang ibu. Jadi aja puisinya berhasil membuat dia meleleh di atas podium.

*bisa jadi guru yang jadi juri ngasih nilai gede karena lihat dia yang menghayati ya, bukan karena naskah puisinya. hahahah udah Ge-eR aja deh ah..



cek kumpulan puisi saya disini yuk...
Walau sekarang udah jarang diapdet, mudah-mudahan masih enak buat dibaca.









Cover Kumpulan Dongeng Anak Karya Hastira Soekardi


Jujur saja, saya adalah anak yang lebih sering membaca sebuah dongeng dibanding mendengarkan dongeng secara langsung. Pertama kali saya mendengar dongeng itu saat saya sekolah di Sekolah Dasar. Biasanya guru Bahasa Indonesia yang mendongeng di depan kelas. Mulai dari dongeng tentang hewan, tentang budaya Indonesia, sejarah Islam, dan lain sebagainya. 


Sebagian anak mungkin seringkali dibacakan dongeng oleh orang tua sebelum beranjak ke tempat tidur. Malahan ada anak yang katanya belum bisa tidur sebelum dibacakan dongeng oleh ayah atau ibunya. Wah kalau saya sih belum pernah tuh dibacakan sebuah dongeng pengantar tidur oleh ayah atau ibu. hehehe. Berhubung dan berhubung orang tua saya yang memang tidak terbiasa dan kurang mengerti tata cara mendongeng. Maka dari itu saya lebih sering membaca dongeng sendiri, berimajinasi mengenai tokoh dan suasana/latar cerita dongeng tersebut.


Pertama kali membaca sebuah dongeng

Saya ingat sekali pertama kalinya jalan-jalan ke toko buku. Saat itu saya masih berusia 5-6 tahun. Melihat jajaran buku khususnya buku cerita anak-anak membuat saya takjub. Sampai-sampai bingung mau beli buku yang mana, maunya sih dibawa pulang semua. 

Buku dongeng yang pertama kali saya beli berjudul "Heidi" dan "Alice di Negeri Ajaib"
Sumber Gambar

Sumber Gambar


Jujur saya jadi berkaca-kaca setelah melihat kembali gambar buku dongeng "Heidi" dan "Alice di Negeri Ajaib". Tokoh dan cerita yang terkandung di dalam buku tersebut masih terekam jelas dalam ingatan. Pada saat kanak-kanak tentunya saya sangat "terobsesi" dengan tokoh dan cerita Heidi dan Alice. Mereka seakan-akan benar-benar ADA. Mereka ada di sebuah negeri yang bernama NEGERI DONGENG.

Dongeng itu membekas dalam hati dan ingatan

Sungguh saya benar-benar takjub, sebuah dongeng mempunyai kekuatan yang sangat besar. Nilai-nilai yang ada pada cerita dongeng Heidi dan Alice masih sangat saya ingat hingga sekarang. Heidi yang sederhana dan baik hati hingga bisa merubah angkuhnya perilaku seseorang, hingga Alice seorang gadis yang rela berpetualang demi menemukan apa yang ingin dia cari. 

Mungkin sebagian orang, terutama orang dewasa dongeng hanyalah "sekedar" cerita khayalan atau bacaan biasa. Tetapi bagi saya (mantan anak-anak) hehehe, dongeng ternyata bisa membekas sedalam ini. Bahkan pada saat saya membaca dan berimajinasi, saya seperti terbawa dalam suasana cerita dan ingin mejadi tokoh di dalamnya.


Dongeng menumbuhkan keteladanan

Seperti yang saya katakan sebelumnya, setelah membaca sebuah dongeng saya langsung terobsesi menjadi tokoh yang ada di dalam dongeng tersebut. Ingin menjadi anak gadis yang baik hati, sederhana, penyayang, dan selalu gembira. Dongeng juga menumbuhkan jiwa yang riang, saya masih ingat banyak gambaran-gambaran/latar pada dongeng tersebut yang membuat saya benar-benar takjub. 

