Review Omron Mesh Nebulizer NE-U100: Alat Nebulizer yang Hebat, Praktis, dan Mudah Dibawa Kemana-mana bagi Anak Penderita Asma


Assalamu’alaikum, halo semuanya apa kabar? Semoga sehat selalu ya. Ibu, Ayah, Anak, pokoknya sehat dan bahagia selalu hari ini dan seterusnya. Amiiin.

Bicara soal sehat, kayaknya beberapa waktu belakangan ini Saya sering ngomongin seputar alergi dan asmanya Kifah. Di blog ini dan juga di Instagram feed dan stories.

Kenapa? Karena memang kasus alergi anak dan juga asma akhir-akhir ini makin sering dibicarakan oleh para ibu baik di dunia nyata maupun media sosial di internet. Karena Saya adalah salah satu Ibu dengan anak yang memilki penyakit alergi dan asma, Saya merasa terpanggil untuk ikutan sharing mengenai alergi dan asmanya Kifah.

Saya sendiri pernah menulis pengalaman merawat anak alergi dan asma di tulisan berikut ini. Gak seperti sekarang yang akses media sosialnya lebih massive, kalau dulu sekitar 8 tahun yang lalu, saat Kifah bayi, akses informasi mengenai anak alergi dan asma gak segencar sekarang, makanya dulu Saya feel alone banget, dan merasa up and down menghadapi anak yang menderita alergi dan asma.

Bahkan Saya sempat merasa stres atau frustasi menghadapi Kifah yang sering bulak balik ke RS, Klinik, atau pun UGD.

Dan ini selaras dengan apa yang dikatakan Prof.Dr.dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A (k). M.Kes. Seorang Dokter spesialis anak, alergi dan imunologi. Bahwa anak yang menderita alergi (pada kasus Kifah menjadi asma) akan berdampak psikologis bagi orang tua dan anak itu sendiri. Yaitu orang tua dan anak menjadi stres atau frustasi.

Apa itu Asma?

Asma Bronkial adalah kondisi medis yang menyebabkan jalan nafas paru-paru membengkak dan menyempit. Karena pembengkakan ini, jalur udara menghasilkan lendir yang berlebihan sehingga sulit untuk bernafas, yang menyebabkan batuk, nafas pendek, dan juga mengi (nafas berbunyi ngik ngik).

Review Omron Mesh Nebulizer NE-U100: Alat Nebulizer yang Hebat, Praktis, dan Mudah Dibawa Kemana-mana bagi Anak Penderita Asma

Batuk terus menerus, terutama pada malam hari adalah salah satu ciri-ciri serangan asma
Prof.Dr.dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A (k). M.Kes mengatakan penyakit asma ini bisa disebabkan karena alergi saat masih bayi, dan benar memang, sebelum Kifah menderita asma, ketika bayi Kifah alergi protein susu sapi dan menyebabkan dermatitis atopik pada area kulitnya. Dan sekitar usia 3 tahun, ketika Kifah batuk tak kujung sembuh, Kifah divonis menderita asma oleh dokter.

Setiap orang memang memiliki serangan asma yang berbeda-beda, ada yang ringan dan ada pula yang berat, tapi jika diabaikan, asma ini akan berakibat fatal bahkan menyebabkan kematian. Oleh karena itu, jika memang anak atau keluarga Kita sudah jelas memiliki penyakit asma, lebih baik mengontrol asma tersebut agar tidak kambuh atau memiliki prosedur penanganan yang baik dan tepat ketika tiba-tiba asma menyerang di waktu –waktu tertentu.

Penyebab Asma

Masih menurut Prof.Dr.dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A (k). M.Kes, penyakit asma ini dikarenakan oleh alergi yang memang disebabkan karena adanya faktor keturunan dan faktor lain.

Faktor-faktor yang memicu reaksi asma  adalah:

1. Paparan zat seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, pasir, tungau, atau bakteri.
2. Infeksi virus seperti pilek dan flu atau pneumonia
3. Polusi udara, asap, asap kendaraan, asap rokok, dll
4. Stres dan kecemasan
5. Aktivitas fisik atau olahraga
6. Cuaca
7. Bahan tambahan makanan atau MSG

Kalau Saya amati, untuk Kifah sendiri, dia akan kambuh asmanya jika terlalu kelelahan beraktivitas, jajan sembarang (bahan makanan yang mengandung pengawet, pewarna, MSG, yang berlebihan), dan juga jika udara/cuaca dingin.

Gejala yang sering muncul ketika asma Kifah kambuh seperti batuk yang tak kunjung sembuh, seringnya terjadi pada malam hari, sulit bernafas (ketika bernafas, wajah dan leher sampai keluar keringat), mengi (nafas berbunyi ngik ngik), merasa mudah lelah, kesal, dan murung. Sering bersin, pilek, bahkan sakit kepala. Serta sulit tidur.

Seperti yang sudah Saya katakan di atas, bahwa Saya pernah merasa stres, frustasi, dan lelah ketika menghadapi kenyataan bahwa Kifah mengidap asma. Biasanya Saya jadi sensi, emosian, dan mudah marah ketika Asma Kifah mulai kambuh.

