Mommy Diary: Ketika Anak Gak Boleh Main

| On
February 22, 2016
ketika anak gak boleh main


Semenjak adanya pemberitaan tentang anak kecil yang diculik di Depok, kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di daerah Lubang Buaya, jujur saja saya jadi was-was.

Was-was kenapa?

Was-was kalau anak sendiri yang jadi korban. Naudzubillah.

Anak yang berinisial J itu diculik seusai sekolah di sebuah sekolah dasar di Depok. Menurut berita, ia dibawa oleh orang yang ia kenal dan belakangan ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi.

Motif Menculik

Kalau kita sering nonton sinetron, dari zaman dulu sampai sekarang, Pak Raam Punjabi pasti membuat tokoh anak yang diculik adalah anak orang kaya kelas berat.

Rumahnya mentereng, mobil berjejer, ayah kaya dan ganteng, paling-paling anak itu punya ibu tiri yang jahat.

Jadi, ketika ada motif penculikan, pasti ujung-ujungnya untuk minta tebusan. Kalau tidak anaknya diancam dibunuh oleh penculik.

Ingat film petualangan sherina dong?

Ya pasti hampir semua orang pernah nonton film yang sempet booming banget ini. Di film Petualangan Sherina, salah satu konflik yang diangkat juga tentang penculikan.

Yaitu penculikan Sadam oleh komplotan Kertarajasa.

Ujung-ujungnya Kertarajasa minta uang tebusan 3 Milyar kepada Pak Ardiwilaga (Ayah Sadam). Walaupun motif utamanya bukan uang, tetapi agar pak Ardiwilaga menjual perkebunan kepada Natasya (yang masih komplotan Kertarajasa) dan nantinya perkebunan tersebut akan diubah menjadi real estate oleh mereka.

Tapi tetep lah ya, motifnya masih sekitar materi dan intrik bisnis.

Kembali ke kasus penculikan bocah J di Depok. Konon katanya, motif penculikan bukanlah tentang materi atau uang, tetapi ada hal lain. Menurut polisi, dugaan sementara mereka adalah pelaku mengidap pedopilia yang memang mencari korban anak-anak. Penculik pada awalnya tidak berniat membunuh korban, tapi karena panik ia membekap wajah bocah J sampai kehabisan nafas dan akhirnya tewas di dalam kamar mandi.

Sebenarnya ini bukan kasus yang pertama. Sebelumnya ada kasus seorang anak yang ditemukan tewas di dalam sebuah kardus. Kondisinya tidak lebih baik, dan ini merupakan kasus yang hampur sama. Penculikan terjadi setelah sekolah usai, sang anak tidak kunjung pulang ke rumah.

Perasaan Ibu

Saya tak bisa membayangkan, ketika pagi sekali sang ibu menyiapkan sarapan untuk anak berangkat sekolah, tetapi hingga sore sang anak belum pulang, dan keesokan harinya ditemukan tewas dengan mengenaskan.

Setiap ibu pasti sedih, pasti sama-sama takut kehilangan anak.

Begitupun saya.

Karena penculikan ini terjadi sangat mudah. Pulang sekolah dan dilakukan oleh orang yang dikenal oleh korban. 

Berarti setiap anak pun berpotensi untuk mengalami. Karena jutaan anak pulang sekolah setiap hari, dan juga kenal baik dengan orang lain. Baik itu teman, tetangga, ataupun saudara. 


Gak Boleh Main!

Setelah kejadian demi kejadian tentang kasus penculikan anak, saya jadi berpikiran "Kifah gak boleh main!" Maksudnya main di luar rumah bersama teman-temannya.

Padahal sebelumnya, saya senang melihat Kifah jadi anak yang mudah bergaul dan bersosialisasi. Tapi jujur saja, rasa kurang aman membuat saya paranoid untuk melepaskan Kifah bermain dengan teman-temannya di luar rumah.