Jika sebuah dongeng mampu menumbuhkan keteladanan, alangkah indahnya dunia anak-anak. Jiwanya terisi oleh tokoh-tokoh imaji yang selalu mengajak pada kebaikan. Dongeng mampu menumbuhkan rasa pada hati dan jiwa anak, dan tentunya Emotional Quotion anak semakin terasah.



Dongeng membuat kita mengenal budaya

Jikalau tadi sekilas mengenai dongeng pertama yang saya baca, dan setelah saya amati ternyata dongeng tersebut bukan berasal dari Indonesia, dan bukan berdasarkan cerita orang tua saya sendiri.

Lain lagi ceritanya ketika kakek dan nenek saya bercerita tentang sebuah dongeng sakadang monyet jeung sakadang kuya (seekor monyet dan seekor kera). Ini cerita dari tanah Sunda, karena memang saya lahir di Ciamis Jawa Barat. Sehingga kakek dan nenek saya otomatis hanya memiliki koleksi dongeng dari tanah pasundan.


Sumber Gambar

Sakadang monyet dan sakadang kuya ini adalah hewan yang sangat legendaris. Mereka katanya ada sejak jaman dulu. Mereka berteman satu sama lain, tetapi kadang sakadang monyet suka berbuat usil kepada sakadang kuya. Nenek saya bercerita katanya sakadang monyet pernah ditangkap dan diringkus oleh pak tani karena ketahuan mencuri di kebun miliknya. Namun, ketika sakadang kuya melihat sakadang monyet yang dikurung dalam kurungan, sakadang kuya malah kena tipu oleh sakadang monyet. Dan pada akhirnya sakadang monyet bebas dan sakadang kuya masuk kedalam kurungan pak Tani. 

Dari cerita sakadang monyet dan sakadang kuya tersebut saya banyak belajar tentang nilai-nilai kejujuran dan etika dalam bersahabat. Dan lagi-lagi pada saat itu saya benar-benar merasa bahwa cerita tentang hewan  tersebut benar adanya.


Senang sekali rasanya pernah membaca dan mendengar dongeng. Mudah-mudahan saya juga bisa membacakan dongeng-dongeng yang bagus untuk buah hati saya Kifah. Dan membuatnya menari-nari dalam imaji yang indah di sebuah negeri dongeng.





"Dongeng itu ternyata luar biasa, ada kekuatan disana, yang membuat imaji menari-nari hingga akhirnya teladan lah yang bisa kita bawa ke alam nyata"



Semoga Bermanfaat 







"Tulisan ini diikut sertakan dalam GA Semua tentang dongeng anak"




"Pokona-mah asa pengen posting gambar ini.Sekian dan Terima Kasih"







Twitter/IG: @Hijabeez_ID
Facebook Fan Page: Hijabeez Fashion Muslimah
www.hijabeez.com
Karena saking kepengennya #onedayoneartikel jadi aja maksa nulis tengah malem gini. Ditengah kelelahan rutinitas, tapi alhamdulillah kalau udah nulis tuh rasanya seneng.Minimal ada unek-unek yang dikeluarin. Daripada bikin status alay di pesbuk atau nge-tweet yang gak penting ya meningan nulis disini. Kalau dulu jaman ABG punya buku diary buat corat-coret dan sekarang udah gak musim lagi (karena ABG sekarang curhatnya udah di MedSos) ya sudahlah lebih baik torehkan disini. Siapa tau ada penulis naskah yang lagi cari inspirasi buat bikin sinetron terbaru di TV *lah apa hubungannya?

Kifah udah tidur, karena mungkin 'teler' habis dikasih obat. Tiga hari yang lalu badannya demam (mungkin karena habis papanasan dan momotoran terus minum es teh) dan demamnya sudah mulai berkurang hingga hari ini.