Kenapa?

Karena yang terbayang adalah capeknya bulak-balik ke klinik atau Rumah Sakit. Kemudian lelah harus ke UGD ketika asmanya menyerang. Kifah pernah ke UGD tengah malam, menjelang shubuh/dini hari, pagi hari, siang hari, sore hari. Semua waktu pernah dijalani untuk pergi ke UGD guna memberikan pertolongan pertama untuk Kifah dengan menggunakan nebulizer atau biasa disebut alat uap.

Dulu, setiap Kifah sesak nafas, seringnya ke UGD untuk diuap. Hingga pada suatu saat, dokter yang menangani Kifah memperbolehkan Kami memiliki alat uap atau nebulizer sendiri di rumah. Agar kami tidak panik dan tidak usah bulak balik ke RS atau UGD jika serangan asmanya ringan.

Catatan: untuk obatnya silakan dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu ya.

Alat Uap atau Omron Mesh Nebulizer NE-U100 untuk Asma Kifah

Review Omron Mesh Nebulizer NE-U100: Alat Nebulizer yang Hebat, Praktis, dan Mudah Dibawa Kemana-mana bagi Anak Penderita Asma

Saat ini, di rumah, Kami menggunakan alat uap atau Omron Mesh Nebulizer NE-U100. Bentuknya sangat kecil, ringkas, ringan, sangat simpel dan mudah digunakan.

Enaknya  Omron Mesh Nebulizer NE-U100 ini memang sangat cocok digunakan untuk yang memiliki anak dengan asma. Kenapa? Karena kecil, ringan, ringkas, simpel, mudah digunakan dan yang terpenting ini sangat mudah dibawa kemana-mana.

Karena ketika Kami sekeluarga mudik ke Bandung (dengan cuaca yang dingin) otomatis alat uap atau nebulizer ini perlu dibawa, karena khawatir Kifah kambuh di rumah nenek atau bahkan kambuh di jalan.

Selain itu, alat uap atau Omron Mesh Nebulizer NE-U100 sangat cocok dimiliki untuk anak yang memiliki asma untuk menemani keseharian dan aktivitasnya.

Dulu Saya sempet sedih, bingung, dan kepikiran. Gimana kalau Kifah kambuh asmanya ketika kelelahan latihan karate atau setelah main sepak bola, karena Kifah anaknya aktif sekali. Apalagi Kifah juga mulai aktif di kegiatan Pramuka sekolah. Kalau asmanya kambuh ketika kemping gimana ya? Kan gak ada colokan listrik? Gimana kalau UGD atau RS jauh?

Alhamdulillah setelah memiliki alat uap atau Omron Mesh Nebulizer NE-U100 keresahan Kami sebagai orang tua terjawab sudah solusinya.

Kelebihan Alat Uap atau Omron Mesh Nebulizer NE-U100

1.Dengan Advanced teknologi yang bisa diandalkan untuk meningkatkan efektivitas nebulisasi.

2.Mesh Technology, dengan teknologi terbaru menggunakan titanium vibrator yang mampu memecah ukuran partikel  menjadi sangat kecil sehingga proses nebulisasi lebih efektif.

3.Efisien, proses nebulisasi menjadi lebih efisien dan cepat, karena partikel obat yang masuk ke dalam paru-paru lebih kecil, jadi lebih cepat meredakan serangan asma.

4.Bisa digunakan 360 derajat, sehingga bisa digunakan dalam posisi apapun, bahkan dalam posisi tidur tanpa khawatir obatnya tumpah.

5.Mudah dibersihkan, alat uap atau  Omron Mesh Nebulizer NE-U100 sangat mudah dibersihkan.

6.Mudah digunakan karena sangat nyaman dalam genggaman.

7.Tidak berisik, alat uap atau  Omron Mesh Nebulizer NE-U100 ini sama sekali tidak mengeluarkan suara berisik.

Review Omron Mesh Nebulizer NE-U100: Alat Nebulizer yang Hebat, Praktis, dan Mudah Dibawa Kemana-mana bagi Anak Penderita Asma

Review Omron Mesh Nebulizer NE-U100: Alat Nebulizer yang Hebat, Praktis, dan Mudah Dibawa Kemana-mana bagi Anak Penderita Asma

Penggunaan alat uap Omron Mesh Nebulizer NE-U100 bisa digunakan dengan berbagai posisi, dari posisi duduk hingga posisi tidur.

Berikut video cara penggunaan nebulizer Omron Mesh Nebulizer NE-U100:



Review Alat Uap atau Omron Mesh Nebulizer NE-U100


Review Omron Mesh Nebulizer NE-U100: Alat Nebulizer yang Hebat, Praktis, dan Mudah Dibawa Kemana-mana bagi Anak Penderita Asma

Satu set alat uap/nebulizer Omron NE-U100 yang ada di dalam box


Saya sendiri merasa sangat puas dengan Omron Mesh Nebulizer NE-U100 ini.

