Titip Rindu Buat Ibu

| On
January 15, 2014

"Tidak ada yang lebih hangat selain dekapan seorang ibunda"


Diah (kanan)

Namanya Diah, usianya belum genap 5 tahun ketika saya bertemu dengannya ketika Himpunan Mahasiswa jurusan tempat saya kuliah dulu melakukan program P2M singkatan dari Pengabdian Pada Masyarakat. 
P2M sendiri merupakan suatu program yang dilakukan secara swadaya oleh mahasiswa dalam rangka mengamalkan tri dharma perguruan tinggi, yakni pengabdian. 

Kala itu bulan Januari 2010 himpunan mahasiswa melakukan pengabdian pada masyarakat di kabupaten Subang Jawa Barat. Tepatnya di dusun Cibuluh, Parung Jaya. Kami melakukan pengabdian selama satu minggu di desa tersebut. Program kerja dan acara yang kami selenggarakan cukup beragam, sesuai dengan berbagai bidang kerja yang ada di himpunan itu sendiri. Misalnya bidang Agama, biasanya bidang agama melakukan pengajian atau ta'lim bagi warga sekitar dan menyelenggarakan Taman Pendidikan Al-Qur'an bagi anak-anak di lokasi P2M. Sedangkan bidang lain, seperti olah raga melakukan perlombaan-perlombaan olah raga antar warga. Sedangkan bidang pengembangan sumber daya organisasi biasanya akan berkolaborasi dengan karang taruna setempat untuk berdiskusi dan sharing pengalaman seputar organisasi.


Pengabdian pada masyaarakat merupakan kegiatan yang sangat ditunggu dan diminati oleh seluruh mahasiswa. Bagaimana tidak, penyelenggaraannya yang bertepatan dengan liburan semester ini dimanfaatkan sebagai ajang liburan setelah padatnya perkuliahan selama satu semester kebelakang. Selain itu, pengabdian juga menumbuhkan jiwa sosial dan rasa empati terhadap kondisi daerah di pelosok tanah air.

Suatu hari, saya diminta menjadi pengajar oleh sebuah PAUD yang ada di desa tempat kami melakukan P2M. Kebetulan PAUD tersebut terletak tidak jauh dari rumah tempat kami tinggal. Tentu dengan senang hati saya menerima tawaran tersebut. Bersama beberapa orang teman, saya mulai megajar. Kami merasa senang bisa mengajar anak-anak yang berusia 3-5 tahun. 

Tidak ada yang aneh dengan proses belajar mengajar di PAUD tersebut Hanya beberapa fasilitas sekolah yang memang belum lengkap. Seperti ruang belajar yang masih seadanya, taman bermain yang juga masih seadanya, hanya ada halaman yang cukup luas untuk anak-anak berlarian pada jam istirahat. Tapi ada satu hal yang membuat saya penasaran, ada seorang anak perempuan yang sangat manja dan sangat sensitif. Dia anak yang cantik, ceria, dan aktif. Terlebih lagi dia lebih pandai dari teman-teman sekelasnya. Ia tahu banyak informasi, berita, dan lain sebagainya. Katanya memang acara favoritnya adalah siaran berita di tv. Nama anak itu adalah Diah. 

Lama-kelamaan saya dan Diah semakin akrab. Bahkan dia sangat "nempel" dengan saya. Tapi karena saya bertugas mengajar di sekolah tersebut, tentunya saya harus membagi perhatian yang sama kepada semua murid. Namun Diah merasa tak senang apabila saya memberikan perhatian kepada murid yang lain. Ia nampak marah, dan kemudian menangis. Saya bingung jadinya, saya hanya ingin berlaku adil kepada seluruh murid dikelas.

Saya agak bingung menghadapi Diah yang pencemburu bahkan tampak posesif. Dia ingin perhatian saya hanya kepadanya. Sebentar-sebetar ia menangis jika saya memperhatikan murid yang lain. Ditengah kebingungan, tiba-tiba seorang Ibu yang mengantar anaknya bersekolah nyeletuk "Diah mah da teu gaduh mamah, Bu. Jadi sok ogo ka Bu Guru na" (Diah tidak punya ibu, makanya dia suka manja pada Bu Gurunya). Astargfirullah, ternyata Diah sudah tidak punya ibu. Saya jadi sedih, mungkin ini yang membuat dia teramat manja dan pencemburu. 

Saya jadi penasaran, apakah Diah memang sudah tak punya ibu (apakah ibunya meninggal atau bercerai dengan sang ayah). Kemudian saya beranikan diri bertanya kepada wali kelas di PAUD. 
"Bu, kalau Diah itu ibunya sudah ngga ada?"
"Iya neng" jawab Bu wali kelas.
"Meninggal?"
"Kerja di luar negeri" Bu wali kelas menjawab dengan nada pelan.
Saya benar-benar kaget, ternyata Ibu dari Diah memang tidak ada. Ibunya menjadi TKW di Arab Saudi. 


Saya makin penasaran, saya putuskan mencari informasi lebih lanjut kepada orang-orang terdekat Diah dan masyarakat sekitar yang sekiranya bisa saya minta keterangannya. Juga dari mulut Diah kecil sendiri, sesekali saya bertanya tentang ibunya. 

Menurut cerita di masyarakat, ibunda Diah pergi ke Arab Saudi sejak Diah masih balita. Sekarang Diah tinggal dengan Ayah, Kakek, dan Neneknya. Kakeknya adalah seorang guru di SDN Parung Jaya, sedang neneknya biasa berkebun dan pergi ke sawah. Ayahnya tidak bekerja, dan Diah biasanya marah-marah dan tidak senang membicarakan ayahnya, karena menurutnya ayahnya tidak melakukan apa-apa sehari-hari, hanya tidur dan berdiam diri di rumah. Diah nampak sangat tidak suka, dan katanya ia hanya menyayangi kakek dan neneknya saja. 