Tadi pagi Kifah udah ke Dokter, hasilnya Kifah terkena Flu dan Sari-wawan (baca:sariawan). Karena memang dari kemarin ada bintik-bintik putih di bibirnya dan Kifah bilang "aduh, ada duriii......." (mungkin rasanya seperti ada duri yang nyangkut di bibir mungilnya)

Karena lagi sakit Kifah jadi rada melankolis, yang biasanya cerewet jadi agak pendiem dan lebih suka meluk-meluk boneka "Teddy". FYI: Boneka Teddy ini adalah boneka Emaknya waktu jaman SD, dinamain Teddy soalnya namanya mirip-mirip sama Tetty, dan biar keren aja gitu namanya rada internasional (baca:Teddy Bear). 


Okesip, langsung liat foto-fotonya Kifah di TKP:















* Fotografer dan pengarah gaya : Emaknya
  Lokasi : Rumah Mamah dan Kokong
  Sony Cyber Shot+Adobe Photoshop Cs4



sumber gambar

Sebagian orang pasti ada yang mengatakan "Thanks God, Kau telah menciptakan Mark Zuckerberg" Siapa lagi kalau bukan pencipta jejaring sosial Facebook. Facebook sekarang begitu digandrungi, bahkan kamu pasti dibilang "Gak Gahooll" kalau gak punya Facebook. Ya kan? Ya kan? Ya kan? 


Termasuk saya, hobi 'pasang status' di jejaring sosial tersebut. Waktu awal punya Facebook mungkin dalam sehari  bisa menghasilkan lebih dari tiga status Facebook (produktif sekali). Tapi lama kelamaan saya berfikir untuk tidak menghasilkan 'sampah' di timeline saya dan tentunya timeline orang lain. (jadi  ceritanya sekarang update statusnya dikit-dikit aja)

Salah satu status yang saya pasang di Facebook tanggal 12 Maret 2014 adalah:

"Kangen"


Kata 'kangen' tidak sengaja saya ketik di kolom"What's on your mind?" begitu saya lihat foto saya waktu Taman Kanak-Kanak, bercengkrama via WA group bersama teman-teman SD saya, dan curhat-curhatan via BBM dengan teman SMA. Haaaiiisshhhhh.... betapa jauh sudah kaki ini melangkah, rasanya baru kemarin saya jadi anak-anak, kemudian jadi ABG, dan beranjak dewasa, hingga sekarang saya sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Belasan tahun yang lalu. 

Andai saja ada mesin waktu (faktanya tak pernah ada) ingin sekali lagi memutar waktu kembali ke 'jaman dulu'. Ah, rasanya rindu sekali. Rindu bermain, rindu bernyanyi bersama teman-teman kecil, rindu jadi ABG yang lebih sering dengerin curhatan temen dibanding curhatin diri sendiri, rindu serindu-rindunya. Memori itu menari-nari, seakan memanggil lagi untuk kembali kesana. 


Seorang teman berkomentar dalam status saya:

"Anita: Kangen juga..."

Mungkin karena statusnya hanya kata 'kangen' jadinya setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda. Tapi yang jelas, rasa 'kangen' adalah rasa yang dimiliki oleh setiap orang. Kangen dengan benda, kangen dengan orang, kangen dengan tempat, kangen dengan waktu, dan berjuta kangen lainnya.

Rasa kangen akan membuat diri ini seketika melankolis, kangen bisa membuat mata berkaca-kaca, kangen juga bisa membuat kita menangis sejadinya. Rasa ini juga yang membuat Chairil Anwar jadi pujangga terkenal, rasa ini juga yang membuat Kahlil Gibran menjadi penulis besar.

Rasa kangen juga bisa membuat kita bersemangat. Contoh, kangen kampung halaman, kangen orang tua yang berada jauh dari tempat tinggal kita. Pastinya akan membuat kita lebih semangat dalam bekerja dan berusaha demi mengobati rasa kangen yang melanda, yakni bertemu orang tua dan kampung halaman. 
Begitupula orang yang baru pulang ibadah haji dan umrah, katanya akan merasa kangen sekali dengan Baitullah. dan tentunya akan berusaha lagi untuk pergi kesana.

Terima kasih Yaa Rabb.. Kau yang Maha Menciptakan, semoga hamba termasuk kedalam orang-orang yang "Kangen" akan Engkau. Aamiinn.



