"Perjuangan" Dibalik Nama Bayi

| On
October 27, 2015


“Sesungguhnya kamu akan dipanggil pada Hari Kiamat nanti Dengan nama-namamu dan juga nama Bapak-bapakmu, maka perindahlah Nama-namamu” (HR. Imam Abu Daud) 


Nama adalah sebuah identitas yang akan melekat seumur hidup. Pemberian sebuah nama adalah hal yang paling utama dalam hidup manusia, karena bukan hanya untuk identitas di dunia saja, ternyata nama kita ini akan kita gunakan hingga di yaumil hisab nanti. 

Setiap orang pasti senang ya memiliki nama yang indah dan memiliki arti yang baik. Saya sendiri merasa sangat exited ketika pertama kali memiliki anak dan akan memberikan nama kepada anak pertama saya. 

Seperti yang kita ketahui, dalam Islam biasanya nama disematkan kepada anak ketika menginjak hari ke 7 kelahiran, biasanya bertepatan dengan hari Akikah anak. Walaupun kadang orang tua ada yang sudah memberikan nama ketika anak baru lahir atau bahkan ketika masih di dalam kandungan. Kalau saya sih (orang Sunda) biasanya memanggil bayi yang masih dalam perut dengan sebutan “Si Utun” hihi.

Ketika hasil USG kehamilan pertama saya menunjukkan bahwa saya tengah mengandung anak laki-laki, saya dan suami kemudian mencicil nama-nama bayi laki-laki. Baik itu via internet atau membeli buku tentang nama bayi. Kami berdua tidak mematok harus dalam bahasa apa nama bayi kami nanti, yang penting arti namanya baik, menjadi do’a dan sumber motivasi bagi hidupnya kelak. 

Dalam Islam sendiri sudah ada aturan dalam pemberian nama anak, jadi sebisa mungkin kami mengikutinya dengan baik. 

1. Nama yang bermakna penghambaan kepada Allah SWT boleh digunakan. Contohnya Abdul Aziz, Abdul Fattah, ada makna Abdul (hamba/penghambaan) kepada sang Khalik. 

2. Boleh menggunakan nama nabi dan nama para tabi’in. 

3. Nama yang memberikan simbol keindahan, harapan, dan do’a yang baik. Contohnya Salsabila (nama sebuah telaga di syurga). 

4. Boleh dari bahasa apapun, tidak melulu bahasa Arab, namun harus diperhatikan artinya dengan seksama, harus benar-benar baik. 

Ada juga nama yang tidak boleh disematkan kepada anak loh ternyata. Bahkan Rasulullah pun pernah mengganti nama-nama sahabat yang memiliki makna yang buruk (seperti durhaka, dusta) menjadi nama-nama yang lebih baik maknanya. 

“Sesungguhnya nama yang paling dibenci Allah adalah orang yang bernama Malakul Amlak (Raja diraja)”. HR. Bukhari Muslim. 

Selain itu, nama-nama orang yang memusuhi Islam juga jangan sampai disematkan kepada anak. Nama hewan yang buruk, nama dengan makna yang buruk, nama-nama yang langsung mengambil sifat Allah SWT (tidak menggunakan Abdul/hamba), dan juga nama-nama malaikat. 


Kembali ke pemilihan nama anak saya yang pertama. 

Setelah mengetahui jenis kelamin bayi saya, akhirnya saya memilih beberapa nama bayi yang akan disematkan kepada anak saya. 

Pertama, ada kata Abdullah (karena nama ini paling disukai oleh Allah SWT). Kemudian, karena waktu itu saya hamil saat kuliah (baca cerita saya saat hamil saat kuliah di sini) kami ingin sekali memberikan nama anak yang mencerminkan sebuah perjuangan. Karena memang kami merasa sedang berada di masa perjuangan hidup kami *tsaahh. Menikah saat kuliah, kemudian hamil, benar-benar perjuangan bagi saya dan suami. 

Setelah berembuk, akhirnya munculah nama “Kifah” yang artinya Perjuangan, Struggle, Fight. Saya menemukan nama tersebut di internet dan ada juga di dalam buku pedoman pemberian nama bayi. Dan seketika itu pula kami menyukai nama tersebut, karena merasa sangat sesuai dengan moment yang Allah berikan kepada kami. 

Awalnya orang tua kami agak asing mendengar nama Kifah, karena mungkin jarang ada nama anak seperti itu, dan katanya terdengar seperti nama anak perempuan. Dan memang ketika kami mencari nama ini di internet, nama Kifah bisa digunakan oleh Baby Boy or Girl

Sebenarnya sih yang kami agak khawatirkan bukan tentang asing atau tidaknya, tetapi tentang pelafalan nama anak kami nanti. Tahu sendiri kan urang sunda gak bisa bedain huruf “F” sama “V” bacanya tetep aja “P”. Jadi, memang bener sih, kekhawatiran kami terjadi juga, kalau Kifah mudik ke Bandung pasti dipanggilnya “Kipah” bukan “Kifah”. 

Yaudah lah udah nasib. 

Kami berdo’a semoga Kifah menjadi anak yang pantang menyerah, menjadi hamba Allah yang selalu memperjuangkan kebenaran. Sesuai dengan nama lengkapnya Muhammad Kifah Abdullah Sidik. Selain itu, nama Kifah juga akan selalu menjadi pengingat kami sebagai orang tua bahwa “Kifah” adalah “Anak Perjuangan” kami. Yang membersamai dan memberikan semangat ketika kami mengalami masa-masa berjuang di awal pernikahan. 

Memilih nama bayi itu memang susah-susah gampang. Kadang banyak sekali pilihan nama yang indah dan memiliki arti yang baik. Malah kabita kepingin dipake semua namanya. Tapi lagi-lagi, memilih nama yang indah dan berarti baik adalah kewajiban orang tua. Sehingga suatu saat sang anak mampu menghayati apa arti nama tersebut bagi dirinya sendiri. 

Dan lebih dari itu, nama bayi yang kita sematkan untuk buah hati kita akan ia sandang seumur hidupnya di dunia dan juga di akhirat. 

Wallahualam.



Tulisan ini diikutsertakan pada:


6 comments on ""Perjuangan" Dibalik Nama Bayi"
  1. Aku baru tau arti malakul amlak

    ReplyDelete
  2. Memberi nama anak juga perlu pemikiran yang matang ya..., ga boleh sembarangan ngasih nama...

    ReplyDelete
  3. Nah iniyg perlu diperhatikan para orang tua dan calon ibu bapak. Ingin juga kelak anak sy namnya ada abdullah nya. Keren dalam pelafadzan, nama itu juga paling dicintai Allah.

    ReplyDelete
  4. Aamiin,Baarokalloh Kifah..
    saya lagi cari2 nama buat calon debay nanti,udah dapet 3 tapi cewek semua,yang cowok belum hehehe...masih butuh perjuangan buat nyari nama nih^^

    ReplyDelete
  5. sehat2 ya bumil
    aku juga dulu nyari2 buat nama bayi..yang pas dihati

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D