Pertama, alat uap ini beneran cepat cara kerjanya, bahkan 2x lipat lebih cepat meredakan serangan asma Kifah. Partikel uapnya memang sangat kecil dan halus, sehingga mudah dihirup oleh anak-anak seperti Kifah.

Kedua, mudah dibawa kemana-mana. Alat uap atau Omron Mesh Nebulizer NE-U100 kecil dan ringan banget. Gak pakai listrik, cukup pakai baterai aja. Karena nebulizer Omron Mesh Nebulizer NE-U100 meredakan serangan asma lebih cepat, jadi baterainya pun cukup hemat.

Ketiga, gak bising sama sekali. Waktu awal menggunakan, Saya dan suami pun sampai bingung, ini sebenernya alatnya udah nyala atau belum. Saking gak ada suaranya sama sekali. Ini penting banget buat dipakai di jalan, gak ganggu orang lain. Dan ketika digunakan tengah malam pun suara Omron Mesh Nebulizer NE-U100 gak ganggu adik-adiknya Kifah yang sedang tidur.


***

Review Omron Mesh Nebulizer NE-U100: Alat Nebulizer yang Hebat, Praktis, dan Mudah Dibawa Kemana-mana bagi Anak Penderita Asma

Pernafasan kembali lega setelah menggunakan nebulizer Omron NE-U100
Menurut Saya pribadi, jika memang anak sudah diketahui menderita asma, sebaiknya dikomunikasikan ke dokter dan meminta izin dokter apakah boleh memiliki alat uap atau nebulizer sendiri di rumah.


Karena berdasarkan pengalaman, memiliki alat uap atau nebulizer sendiri di rumah sangat membantu untuk meringankan gejala asma anak. Tidak perlu capek ke RS atau UGD jika anak menunjukkan serangan asma.

Selain itu, memiliki alat uap atau  Omron Mesh Nebulizer NE-U100 ini seperti memiliki investasi alat kesehatan, karena jika dibandingkan dengan harus bulak-balik ke RS untuk melakukan nebulisasi, yang memakan waktu, tenaga, biaya yang tidak murah.

Menggunakan Omron Mesh Nebulizer NE-U100, serangan asma pada anak cepat diredakan dan menghemat biaya juga, karena pemakaian alat uap atau nebulizer ini adalah usaha untuk mempermudah Kita menangani asma di rumah dan bisa digunakan untuk jangka panjang.

Sehingga bisa Saya katakan, alat uap atau Omron Mesh Nebulizer NE-U100 ini Saya rekomendasikan untuk dimiliki bagi keluarga yang memiliki anak dengan penyakit asma. Satu lagi, selain kelebihan yang sudah Saya sebutkan sebelumnya, alat uap atau  Omron Mesh Nebulizer NE-U100 juga made in Japan dan memberikan 2 tahun garansi alat bagi para konsumennya.

Pernah menggunakan Nebulizer dari Omron juga? Sharing yuk di kolom komentar :D


Review Erha TruWhite Body Series: Solusi Kulit Kering dan Kusam

“Tetty, jangan lupa nyisir ya.”

Seorang sahabat menulis pesan via Whatsapp kepada Saya. Dan seketika Saya pun tertawa terbahak-bahak dan berpikir, yaa ampun. Kayaknya permasalahan ibu rumah tangga itu dimana-mana sama deh.

LUPA NGURUS DIRI SENDIRI.

Bahkan buat nyisir rambut pun udah gak sempet dan gak ada waktu. Hayo? Siapa yang begini juga?

Salah satu artikel di Kompas.com membuat Saya sedikit tercengang sambil ngangguk-ngangguk. Karena menurut artikel tersebut, tugas ibu rumah tangga adalah yang “terberat” dibanding pekerjaan lainnya.

Menurut riset, tugas ibu rumah tangga membutuhkan waktu setidaknya 98 jam kerja seminggu. Ini 2,5 kali lipat lebih besar dari profesi lainnya.

Temuan tersebut didapatkan dari hasil survei terhadap 2.000 ibu rumah tangga di Amerika Serikat yang memiliki anak 5-12 tahun. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa biasanya ibu rumah tangga bekerja mulai pukul 06.23 pagi hingga 8.31 malam setiap harinya.

Jumlah jam kerja tersebut lebih panjang 14 jam daripada profesi lainya.

Dilansir dari lama The Independent, riset ini dilakukan oleh sebuah perusahaan jus di Amerika. Periset juga menemukan bahwa rata-rata ibu rumah tangga hanya memiliki waktu 1 jam 7 menit untuk dirinya sendiri setiap harinya.

Riset juga mengungkapkan bahwa 40 persen ibu mersa hidupnya didominasi oleh hal yang tidak pernah berakhir.

Hmmm, kalau Saya sendiri sih setuju dengan hasil riset tersebut, hehehe *mencari pembenaran.

Karena memang setiap harinya Kita hanya fokus mengurus rumah, suami, anak, dan hal lainnya. Sangat sedikit sekali waktu yang digunakan untuk merawat diri sendiri. Makanya banyak sekali ibu rumah tangga yang “menuntut” Me Time sebagai salah satu solusi menjaga “kewarasan” atau keseimbangan hidup.


