Selalu Ada Pesan dari Kematian

| On
May 15, 2015
Sumber Gambar


"Orang yang paling cerdas adalah orang yang mengingat kematian"
(HR. Thirmidzi)


Sebagai muslim, kita sudah sangat familiar dengan hadits di atas. Ketika pertama kali mendengar hadits tersebut ketika masih duduk di bangku madrasah, saya seringkali bertanya-tanya, apa hubungannya orang cerdas dengan kematian? 

Bukankah kecerdasan identik dengan prestasi, ilmu tinggi, serba bisa, IQ 150 keatas, sekolah di luar negeri, IPK cumlaude, menguasai banyak bahasa asing, dan lain sebagainya. 

Tapi kenapa mati jadi ukuran kecerdasan?

Semakin besar, semakin saya mengerti. Ketika mendengar kabar kematian, baik itu tetangga, saudara, teman, keluarga, hati ini langsung ciut, merasa tak berarti, merasa bukan apa-apa, merasa bukan siapa-siapa, merasa bahwa suatu saat kita pun akan menemui ajal kita.

Seminggu ini saya mendengar dua berita duka dari dua orang public figur. Dua orang yang saya kagumi prestasinya, yang saya apresiasi karyanya. Mas Andri Djarot dan Kang Didi Petet.



Salah Satu Presenter Berita Favorit

Sumber Gambar

Jika saya menyalakan televisi di pagi hari bersama suami, hal yang pertama kali dicari adalah BERITA. Karena apa? Ya karena kita semua butuh berita, butuh informasi. 

Salah satu stasiun favorit kami adalah trans Tv dan trans 7. Beritanya ringan, dan tidak suka mendramatisir isu politik. Pagi-pagi sudah dijejali drama politik rasanya tidak enak. Maka dari itu kami sering memilih stasiun TV yang ringan-ringan saja.

Nah, disitu kami melihat Mas Andri Djarot. Presenter/pembawa berita yang pembawaanya tenang dan suka melucu. Saya juga follow akun twitternya @Andjrot. Tweet-tweet-nya memang berisi tentang dunia presenting, berita, media, dan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Tapi tidak sedikit tweet yang bernada komedi, kritik, lucu-lucuan, yang juga suka saya retweet. 

Menurut berita yang saya baca, Mas Andri ini seorang yang 'gila kerja' dan juga cukup berprestasi. Salah satu prestasinya adalah pemenang kontes Abang None Jakarta. 

Sakit paru-paru lah yang akhirnya menjadi jalan kepulangannya menuju penciptaNya 12 Mei lalu. Dalam usia yang masih sangat muda, 36 tahun. Semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik. Memberikan tempat yang indah di JannahNya.


Kang Bahar Benar-Benar Pensiun

Setelah berita duka dari Mas Andri, hari ini kabar duka kembali datang dari Aktor senior Kang Didi Petet atau sekarang lebih dikenal sebagai Kang Bahar

Siapa yang tidak tau sinetron Preman Pensiun di RCTI. Tayangan ulangnya pun sampai 3 kali. Dan saya tidak pernah sedikit pun bosan dengan sinetron Preman Pensiun ini. Kelanjutan sinetronnya pun akan ditayangkan akhir Mei ini (Preman Pensiun 2), karena saking banyaknya fans setia dari sinetron yang memiliki cerita unik seputar dunia premanisme di Kota Bandung.


Sumber Gambar

Siapa yang menyangka, sinetron Preman Pensiun ke 2 belum tayang, namun sang pemeran utama telah tutup usia. 

Semoga amal ibadahmu selalu diterima disisiNya. Ditempatkan di tempat terbaik di JannahNya.

Saya kembali teringat dialog antara Kang Bahar (Didi Petet) dan Kang Muslihat (Epi Kusnandar) dalam sinetron Preman Pensiun.


"Akang ingin berhenti dari bisnis ini. Akang hanya ingin menempuh jalan yang baru" 



Ya, 'jalan yang baru' itu telah engkau tempuh sekarang. Jalan untuk menemui Rabb semesta alam. Semoga karya-karya yang telah engkau ciptakan menjadi amal ibadah yang terus mengalir. Aaaminn ya robbal 'alamiin.

------------

Kematian selalu membawa pesan. 

Pesan tentang lemahnya diri ini, ketika nyawa terenggut, semua seakan sudah tidak ada artinya lagi selain amal baik yang selama ini kita kerjakan. 

Saya teringat oleh perkataan seorang ustadz:

"Ketika kita meninggal, setampan apapun kita ketika di dunia, sekaya apapun ketika kita di dunia, se-terkenal apapun ketika di dunia, tak ada yang ingin menyimpan jenazah kita semalam pun di dalam rumah, sekalipun di dalam gudang"


Ketika kita meninggal, jasad kita sudah tak berharga lagi, tak ada yang ingin menyentuh, tak ada yang ingin mendekat, apalagi menyimpan selamanya. Yang dikenang hanyalah amal baik, karya yang baik, dan kebermanfaatan kita di dunia.

Berita kematian selalu membuat kita berpikir ulang, apa sesungguhnya yang kita cari di dunia ini. Apakah harta, popularitas, jabatan? 

Bagaimana jika suatu saat kita menemui ajal, apakah semua yang kita usahakan selama ini akan berarti, akan berguna, sebagai bekal kita pulang kepadaNya. 

Pesan dari kematian, selalu bisa mengetuk hati yang penuh akan kesombongan. Pesan dari kematian, sanggup menampar hati yang penuh harap akan pujian. Pesan dari kematian, adalah pesan yang paling mengguncang diri yang penuh dengan kelalaian.



“Ya Allah, akhirilah hidup kami dalam keislaman, akhirilah hidup kami dalam keimanan, akhirilah hidup kami dengan akhir yang baik (husnul khatimah)”




Semoga Bermanfaat

3 comments on "Selalu Ada Pesan dari Kematian"
  1. Org yg cerdas adalah yg selalu mengingat mati.
    Terima kasih atas notes yang indah ini Mak.
    Dzikrul maut... dzikrul maut...

    ReplyDelete
  2. Wah ada Mak Nurul, makasih mak sudah berkunjung :)

    ReplyDelete
  3. Terimakasih teh. Zahra seringkali lupa akan kematian dan merasa jumawa akan segala yang dipunya. Padahal segalanya adalah milik Allah...

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D