Mengejar 'Mas Gagah'

| On
June 18, 2015
Berita Tentang 'Mas Gagah'

Ada pesan masuk di Blackberry Messenger.


"Informasi Audisi. Dicari seorang aktor laki-laki untuk memerankan sosok Mas Gagah"


Kemudian pesan tersebut saya scroll terus kebawah.



Pesan ini dikirim oleh teh Fitri, teman satu pengajian. Segera saya reply pesannya saat itu juga.

"Teh, ini buat siapa?"

"Siapa tahu suami berminat" Jawab teh Fitri.
"Berminat apa teh?"
"Ya itu casting jadi Mas Gagah, hehehe" Jawabnya lagi.

Gubrakkkksss.



Oh, jadi ini nawarin buat ikut casting? Gak kebayang, abbiy ikutan casting untuk jadi 'sosok Mas Gagah'.

Tapi sebentar, 

Mas Gagah itu siapa ya?

"Mas Gagah itu siapa?" tanya abbiy.
"Hhmmm. Perasaan pernah baca cerpennya, karya Helvy Tiana Rosa kalau gak salah"
"Ceritanya tentang apa?"
"Lupaaa. Abis bacanya udah lama. Tapi perasaan sih bagus deh cerpennya, nih buktinya mau difilm-in" 
"Jadi, mau ikutan bi?"
"Gak ah, orang gak tau ceritanya"
"Ya baca aja dulu di internet, siapa tau ada yang ngebahas"

Singkat cerita, kami berdua jadi penasaran dengan sosok Mas Gagah. Solusinya ya Googling, cari cerita tentang Mas Gagah.

Berbekal cerita dari Mbah Google, kami jadi tau sinopsis cerita tentang Mas Gagah. Tapi, belum afdol rasanya kalau belum baca bukunya langsung. 

"Udah bi ikutan aja castingnya, itung-itung cari pengalaman, sekalian jalan-jalan"

*bisanya ngebujuk doang*

"Hmmm. Gimana ya? Boro-boro bisa akting. Entar malah malu-maluin" 
"Ihhh gak apa-apa bi, ini mah buat lucu-lucuan aja"
"Hahaha, yaudah lah ayo kita berangkat!"

Dasar pada nekat, maklum jiwa mudanya masih berkobar walau udah punya 'buntut' yang suka ikut kesana kemari.

Dengan gagah berani akhirnya kami berangkat untuk 'mengejar mas gagah' ke Jakarta, tepatnya ke daerah Ragunan. 

Kami menginap di rumah Mamah di Parung Bogor. Jaraknya tidak begitu jauh dari Ragunan. Bisa ditempuh dengan kendaraan umum. Kami juga menitipkan Kifah di rumah Mamah, karena gak mungkin Kifah diajak panas-panasan ngantri audisi. Kasian, Kifah masih batita.


Mengejar 'Mas Gagah'

Malam sebelum audisi kami masih galau.

Galau karena belum baca cerita 'aslinya'. Tentu berbeda baca review orang lain, dengan tulisan asli sang penulis cerita.

"Yaudah, kita ke toko buku aja. Cari bukunya" Kata abbiy.
"Iya, hayu"

Bada Magrib kami berdua berburu buku Mas Gagah ke toko buku di kawasan Bukit Serpong Damai. Dengan santai kami berdua masuk ke sebuah toko buku yang cukup besar. 

Kami segera mencari rak kumpulan buku fiksi. Banyak sekali novel dan kumcer berjajar dengan manis dan rapi. Sudah sepuluh menit berkeliling, belum ada tanda-tanda kemunculan buku bertuliskan 'Mas Gagah' di cover depannya.

Daripada berlama-lama, kami putuskan untuk bertanya ke petugas di toko buku.

"Mas, ada buku yang judulnya Mas Gagah, ngga?"
"Sebentar mbak, kita cek dulu"

Selang beberapa menit,

"Maaf mbak, bukunya habis"
"Apaahh? habis mas? beneran?"
"Iya bener mbak"
"Disini ada toko buku lagi gak?"
"Ada, masih lurus lagi kalau dari sini"
"Jauh?"
"Lumayan"

Baiklah,

Kami meluncur ke toko buku yang menurut perkiraan kami pasti masih punya stok bukunya 'Mas Gagah'.