Ibu rumah tangga emang "gak ada matinya" 😂

Pernah satu waktu Saya menginap dengan seorang teman untuk melakukan liburan tanpa anak-anak. Dan ketika saya selesai mandi, ia berkomentar, “Kok mandinya cepet banget?”

Wkwkwkw.

Seketika Saya langsung tersenyum, “Hahaha, kebiasaan di rumah, mandi kilat karena udah ditangisin sama anak-anak. Lupa kalau sekarang lagi liburan, harusnya mandinya bisa lebih santai yaa.”

Ya ampun, saking sibuknya setiap hari. Mandi kilat jadi kebiasaan lama-lama.

Ibu-ibu ngerti banget lah ya, baru nyalain keran aja udah ada yang nangis dan gedor-gedor pintu kamar mandi.

Karena punya waktu yang sangat sedikit untuk merawat tubuh itu lah akhirnya Saya harus cari cara untuk sebisa mungkin merawat tubuh supaya kulit tubuh dan wajah gak kusam.

Sebagai ibu rumah tangga soalnya gak hanya diam di rumah aja kan? Setiap hari harus jadi macan ternak (mama cantik anter anak). Panas, polusi, debu nyangkut semua deh di kulit wajah dan badan.

Maka dari itu, Saya pikir, mandi pakai sabun aja kurang cukup deh, harus mandi pakai scrub dan pakai body moisturizer setiap hari supaya kulit tetap sehat dan gak kusam.

Mengatasi Kulit Kering  dan kusam denan ERHA TruWhite Activator Body Scrub dan TruWhite Activator Body Moisturizer


Review Erha TruWhite Body Series: Solusi Kulit Kering dan Kusam


Sebelumnya, Saya juga pernah mencoba produk ERHA yaitu untuk merawat kulit wajah yang berminyak dan berjerawat, hasilnya pun cukup memuaskan di kulit wajah Saya.

Nah, sekarang , Saya ingin mencoba rangkaian produk ERHA lainnya yaitu ERHA TruWhite Activator Body Series.



Pas banget rasanya dengan keluhan Saya sebagai ibu rumah tangga yang gak punya cukup waktu untuk merawat dan menjaga kesehatan kulit tubuh. Agar kulit tubuh tetap Stay True dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Rangkaian ERHA TruWhite Activator Body Series ada dua. Yaitu ERHA TruWhite Activator Body Scrub dan ERHA TruWhite Activator Body Moisturizer.


Review Erha TruWhite Body Series: Solusi Kulit Kering dan Kusam

Keluhan Saya, selain sulitnya punya waktu untuk merawat diri di rumah, yaitu warna kulit tangan Saya yang belang atau tidak rata, karena sering terpapar sinar matahari, debu dan polusi di jalan.

Sebenernya kalau Saya naik motor, tangan udah dibungkus rapi pakai sarung tangan, tapi yang namanya cuaca Jabodetabek yang lagi panasssss banget, pake sarung tangan pun tetep aja bisa terpapar cahaya matahari dan debu jalanan.

Maka dari itu, antara kulit tangan yang tekena sinar matahari dan tertutup pakaian itu beda banget. Yang tidak tertutup pakaian tentu saja lebih kusam bahkan cenderung menghitam warnanya. Hiks.

ERHA TruWhite Activator Body Scrub


Review Erha TruWhite Body Series: Solusi Kulit Kering dan Kusam
TruWhite Activator Body Scrub
Harga  Rp.199.000 (220g)

Akhirnya Saya memutuskan untuk pakai scrub lagi setelah sekian lama gak pakai scrub tubuh karena emang gak sempet dan gak ada waktu. Oleh karena itu, supaya bisa tetep bisa merawat tubuh supaya gak kusam, Saya punya jadwal untuk memakai Body Scrub. Biasanya sih satu atau dua kali dalam seminggu, yaitu di hari Rabu atau Jum’at.

Punya jadwal begini ternyata cukup berpengaruh juga lho, Kita jadi beneran meluangkan waktu untuk bebersih, ya walau dengan waktu yang gak banyak, hehehe.

Pertama kali saya coba ERHA TruWhite Activator Body Scrub ini adalah Scrubnya halus dan gak bikin perih.

Saya pernah punya pengalaman pakai Body Scrub tapi setelah itu kulit malah agak perih dan sakit, mungkin karena butiran scrubnya besar dan kasar.

Makanya waktu coba ERHA TruWhite Activator Body Scrub, Saya hati-hati banget pakenya. Tapi tahukah? Ternyata scrub di ERHA TruWhite Activator Body Scrub ini gak kasar, butirannya pun cukup kecil dan halus. Padahal perkiraan Saya scrubnya bakal kasar, ternyata gak sama sekali.

Setelah menggunakan scrub, efek yang Saya rasakan adalah kulit jadi halussssss. Beda banget ketika sebelum mandi, kulit kerasa kering dan gak enak. Setelah menggunakan ERHA TruWhite Activator Body Scrub, kulit tubuh jadi enakeun pisan.

Wanginya gimana?

