Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah


“Ummi kok jadi tua?”

“Ummi kok jadi gendut?”

“Ummi kok jadi jelek?”


Ya itulah sekelumit ocehan dan komentar anak anak melihat Umminya yang sudah sekian lama bersama mereka di rumah.


Saya tidak bekerja, dan ditambah lagi karena pandemi, saya gak kemana mana sama sekali setahun belakangan ini, jadi ya full bersama mereka di rumah. Alhasil, mereka kok kayak ngeh gitu dengan ‘progres’ emaknya ini. *Progres ke arah negatif sih sebenernya, soalnya komentar mereka jujur begitu, hahaha.

Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Satu tahun full bersama mereka di rumah aja


Memang sih, selama pandemi ini saya gak banyak beraktivitas di luar rumah, apalagi Kifah juga sekolah online, setiap hari gak kemana mana. Ternyata berdampak buruk juga nih terhadap ‘Performa’ diri saya. Males gerak alias MAGER, males olah raga, dan satu lagi, MALES SKIN CARE AN.


Ya awalnya saya pikir kan toh gak kemana mana, kan? Jadi buat apa deh pake skin care rutin siang malem, jadinya gitu, jarang bersihin wajah, jarang pakai night cream, jarang pakai UV protection, dan jarang pakai serum.


Padahal sebelumnya saya udah pakai serum loh, karena kan katanya menginjak usia kepala tiga, wajib nih pakai serum, supaya gak gampang keriput dan banyak memiliki masalah kulit.


Jerawat dan Kulit Kusam


Alarm kalau wajah saya gak keurus itu adalah JERAWAT. Beberapa kali muncul jerawat di area dagu, dahi, dan juga pipi. Padahal saya merasa gak keluar rumah lho, tapi kok aneh banget, wajah jadi jerawatan dan keliatan kusam (banyak komedo dan sel kulit mati menumpuk kayaknya).


Sejak wajah saya kembali jerawatan, akhirnya lambat laun saya jadi rajin lagi menggunakan skin care, pagi dan malam hari. 


Ketika jerawat sudah hilang, PR besar berikutnya adalah menghilangkan wajah kusam dan tak sedap dipandang. Apalagi anak anak komplen aja, “Ummi kok jadi tua.” Adeuh pengen uyel-uyel aja pipi mereka sampe merah. Bikin emaknya tambah insecure aja.


Akhirnya saya Googling deh, apa sih yang membuat kulit wajah kita bisa kusam? Toh kan gak pergi keluar rumah, gak kena debu atau kotoran di jalan? Nah, kenapa ya kira kira? 


Selain terkena debu dan kotoran, berikut ini adalah penyebab kulit kita bisa kusam walaupun di rumah aja.


1.Tidak Eksfoliasi alias tidak membersihkan sel kulit mati yang menumpuk pada kulit. Penumpukan sel kulit mati ini ternyata bisa menyebabkan kulit wajah kita nampak kusam dan muram. Haha, udah kayak takdir aja ya, muram.


2.Kurang minum dan nutrisi. Nah, ini saya banget, saya merasa kurang minum, padahal harusnya sekitar 2 liter air harus saya konsumsi setiap hari. Saya pernah hitung, ternyata konsumsi air minum saya baru setengahnya saja, hiks. Kekurangan cairan atau dehidrasi juga sangat berpengaruh pada ‘penampakan’ kulit kita.


3.Stres dan Kurang Tidur. Yang stres sama Belajar Daring coba angkat tangannya, Mak? Nah ini dia juga jadi biang keladi kulit saya jadi kusam. Setiap hari harus mikirin belajar daringnya Kifah yang sudah tepat satu tahun. Beneran bikin stres dan kurang tidur.


4.Hormon dan Make Up. Menurunnya hormon estrogen pada perempuan juga memicu peningkatan kadar minyak di wajah, sehingga wajah nampak kusam. Selain itu, pemakaian make up yang kurang cocok  juga bisa membuat kulit menjadi kering sehingga membuat kulit wajah tidak berseri bak bidadari.


Ya baiklah, saya sendiri memang mengakui keempat alasan di atas memang bisa menjadi faktor kenapa wajah saya bisa kusam. Terutama kurangnya konsumsi air minum dan stres karena pandemi covid 19 yang tidak berkunjung usai ini. 


*Saya udah setahun gak ke Mall gaes, gak kemana mana gaes. Coba, gimana gak stres? Mwahahaha.