Kalau status yang pertama hanya satu kata, status yang kedua ini terdiri dari beberapa kata, nah ini dia statusnya: 

"Hidup itu pilihan, banyak pilihan yg sulit-sulit.. Banyak pilihan 'besar' yang juga beresiko 'besar'.. Udah sih jgn mempersulit pilihan orang lain dengan menggunjing apalagi menghina.. Nikmati saja jalan hidup kita masing-masing. Simple :) "


Status ini saya buat berdasarkan hasil pengamatan saya terhadap fenomena sosial yang terjadi *keselek buku metodologi penelitian* hehehe.. Banyak orang yang lebih senang menggunjing pilihan hidup seseorang. Apapun yang dilakukan oleh seseorang selalu saja jadi bahan omongan dan akhirnya nyaris jadi fitnah disana-sini. 

Setiap orang pasti mempunyai problematika hidup masing-masing. Mereka tentunya juga sibuk mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi. Tentunya solusi yang mereka ambil juga berkat pertimbangan dan juga analisis resiko yang rumit. Ditengah peliknya masalah seseorang, dengan senang hati ada sekelompok orang yang tega-teganya "ikut ambil bagian". Mereka menyindir, mencela, dan memojokkan keputusan yang orang lain lakukan. Tanpa belas kasih dan tanpa mempertimbangkan efek buruk yang ditimbulkan dari hasil pergunjingan tersebut.

Bahkan Al-Qur'an sendiri mengkiaskan "menggunjing itu bagaikan memakan bangkai manusia" betapa jijiknya bukan?

Menyindir dan mencela keputusan orang lain dalam menyikapi masalah hidupnya adalah sikap yang sangat tidak terpuji. Bukannya mengurangi beban penderitaan, menambah penderitaan dan beban pikiran orang lain dengan menggunjingnya adalah sikap yang sangat buruk.

Komentar dari salah seorang teman:

"Faiz: Syukron atas nasehatnya, izin share ya mbak" 

Sesunggunya status tersebut adalah nasehat untuk diri sendiri. Seringkali diri ini terpancing untuk membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain, padahal boleh jadi apa yang mereka lakukan jauh lebih baik dari apa yang saya lakukan.

Apalagi perempuan, "ikut nimbrung" dalam masalah orang lain kadang kala menjadi sebuah hal yang biasa. Padahal belum tentu yang empunya masalah berkenan kita mengomentari apa yang ia lakukan. 

Menjaga lisan dari hal yang tidak terpuji merupakan suatu kewajiban, jangan sampai kata-kata yang keluar dari mulut kita merupakan duri tajam bagi orang lain. Ada waktunya kita TIDAK USAH mencampuri masalah hidup orang lain. Seorang bijak pernah berkata:

"Jika kita belum bisa membahagiakan orang lain, minimal kita tidak menyakiti hatinya"



Sekarang Facebook menjadi sahabat bagi sebagian orang, berbagai keluh kesah, pendapat, rasa, cinta kebahagiaan, kesedihan, dan apapun itu bisa kita bagi di situs ini dan membiarkan orang lain turut merasakannya. So, it called Our Facebook its Our Best Friend :)


Wallahu'alam :)

Semoga bermanfaat



"Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Blogger Dengan Dua Status di BlogCamp"




Jujur saya heran, sampai detik ini masih ada saja yang mengaku akifis dakwah Islam tapi sangat dangkal pemahaman Islamnya. Saya menyampaikan ini bukan saya merasa paling suci, paling benar, paling pintar, TIDAK saya katakan TIDAK.

Detik-detik pergantian pemimpin negara segera dimulai, beberapa kaum/golongan ada yang bersegera bersiap. Layaknya akan bertempur di medan perang mereka mempersiapkan berbagai persenjataan. Sebutlah para Parpol Islam, mereka sibuk berkampanye kesana-kesini meminta dukungan masyarakat. Salah satunya melalui sosial media, mass media, dan lain sebagainya. Sosial media digunakan karena dirasa ampuh untuk mendekati "sumber suara", media sosial seperti facebook, twitter, juga ampuh untuk mendapatkan quick response dari masyarakat. 