Jujur aja, Saya pikir wanginya akan bau obat atau gimana, tapi ternyata enggak. Wanginya justru enak banget, gak berlebihan/menyengat. Kalau di Saya sih ERHA TruWhite Activator Body Scrub ini wanginya pas.

ERHA TruWhite Activator Body Scrub ini mengandung Niacinamide, D-Panthenol dan She Butter yang dapat membantu mencerahkan dan melembapkan kulit. Butiran Scrubnya pun bisa mengangkat kotoran dan sel kulit mati penyebab kulit kusam.

Selain itu, ERHA TruWhite Activator Body Scrub juga dilengkapi dengan kandungan menthol yang memberikan rasa sejuk dan segar. Menurutku mentholnya juga gak terlalu menyengat atau berlebihan, jadi di kulit pun lebih berasa segernya pas. Gak seperti menthol yang di pasta gigi ya gaes. Hehehe.

ERHA TruWhite Activator Body Moisturizer


Review Erha TruWhite Body Series: Solusi Kulit Kering dan Kusam
TruWhite Activator Body Moisturizer
Harga Rp.199.000 (250g)

Setelah mandi sambil scrub-an pakai ERHA TruWhite Activator Body Scrub. Setelahnya, Saya menggunakan ERHA TruWhite Activator Body Moisturizer.

ERHA TruWhite Activator Body Moisturizer ini diperkaya dengan kandungan Niacinemide, Mulberry Extract, dan Sodium Hyaluronate untuk membantu mencerahkan warna kulit, merawat kulit kusam, dan menjaga kelembapan kulit.

Teksturnya sendiri ringan dan tidak lengket di kulit. Jadi, setelah pakai ERHA TruWhite Activator Body Moisturizer, gak terlalu kerasa pakai lotion yang biasanya licin dan lengket.

Wanginya pun lembut dan tidak menyengat. Jujur sih, Saya kurang suka dengan produk Skin Care yang wanginya terlalu kuat atau menyengat. Saya lebih suka yang natural dan wanginya lembut aja.

Notes: Kemasan ERHA TruWhite Activator Body Series ini cukup besar lho, hampir sebesar kemasan air mineral. Jadi, menurut Saya, harganya cukup bersahabat mengingat ukurannya yang cukup besar.


Review Erha TruWhite Body Series: Solusi Kulit Kering dan Kusam
Ukuran ERHA TruWhite Activator Body Series ini memang cukup besar

Pemakaian ERHA TruWhite Activator Body Series setelah dua minggu.


Review Erha TruWhite Body Series: Solusi Kulit Kering dan Kusam
Sebelum pemakaian

Setelah Dua Minggu menggunakan ERHA TruWhite Activator Body Series yaitu Body Scrub dan Body Moisturizer, hasilnya adalah:


Review Erha TruWhite Body Series: Solusi Kulit Kering dan Kusam
setelah dua minggu pemakaian

Notes: Scrubnya Saya pakai 2x seminggu, Moisturizernya hampir setiap hari.

Pertama, kulit Saya yang sering terpapar sinar matahari (area punggung tangan) warnanya menjadi lebih rata, belangnya berkurang, warnanya juga tidak terlalu kusam.

Kedua, kulit menjadi tidak kering/lembab. Biasanya di kulit muncul garis-garis putih jika kulit terkena garukkan kuku. Nah, setelah pakai ERHA TruWhite Activator Body Series, garis putih ini berkurang (warnanya tidak seputih biasanya). 

Ketiga, kulit telapak kaki yang kasar, kering, pecah-pecah. (Bahasa sundanya mah rorombeheun) jauh lebih lembut. Karena digosok menggunakan scrub dan setelahnya dioleskan moisturizer.

Pemakaian ini tentunya akan Saya lanjutkan sampai Saya mendapatkan hasil yang maksimal.

Sekilas Tentang ERHA



ERHA sendiri berdiri berangkat dari karir seorang dokter bernama dr. Ronny Handoko SpKK(K) yang memulai praktek pribadinya pada tahun 1968, kemudian prakteknya sebagai dokter kulit pada tahun 1972.

ERHA pertama kali didirikan pada tahun 1999 di Kemanggisan, Jakarta. Sejak awal berdiri, ERHA mengedepankan konsep Personalized Therapy yang didukung oleh para dermatolog dan dokter terbaik.

ERHA membuat produk yang inovatif, dan layanan medis pun menggunakan teknologi tinggi.

Rangkaian produk ERHA dibuat dengan formulasi terbaik yang telah teruji klinis dan aman untuk digunakan.

Untuk dapat melayani seluruh masyarakat luas, ERHA kini hadir di 39 kota di Indonesia. Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, ERHA terus berkembang dan melebarkan sayap untuk menjangkau dan menjadi solusi kesehatan kulit kepada masyarakat Indonesia.

ERHA DermaCenter



ERHA DermaCenter adalah klinik-klinik pusat yang melayani dan memberikan solusi masalah kesehatan kulit secara menyeluruh yang terletak di kota-kota utama di Indonesia.

Tidak hanya memberikan produk, tetapi kombinasi dengan treatment medis.