Dikutip dari ibudananaku.com

Bermain tentunya merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi anak. Melalui berbagai permainan, anak akan belajar bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, bermain bersama teman juga memiliki beragam manfaat, antara lain kemampuan berempati, bersosialisasi, toleransi, bergiliran, mengikuti aturan permainan, serta melatih jiwa kepemimpinan dalam diri.

Kebutuhan anak untuk berteman sebenarnya sudah bisa dilihat ketika ia berusia 3 tahun. Pada usia itu, anak sudah mulai suka bermain bersama anak seusianya. Kita akan disuguhkan ‘pemandangan’ bagaimana sikap anak dalam menghadapi masalah dan cara yang ia gunakan untuk menyelesaikannya ketika terjadi konflik, ada teman yang malas main, saling berebut mainan dan bermacam persoalan lainnya. Efeknya, kecerdasan sensitifitas anak akan meningkat dan membuatnya belajar untuk tidak bersikap egois.

Ya, Kifah suka banget bermain sama teman-teman di sekolah dan juga di rumah. Tapi setelah kejadian demi kejadian kasus penculikan dan kekerasan pada anak, saya jadi berpikir ulang.

Bermain Hanya di rumah

Hingga terbentuklah sebuah aturan kalau Kifah hanya boleh main di dalam rumah setelah pulang sekolah. Itu pun saya selalu berpesan, "kalau bukan dijemput ummi, gak boleh pulang" saking paranoidnya.


Setelah sekolah, Kifah boleh main di rumah. Dan boleh main diluar selepas ashar. Sekitar jam 4 sore.

Kasihan memang awalnya, Kifah suka nangis kalau ada temannya yang ngajak main, dan teriak ngajak main dari luar rumah. Tapi mau gimana lagi, demi keamanan, saya gak mau ambil resiko.

Positifnya Main di Luar rumah

Sebenernya, ada positifnya juga anak bisa main dengan anak-anak tetangga di sekitar rumah. Seperti halnya kutipan artikel di atas, saya pun merasa demikian.

Pertama, anak jadi mudah bersosialisasi. Ia bisa bergaul banyak orang yang karakternya berbeda, sehingga tahu bagaimana cara memperlakukan orang lain.

Kedua, belajar berbagi dan tidak egois. Kalau di rumah dia bisa bermain sepuasnya dengan mainannya sendiri, tapi kalau diluar rumah mau gak mau harus gantian sama temannya yang lain.

Ketiga, lebih banyak bergerak. Beberapa permainan tradisional masih ada di sini. Seperti taplak gunung, petak umpet, lompat tali, jadi anak bisa main sambil berolah raga dan melatih psikomotorik.

Keempat, anak lebih ceria. Bertemu dengan teman sebaya itu membuat anak jadi lebih ceria, karena bisa bermain bersama, dibanding di rumah yang hanya bisa main sendiri. 

Banyak juga ya ternyata positifnya.

Paranoid

Ya itu tadi, karena banyak kasus kekerasan yang terjadi pada anak, saya jadi paranoid sendiri. Apapun bentuk dan motifnya, kejahatan tetaplah kejahatan. Dan sebagai ibu saya sangat khawatir. Apalagi kata Bang Napi kejahatan itu bukan hanya karena niat pelaku, tapi karena ada kesempatan.

Hingga akhirnya saya membatasi ‘ruang gerak’ bermain Kifah di lingkungan rumah.

Walaupun anak ada di rumah, tidak bermain di luar, dan saya merasa cukup aman bukan berarti tanpa kendala. Tetap aja ada minusnya.

Pertama, anak jadi kurang pergaulan. Ya walaupun bisa dicover di sekolah, gak kenal sama anak tetangga juga gak baik kan? Sebisa mungkin kita mengajarkan silaturahmi antar tetangga kepada anak.

Kedua, budget mainan jadi membengkak. Karena gak boleh main di luar rumah, otomatis anak harus dihibur dengan permainan di dalam rumah. Walaupun sebenernya kalau orang tuanya kreatif, soal mainan di rumah gak jadi soal. Tapi kadang, tidak semua ibu bisa kreatif dan juga punya waktu luang.