Media sosial memungkinkan masyarakat saling berkomunikasi, mengutarakan pendapat, dan menyuarakan aspirasi. Namun yang saya amati kampanye media sosial menjadi ajang Bullying satu golongan terhadap golongan lain. Saya ambil contoh, ketika sebuah partai islam berkampanye ada golongan lain yang berteriak bahwa partai tersebut mengajak masyarakat pada kehancuran bahkan kekafiran. Naudzubillah.

Dan yang paling mengecewakan, suara-suara miring, Bullying, tersebut datang dari golongan yang mengaku membela syariat. Syariat mana yang dibela? sejauh saya membaca Sirrah Nabawiyah, Rosulullah SAW selalu mengedepankan kasih sayangnya kepada orang yang berbeda pendapat bahkan pada musuhnya sekalipun. Saya benar-benar tak habis fikir, disimpan dimana akhlakul karimah sehingga mereka bebas berkata, mencaci, memaki, yang notabene saudara seiman, sesama muslim.

Adakah masuk ke dalam sebuah golongan harus menghina golongan lain dan merasa golongannya paling benar?

Saya tak membela siapapun, saya sebagai orang awam hanya menilai apa yang saya lihat. Apakah mungkin saya akan bersimpati dengan gerakan dakwah mereka? siapa sudi berteman dengan orang yang buruk budi. Menghina mencaci saudara sendiri.

Marilah sama-sama berfikir sejenak, adakah kebaikan dibawa dalam wadah keburukan? adakah dakwah dibawakan dengan fitnah dan cacian?

Rasulullah SAW pun berdakwah bil hikmah, ia raih hati manusia dengan lisan yang indah, dengan akhlak yang mulia, hingga semua hati berpadu dalam indahya Islam yang mulia. Wallahu'alam




"Sesuatu itu akan sangat terasa berarti setelah kehilangan"



Well.. kurang lebih itulah yang saya rasakan beberapa bulan ke belakang. Kehilangan sesuatu memang sangat tidak menyenangkan. Lebih tepatnya kehilangan "domisili", hehe. Sudah kurang lebih tiga bulan saya sekeluarga hijrah dari kota kembang Bandung ke kota (apa ya) Depok.

Buat sebagian orang, apa serunya sih datang ke Bandung? ada yang setiap pekan, bahkan ada yang setiap hari bulak-balik ke Bandung

Sebelumnya saya mengira tidak akan se-kangen ini dengan kota Bandung, tapi ternyata Bandung itu memangan NGANGENIN, SERIUSSS. Mulai dari suasana, kuliner, tempat rekreasi, orang-orangnya, dan masih buanyyaakk lagi. Pantesan banyak yang bilang kalo Bandung itu bukan sekedar about the City, tetapi about the story and history.

Alhamdulillah, dapet kesempatan beberapa hari ke Bandung, Saya, Misua, dan Bocil (Bocah kecil) Kifah langsung tancap gas keliling Bandung sambil momotoran. Yeah, lumayan terbayar rasa kangennya. Dari pada cerita panjang-panjang mending langsung kita cekidot secuil foto-foto disana. Yuk!


Berangkat sekitar jam 10 pagi dari daerah Geger Kalong, kukurilingan Bandung dan akhirnya mendarat pertama di BIP Jl. Merdeka sambil makan cemilan. 

Ummi dan Kifah 'nangkring' di BIP 



Ini Kifah idungnya di kembang kempis deh..


Tadinya mau ke Gramedia Jl. Merdeka tapi berhubung parkir penuh jadi belok ke BIP. Oh ya, tadinya juga mau ke Ciwalk (Cihampelas) berhubung hujan dan posisi lagi deket BEC (Bandung Electronic Centre) jadi aja nyimpang ke BIP.


Waktu keliling naik motor kita sempet lihat Taman Lalu Lintas, jadi aja terinspirasi untuk main kesana. Murah kok tiketnya cuma Rp. 5,000,- (anak diatas 2 tahun wajib bayar tiket). 