ERHA DermaCenter hadir dengan fasilitas terlengkap dan teknologi terkini dan Medical Grade Standard. Serta didukung oleh dokter spesialis kulit senior yang memiliki pengalaman tidak hanya di aesthetic dermatology tetapi di clinical dermatology.

Ada 8 ERHA DermaCenter di Indonesia, yaitu:

1. ERHA DermaCenter Kemanggisan Jakarta 

2. ERHA DermaCenter Kelapa Gading Jakarta

3. ERHA DermaCenter Pondok Indah Jakarta

4. ERHA DermaCenter Bumi Serpong Damai Tangerang

5. ERHA DermaCenter Bandung

6. ERHA DermaCenter Yogyakarta

7. ERHA DermaCenter Surabaya

8. ERHA DermaCenter Medan


ERHA Clinic Kemang
Selain ERHA DermaCenter, hadir pula ERHA Clinic, ERHA Apothecary, dan ERHA Skin. Jika dikalkulasi, ERHA ini memiliki 95 cabang yang bisa Kita jadikan tempat untuk mendapatkan solusi dari masalah kulit kita lho yang tersebar di seluruh Indonesia.

Wah, keren ya.

Kalau Saya sendiri lebih suka ke ERHA Apothecary, karena ini adalah gerai penjualan produk ERHA yang gak mesti pakai resep dokter ketika membeli produk ERHA.


ERHA Apothecary
Produk ERHA TruWhite Activator Body Series ini bisa dibeli ERHA Apothecary ya. Dan lokasinya juga enak, ada di dalam Mall.

Yaitu di Gandaria City, Kota Kasablanka, Lippo Mal Puri, Pondok Indah Mall 2, Emporium Pluit Mall, Senayan City, Grand Indonesia, Metropolitan Mall Bekasi, Summarecon Mall Serpong, Central Park, Mall Kelapa Gading 2, Istana Plaza, Pacific Place, dan masih ada di beberapa tempat lagi.

Jadi sambil jalan-jalan, tetep bisa beli produk ERHA ya.

Tertarik dengan produk ERHA? Kamu bisa kunjungi website ERHA di https://www.erha.co.id/ https://www.erhastore.co.id dan Instagram  ERHA @erha.dermatology

_____

Apakah Kamu sudah pernah mencoba rangkaian ERHA TruWhite Activator Body Series ini? Bagaimana hasilnya? Share yuk di kolom komentar.




Pernah mendengar istilah alergi?

Yaitu orang yang tiba-tiba gatal, bengkak mata dan bibirnya setelah makan atau mengkonsumsi makanan/minuman tertentu. Atau, Mama sendiri salah satu ‘penderita’ alergi? Mudah gatal, bengkak, biduran, diare, bahkan sesak nafas ketika ‘salah makan’?

Maka dari itu, Alergi adalah keadaan dimana respon tubuh menjadi tidak normal terhadap bahan yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh. Bahan atau zat tidak berbahaya tersebut direspon berlebihan oleh tubuh menjadi gatal, ruam, bengkak, sesak nafas, diare, dll. Oleh karena itu, alergi ini erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh seseorang.

Kalau iya, kapan seseorang dikatakan alergi?

Apakah saat gatal atau bengkak setelah makan seafood? Atau ketika masuk ke rumah dan kedinginan di malam hari?

Dokter Budi sedang menjelaskan apa dan bagaimana solusi menghadapi alergi pada anak

Menurut Prof. Dr.dr.Budi Setiabudiawan, Sp. A (K) M. Kes Kita tidak bisa asal menduga ketika seorang anak menderita alergi. Misalkan kita mengira anak alergi terhadap udang, telur, udara dingin, dll, dan kita banyak sekali melarang anak mengkonsumsi makanan yang dikira sebagai pencetus alergi sehingga anak menjadi kesulitan makan makanan tertentu.

Alergi memang perlu observasi lebih lanjut, untuk mengetahui zat atau bahan apa yang menjadi “biang keladi” pemicu alergi tersebut.

Pernah suatu hari dr. Budi mendapatkan pasien anak yang menderita alergi. Orang tuanya mengatakan bahwa anak tersebut menderita alergi terhadap makanan tertentu, namun setelah diobservasi, ternyata biang kerok pencetus alergi pada anak tersebut bukanlah makanan melainkan tungau yang terdapat pada kasur, karpet, bantal, guling, dan perabotan rumah yang rentan dihinggapi oleh tungau.



WHO sendiri mencatat kasus alergi sekitar 30%-40% terhadap penduduk dunia, 35 juta penduduk dunia dinyatakan alergi terhadap makanan. Sedangkan di Indonesia sendiri tercatat 7,5% anak Indonesia alergi terhadap susu sapi. RSCM pun mencatat bahwa 23,8 % anak Indonesia alergi terhadap susu sapi dan 31% alergi terhadap telur.

Dan anak Saya pun termasuk dalam 7,5 % anak Indonesia yang alergi terhadap protein susu sapi *SO SAD*

Cerita tentang anak pertama Saya Kifah yang terkena alergi susu sapi sejak bayi hingga saat ini Kifah mengidap asma, sudah saya tulis di sini secara detail dan lengkap di tulisan ini.