Kami tidak membuang waktu lagi, ketika masuk ke toko buku langsung tanya ke petugas, apakah 'Mas Gagah' masih ada atau tidak.

"Udah habis Mbak" Jawab sang petugas toko buku.

APAAAHHHHH!!!

Buku macam apa ini? kenapa sudah dua toko buku segede begini stok bukunya habis semua?

"Kira-kira dimana lagi Mas ada toko buku?"
"Sebentar saya telepon toko buku cabang di Mall lain" 

Waktu sudah semakin malam, dan besok kami berdua harus pergi ke Ragunan, ke tempat casting 'Mas Gagah'.

"Gimana Mas?"
"Masih ada Mbak stoknya, di toko buku di Mall of Alam Sutera"
"Dimana itu Mas? baru denger Mall-nya?"
"Lumayan jauh dari sini, Mbak masuk aja ke gerbang Alam Sutera, nanti didalamnya ada Mall baru. Disitu ada toko buku"
"Oke Mas, makasih"

Fiuuuhhhh.

"Gimana ini bi? udah malem, mau diterusin apa pulang aja?"
"Gimana ya, kalau pulang tanggung, kalau diterusin..."

Nekat part dua.

Udah terlanjur basah, berenang aja sekalian. Begitu kira-kira, kami nekat untuk lanjut ke tempat yang sama sekali belum pernah kami singgahi sebelumnya. Alam Sutera.

Jalan menuju Alam Sutera masih jauh. Motor jadul Bapak yang kami bawa berasa 'ngos-ngosan' ditambah lampu motor yang 'kalah saing' dengan mobil-mobil berkecepatan tinggi membuat kami tegang sepanjang perjalanan. Klakson mobil tidak pernah henti meneriaki kami di jalan.

"Aduh bi, ini jalanannya serem banget. Mobilnya kenceng-kenceng, takut ketabrak"

Saya yang dibonceng dibelakang gemeteran, klakson mobil membuat kami panik di tengah jalan. Belum lagi beberapa motor juga mengumpat kami dari belakang. Mungkin karena motor kami berjalan agak lambat, pengendara lain jadi nafsu untuk memaki kami di jalan.

Kami hanya bisa geleng-geleng kepala, gak ngerti kenapa lalu lintas disini begitu 'sadis'.

Masuk ke dalam perumahan Alam Sutera, jalanan menjadi semakin sepi. Mungkin lebih tepat dibilang mencekam.

Kenapa?

Karena jalanan menjadi gelap, penerangan jalan belum memadai. Nampaknya jalan yang kami lalui adalah jalanan yang baru selesai dibuat.

"Cobaan apa lagi ini? Masa ke toko buku jalanannya serem begini, kalau ada begal gimana nih?" 

Saya hanya bisa bergumam dalam hati, sambil berdo'a, semoga kami tetap baik-baik saja sampai ke toko buku nanti.

Sebuah bangunan besar dengan lampu sorot terlihat. 

"Itu kali bi mall-nya"
"Iya, itu kayaknya"

Motor jadul Bapak dikebut, buru-buru kami cari jalan agar cepat sampai ke mall of Alam Sutera. 

"Alhamdulillah, bisa juga kesini, kaki udah lemes banget, berasa mau copot, kebanyakan diklakson orang"

Tempat parkirnya masih kotor dan berantakan, kerasa banget Mall ini baru selesai dibangun. 

"Jangan buang waktu, ayo cepetan kita ke toko buku"

Seperti sebelumnya, saya langsung ke tempat informasi untuk nanya apakah 'Mas Gagah' masih ada. 

"Mbak, ada buku yang judulnya 'Mas Gagah' ngga?"

"Sebentar, saya cek dulu"

Semoga ada Ya Alloh, semoga, semoga. Gak kebayang kalau harus 'berpetualang' lagi di daerah sini.

"Ada Mbak, di rak novel"

"Alhamdulillah" kami kompakan. 

Akhirnya ketemu juga sama 'Mas Gagah'. Hampir jam setengah sebelas malam. Dan, besok pagi kita harus 'nyubuh' untuk pergi ke Ragunan.

"Bi, kita harus siap mental nih"
"Buat apa? audisi?"
"Ih, bukan"
"Trus?"
"Siapin mental buat di jalan pulang"

---------

Tentang 'Mas Gagah'

Mas Gagah itu ganteng, tampang model, jago karate, humoris, pinter lagi, Mahasiswa UI!

