Rindu Ramadhan di Masa Kecil

| On
May 24, 2015
Image from Pinterest

"Alhamdulillah sebentar lagi Ramadhan, di TV udah ada iklan sirup"
"Iya, ya. Kalau Ramadhan, pasti kita semua beli sirup ya buat buka puasa"

Percakapan random saya dengan suami, ketika melihat iklan sirup di sebuah stasiun TV.



Ramadhan bulan kemenangan, Ramadhan bulan yang penuh berkah, Ramadhan bulan tempat melebur dosa, Ramadhan bulan penguat keimanan, Ramadhan bulan berbagi bersama sesama, Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Ramadhan adalah bulan saling bersilaturahmi. 

Itulah sekelumit 'tag line' Ramadhan yang selalu saya ingat saat saya kecil dulu. Saat masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah. Saat masih berseragam hijau putih dengan kerudung mungil yang menghiasi kepala.



Ramadhan adalah bulan yang sangat indah dan penuh dengan kebahagiaan. Kira-kira saya memaknainya begitu. Kenapa? karena Ramadhan identik dengan banyak kebahagiaan-kebahagiaan. Sebagai anak SD waktu itu bahagia rasanya kalau kita sudah memasuki bulan Ramadhan, karena itu tandanya sebentar lagi LEBARAN.

Banyak sekali hal yang saya rindukan ketika Ramadhan saat masih kecil. Ingin rasanya flashback, memutar kembali memori yang saya miliki tentang Ramadhan di masa kanak-kanak. Ramadhan yang tak pernah terlupakan, Ramadhan yang penuh dengan kenangan.


Sekolah Lebih Cepat

Di bulan Ramadhan, persekolahan pun dibuat senyaman dan sesantai mungkin. Berbeda dari hari-hari biasanya. Jam sekolah pun dibuat lebih pendek, karena dikhawatirkan anak-anak akan kelelahan jika jam sekolah dilaksanakan seperti di hari-hari biasa.

Anak-anak di sekolah pun gembira. Mereka juga sama seperti saya, senang karena sekolah tidak seperti biasanya. Lebih cepat pulang, lebih banyak waktu bermain di rumah. 


Pesantren Kilat

Rasa-rasanya, Ramadhan tanpa pesantren kilat bagaikan Ramadhan tanpa kurma dan sirup. 

Sudah bukan hal yang asing di telinga, Ramadhan pasti identik dengan pesantren kilat atau sering disingkat Sanlat. Sanlat ini merupakan rangkaian kegiatan sekolah dalam mengisi Ramadhan. Biasanya acara sanlat diisi oleh para guru di sekolah ataupun menghadirkan ustadz atau ustadzah dari luar sekolah. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang agama Islam, dan membiasakan diri dengan hal positif yang diharapkan terbawa hingga keluar bulan Ramadhan.

Pesantren kilat juga banyak dihiasi dengan berbagai perlombaan. Mulai dari perlombaan membaca Al-Qur'an, menghafal Al-Qur'an, membaca puisi islami, membuat kaligrafi, mengumandangkan adzan, hingga cerdas cermat seputar keislaman. 

Menurut saya, tujuan dari berbagai perlombaan ini selain untuk memeriahkan Ramadhan, juga bertujuan untuk mengenalkan konsep fastabikul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan kepada anak sejak dini. 


Puasa yang Digaji

Orang tua saya membiasakan 'menggaji' saya ketika selesai menunaikan ibadah puasa setiap hari. Gajiannya ini dilakukan Bada berbuka puasa atau bada sholat Magrib. 

Kata orang sih metode ini salah. Karena dinilai mengajarkan anak menjadi matrealistis, menilai segala sesuatu dengan uang. Tapi semakin saya dewasa, tentunya saya semakin paham, bahwa sistem 'gajian' ini bukan untuk mengenalkan materi semata kepada anak. Tetapi lebih kepada 'Reward and Punishment'.