Sesekali saya berkunjung ke rumah Diah. Sepulang sekolah biasanya dia berganti baju dan nonton televisi di ruang tengah. Ya, hanya televisi temannya sehari-hari di rumah. Katanya ia paling suka acara berita dan sinetron. Untuk urusan makanan, sebelum pergi ke sawah sang nenek telah menyiapkan makanan untuk Diah di dapur.Jika tidak ada makanan, biasanya Diah pergi ke rumah tetangga yang masih saudaranya untuk meminta makanan atau meminta uang untuk jajan. 

Diah kecil yang paling suka bermanja-manja :)


Diah selalu bercerita bahwa ia sangat merindukan kehadiran sosok ibu tercinta. Hanya ada selembar foto yang bisa ia tatap ketika rindu itu sedang memuncak dihatinya. Dia bilang ibunya adalah sosok yang baik dan cantik, namun ia selalu bertanya-tanya kenapa sang ibu tega meninggalkannya pergi ke luar negeri, dan ia tak pernah tahu kapan ibunya akan kembali. Diah bercerita, saat ibunya pergi meninggalkannya usianya masih berkisar 4 tahun, samar-samar ia mengingat kejadian paling memilukan dalam hidupnya itu. Sang ibu pergi untuk ke Arab Saudi dalam kondisi Diah yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Ketika sang ibu pergi, ia dikunci di kamar mandi agar ia tidak melihat prosesi yang sangat mengharukan itu. Ia benar-benar marah, ia terus meronta-ronta ingin keluar dan mencegah sang ibu untuk pergi. Tak terasa saya pun menitikkan air mata ketika anak seusia Diah bercerita. Saya tak pernah bisa membayangkan apa yang terjadi pada hari itu. Dan akhirnya saya benar-benar faham kenapa Diah begitu manja dan posesif. Karena dia merasa benar-benar kehilangan seorang ibu, yang tak bisa digantikan oleh apapun dan siapapun.


Sejak saat itu saya merasa perlu untuk memperhatikan ia lebih dalam. Bahkan seorang teman mengatakan kepada saya untuk bersikap tidak berlebihan kepadanya, takutnya ketika kegiatan P2M selesai ia tak mau ditinggalkan. Saya pun mengangguk, saya faham memang berat untuk tidak memberikan perhatian lebih padaya. Ceritanya yang begitu memilukan membuat saya benar-benar tersentuh.

Hingga pada suatu waktu ia memohon untuk memanggil saya "bunda". Agak menggelikan memang, bagi sebagian orang mungkin itu berlebihan. Tapi saya menuruti keinginannya, lagi-lagi karena saya merasa kasihan. Jadilah saya dipanggil "bunda" olehnya sepanjang P2M berjalan, dan manjanya bukan main. Minta diajak jalan-jalan, digendong, dibuatkan mie, ditemani nonton tv, dan lain-lain. Sampai pada suatu hari ia mengaduh kesakitan dan meminta dipeluk. Ternyata gigi depannya hampir copot, ia kesakitan karena giginya mengeluarkan darah. Sebenarnya saya pun panik pada saat itu, saya bingung untuk melakukan pertolongan pertama (padahal waktu kecil saya pernah merasakannya). Hingga akhirnya saya mengajaknya ke pinggir kolam dan bercerita bahwa gigi baru yang lebih bagus dan kuat akan segera tumbuh, maka dari itu gigi lamanya harus segera dicabut. Dengan rasa sakit, akhirnya saya membantunya untuk mencabut giginya yang sedikit lagi akan tanggal. Dan akhirnya "krek" satu gigi susu depannya terlepas. 

Tak terasa seminggu pun berlalu, akhirnya tibalah saat perpisahan saya dan Diah. Sangat sedih memang, tapi saya mencoba memberikan pengertian kepada Diah bahwa saya disini hanya sebentar, dan kita akan berpisah. Diah anak yang cerdas, saya yakin dia mampu memahaminya. Setelah pelan-pelan saya bicara Diah mampu memahami bahwa saya memang tidak akan tinggal di desanya dalam jangka waktu yang lama. 
Diah hanya tersenyum, dan dia bilang bahwa suatu saat dia akan menelpon saya ketika sudah pulang ke Bandung. Dan dia bercerita tentang keinginannya berkunjung ke Bandung dan jalan-jalan membeli strawberry dan anggur buah favoritnya. Hmmm.. batin saya terenyuh lagi mendengar celotehnya itu. (dan memang benar pada suatu hari ia menelpon saya, dengan suara cemprengnya ia memanggil "bunda""bunda" "ini Diah, ini Diah")

Kakek dan nenek Diah juga sangat senang dengan keberadaan kami para mahasiswa di desanya, begitu pun masyarakat setempat. Bahkan ketika kami semua pamit pulang tak sedikit warga yang memberikan kami bekal oleh-oleh. Begitupun kakek dan nenek Diah, rambutan dan manggis tak lupa dibungkus untuk kami semua.

Diah belajar 'jeprat-jepret'

Sejak saat itu saya percaya dan yakin bahwa kehadiran seorang ibu merupakan hal yang paling membahagiakan bagi seorang anak. Tak bisa digantikan oleh apapun dan siapapun. Semoga hari ini Diah kecil sudah berkumpul lagi dengan sang ibunda.




Bunda kangen kamu Diah kecil  :)



Related Post: 

Mana Gerbong-nya?

Jadilah Pribadi yang Menarik dalam 10 Langkah Sederhana Ini!

 










Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D