Ketiga, rentan terpapar gadget. Karena hanya di rumah, anak jadi rentan jadi gadget addict. Apalagi orang tua yang menyediakan gadget pribadi untuk anak. Di dalam gadget pun masih banyak konten yang tidak ramah anak. Orang tua harus ekstra ketat mengawasi.

Kita semua sudah sama-sama tahu lah ya, gadget itu punya banyak manfaat, tapi tidak dipungkiri punya banyak dampak negatif untuk anak.

Keempat, anak kurang bergerak. Itu tadi, kalau sudah terpapar gadget anak pasti malas bergerak. Bisa-bisa anak cuman tiduran sambil main gadget di rumah. Ini juga gak baik kan? 

Ini juga hal yang sangat penting. Salah satu talkshow tentang parenting yang membahas gadget dan anak mengatakan bahwa, gadget cukup berbahaya untuk anak. Bisa menyebabkan banyak penyakit, seperti obesitas, gangguan mata, gangguan tulang belakang, gangguan tidur, dan juga gangguan bicara untuk balita yang terpapar gadget sejak kecil.

Tuh kan jadi galau juga?

Bahkan dokter anak juga menyarankan agar setiap dua jam sekali anak harus beristirahat dari gadget. Tapi di lapangan, ya susah juga ngelepas gadget dari tangan anak. Iya apa iya?

Tugas Ibu itu Berat

Kalau udah mikir kejauan begini, rasanya tugas ibu itu berat banget. Anak harus diproteksi di luar dan di dalam rumah. Bukan apa-apa, memang zamannya yang berubah.

Tantangan ibu tiap masa ke masa memang terus berubah. Bahkan isu pedopilia dan kejahatan terhadap anak lainnya jadi mimpi buruk bagi semua orang tua. Karena menurut beberapa psikolog dan pakar parenting, kejahatan anak yang berbentuk kejahatan seksual bisa menyebabkan trauma bagi anak. Dan lebih menakutkan lagi, trauma ini dirasakan sepanjang hidup anak.

Virus aja katanya sudah berevolusi, apalagi motif kejahatan. Baik yang terlihat atau pun yang kasat mata.

Saya yakin, sekuat apapun kita melindungi anak-anak dari pengaruh buruk dan juga berbagai kejahatan terhadap anak, para pelaku kriminal akan terus mengintai. Bukan suudzon terhadap orang-orang di lingkungan rumah, tapi bersikap waspada dan hati-hati juga harus menjadi tameng untuk melindungi anak-anak kita.

Kota Layak Anak

Duh, namanya keren banget kan ya.

Berikut berita yang saya kutip dari web resmi KPAI.go.id tentang kasus kekerasan terhadap anak, yang jujur saja membuat bulu kuduk saya merinding disko.

Kejahatan seksual pada anak kian meresahkan. Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, menyebut kasus Jakarta International School (JIS) dan Emon, hanya puncak gunung es.

Faktanya, kasus yang dilaporkan pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meningkat dari tahun ke tahun. Hingga pertengahan April tahun ini, sudah ada 459 kasus kekerasan seksual anak.

Yang ironis, anak kini bukan hanya menjadi korban. Jika tak ditangani dengan cepat, ia juga bisa menjadi pelaku. Data KPAI menyebut, per bulan ada 15 anak yang menjadi pelaku kejahatan seksual.

Situasi itu darurat. Karenanya, pada 11 Juni lalu dikeluarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia (Inpres) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak.

Peraturan itu menginstruksikan 15 lembaga terkait untuk mencegah dan memberantas kejahatan seksual anak di Indonesia. Senin, 7 Juli 2014 di Hotel Mandarin, Jakarta aturan itu disosialisasikan.

“Gerakan itu meliputi edukasi dan sosialisasi, pengawasan, dan respons cepat dari penegak hukum,” Linda Sari Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menerangkan.