Siapa coba yang bisa nolak buat jadi adiknya Mas Gagah? 

Secara, bangga banget bisa punya kakak super keren seperti Mas Gagah. Dan, Gita lah yang menjadi adik paling beruntung di dunia ini. Punya Mas Gagah. 

Mas Gagah udah mirip selebritis, banyak yang suka. 

Almost Perfect!

Tapi, suatu saat Mas Gagah berubah. Membuat Gita jadi jengah dengan Mas Gagah yang baru. Mas Gagah yang dikenalnya, sudah menjadi orang lain. Mas gagah berubah setelah pulang dari Madura. 

Ada apa sih di Madura? Kok bisa merubah Mas Gagah se-drastis itu?

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.

"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"

"Lain gimana Ma?"

--------

Suatu hari,

"Kriiiinggg!" telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"

"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.

"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.

"Mas Gagaaaaahhhh" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

(penggalan cerita KMGP)

--------

Mencari  'Mas Gagah'


Saat ini, KMGP (Ketika Mas Gagah Pergi) akan diangkat ke layar lebar. Lebih dari 300 orang dari dalam dan luar negeri mengikuti online casting melalui Youtube untuk menjadi calon pemeran-pemeran kunci film drama religi KMGP sejak Februari 2015 lalu. Setelah online casting ditutup akhir Mei lalu, produser, sutradara dan tim penulis skenario sepakat memilih 12 kandidat yang paling potensial. 

Para kandidat ini berasal dari Jakarta, Bogor, Medan, Lampung, Palu, dan Surabaya, bahkan ada yang sedang kuliah di Jerman. Mereka dikumpulkan di gedung Communicasting, Pondok Indah, tanggal 13 Juni lalu, untuk menjalani screen test dan pemotretan. Mereka juga mendapat bekal keaktoran dasar dari sutradara teater Zak Sorga. 

Adhawiyah, line producer film KMGP, mengatakan bahwa mereka mencari 4 pemeran baru dalam film ini yaitu Gagah, Gita, Yudi, dan Nadia. 

Mereka mencari sosok berkarakter yang bisa menjadi role model bagi anak-anak muda Indonesia. Untuk pemeran pendamping, akan ditampilkan bintang-bintang yang sudah terkenal.


Komunitas ODOJ mendukung film KMGP

Skenario dipercayakan kepada penulis skenario dan sutradara film dokumenter Fredy Aryanto. Untuk sutradara, Helvy mempercayakannya kepada Firmansyah. Hal ini sesuai amanah almarhum Chaerul Umam yang sedianya menjadi sutradara KMGP, namun beliau wafat 2013 lalu. Film KMGP dijadwalkan mulai syuting pada Oktober 2015, di Jakarta juga di Maluku Utara. 

Banyak yang ingin mengangkat KMGP ke layar lebar. Namun Helvy dan kawan-kawan memutuskan untuk bergotong royong mencari dana sendiri (crowdfunding), guna mempertahankan ruh novellet tersebut dalam film. Gerakan budaya “Patungan Bikin Film KMGP” ini kemudian didukung oleh komunitas pembaca buku KMGP yang menyebut diri mereka: Sahabat Mas Gagah. Dukungan juga mengalir dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia Forum Lingkar Pena (FLP), dan komunitas One Day One Juz (ODOJ). 

Arlina dari ACT menyebutkan bahwa Film ini memuat nilai-nilai kehidupan yang luar biasa dan bisa membentuk karakter anak-anak muda (muslim) Indonesia yang lebih mencintai sesama serta peduli pada sekitar. Visi misi film KMGP juga serupa dengan ACT, karena sebagian keuntungan film ini akan disumbangkan bagi pendidikan anak-anak dan kegiatan literasi di Indonesia Timur serta sebagian lagi untuk pendidikan anak-anak Palestina.

Press conference untuk mengumumkan siapa pemeran utama dilm KMGP akan diadakan Ramadhan ini. Nah, bagi yang peduli dan ingin mendukung film KMGP, kita masih bisa ikut patungan dengan mengirimkan dana semampunya pada nomor rekening berikut:



Bank Mandiri Cabang Margo City Depok 1570087778883 a.n. Lembaga Forum Lingkar Pena
BNI Syariah cab Margonda 0259296140 a.n Yayasan Lingkar Pena
Bank Mandiri 1640000965592 a.n Aksi Cepat Tanggap


Setelah dukungan diberikan, kita bisa konfirmasi via sms ke 08121056956 (Risty).