Orang tua saya hanya ingin memberikan reward karena anaknya ini sudah berhasil menjalankan puasa seharian penuh. Namun orang tua juga tetap menasehati, bahwa 'gaji' puasa ini bukan untuk dibelanjakan dengan foya-foya, tetapi harus ditabung, untuk keperluan saya sendiri untuk lebaran nanti atau untuk keperluan sekolah.


Mengejar-ngejar Ustadz

Saya rasa ini pernah dirasakan oleh generasi 90'an seperti saya. Buku panduan Ramadhan yang diberikan oleh sekolah biasanya mengharuskan kita mencatat aktivitas Ramadhan kita. Yaitu berpuasa dan shalat tarawih. 

Pada bagian shalat tarawih ini yang suka jadi tantangan tersendiri. Yakni berburu tanda tangan ustadz yang menjadi imam dan penceramah. 

Karena seringnya berganti-ganti ustadz sebagai imam dan penceramah, terkadang saya bingung. Yang mana ya ustadz yang tadi jadi imam? Karena shaf perempuan kan di barisan belakang. Otomatis sang ustadz tidak kelihatan.

Biasanya saya membedakan ustadz yang satu dan yang lainnya itu dengan mendengar ciri khas suaranya. Kalau suaranya serak-serak basah, berarti ustadz A. Kalau suaranya agak kecil, berarti ustadz B. 

Tapi kalau sama sekali tidak bisa membedakan suara ustadz yang menjadi imam. Ujung-ujungnya saya bertanya sama Bapak saya sendiri. Karena biasanya Bapak shalat di shaf persis di belakang imam shalat.

Pokoknya jangan sampai deh ada imam yang tertukar di buku catatan Ramadhan saya.


Strategi Mukena dan Sajadah

Shalat tarawih di masjid itu katanya ada polanya. 

10 malam pertama, mushola biasanya penuh, orang-orang berdesakan, malah hampir tidak kebagian. 10 malam kedua, jamaah mulai berkurang, hampir setengahnya. Dan 10 malam terakhir, jamaah sudah makin berkurang. Bisa-bisa hanya 2 sampai 3 shaf saja. Katanya orang-orang sudah sibuk mempersiapkan lebaran. Padahal sayang sekali ya, 10 malam terakhir adalah perlombaan meraih lailatul Qadar.

Nah, untuk di 10 malam pertama ini, saya punya strategi khusus agar mendapatkan tempat yang 'strategis' dan nyaman untuk shalat tarawih. 

Karena mushola yang berjarak sekitar 20 meter dari rumah, selepas adzan Magrib dan meneguk segelas air minum, saya langsung lari sekencang mungkin ke mushola. 

Buat apa?

Ya buat nyimpen sajadah dan mukena. Saya gelar sajadah kesayangan saya di tempat yang saya rasa paling strategis. Ditambah dengan menyimpan mukena di atas sajadah, supaya lebih terlihat 'oh udah ada yang ngisi tempatnya' oleh orang lain.

And it work!

Setelah selesai menyimpan sajadah, saya kembali ke rumah. Menikmati hidangan buka puasa. Selepas adzan Isya, saya ke mushola, siap menjalankan shalat Tarawih berjamaah dengan tempat yang sudah saya 'booking' sebelumnya. 

Dan di hari-hari berikutnya. Banyak orang yang juga ikut "nitip" sajadah dan mukena untuk disimpan di mushola. Biar bisa bersebelahan dengan saya alasannya. 

Namanya juga anak-anak, dengan hati senang dan riang saya lakukan itu semua. Menjadi 'kurir titip' mukena dan sajadah.


Pernah Lupa Puasa

Saya selalu teringat dengan pertanyaan teman-teman di kelas ketika pesantren kilat.

"Pak, gimana kalau kita lupa puasa, batal ngga pak?"
"Kalau lupanya tidak disengaja ya tidak batal, itu nikmat dari Allah, puasanya harus tetap dilanjutkan ketika sudah ingat. Tetapi kalau lupanya sengaja alias pura-pura, ya batal puasanya, ingat loh Allah itu Maha tahu dan Maha melihat"

Sebenernya waktu itu saya agak ngeyel waktu denger penjelasan ini. Saya gak yakin, masa ada sih orang yang lupa kalau dia lagi puasa. Puasa kan haus dan lapar, pasti kerasa terus kan sepanjang hari?