Abi dan Kifah di Taman Lalu Lintas



Nyoba naik ayunan



Di Taman Lalu Lintas kita bisa naik kereta api mini, harga tiketnya Rp.5,000,- per orang



Di Taman Lalu Lintas juga ada Tank Baja sumbangan dari TNI 



Nah, itu tadi di Taman Lalu Lintas. Sebenernya waktu hari itu (tepatnya hari sabtu) kita lebih banyak keliling-keliling naik motor, jadi jarang ambil foto karena lagi di jalan. Masih banyak taman lain di Bandung. Ada taman jomblo, taman skate board, taman musik, taman lansia, dll.


Keesokan harinya...

Seperti biasa, pada hari minggu di Bandung pasti selalu ada yang namanya PASAR GASIBU. Alias pasar dadakan yang ada di lapangan gasibu (depan gedung sate). Waktu awal saya tinggal di Bandung, pasar Gasibu bener-bener bagaikan lautan manusia. Setiap sudut jalan penuh sama orang yang sedang bertransaksi jual beli. Pasar Gasibu ramai dikunjungi warga Bandung dan para pelancong karena semua SERBA ADA. Mulai dari kebutuhan rumah tangga, kuliner, furniture, mainan anak, dan lain sebagainya, Dan harganya jauh lebih murah dari harga pada hari-hari biasa.


Sekarang pasar gasibu tidak seramai dulu, jalan-jalan sudah ditertibkan (bebas PKL) 

Begitupun dengan lapangan Gasibu sendiri, sekarang sudah sesuai dengan fungsinya yaitu menjadi lapangan tempat untuk berolahraga.

Masyarakat sekarang lebih menikmati suasana gasibu sebagai sarana olah raga dan rekreasi keluarga. Memang beberapa PKL yang ditertibkan banyak yang mengeluh karena adanya penertiban ini.


Komunitas sepeda ontel juga melakukan aktivitas di halaman lapangan gasibu Bandung

Kifah beli "burung-burungan" sejenis mainan tradisional


Karena waktu yang sempit, dan jadinya buru-buru, gak banyak juga tempat-tempat yang disinggahi. 


Buat kuliner sendiri, saya hanya berkesempatan makan mie ramen di daerah geger kalong. Tepatnya di Jalan Geger Kalong Girang. Kedai Nobu Ramen (depan Guest House Daarut Tauhid). Kalau menurut saya sih ini ramen yang cukup "memuaskan" diseantero geger kalong. Saya paling suka pake kuah nobu yang asem manis pedes, yummmmiiiwwww...



Nah, ini penampakan dari Nobu Ramen 


Mwaaa.. mungkin itu sekilas reportase waktu saya ke Bandung pekan lalu. 

*Hikmah*

Kita gak akan pernah tahu ke kota atau negara apa kita akan berpetualang, tapi yang pasti syukurilah dimanapun kita tinggal sekarang. Dulu saya merasa biasa aja tinggal di Bandung, gak ada yang istimewa. Tapi ternyata setelah "berpisah" dari Bandung saya baru tersadar bahwa Bandung adalah kota yang nyaman dan penuh kenangan. Mungkin suatu saat kita akan sangat rindu ada di kota tempat kita tinggal sekarang, untuk itu mari kita nikmati dan syukuri dimana pun kita berada hari ini.




Thanks Bandung :)




Kita semua tahu bahwa bunglon adalah hewan yang bisa menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungan sekitar. Kemampuan ini Alloh desain dengan sedemikian rupa agar bunglon dapat menghindari diri dari pemangsa. Kemampuan ini tentu sangat bagus dimiliki oleh seekor bunglon, karena denganya ia bisa terlihat menyerupai warna lingkungannya. Warna tubuhnya melebur bersama warna lingkungan tempat ia berada.