Kembali Menggunakan Skin Care Secara Rutin


Karena di rumah aja pun bisa menyebabkan kulit kusam, akhirnya saya tobat deh, kembali lagi ke jalan yang benar. Saya janji akan rajin membersihkan wajah dengan teratur setiap hari, melakukan eksfoliasi secara rutin, dan menggunakan skin care yang cocok untuk membuat wajah tidak kusam dan lebih bercahaya.


Untuk pembersihan wajah, biasanya saya pakai produk pembersih dengan menggunakan kapas, ditambah dengan face wash juga. Sementara itu, untuk eksfoliasi, saya menggunakan scrub lembut, dan untuk skin care rutin ( pagi dan malam ) saya menggunakan serum (salah satunya).


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah


Produk yang coba saya pakai untuk ‘Menetralkan’ kembali dan juga mencerahkan wajah saya adalah. Scarlett Brightly Ever After Serum Plus face washnya pun saya pakai produk yang sama, yaitu produk Scarlett Brightly untuk mencerahkan wajah juga.

Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Hanya 75 ribu saja


Kenapa saya coba Scarlett, karena banyak yang udah pakai (di media sosial) dan harganya juga cukup terjangkau, hanya 75 ribu saja. Belinya bisa di Shopee (https://shopee.co.id/scarlettofficialshop) Buat para pejuang uang belanja tetap aman sih, menurut saya harganya cukup bersahabat yaaa.


Kandungan Scarlett Brightly Ever After Serum ini ada apa aja?


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah


Lavender Water. Fungsinya untuk melawan bakteri penyebab jerawat, mengatasi peradangan pada kulit, detoksifikasi kulit, meningkatkan sirkulasi darah dan menghaluskan kulit.


Phyto Whitening. Mencerahkan kulit wajah dan sangat aman bagi kulit, tanpa menyebabkan iritasi kulit.


Niacinamide. Melembabkan kulit, mengatasi jerawat, menyamarkan noda hitam dan mencegah kanker kulit melanoma.


Glutathione. Meningkatkan kelembapan dan elasitisitas kulit, memberikan perlindungan dari radikal bebas, membuat kulit lebih sehat dan terlihat glowing.


Vitamin C. Fungsinya adalah menghilangkan flek dan bekas jerawat, mencegah dan melindungi kerusakan sel dan jaringan kulit akibat paparan radikal bebas yang menyebabkan penuaan dini pada kulit.


Penggunaan Scarlett Brightly Ever After Serum Selama 2 Minggu Untuk Menghilangkan Noda Bekas Jerawat.


Jadi, pas banget abis dapet jerawat segede Stupa Candi Borobudur, langsung aja deh saya eksekusi bekasnya pakai Scarlett Brightly Ever After Serum.


Review Scarlett Brightly Ever After Serum.


Start tanggal 9 Maret 2021 sampai tanggal 22 Maret 2021.


Foto pertama (Tanggal 9 Maret 2021)

Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Awalnya bekas jerawat ini agak merah kehitaman dan tebal.


Foto kedua (Tanggal 22 Maret 2021)


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Setelah saya pakai dua minggu, noda bekas jerawat  memudar.


Bekas jerawat saya membandel karena ukurannya besar dan nodanya cukup hitam pekat. Selain itu, masalah saya lainnya adalah kulit kusam karena komedo juga. 


Setelah menggunakan Scarlett Brightly Ever After Serum selama 2 minggu, hasil yang  saya rasakan adalah:


1.Noda bekas jerawat memudar


2.Kulit wajah terlihat lebih baik/lebih cerah dari sebelumnya


Tekstur Scarlett Brightly Ever After Serum


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Teksturny agak cair tapi tidak lengket ketika diaplikasikan di wajah


Menurut saya, tekstur Scarlett Brightly Ever After Serum ini, sama seperti serum pada umumnya. Bening, agak pekat sedikit (pekat tapi agak cair gitu, deh). Sehingga, ketika diudapkan ke seluruh wajah bisa merata dan menyerap dengan baik.


Aroma Scarlett Brightly Ever After Serum ini adalah aroma asli bahan yang terkandung di dalamnya, jadi gak ada wangi bunga atau parfum. Mungkin, kalau terbiasa dengan skin care yang wangi wangi, Scarlett Brightly Ever After Serum  ini agak berbeda ya wanginya.