Tapi suatu hari..

Setelah shalat subuh saya suka tidur lagi, kalau tidak sekolah. Sebenernya ini kebiasaan yang buruk. Tapi kadang saya ngantuk berat karena sahur yang terlalu dini hari. Jadinya saya tidur lagi selepas shalat shubuh berjamaah di mushola. *alibi* *tutup muka pakai tutup panci*

Saya terbangun agak siang, sekitar pukul 10-an. Dan saya melihat sekantung mangga ada di rumah. Tanpa ragu lagi, saya kupas dan makan mangga yang sudah harum mewangi itu sambil menonton televisi.

Saya tidak sadar kalau saya ini sedang puasa. Sampai pada akhirnya jam 2 siang barulah saya ingat kalau saya ini sedang puasa. Aahhh parah ya, lupanya lama banget. Tapi tidak sampai situ, saya ketiduran ketika sore harinya. Saking panasnya udara, dan maghrib masih lama, saya jadi ketiduran karena kipas angin yang menghembuskan udara sepoi-sepoi bikin ngantuk luar biasa. 

Dan terbangunlah saya tepat setengah jam sebelum adzan maghrib. Disitulah saya kembali makan, dan lupa bahwa saya sedang puasa.

Mamah sedang sibuk menyiapkan buka puasa di dapur, Bapak sedang ke luar. Jadi saya memang sendirian ada di ruang TV sambil makan. 

Tapi entahlah saya benar-benar lupa bahwa saya ini sedang puasa. Dan ketika adzan maghrib berkumandang, orang tua saya bergegas ke ruang TV untuk buka puasa bersama, dan di saat itulah saya baru sadar "Loh, kan ini lagi puasa ya"

Astagfirullah. 

Entah saya harus bersyukur atau memohon ampun karena telah meragukan kekuasaan Allah akan nikmat lupa. 


Ramadhan Penuh Kenangan

Ramadhan di masa kecil adalah Ramadhan yang paling saya rindukan. Kenangan tentang Ramadhan benar-benar begitu indah. Ketika sahur, ketika berbuka, ketika shalat tarawih, ketika pesantren kilat, dan perasaan-perasaan indah lainnya ketika Ramadhan yang sungguh tidak bisa saya lukiskan. 

Ramadhan adalah bulan yang paling indah, bulan yang paling dinanti oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia. Begitupun saya. Ramadhan adalah bulan yang benar-benar spesial dari 11 bulan lainnya.



Ramadhan, bulan yang begitu harum
Aromanya selalu semerbak 
Menggugah hati yang penuh perih
Mengetuk hati yang sedang sunyi

Ah, aku rindu engkau, Ramadhan
Cepatlah hadir lagi
Jangan cepat pergi
Aku masih disini

Masih kuingat
Kala ku tersenyum
Memandang langit Ramadhan
Bertabur bintang bersinaran
Sembari meneguk manis CintaNya

Sungguh aku merindu 
Langit Ramadhan
Bertabur takbir menderu
Bersama lantunan ayat Al-Qur'an

Semoga nikmat usia
Masih mampu membersamai
Pertemuanku denganmu
Satu purnama lagi
------











"Tulisan Ini Diikutkan dalam Giveaway Menyambut Ramadhan"
4 comments on "Rindu Ramadhan di Masa Kecil"
  1. Ramadhan memang bulan yang istimewa untuk semua orang ya....selamat menyambut Ramadhan ya mak

    ReplyDelete
  2. booking tempat. kreatif mak!
    kl saya masjidnya jauh jadi ga bisa booking gitu. haha...

    ReplyDelete
  3. hihi... iya ya, biasanya kalau di TV sudah banyak iklan sirup, pasti ramadhan sebentar lagi datang :)

    ReplyDelete
  4. lupanya berkali-kali mak? nikmatnyaaa..hihi

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D