Tapi tahukan kita bahwa hanya bunglon lah yang "pantas" memiliki kemampuan tersebut. Bagaimana jika manusia memiliki atau meniru kemampuan bunglon tersebut? saya rasa "tidak pantas". Mengapa? bunglon mengubah warna tubuhnya agar ia tidak terlihat oleh pemangsa sehingga ia terlihat sama dengan warna lingkungan. Namun bagaimana dengan manusia? haruskah ia memiliki kemampuan untuk "berkamuflase" dengan lingkungan sekitarnya? saya rasa jawabannya TIDAK.

Manusia adalah makhluk yang sempurna akal dan perasaan. Manusia mampu berfikir dan merasa, dengan kemampuan berfikir dan merasa manusia memiliki kecerdasan lebih diantara makhluk lain. Salah satunya kecerdasan dalam bersikap dan bertingkah laku. Sebagian besar tingkah laku manusia tentu didapat dari cara berfikirnya, dan cara berfikirnya tentu dipengaruhi tentang keyakinannya tentang suatu hal. Salah satunya keyakinan dalam berketuhanan, yakni beragama. Manusia yang beragama tentu memiliki pedoman yang mengatur tingkah lakunya sehari-hari. Berbeda dengan manusia jahiliyah yang hidupnya penuh dengan kebodohan karena tidak beragama.

Seperti halnya perintah berhijab/menutup aurat bagi perempuan muslim. Perintah ini diturunkan dengan banyak manfaat, salah satunya adalah sebagai identitas diri. Kita akan sangat mudah mengenali perempuan muslim dengan perempuan kafir dilihat dari hijab yang ia gunakan. Sehingga kita juga dengan sangat mudah mengambil keputusan bagaimana tata cara memperlakukan perempuan muslim tersebut. 

Sama hal nya dengan tindakan bermuamalah, sebagai seorang muslim kita memiliki pedoman yang jelas yakni Al-Qur'an dan Al-Hadits. Kita memiliki rambu-rambu dalam bertindak tanduk di lingkungan masyarakat. Apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan. Saya fikir aturan semacam itu sebagai fungsi perlindungan dan juga menjaga nama baik dan kehormatan kaum muslimin itu sendiri.

Manusia bukan lah bunglon, karena manusia memiliki "warna" tersendiri yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Sehingga, sangat salah apabila manusia memperlakukan dirinya sebagai bunglon yang merubah-rubah warna kulitnya bergantung pada lingkungan sekitarnya. Manusia memiliki "warna" yang harus ditunjukkan, khususnya bagi seorang muslim. Warna tersebut digunakan untuk membedakan mana muslim dan mana yang bukan. Sehingga lingkungan pun tahu bagaimana caranya memperlakukan diri kita, bukan sebaliknya.



Wallahu'alam 



Istilah rumahku syurgaku menurut saya bukan hanya sekedar slogan biasa. Banyak makna tersirat di dalam slogan tersebut. Banyak orang yang menafsirkan bahwasloga rumahku syurgaku adalah slogan yang bermakna bahwa rumah adalah tempat peristirahatan dan tempat berlindung paling indah. Sehingga disamakan dengan kenyamanan setingkat di syurga. 

Saya juga sepakat dengan penafsiran tersebut. Tapi saya memiliki penafsiran lainnya berkaitan dengan "rumahku syurgaku" ini. 

Setiap hari masing-masing anggota keluarga beraktifitas sesuai dengan peranannya masing-masing. Seorang ayah bekerja setiap hari karena memang tugasnya mencari nafkah yang halal bagi keluarganya. Seorang ibu bertugas sebagai manajer dalam rumah tangga, mengatur rumah secara fisik (membersihkan, menata, memperindah, dan lain sebagainya), mengatur rencana pengeluaran dan pemasukan keuangan, mengatur gizi keluarga, bahkan mengatur penampilan setiap anggota keluarga. Dan seorang anak berkewajiban mentaati perintah orang tua, selama tidak bertentangan dengan Qur'an dan Hadits. 

Setiap anggota keluarga berkolaborasi demi terwujudnya cita-cita atau visi rumah tangga mereka masing-masing. Terutama orang tua (ayah dan ibu) mereka adalah pilot dan co-pilot dalam penerbangan menuju cita-cita mulia ini. 