Baca juga: Review Body Care Scarlett Untuk SPA ala Rumahan


Harga Scarlett Brightly Ever After Serum  dengan Kualitasnya.


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah



Di atas sudah saya sebutkan harganya. Untuk produk serum 75 ribuan, saya rasa, semua ibu rumah tangga di rumah boleh mencobanya, kalau memang punya masalah kulit kusam dan ada noda bekas jerawat.


Saya cukup puas dengan serum Scarlett Brightly Ever After Serum  by Scarlett ini. Bagi yang ingin mencoba Scarlett Brightly Ever After Serum , untuk hasil yang lebih maksimal, saya sarankan menggunakan semua rangkaiann Scarlett Brightly Ever After dari Scarlett ya.


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Kemasannya mungil dan lucu


Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Saya juga pake Whitening Facial Washnya juga. Wangi dan ada butiran gel scrubnya.



Review Scarlet Brightly Ever After Serum pencerah wajah
Ini enakeun di wajah 


Apakah ada yang sudah pernah coba Scarlett Brightly Ever After Serum by Scarlett juga? Sharing yuk di kolom komentar.

 
cara mengatasi tantrum pada anak


“Anak itu dititipkan kepada kita tanpa manual booknya, maka dari itu orang tua harus senantiasa belajar bagaimana cara mengasuh dan mendidik anak-anaknya tanpa putus asa.”


Kenapa saya menyelipkan kata ‘Putus Asa’ pada kutipan di atas? Karena saya pernah merasakan berada di titik terendah mengasuh anak, bisa dibilang hampir ‘putus asa’.


Mengapa demikian? Penyebabnya adalah tantrum pada anak yang tidak kunjung usai. Tantrum yang menyita dan menguras seluruh energi, emosi, waktu, pikiran, dan lain sebagainya.


“Ulangi!”

“Buang!”

“Bikin lagi!”


Begitulah jeritan Kifah saat masih berusia 2 sampai 3 tahun ketika apa yang saya lakukan itu ‘Salah Prosedur” di matanya.


Misalkan saya membuatkan segelas susu. Entah apa yang salah, saya pun tidak paham. Ia kemudian menjerit dan memerintahkan untuk “Buang!” “Ulangi!” yakni meminta saya membuat ulang susunya tersebut. Entah takarannya yang salah, gelasnya yang salah, atau tingkat kehangatan airnya yang salah, sampai sekarang pun masih menjadi misteri bagi saya dan suami.


Sedihnya lagi, kejadian seperti ini sering terjadi di malam hari, bahkan tengah malam. 


Saya pernah bercerita di blog ini, ketika saya tinggal di daerah Parung Bogor, tetangga berdatangan ke rumah. Membawa air do’a, kacang hijau, garam, dan lain lain. Mereka mendengar teriakan Kifah dan menyangka kalau Kifah diganggu ‘penunggu rumah’ karena rumah yang saya tempati sudah lama kosong sambil menunggu penyewa datang oleh pemiliknya.


Tentunya saya merasa rumah itu baik baik saja, tidak ada masalah. Yang bermasalah adalah tantrumnya Kifah yang menjadi jadi jika malam telah jiwa. Membuat saya stres dan ketakutan jika malam datang, karena ia pasti akan menjerit jerit mengingingkan sesuatu.


cara mengatasi tantrum pada anak
Kakak Kifah yang dulu pernah tantrum ketika batita



Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tantrum didefinisikan sebagai kemarahan dengan amukan karena ketidakmampuan mengungkapkan keinginan atau kebutuhan dengan kata kata. Dari definisi tersebut, terlihat bahwa tantrum umumnya terjadi pada anak anak. 


Tantrum paling sering dialami oleh anak anak yang berusia dua tahun. Mengapa demikian? Sebab, pada usia tersebut, seorang anak sedang mengembangkan kemampuan berbahasa. 


Anak balita belum bisa mengungkapkan perasaan, keinginan dan kebutuhannya secara tepat. Ia merasa kesal dan frustasi saat orang dewasa terutama orang tua tidak mengerti sesuatu yang dimaksud. Rasa kesal dan frustasi inilah yang pada akhirnya menyebabkan tantrum. 