Apa saja faktor yang menyebabkan anak beresiko terkena alergi?

1.Keturunan

Riwayat keluarga yang memiliki alergi tentunya akan meningkatkan resiko seorang anak menderita alergi. Keluarga yang utama pembawa alergi yang peru “diwaspadai” adalah ayah, ibu, dan saudara kandung.



Jika orang tua (ayah dan ibu) keduanya memiliki riwayat alergi, maka kemungkinan anaknya menderita alergi sekitar 60%-80%.

Jika salah satu orang tua (ayah atau ibu) memiliki riwayat alergi, maka kemungkinan anaknya menderita alergi adalah 20%-40%.

Jika saudara kandung memiliki riwayat alergi, maka kemungkinan anak menderita alergi adalah 25%-30%.

Jika orang tua tidak memiliki riwayat alergi, maka kemungkinan anak menderita alergi adalah 5%-15%. Kakek dan nenek tidak termasuk keluarga yang menurunkan resiko alergi, hanya ayah, ibu dan saudara kandung saja ya.

Dan, sedihnya Saya,  Kifah masuk ke dalam faktor resiko 5%-15% yaitu orang tua tidak memiliki riwayat alergi, tapi ternyata Kifah malah terkena alergi protein susu sapi.

2.Melahirkan dengan Cesar

Nah ini adalah fakta yang baru Saya dapatkan dari dr.Budi di acara Blogger dan Media Gathering dengan SGM Eksplor Advance+ Soya kemasan baru, Rabu, 28 Agustus 2019 kemarin.

Ternyata, anak yang dilahirkan secara Cesar pun sangat beresiko terhadap alergi. Salah satu penyebabnya adalah tertundanya perkembangan bakteri baik di dalam usus dan terjadinya perubahan sistem imun si kecil ketika lahir.

Maka dari itu, dr. Budi menyarankan, jika tidak ada hal darurat yang menyebabkan seorang Ibu harus melahirkan secara Cesar, melahirkan normal atau pervaginam lebih disarankan. Karena melahirkan melalui operasi Cesar akan meningkatkan resiko alergi pada anak.

Apa Saja Gejala Alergi yang Bisa Diamati?

Nah, salah satu cara untuk mengetahui anak alergi adalah dengan mengamati gejalanya. Biasanya seperti ruam merah, gatal, bengkak pada mata atau bibir, asma, diare, dll.

Ketika Kifah bayi, ada satu titik merah seperti gigitan nyamuk di pipinya, Saya kira itu hanya digigit nyamuk biasa, tapi itu merupakan gejala alergi.

Alergi sendiri tidak disertai dengan demam, dan biasanya gejala alergi akan timbul ketika malam hari.

Apa Saja Dampak Alergi terhadap Anak?

1.Gangguan Kesehatan

Anak yang menderita alergi tentunya mudah sekali terkena gangguan kesehatan. Anak saya sendiri, Kifah, seringkali menderita Asma dan dermatitis pada kulitnya.

2.Gangguan tumbuh kembang

Ini yang paling Saya khawatirkan, gangguan tumbuh kembang terhadap anak. Anak alergi beresiko mengalami gangguan tumbuh kembang.

3.Ekonomi

Mahalnya biaya pengobatan, keluar masuk rumah sakit, tentunya membutuhkan biaya yang tidak murah. Maka dari itu, anak alergi juga bisa menjadi salah satu faktor yang membuat keuangan keluarga menjadi tidak stabil/banyak pengeluaran pada pos kesehatan, karena mahalnya biaya pengobatan itu sendiri.

4.Psikologis

Ternyata, anak alergi juga bisa stres lho, Ma. Termasuk orang tuanya. Ya Saya sendiri mengakui cukup stres menghadapi anak yang alergi, dan berusaha menguatkan mental selalu.

Alergi juga bisa menyebabkan anak minder dalam pergaulan, karena mungkin merasa “berbeda” Saya sendiri sedang mengalaminya sekarang ini, Kifah sempat beberapa kali mendapatkan perundungan di sekolah dan semangat belajarnya pun menurun.

Bagaimana Mencegah Alergi pada Anak?

1.Pada masa kehamilan

Menurut dr.Budi. ini sangat penting. Di masa kehamilan, JANGAN PERNAH MELAKUKAN PANTANGAN TERHADAP MAKANAN TERTENTU.



Banyak sekali mitos ketika perempuan sedang hamil yang erat kaitannya dengan makanan, apalagi orang tua atau mertua yang masih menganggap saat hamil itu tidak boleh makan ini makan itu takut bayinya akan begini atau begitu.

Hal ini justru sangat salah. Saat hamil, makanlah semua varian makanan yang baik dan halal tentunya. Bahkan zat atau bahan yang bisa memicu alergi seperti seafood, susu sapi, harus dikonsumsi pada masa kehamilan.