Dalam sebuah rumah-lah pribadi-pribadi (ayah, ibu, dan anak) ini berkolaborasi dan berkembang bersama. Sehingga rumah lah yang pertama kali membentuk karakter masing-masing anggota keluarga. Dan tentunya karakter ini akan di bawa baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Seringkali kita melihat anak atau bahkan seorang ayah /ibu yang penampilannya urakan atau tidak rapi. Ada juga anak atau seorang ayah/ibu yang gaya hidupnya sangat boros, tidak mampu mengendalikan keinginan untuk membelanjakan uang untuk hal yang tidak perlu. Dan ada seorang anak dan seorang ayah/ibu yang berprilaku jorok atau tidak bersih, sehingga perilaku hidupnya tidak sehat.

Hal-hal diatas merupakan karakter seseorang ketika berada di masyarakat, dan saya yakin karakter tersebut sangat dipengaruhi oleh karakter atau perilaku yang dibentuk di rumah. Misalnya ada seorang ayah yang suka bermalas-malasan ketika bekerja, atau anak yang malas mengerjakan tugas sekolah. Mungkin di rumah manajemen waktu yang diterapkan kurang  baik. Atau ada seorang ibu yang sangat boros, bisa jadi di rumah memang tidak ada pengaturan atau SOP sistem pengeluaran dan pemasukan keuangan yang disepakati bersama (sistem keuangan keluarga tidak jelas/buruk).

Menurut saya, fungsi-fungsi ini lah yang menjadikan keluarga disebut sebagai institusi terkecil dari pendidikan. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak, merupakan kumpulan karakter dan personal yang berinteraksi secara intens di dalam rumah. Karakter yang dibentuk di rumah inilah "pakaian" masing-masing anggota keluarga dalam bermasyarakat. Alangkah sedihnya apabila ada seorang ayah yang memiliki kedudukan atau prestasi tinggi di dalam bidang pekerjaan namun memiliki "pakaian" yang tidak baik. Pastinya kerugian bukan hanya timbul bagi dirinya dan keluarganya, tapi lebih jauh lagi kerugian ini akan ditanggung oleh masyarakat dan negara (contohnya koruptor).

"Rumahku syurgaku" memang kalimat yang sangat sederhana, Namun bagaimana caranya agar kalimat tersebut menjadi sebuah filosofi dalam membina sebuah institusi yang bernama keluarga. Bagaimana caranya agar seluruh anggota institusi tersebut 'berpakaian" seperti para penguhuni syurga, yang memberikan keindahan akhlak dan nilai manfaat yang besar bagi seluruh lapisan masyarakat. 

"Tidak ada yang lebih hangat selain dekapan seorang ibunda"


Diah (kanan)

Namanya Diah, usianya belum genap 5 tahun ketika saya bertemu dengannya ketika Himpunan Mahasiswa jurusan tempat saya kuliah dulu melakukan program P2M singkatan dari Pengabdian Pada Masyarakat. 
P2M sendiri merupakan suatu program yang dilakukan secara swadaya oleh mahasiswa dalam rangka mengamalkan tri dharma perguruan tinggi, yakni pengabdian. 

Kala itu bulan Januari 2010 himpunan mahasiswa melakukan pengabdian pada masyarakat di kabupaten Subang Jawa Barat. Tepatnya di dusun Cibuluh, Parung Jaya. Kami melakukan pengabdian selama satu minggu di desa tersebut. Program kerja dan acara yang kami selenggarakan cukup beragam, sesuai dengan berbagai bidang kerja yang ada di himpunan itu sendiri. Misalnya bidang Agama, biasanya bidang agama melakukan pengajian atau ta'lim bagi warga sekitar dan menyelenggarakan Taman Pendidikan Al-Qur'an bagi anak-anak di lokasi P2M. Sedangkan bidang lain, seperti olah raga melakukan perlombaan-perlombaan olah raga antar warga. Sedangkan bidang pengembangan sumber daya organisasi biasanya akan berkolaborasi dengan karang taruna setempat untuk berdiskusi dan sharing pengalaman seputar organisasi.