(Buku Anti Stres Hadapi Tantrum Pada Anak, Dian Farida Ismyama, Hal. 16)


Memiliki anak yang sering sekali mengalami tantrum, alias emosi yang meledak tidak terkontrol dengan baik tentu menyebabkan orang tua menjadi frustasi, minder, dan malu jika tantrum yang dilakukan oleh anak terjadi ketika berada di ranah publik. Atau minimal sedang bersama rekan atau keluarga orang tua. Kesannya, “Kok gak bisa sih mengontrol tingkah laku anak? Sampai jerit jerit ngga karuan begitu?”


Saya pernah berada di posisi tersebut. Dimana anak orang lain jauh lebih ‘kalem’ dibandingkan Kifah pada saat itu. Hingga kerap kali nyinyiran pun terlontar kepada saya dari para Ibu yang menurut saya kurang empati terhadap permasalahan yang dialami oleh keluarga yang lain. 


Maka dari itu hingga sekarang, saya dan suami sangat paham betul, ketika ada anak yang tantrum di depan umum. Bagaimana perasaan orang tuanya, sehingga berusaha tidak men-judge atau malah menghakimi orang tua tersebut tidak bisa mendidik anak.


Pengalaman Tak Terlupakan


Menghadapi tantrum pada anak, apalagi saat itu anak pertama, saya dan suami masih belum memiliki banyak ilmu, tentunya membuat hal tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Dimana setiap hari terasa sangat lelah sekali karena emosi yang terus menerus terkuras untuk menghadapi tantrum yang terjadi pada anak.


Pengalaman orang tua yang menghadapi tantrum pada anak, tentunya menjadi sebuah pelajaran bagi orang tua lainnya. Agar mampu mengetahui DO and DON’T ketika anak kita memiliki gejolak emosi yang hampir serupa.


Review Buku: Anti Stres Menghadapi Tantrum Pada Anak


cara mengatasi tantrum pada anak
Buku anti stres hadapi tantrum pada anak karya Mbak Dian Farida Ismyama


Bicara masalah tantrum pada anak, Mbak Dian Farida Ismyama, seorang Parenting Blogger yang saya kenal dengan baik,  menuliskan pengalamannya menghadapi tantrum putrinya dengan sangat baik pada sebuah buku yang berjudul ‘Anti Stres Hadapi Tantrum Pada Anak’.


Di buku anti stres hadapi tantrum pada anak ini, Mbak Dian menceritakan bagaimana ia berjuang menghadapi tantrum pada anaknya yang berlangsung cukup lama. Bahkan Mbak Dian mengikuti berbagai macam pelatihan untuk menghadapi situasi tantrum pada anaknya hingga konsultasi dari satu psikolog ke psikolog lainnya.


Sungguh saya salut dengan perjuangan Mbak Dian yang mampu sabar, tegar, hingga jatuh bangun belajar mengenai tantrum pada anak. Belajar dan belajar terus, agar masalah tantrum tersebut bisa diatasi dengan baik.


Menurut saya, sharing pengalaman sebagai orang tua seperti ini sangatlah penting. Karena menurut pengalaman saya dulu, dunia terasa sangat gelap, saya kebingungan harus bagaimana, lingkungan tidak mendukung, justru malah menghakimi, ketika tantrum pada anak tak kunjung berlalu.


Dengan membaca kegigihan Mbak Dian dalam mencari jawaban dan solusi atas masalah tantrum ini, saya merasa bahwa ternyata saya tidak sendiri. 


Banyak sekali orang tua berada pada ujian yang sama, namun tidak tahu harus kemana dan berbuat apa. Menurut saya, sharing pengalaman dari Mbak Dian ini sangat mencerahkan, untuk para orang tua yang sedang ‘terjebak’ situasi tantrum pada anak.


Selain itu, yang saya suka dari Buku Anti Stres Hadapi Tantrum Pada Anak karya Mbak Dian ini adalah cerita yang sangat relate dengan keseharian kita sebagai orang tua ketika terjebak dalam situasi tantrum anak. 


Contohnya ketika Mbak Dian menceritakan anaknya yang terus merengek, sedangkan Mbak Dian dalam kondisi yang sangat lelah. Emosi jadi tidak terkendali, dan BOOM! Pecahlah tantrum pada putrinya. 


Jujur saya sering sekali dalam kondisi tersebut, dan ujung ujungnya malah ikutan stres, bingung mau ngapain. 


Satu lagi. Buku ini sangat aplikatif! Tak hanya sekedar teori. Mbak Dian menceritakan bagaimana ia belajar menerapkan pola-pola komunikasi yang efektif, agar ia dan putrinya yang sedang tantrum, bisa berkomunikasi dengan baik dan mencari solusi atas masalah yang sedang terjadi. 


