Ibu yang Putus Asa

| On
September 27, 2017

Siang itu saya pergi ke warung, lebih tepatnya sih toko beras, karena kebetulan stok beras di rumah saya sudah habis. 

Di sebelah toko beras berjajar toko kosmetik, warung sayur dan juga mini market.

Ketika saya sedang membeli beras, datanglah seorang ibu naik motor, gendong bayi dan membawa seorang anak laki-laki sekitar kelas 3 atau 4 SD gitu lah.

Mereka bertiga berjalan menuju toko kosmetik yang tidak jauh dari toko beras.

Sebenernya sih saya gak niat nguping, tapi obrolan ibu tadi dan penjaga toko kosmetik itu kedengeran. Abis sih ngomongnya kenceng banget, jadi aja saya tau mereka lagi ngomongin apaan. 

Hehehe.

Ternyata, si ibu tadi pergi ke toko kosmetik untuk mencari obat untuk menyembuhkan kaki anaknya yang banyak sekali luka-luka semacam koreng, bahkan ada beberapa luka yang masih ngeluarin darah.

Merinding juga sih saya liatnya.

"Oh. Jadi ga ada ya Bu?"

Ucap ibu dengan dua anak tadi.

"Ga ada kalau untuk luka begini." Jawab si empunya toko.

Saya paham. Ibu itu sedang mencari obat untuk menyembuhkan sakit anaknya. 

Tapi kok ke toko kosmetik? 

Ketika sang ibu keluar dari toko saya nyamber sksd.

"Coba pake betadi** atau seba*** bu, antiseptiknya tinggi. Lumayan bagus."

"Oh iya, tapi mahal ya kalo ga salah?"

"Ya, lumayan sih Bu, tapi bagus, saya juga suka pake buat anak-anak di rumah."

"Oh gitu, makasih ya, Bu." Jawabnya sambil berlalu dengan wajah separuh kecewa. Ia kembali naik motor bersama dua anaknya dan entah hilang kemana.

Kalau saja kita dihadapkan sama "kelakuan aneh" ibu tadi, nyari obat sakit kulit ke toko kosmetik, pasti di benak kita terbersit:

1. Dasar ibu aneh, nyari obat sakit kulit ke toko kosmetik.

2. Pasti anaknya ga keurus, kakinya sampai begitu.

3. Kayaknya itu ibu udah kehabisan ide buat ngobatin anaknya, putus asa kali.

Dan jujur saja, saya pernah berada di posisi ibu tersebut, merasa "putus asa"

.

Jadi ceritanya waktu itu batuknya Kifah kambuh. Saya udah sering banget cerita di blog kalau Kifah punya asma dan alergi. Dan sungguh saya berasa capek terus-terusan ngobatin Kifah.

Hingga pada suatu saat saya merasa "putus asa"

Saya minta dianter ke tukang jamu. Tau kan tukang jamu yang ada di pinggir jalan? Yang tokonya dominan warna hijau kuning itu loh?

Ya. Saya bawa Kifah ke sana buat nyari obat batuk. Saya mikir sederhana, mungkin aja ada jamu buat ngobatin batuk asma.

"Mas ada obat batuk ga? Atau obat asma?" Tanya saya ke penjaga toko jamu.

"Gak ada bu kayaknya, paling ini."

Dia menyodorkan sesachet jamu, yang kemudian saya baca komposisinya adalah jahe, gula, dan bahan lainnya.

"Yaudah, berapa harganya mas?"

"Dua ribu."

Hah? Murah amat? Dalam hati saya.

Ketika saya keluar dari kios jamu, ada seorang bapak yang akan masuk, dia menatap aneh ke arah saya.

"Kenapa sih itu bapak-bapak?" Saya membatin.

Ketika tiba di rumah, Kifah gak mau minum jamu itu, katanya gak enak. Yo wes lah, akhirnya jamunya ga jadi diminum Kifah.