Adapun lembaga yang termaktub dalam aturan itu, adalah 13 kementerian, Kepolisian Indonesia, dan Kejaksaan Agung. Kementerian PP dan PA pun sudah punya langkah untuk ikut andil.

Karena banyak terjadi kejahatan terhadap anak (berdasarkan data di atas). Seperti pedopilia, dan kejahatan lainnya. KPAI sedang menggodok kota ramah anak.


Apa itu kota layak anak?

Saat ini belum ada satu pun wilayah di Indonesia yang ramah anak.

Berdasarkan kesepakatan PBB, setidaknya butuh 31 indikator untuk menyebut sebuah daerah menjadi layak anak. Butuh ketegasan dari eksekutif, legislatif, yudikatif, juga masyarakatnya.

Bagaimana tempat itu aman dan nyaman, ada kawasan tanpa rokok, pelayanan kesehatan. Sudah ada lebih dari 180 kota di dunia yang disepakati sebagai layak anak.

Di Indonesia, baru berupaya menuju ke sana. Yang sudah cukup baik di Indonesia, seperti Denpasar, Surabaya, Bandung, dan Solo.

Walaupun di Indonesia belum ada kota layak anak, dan akan menuju ke sana. Saya 1000% sangat mendukung program ini. Karena jujur saja, saat ini rasa aman terhadap anak makin terasa berkurang. Dan jika ditetapkan program kota layak anak dari tingkat RT dan RW, tentu saja saya dengan senang hati ingin menjadi relawannya.

Kenapa?

Karena kebutuhan bermain anak itu harus tercukupi dengan baik. Apalagi kalau bukan untuk perkembangan diri anak ke depan.

Tapi apa daya, kalau rasa aman untuk membiarkan anak bermain di luar rumah saja sudah sedemikian tipisnya? 

Ya semoga saja kedepannya KPAI bisa mendorong pemerintah eksekutif dan legislatif sesegera mungkin membentuk tim untuk mempercepat langkah menciptakan kota layak anak. Aamiin.

Jadi Anak Rumahan

Saya sebagai ibu harus ekstra kerja keras, karena bukan sekolah yang akan memproteksi anak, bukan guru ngajinya, bukan satpam komplek, tapi ya kita ini Ibu dan Bapaknya.

Kasus pencabulan, penculikan, kekerasan selalu menjadi mimpi buruk bagi orang tua manapun. Bahkan di dalam rumah, di dalam pengawasan kita pun, peluang untuk berlaku kriminal itu tetap ada. Kalau kita berkaca di kasus JIS dulu, bahkan di ligkungan sekolah yang kita anggap aman pun masih bisa kejadian kan?

Paranoid emaknya ini mungkin akan jadi hal yang gak nyaman untuk Kifah. Tapi mudah-mudahan ini hanya akan bersifat sementara, dan kedepannya rasa aman bagi anak akan terus meningkat.

Kifah sekarang terpaksa di rumah dulu, semoga aja emaknya bisa makin kreatif dan gak kehabisan ide dan tenaga untuk main bareng.


Kadang suka lucu juga sih, kalau Kifah abis main sore-sore di luar rumah.

“Tuh, Mi. Aku gak ada yang nyulik kan?”


Haha. Dasar emaknya parno, tapi ya gak apa-apa lah, demi kebaikan.




Sumber:

http://www.ibudanaku.com/ruangmom/artikel/saatnya-bermain-bersama-teman
http://www.kpai.go.id/berita/marak-kejahatan-seksual-belum-ada-kota-layak-anak-di-indonesia/


15 comments on "Mommy Diary: Ketika Anak Gak Boleh Main"
  1. kalau waktu saya kecil dulu,mau maen kemana ja aman2 aja ya..kalos ekarang bener2 dibuat cemas,apalagi banyak berita penculikan sadis.. :(

    ReplyDelete
  2. Anakku (3 tahun) boleh main di luar Mbak asal masih dalam pengawasan dan dekat-dekat dari rumah. Biasanya aku juga jadi ikutan main di luar rumah. :D

    ReplyDelete
  3. kadang kasihan juga melihat anak2 yang mainnya hanya di rumah saja.. mereka terkungkung dan gak bersosialisasi dengan teman sepermainan mereka di luar rumah.. Kadang2 rasa protective untuk melindungi si anak membuat si anak sepertinya dikekang ya..

