Yiiipiiiieee...


Weekend kemarin kita sekeluraga (abi-ummi-kifah) jalan-jalan ke sebuah tempat rekreasi yang ada di Jalan Raya Gunung Kapur-Ciseeng Kabupaten Bogor. Lokasinya terletak di Ciseeng Bogor. Tempat ini bisa diakses melalui BSD-Puspiptek-Prumpung-Ciseeng atau Bogor-Parung-Ciseeng/Bogor-Jampang-Ciseeng. 
Lokasinya memang tidak terlalu mencolok/tidak kelihatan dari jalan raya, jadi memang harus teliti untuk melihat sekeliling jalan untuk menemukan tempat wisata ini.


Plang nama



Tanggal 12 Juni 2014 kemarin adalah ulang tahun anakku semata wayang 'Muhammad Kifah Abdullah Sidik' Walaupun ulang tahunnya gak dirayakan seperti anak-anak pada umumnya, ummi dan abi selalu berharap kifah jadi anak yang shaleh, sesuai dengan nama yang disematkan yakni hamba Alloh yang memperjuangkan kebenaran. Aamiin.



Saya adalah seorang istri dan juga ibu dari seorang anak laki-laki yang bernama Muhammad Kifah Abdullah Sidik.

Lahir di sebuah desa kecil, Cigarawangi, Rancah, Ciamis, 30 Mei 1990. 


Menyelesaikan studi Strata 1 Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2012. Oleh karena itu, saya sangat mencintai ilmu pendidikan.

Hobby saya adalah traveling alias jalan-jalan. Siapa sih yang gak suka sama traveling? 

Hihi.

Nge-blog adalah hobi baru yang sangat saya suka. Selain bisa mengeksplorasi keterampilan menulis, nge-blog juga bisa menyalurkan hobi saya yang lain yaitu fotografi. 

Fotografi yang saya suka sih foto-foto yang bersifat makro. Seperti foto produk, makanan, pokoknya yang makro-makro deh fotonya. Soalnya paling gak pede kalo moto orang atau landscape.

Untuk dunia tulis menulis sendiri, saya masih dibilang newbie banget. Pernah sih berkontribusi jadi redaksi mading Rohis waktu SMA dan beberapa kali mengikuti event lomba mading. Yah waktu itu masih zaman ABG, masih lucu-lucunya. 

Cita-cita saya sih maunya jadi Blogger profesional dan juga menjadi penulis buku Best Seller. *gapapa dong mimpi, mumpung gratis*

Aamiin.

Karena menulis membuat kita memiliki karya abadi yang bisa diwariskan kepada anak cucu dan juga bermanfaat bagi orang lain dong tentunya. 

Saya senang bertemu dan berkenalan dengan banyak orang. Menjalin silaturahmi dan mengeksplorasi hal-hal baru dari orang lain. 

Ingin bersilaturahmi dengan saya?

email   : tettytanoyo@gmail.com
FB       : Tetty Hermawati Sidik
twitter :  @tettytanoyo


Terima kasih telah berkunjung ke blog ini ya :)







Pagi itu saya naik angkot ke suatu tempat, sekitar jam 6 pagi. Di dalam angkot saya berbaur dengan banyak penumpang. Anak sekolah, karyawan, dan juga para pedagang. Mereka semua tentu saja berangkat pagi-pagi demi memulai aktifitas tanpa kesiangan bahkan tanpa kegagalan.

Disudut dekat pintu angkot ada beberapa anak laki-laki berseragam sekolah. Putih biru dan putih abu-abu. Di sisi satunya lagi ada seorang anak laki-laki (seusia anak berseragam putih abu) menjinjing sebuah tempat yang berisi beragam mainan yang terbuat dari bambu (batang dan akar bambu). Disebelahnya duduk seorang bapak yang juga membawa barang yang sama. Saya kira bapak tersebut adalah ayah atau pamannya. Mereka nampak akrab. 

Semua penumpang tentu punya tujuan masing-masing. Ada yang hendak ke sekolah, ada yang ke tempat kerja, dan mungkin ada pula ke suatu tempat untuk menjajakan dagangan. Ada satu hal yang membuat saya terus bercakap-cakap sendiri dalam hati. Yakni ketika melihat seorang anak berseragam abu, lengkap dengan tas dan sepatunya yang bagus. Sedangkan satunya lagi seorang anak (dengan usia yang saya perkirakan sama) menenteng barang dagangan (mainan dari bambu). Ia berkemeja kotak dengan warna yang sudah pudar, bercelana panjang, sepatu, dan kulit yang agak gelap (mungkin karena sengatan matahari). 

What do you think about it?

Dalam situasi yang sama, keadaan yang sama, kendaraan yang sama, usia yang sama, namun mereka memiliki KESEMPATAN yang berbeda. Kita tidak sedang menghakimi, bahwa yang berseragam akan lebih sukses dari yang tidak berseragam. Tapi mari berpikir betapa berwarnanya hidup ini. Begitu banyak skenario yang dimainkan setiap hari. Mereka hanya saling menatap, mereka mungkin sedang berpikir, apa yang mereka jalani hari ini memang sudah jadi bagian dari drama kehidupan mereka masing-masing.

Melihat pemandangan sepanjang di dalam angkot membuat saya terus berpikir. Seseorang diberi kesempatan untuk "bersenang-senang" menuntut ilmu hingga jauh, disisi lain ada yang sedang bekerja keras untuk lembar demi lembar rupiah. Ironi bukan?

Hikmahnya. Saya sendiri sulit melihat kesempatan yang begitu banyak datang (dan mungkin saya biarkan pergi). Karena mata ini masih tertutupi air mata penyesalan akan hal yang tidak dapat saya dapatkan. Sayang sekali bukan?