Dan akhirnya saya baru kepikiran soal bapak-bapak yang mau masuk ke kios jamu tadi.

Duh, jangan-jangan bapak tadi mikir yang aneh-aneh lagi. Soalnya waktu di dalem kios jamu saya baca macam-macam kemasan jamu, dan dari judulnya banyak jamu yang -yaaa gitu deh- jamu lelaki ala-ala, eeaaaaa.

wkwkwkw.

Pantesan itu bapak kaget liat saya keluar dari kios jamu. Doh, baru sadar eyke.

Jujur aja, "Ibu yang linglung dan putus asa" macam saya dan ibu yang saya ceritain tadi itu kerap terjadi loh.

Bukan karena kurang pendidikan atau pengetahuan, hal itu terjadi karena banyaknya tekanan lingkungan sekitar ibu, saya atau mereka gak tau lagi harus kemana dan berbuat apa ketika menghadapi masalah-masalah terutama tentang anak.

Seorang ibu yang banyak anak, pekerjaan, tekanan, ditambah kurangnya me time, rentan banget loh putus asa dan jadi gak logis ngambil keputusan.

Makanya sampe ada ibu-ibu yang karena saking putus asanya bawa anaknya ke "orang pintar" untuk berobat.

Hmmm, tapi di satu sisi saya gak berani menyalahkan atau gimana.

Karena ya itu tadi, saya pernah berada di sana, berada di level gak tau tau lagi harus berbuat apa, tanya siapa, dan harus pergi kemana.

Dan yang berusaha selalu saya hindari ketika tau anak teman atau tetangga sakit adalah:

1. Menanyakan hal yang hanya membuat orang tuanya jadi malu.

2. Bertanya untuk mengorek luka.

3. Bertanya tapi seperti menyalahkan.

Lebih baik langsung menolong jika dibutuhkan, atau mendo'akan yang baik-baik untuk kesembuhan anaknya.

Karena saya pun tau, semakin lingkungan ibu penuh tekanan, semakin dekat ibu dengan rasa "putus asa" hingga akhirnya membuat keputusan diluar logika.

.

Berempatilah kepada sesama perempuan, sesama ibu, sesama istri.

Bukankah yang saling mengerti bahwa perempuan sangat mudah terbawa perasaan adalah para perempuan sendiri?

Yuk hindari pertanyaan yang menyakiti, lebih baik ulurkan tangan untuk saling menolong satu sama lain sesuai kapasitas yang kita miliki.

Karena seorang ibu sangatlah rentan "putus asa" jika lingkungannya terus menerus memperpendek jaraknya dengan logika dan akal sehat.

*peluk semua ibu di dunia
*refresh your mind, body, and soul
*karena kamu tidak sendirian





5 comments on "Ibu yang Putus Asa"
  1. makasiiih pelukannya mbaaaa
    *dari ibu yang semalam habis begadang karna anak sakit*

    ReplyDelete
  2. saya merasakan sekali bagaiman ibu itu sll berusaha untuk anaknya saya jd iget masa kecil saya yg sakit sampe ikhtiar alm ibu kasi saya daging kadal ap kodok y lupa supaya sembuh tp saya sll yakin doa dan kasih syg ibu serta kesabarannya lah yg bisa support biar kesembuhan anak y mb

    ReplyDelete
  3. TT___TT mbreleee air mata baca ini. Peluuuukaan yuuuuk

    ReplyDelete
  4. Tanpa sada, atau bahkan sadar ya, ibu memang mudah putus asa ya. Apalagi kalau dianggap tak dapat mengurus anak. Duh ...

    ReplyDelete
  5. Memang ibu itu pekerjaan yang paling sulit dan berat ya, Mbak. Kadang keputusannya selalu dinilai sebelah mata. Padahal kan mereka belum merasakan.

    Saya masih perlu banyak belajar supaya jadi orang yang tidak mengomentari buruk akan keputusan orang lain. Semoga bisaaa semakin baik :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D