Mana Gerbong-nya?

| On
January 16, 2015
Naik kereta api.. tut..tut..tut.. siapa hendak turut. Ke Bandung Surabaya. Bolehlah naik dengan percuma.
Waktu kecil pasti suka nyanyiin lagu itu kan, mak? dan pasti hari ini juga lagu itu diajarin lagi ke anak cucu kita di rumah. Hihihi.

Anak saya suka banget naik kereta api. Hampir setiap hari ngajak ke stasiun buat naik kereta api. Emang sih rumah saya sekarang deket stasiun Commuter Line, jadi setiap saat suka kedengeran suara kereta api lewat. 
Nah, suatu waktu karena dia suka banget sama kereta api, saya dan suami merancang liburan weekend keluaga buat naik kereta api sampai stasiun Jakarta Kota. Lumayan kan disana banyak objek wisata museum dan sejarah. Ongkosnya juga murah meriah.
Waktu liat gerbong kereta api yang sambung menyambung menjadi satu, anak saya teriak kegirangan. Impiannya naik kereta api akhirnya kesampaian. Gak perlu lama-lama, kita pun segera naik gerbong kereta commuter line di stasiun. Di dalam kereta api, anak saya celingak-celinguk liat seisi kereta api. First time, buat dia naik kereta api beneran. Biasanya dia naik kereta api mainan di tempat hiburan anak-anak.

Di dalam kereta, lama-lama anak saya merengek minta keluar. Saya pikir dia bosan lama-lama di dalam kereta. "keretanya mana? gerbongnya mana? kok ga keliatan". Si kecil malah bilang gitu. *toeng* "Ade, ini kan kita ada di dalam kereta api, kita ada di dalem gerbongnya, ini lagi jalan mau ke Jakarta". Eh, dia malah ngerengek lagi, minta turun untuk liat kereta api dari luar. Anak kecil, luar biasa syekali kemauannya. Padahal oh padahal. 

...............................

Sekilas itu cuman cerita anak-anak biasa yang lagi naik kereta api terus kepingin turun lagi liat gerbong yang lagi jalan, padahal dia sendiri lagi naik gerbongnya. Tapiiii.. lama-lama jadi mikir dan beranalogi. Jangan-jangan ini nih penyakit kita sehari-hari. Kita selalu liat gerbong kebahagiaan milik orang lain, tapi tanpa sadar sebetulnya kita pun sedang berada dalam gerbong kebahagiaan milik kita sendiri. Kita fokus sama apa yang dimiliki orang lain dan lupa dengan apa yang kita miliki. Persis seperti anak saya yang ngerengek minta liat gerbong kereta api padahal dia sendiri lagi naik di dalam gerbong itu sendiri. 


So...

Setiap orang punya gerbongnya masing-masing, gerbong kebahagiaan. Yang sedang berjalan menuju stasiun pemberhentian akhir melalui rel-nya sendiri.




Malam dengan suara kereta api.


Related Post:

Berdamai dengan Kebosanan

Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D