Contohnya, mendengar dan menerima perasaan anak dengan cara mengucapkan, “Saat main tadi, kamu kesal, ya?”  Orang tua harus bisa membuka saluran negatif pada anak/memvalidasi emosi anak, agar emosinya kembali stabil dan kekecewaannya terobati. 


Bahasa tubuh yang positif, juga diperlukan. Seperti kontak mata, anggukan persetujuan, posisi lengan terbuka, dan bahasa tubuh positif lainnya juga dituliskan pada buku ini. Mbak Dian menuliskan cara mempraktekannya di buku ini, lho. 


Cara-cara, trik, tips itulah yang wajib diketahui orang tua, agar tantrum pada anak tidak berkelanjutan hingga dewasa, karena emosi anak yang tidak stabil dan orang tua pun bisa stres berkepanjangan jika tantrum pada anak ini tidak segera diatasi.


Giveaway Spesial untuk Pembaca Blog tettytanoyo.com di Instagram


cara mengatasi tantrum pada anak


Nah, ada GIVEAWAY SPESIAL untuk pembaca setia blog ini. Saya akan mengadakan Giveaway tanggal 19 Maret sd 23 Maret 2021 di akun instagram @tettytanoyo


Syarat dan Ketentuan Giveaway Buku 'Anti Stres Hadapi Tantrum pada Anak"


1. Follow akun instagram @dian_ismyama @tettytanoyo @momopururu @syarifani89 @ayuna.family @anisa.ae @vitarinda @penerbitdivapress

2. Share artikel ini, di IG STORIES atau FACEBOOK teman-teman ya, pilih saja salah satu.

3. Dan jangan lupa jawab pertanyaan, "Kenapa ingin memiliki buku ini? tuliskan alasannya ya"


Peserta Giveaway yang beruntung akan mendapatkan Buku Anti Stres Hadapi Tantrum pada Anak karya Mbak Dian ini, dan jangan lupa, ulas bukunya di media sosial setelah mendapatkan buku ini yaa.


cara mengatasi tantrum pada anak
Semangat ya, Buk! Tantrum pasti akan berlalu



Saya sendiri sangat menyukai buku ini, ah andai saya buku ini terbit ketika saya menghadapi 'kelamnya' berada ditengah-tengah tantrum pada anak yang saya alami setiap hari.


Sekali lagi, buku ini saya rekomendasikan untuk para ibu, calon ibu, bahkan calon pengantin. Agar nanti, pada saatnya ada gejala tantrum pada anak, kita tidak gagap lagi menghadapinya, karena sudah memiliki ilmu pengetahuan tentang tantrum pada anak.


Jangan lupa ikutan Giveaway-nya, ya!  






pengalaman menyapih anak bayi


Menyapih anak ketiga, ternyata sama sulitnya dengan menyapih anak pertama. Banyak kendala dan juga ‘drama’ tersendiri ketika akan melakukannnya. 


Dulu, ketika anak pertama, karena belum adanya pengalaman, saya ‘takut’ untuk menyapih bayi, takut gagal maksudnya, dan takut payudara bengkak karena harus mengehentikan produksi ASI.


Ternyata, walaupun sudah berbekal pengalaman menyapih pada anak pertama dan kedua, ketakutan akan kegagalan itu masih ada lho. Apalagi si bungsu ini sedang lucu-lucunya, sedang sayang-sayangnya. Duh, kasian kalau harus disapih diusianya yang sudah menginjak 2 tahun.


Menyapih Dengan Metode Tradisional


Tentunya, dengan keterbatasan pengalaman dan ilmu, anak pertama saya, Kifah, saya sapih dengan cara tradisional. Yaitu dengan menggunakan cara ‘menakutnakuti’ supaya dia tidak mau menyusu lagi.


Pertama-tama, saya mencoba dengan menggunakan kayu putih. Ternyata Kifah masih mau menyusu walau sudah pakai kayu putih. Kedua, saya pakai Brotowali (saran dari ibu mertua) karena Brotowali itu pahit, dan pahitnya nempel lama di lidah. Eh beneran gusti, itu si Kifah ga mau nyusu lagi, nangis kejer karena lidahnya pahit.


Rewel kah?