    ReplyDelete
  4. Aku juga jadi parno banget karena banyak kejadian2 yang menimpa anak-anak itu..
    anak2ku aku beri pengertian dan bekal untuk self defense, misalnya lari atau teriak kalo ada orang yang mencurigakan.. *emak2 parno an..

    ReplyDelete
  5. Budget mainan membengkak haha.. Itu aku banget. Salim jadi minta beli mainan terus karena tiap hari dikurung di rumah. Nanti boleh main di sekolah.

    ReplyDelete
  6. lha, postingannya tambah ke sini tambah panjang nih, mirip blognya siapa tuh ya, hihi....
    ga di sono ga di inggris bu, sama aja. meski udah maju negaranya, kasus penculikan anak selalu ada. yg terakhir malah si anak ga ditemukan mayatnya meski sudah bisa dipastikan tewas karena pelaku tertangkap. spekulasi sih dibakar dan abunya dibuang, sadis lah. untungnya di sini 4 musim jd 3 musim udaranya ga pas untuk maen di luar. pas musim panas biasa rentan anak ilang. paling aman sih ortu ikutan maen hehe. cuma kalo anak udah gede ga mau dibuntuti emaknya sih ya, serba salah deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya ampun, sadis pake bgt. Kenapa sih anak jadi korban pembunuhan.. dunia ini menyeramkan..huhuhu

      Delete
  7. Kita semua akhirnya jadi ortu paranoid ya mbak. Di dalam rumah maupun di luar tetap urusan pornografi dan pelecehan seksual bisa menyerang. Kuat2in doa akhirnya.

    ReplyDelete
  8. Aku juga makin keras kalo gak ngebolein anak main jauh. :( Kalo mau main di luar rumah, biasanya aku jagain dari kejauhan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mak, paling sore boleh main di halaman rumah.. yg suaranya masih bisa kedengeran emaknya..

      Delete
  9. saya jg lg meminimalkan wkt jav main di rumah... slain krn cuaca sdg ga asyik, jg krn pergaulannya ga oke... dan kalaupun main di luar rmh sebisa mungkin hrs brg sama saya...

    ReplyDelete
  10. Anak2ku aku antar jemput sendiri kemanapun. Kalau main ke tetangga, aku melarangnya main didalam rumah, harus diluar dimana aku bisa lihat dari jauh & dengar suaranya. Insya Allah mereka tetap mendapatkan haknya bersosialisi dg teman sebaya. Ibunya aja kudu mau repot sedikit ngawas2in.

    ReplyDelete
  11. Gak cuma soal main diluar rumah saja mak.. Kalau anak lagi outbond atau fieldtrip sama sekolahan juga kuatir bgt.. kepikiran gimana kalo pas gurunya meleng trus ada yg narik.. :(

    ReplyDelete
  12. iya nih jadi was was kalau biarin anak main di luar tanpa pengawasan, padahal dulu jaman kita kecil juga seneng banget bisa main di luar bareng temen-temen, kalau belom dipanggil ya belom pulang
    semoga Indonesia bisa jadi negara yang aman dan nyaman buat anak-anak ya

    ReplyDelete
  13. "tuh mi gaada yang nyulik kan?"
    Aduh adek pertanyaannya lucu banget haha ini sambil nyindir gitu ya..
    Btw kalau ada kota layak anak aku pasti juga setuju, apalagi jakarta. Kapaan ya jakarta aman dan jadi kota layak anak, saya miris liat anak sd smp disini udah dewasa dewasa gitu lho penampilannya.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D