(sumber dari sini)

--------

Kenang-kenangan dari 'Mas Gagah'

Suasana audisi pertama pencarian sosok Mas Gagah, Gita, Nadia, Yudhistira sangat ramai dan penuh sesak. 

Peserta audisi datang dari berbagai penjuru Indonesia. Ada yang sendirian, diantar teman, diantar keluarga, diantar pasangan, seperti saya mengantar abbiy ikut audisi. 

Peserta audisi juga sangat beragam, mulai dari yang tidak pernah masuk kelas akting sama sekali, hingga yang seringkali ikut casting di sana-sini. 

Waktu itu audisi break sebentar. Peserta diperkenankan istirahat untuk sholat dan makan siang. 

"Mi, abbiy mau sholat dulu ya"
"Iya"

Saya duduk di sebuah taman kecil, menunggu abbiy shalat sambil mengobrol dengan beberapa perserta audisi dan keluarga yang mengantar mereka. 

Kemudian, selang beberapa menit kemudian abbiy datang menghampiri saya.

"Tau gak tadi abbiy shalat berjamaah sama siapa?"
"Sama siapa?"
"Sama Didi Petet"
"Wah? Beneran?"
"Iya"

Memang benar, salah satu juri audisi pertama waktu itu adalah Om Didi Petet. Aktor legendaris Indonesia yang belum lama ini telah mendahului kita untuk menghadap-Nya. 

Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah beliau dan menempatkan beliau di tempat yang terbaik di sisi-Nya.

Didi Petet adalah salah seorang aktor yang mendukung KMGP untuk diangkat ke layar lebar. Menurut sumber yang terpercaya, Didi Petet pernah berpesan kepada Bunda HTR jika suatu saat Bunda HTR telah menemukan sosok Mas Gagah, jangan lupa untuk mengabarinya segera.

Ternyata banyak orang yang ingin 'bertemu' sosok Mas Gagah di dunia nyata. Tidak terkecuali Om Didi Petet. 





Blogger Muslimah mendukung Mas Gagah menuju layar lebar. Sosok Mas Gagah yang menginspirasi lewat kata kami yakini mampu menginspirasi masyarakat melalui 'pentas drama'.

Kami yakin bahwa Mas Gagah mampu memberikan rasa sejuk bagi dahaga akan kisah penuh hikmah yang dapat memberikan role model bagi masyarakat khususnya pemuda muslim untuk berjuang di abad ini.

Dan kami berharap, dengan majunya Mas Gagah ke layar lebar akan membuka peluang lahirnya Mas Gagah lainnya untuk ikut memberikan pengabdian terbaik bagi masyarakat, bangsa dan Agama. 


Info lebih lanjut klik www.masgagah.com 


Semoga Bermanfaat :)

8 comments on "Mengejar 'Mas Gagah'"
  1. aku juga penasaran nanti siapa yg memerankan mas gagah. Siap2 jd idola tuh...;)

    ReplyDelete
  2. Penasaran sama filmnya. by the way...si abbiy, lolos audisi nggak mak Tet? hihihi :D

    ReplyDelete
  3. kayanya saya harus baca novelnya juga, ya. Masih bingung dengan yang namanya Mas Gagah ini :)

    ReplyDelete
  4. Aiij.. Review mas gagah menarik nih, jd pingim liat film nya, secara ngga terlalu bisa betah baca buku :v

    ReplyDelete
  5. Jadi makin penasaran pengin baca buku Mas Gagah ini ^^b

    ReplyDelete
  6. Hi makk.. GFC nya namanya apa ya makk, soalnya aku cari gak ada.. Atau bisa disebutkan nomor follownya?
    Btw #KEB adakan nonbar mas gagah, seru kali ya hehehee


    Http://beautyasti1.blogspot.com

    ReplyDelete
  7. Mas Gagah ini salah satu buku keren yang pernah saya baca. Semoga pembuatan filmnya berjalan lancar. Amin

    ReplyDelete
  8. jd penasaran nih, pgn baca bukunya dl sbelum nonton filmnya

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D