2.Sesudah melahirkan

ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. ASI tentunya mencegah anak beresiko terkena alergi. Namun, jika memang ketika pemberian ASI pun anak tetap mengalami alergi, maka Ibu harus berhenti mengkonsumi makanan yang bisa membuat bayi alergi.

Sama seperti ketika masa kehamilan, pada saat memberikan MPASI bayi di atas 6 bulan. JANGAN MEMBERIKAN PANTANGAN MAKANAN kepada bayi. Berikan bayi varian makanan seperti udang, seafood, daging, ikan, telur, dan semua makanan yang mungkin saja bisa menjadi pencetus alergi. Kenalkan makanan tersebut sedini mungkin.

Bagaimana Memberikan Nutrisi yang Tepat Bagi Anak yang Menderita Alergi?

Jika anak Kita positif menderita alergi protein susu sapi dan produk turunan susu sapi seperti keju misalnya, hal yang pasti Kita pikirkan sebagai Ibu, bagaimana cara memberikan nutrisi yang tepat dan baik bagi anak?

Padahal susu adalah salah satu sumber protein, kalsium, yang berguna untuk tumbuh kembang anak.

Menurut dr.Budi, bagi anak yang alergi protein susu sapi, boleh mengkonsumsi  atau mengganti asupan susunya menggunakan susu formula hipoalergenik atau susu soya.

Pada acara Media dan Blogger Gathering bersama SGM Eksplor kemarin, SGM Eksplor dari Sarihusada, meluncurkan Susu SGM Eksplor Advance+Soya kemasan baru dengan 5 Kebaikan Complinutri Soy+ yang dipersembahkan bagi anak yang tidak cocok mengkonsumsi susu sapi.



Apa saja 5 Kebaikan SGM Eksplor Advance+ Soya?

1.) 100% Isolat protein  soya berkualitas.
2.)Mengandung Minyak Ikan dan Omega 3 & 6
3.)Bebas Laktosa
4.)Sumber Serat
5.)Mengandung 13 Vitamin dan 7 Mineral



Bersama Prof.Dr.dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A (K) M.Kes sebagai dokter spesialis anak dan ahli imunologi, hadir pula Prof.Dr.dr. Rini Sekartini, SpA (K) seorang Konsultan Tumbuh Kembang Anak.

Dokter Rini (kiri)

Beliau menjelaskan bahwa anak dengan alergi susu sapi tetap memiliki kesempatan tumbuh bekembang sama dengan anak yang lainnya. Mereka tetap bisa mendapatkan kebaikan protein dan nutrisi lainnya dari makanan dan juga susu soya.

Menurut hasil penelitian di tahun 2012, susu soya terbukti aman untuk dikonsumsi anak dan tidak berbeda dengan susu sapi. Anak tetap bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan usianya.

Sama seperti kasus Saya, Natasha Rizky juga memiliki anak yang alergi protein susu sapi. Awalnya ia dan suami merasa sangat khawatir terhadap tumbuh kembang anak keduanya tersebut. Hingga akhirnya mengetahui adanya solusi alternatif untuk memenuhi protein dan nutrisi lainnya melalui pemberian susu formula soya untuk mendukung tumbuh dan kembang buah hatinya.

Natasha Rizky sharing mengenai anak keduanya yang alergi terhadap protein susu sapi

Natasha Rizky juga memberikan tips bagi para ibu yang memiliki anak dengan alergi susu sapi, yaitu:

1.Mintalah suami dan keluarga untuk selalu mendukung kita dalam menjaga dan merawat anak yang alergi terhadap protein susu sapi.

2.Berikan edukasi terhadap keluarga, saudara, ataupun kerabat yang memang belum mengerti terhadap kasus anak yang alergi terhadap protein susu sapi.

3.Sebisa mungkin cuek terhadap orang yang memang nyinyir terhadap Kita dan kondisi anak Kita, karena mereka gak pernah tau kondisi Kita yang sebenarnya.



Bicara soal edukasi, SGM Eksplor pun memberikan edukasi terhadap masyarakat melalui kampanye digital #BundaTanggaAlergi dengan 3K, yaitu Kenali, Konsultasikan, Kendalikan. Juga melalui alergianak.com.

Edukasi tersebut, hingga saat ini berhasil mengedukasi 100 juta Bunda di Indonesia dan SGM berkomitmen untuk mendukung Bunda Indonesia memberikan yang terbaik bagi si kecil.

***

Sampai  di sini, apakah Mama semua sudah faham, apa dan bagaimana mengatasi masalah alergi protesin susu sapi pada anak?



Intinya, memiliki anak alergi memang sebuah ujian dan tantangan untuk Kita ya, Ma. Tapi jangan sampai patah semangat, karena di era digital dan terbukanya akses informasi seperti sekarang ini, Kita bisa banyaakkk sekali mendapatkan pengetahuan mengenai alergi anak dan solusinya.

Informasi seputar anak alergi bisa kita akses melalui alergianak.com juga melalui #BundaTanggapAlergi dan #SoyaDukungGenerasiMaju di media sosial.

Ada yang punya pengalaman dengan anak alergi protein susu sapi juga? Sharing yuk di kolom komentar :D