Iya, dengan cara tradisional begitu, anak jadi rewel karena marah dan kecewa. Tiba-tiba rasa ASInya jadi pahit dan gak enak lagi. Sebelum tidur malam, saya sudah menyiapkan banyak sekali susu UHT kesukaan Kifah, supaya ketika dia bangun, ada susu atau minuman yang dia suka sebagai pengganti ASI.


Besoknya, alhamdulillah Kifah gak rewel lagi, jadi total nangisnya hanya semalam saja. Cuma memang, cara menyapihnya membuat dia kaget dan marah. Duh, maaf ya Kifah.


Baca juga: Tips Menghindari Ruam Popok Pada Bayi


Menyapih Aldebaran, Anak Kedua.


Apakah saya menyapih dengan cara tradisional lagi?


Untuk Aldebaran, proses menyapihnya ini cukup membuatnya sedih. Kenapa? Karena ASI saya berhenti tidak berproduksi lagi karena saya hamil Aksara (anak ketiga). Karena tidak ada ASInya, Aldebaran rewel dan harus disapih secara mendadak, waktu itu usianya baru 20 bulan.


Karena waktu itu saya sedang ‘mabok’ karena hamil. Aldebaran sering menginap di rumah neneknya, Jadi, sambil menginap ya sambil disapih. Kira-kira satu minggu dia menginap, ketika pulang ke rumah, dia sudah gak rewel nanyain ASI lagi.


Menyapih Aksara dengan Cinta


pengalaman menyapih anak bayi
Sounding kalau Aksa sudah besar , memakan waktu yang cukup lumayan


Terkadang saya masih sangsi, apakah benar anak yang disounding dan diajak ngobrol bahwa harus lepas ASI karena sudah berusia 2 tahun akan mengerti? Mengerti apa yang kita ‘minta’ dan ‘merelakan’ tidak menyusu lagi. 


Karena saya penasaran, maka saya coba.


Pertama, sounding beberapa bulan sebelumnya. 


Saya bilang ke Aksara, kalau bulan depan dia udah gak boleh menyusu lagi, karena sudah besar. Tentu Aksara cuek-cuek saja, gak merespon apapun, wkwkwkw. Dia tetep minta ASI terutama kalau mau tidur malam atau lagi di dalam mobil/di perjalanan.


Bulan berikutnya, saya sounding lebih intens lagi. Tapi tetep aja anaknya cuek bebek dengan watados-nya. Dia tetep mau ASI setiap mau tidur malam.


Sampai usianya sudah 2 tahun lebih 2 bulan, saya membulatkan tekad untuk menyapih Aksara. 


Malam pertama, saya sudah siapkan susu kesukaannya untuk mengganti ASI. Tapi GAGAL. Aksara menangis meraungraung. Gak berhenti nangisnya, mana tengah malam, duh malu sama tetangga.


Dan beneran, tetangga ngomong gini, “Saya paling gak tega deh denger anak nangis.”


Ya ampun, Bapak Ibu, namanya anak lagi disapih, harusnya maklum dong ya. Sebagai orang tua, saya selalu maklum kalau ada anak yang menangis, tantrum, dll. Saya menaruh empati pada orang tua yang sedang berjuang mendidik anakanak mereka. Toh, berasa banget, mendidik anak sangat tidak mudah.


Malam berikutnya.


Malam berikutnya saya coba lagi, sebelum tidur, Aksara minum susu dulu. Nyanyi-nyanyi dulu, dibikin happy dulu deh pokoknya.


Tapi, ternyata beberapa menit kemudian, dia nangis minta ASI supaya bisa tidur. Dan selanjutnya Aksara nangis lagi meraung-raung. Karena sudah bertekad mau menyapih, ya udah saya usahakan tetap tenang dan tersenyum, walau sebenernya udah ga tahan juga mau menyerah.


Lama-lama, Aksara tidur, saya kasih susu lagi beberapa teguk sambil bilang, “Aksara sudah gede, sekarang minumnya susu di gelas dinosaurus, ya.”


Akhirnya malam itu berlalu juga. Besoknya, Aksara ga minta ASI lagi. Walau kadang dia keceplosan mau minta ASI, sambil minta dipangku atau tiduran di kasur. Kalau udah gitu, harus segera kita alihkan deh, bisa sambil nyanyi, mainan, atau jalan-jalan ke luar rumah.


Beberapa hari sih ya masih gitu, masih minta ASI secara gak sengaja. Tapi lambat laun dia mulai terbiasa minum susu di gelas Dinosaurus kesayangannya.


Baca juga: Membuat Udara di Rumah Bersih dan Sejuk


Kenapa Saya Menyapih di Usia 2 tahun?



pengalaman menyapih anak bayi
Ini waktu Aksara tepat 2 tahun usianya, habis ultah diajak kepantai deh



Tentu karena perintah di Al Qur’an sudah ada ya. Menyapih anak dimulai ketika usianya sudah menginjak 2 tahun. Di dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 233 berbunyi:


Dan ibu iu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”


Sudah jelas di dalam ayat Al Qur’an, jika anak sudah berusia 2 tahun, maka bisa dilakukan penyapihan, tentunya dengan cara cara yang baik. Bahkan ada pertimbangan terhadap ibunya, ada penekanan pada ayat “Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya.” Saya rasakan sendiri, semakin besar usia anak, memang ada rasa ketidaknyamanan ketika memberikan ASI, tidak sama ketika anak masih dibawah usia 1 tahun.


Selain itu, WHO juga menyarankan agar anak disusui hingga usia 2 tahun lho. Memberikan ASI selama 2 tahun atau lebih banyak memberikan manfaat bagi ibu dan anak, menjaga kesehatan ibu dan anak, memberikan kenyamanan bagi ibu dan juga anak.  Bahkan ada ibu yang lebih lama menyusui (lebih dari 2 tahun) karena merasakan banyak manfaat dan kenyamanan tersebut.


Namun, kalau saya memang memilih untuk menyapih anak ketika usia 2 tahun karena faktor dari diri saya sendiri yang merasa sudah kurang nyaman, dan produksi ASI yang semakin berkurang.


Saya Merasa Tidak Nyaman


Karena Aksara sudah besar, tentu sudah sangat tidak nyaman dalam prose menyusui. Selain itu, saya sering sakit bahu dan punggung, karena ketika menyusu, Aksara selalu ingin sambil tidur miring. Jadi, otomatis semalaman, saya tidur dengan posisi tidur miring sepanjang malam. 


Sakit bahu dan punggung itu beneran gak enak, mau diurut pun sedang covid gini, gak berani minta urut sama tukang urut langganan.


Baca juga: 5 Kebiasaan Sehat yang Harus Diajarkan Pada Anak



Aksara Suka Pelampiasan Gak Mau Makan Karena Ada ASI



pengalaman menyapih anak bayi
Sebelum disapih, Aksara susah banget disuruh ngemil. Ini foto sama nenek, makan donat di pinggir pantai, sambil menikmati angin sepoi-sepoi 


Ketika masih ASI, duh, Aksara kadang susah makan, karena maunya menyusu aja sampai ketiduran. Makanya BB-nya susah untuk naik. Berbeda setelah disapih, dia jadi mau banyak makan makanan dan juga camilan. Minum air putih, minum susu pun jadi lebih banyak. Aksara gak mau makan kalau lagi sakit atau gak enak badan aja.


Menyapih Tradisional VS Menyapih Dengan Cinta, Mana yang Lebih Baik?



pengalaman menyapih anak bayi
Tetap semangat, konsisten, dan bermental baja ya Mak, menghadapi anak yang lagi masa-masa aduhai 😂



Menurut pengalaman pribadi, dua-duanya memiliki tantangan masing masing. Proses menyapih dengan cara tradisional memang bisa jadi ‘jalur cepat’ namun anak nampak marah dan kecewa. Sementara menyapih dengan cinta, membutuhkan waktu yang lebih lama. Karena proses sounding-nya memakan waktu yang tidak sebentar.


Namun yang pasti sama adalah, rewelnya. Hihihi. Ini sulit untuk ditawar dan dari tiga anak saya, semuanya rewel dengan caranya masing masing. Memang kita sebagai ibu yang dituntut harus sabar dan konsisten tidak mudah menyerah, ketika akan menyapih anak dari ASI. Tapi Insya Alloh, usia 2 tahun adalah usia yang sudah cukup pas untuk menyapih, karena daya berpikir anak pun sudah semakin tinggi. Mereka bisa kita aja ‘berdamai’ meski dengan cara yang berbeda beda.


Nah, itu dia sekelumit pengalaman saya ketika menyapih Aksara. Apakah Buibu punya pengalaman tak terlupakan ketika menyapih anak? Yuk berbagi cerita di kolom komentar :D