Morinaga Chil-Go! Duh, Senangnya Anakku Suka Berbagi!

| On
March 02, 2016
review susu cair morinaga chil-go

Ketika pertama kali melihat tumpukan kardus berlogo Morinaga Chil-Go! di halaman rumah, Kifah langsung berteriak kegirangan. Pasalnya, sebelum itu Kifah pernah mendapatkan kiriman yang sama dari Morinaga Chil Go! beberapa bulan yang lalu.

“Ini buat aku, Mi?” tanya Kifah.

“Iya, buat Kifah”

“ASIIIKKKKK”

Kifah sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Loncat kegirangan ke sana kemari karena susu favoritnya kembali datang ke rumah.

Sebelumnya, saya sudah menuliskan keseruan petualangan Kifah bersama Morinaga Chil-Go! di postingan ini. Dan sampai sekarang Kifah masih minta berpetualang lagi ke tempat yang sama lho, saking serunya.

Memang apa sih Morinaga Chil-Go!?

Gimana? Sudah baca keseruan petualangan Kifah di postingan saya sebelumnya?

Kalau belum, biar deh saya ceritakan lagi sekilas tentang Morinaga Chil-Go!

review susu cair morinaga chil-go


Morinaga Chil-Go! adalah susu cair pertumbuhan anak-anak yang dikemas dalam botol plastik. Botolnya mungil dan mudah dibawa kemana-mana.

FYI: Botolnya sendiri ramah lingkungan dan bisa didaur ulang.

Sebelumnya, Morinaga sudah terkenal dengan produk susu pertumbuhan berbentuk bubuk seperti Chil Kid dan Chil School. Nah, Morinaga Chil-Go! ini adalah varian baru dari Morinaga, yaitu susu cair dalam kemasan yang simpel dan mudah dibawa berpergian. Tersedia 3 varian rasa, yaitu rasa coklat, vanila, dan stroberi.

Kandungan Gizi yang terkandung dalam Morinaga Chil-Go! diantaranya Prebiotik Inulin, Zinc, Kalsium dan juga vitamin A, C, E yang mendukung gizi si kecil setiap hari.  

Morinaga Chil-Go! ini diproduksi oleh Kalbe Nutritional yang berdiri sejak tahun 1982 dengan nama PT. Sanghiang Perkasa atau lebih dikenal dengan PT. Kalbe Farma, tbk. Kalbe nutrional berkomitmen untuk memberikan makanan terbaik untuk diproduksi, salah satunya adalah susu cair pertumbuhan Morinaga Chil-Go!

Itu hanya sekilas tentang Morinaga Chil-Go! Ya Mommy, tak kenal kan maka harus ta’aruf dulu. Hehe. Lebih lengkapnya, saya akan bahas kemudian.

Rezeki Durian Runtuh

Bagi Kifah, si balita usia 4 tahun yang sedang aktif-aktifnya dan senang sekali minum susu setelah terbebas dari alergi protein sapi, mendapatkan berkardus-kardus susu bagaikan rezeki durian runtuh.

review susu cair morinaga chil-go


Duh, saya berlebihan gak sih? Tapi memang kenyataannya, Kifah langsung mengklaim susu itu miliknya seorang. Seluruh isi kardusnya dibuka, dan Kifah segera mencari susu Morinaga Chil-Go! Rasa coklat yang memang jadi favoritnya.

“Ummi, ini punya aku semua ya!”

“Iya, boleh. Tapi nanti bagi-bagi temen di sekolah ya”

Kifah mengernyitkan dahi, mulutnya yang mungil jadi lebih menjorok ke depan.

“Jangan” ucapnya lirih.

“Loh kok jangan?”

“Ini kan semua punya aku?”

“Iya, kan ini banyak, bisa dibagiin ke temen-temen, supaya bisa tahu rasa susu chil go”

Kifah masih belum membuat keputusan, ia masih terlihat menimbang-nimbang sambil menghabiskan morinaga chil go! Coklat kesukaannya.

Berbagi Sebagai Standar Kompetensi

Salah satu standar kompetensi anak usia dini (4-5 tahun) adalah “pelajaran berbagi", yang tentunya harus dicapai oleh seorang anak dalam proses pendidikan dan pembelajarannya. Baik di rumah maupun di sekolah.

Kegiatan bersama teman, seperti bermain bersama, berbagi, melakukan hobi bersama, pergi bersama, dan kegiatan berbelanja bersama merupakan hal yang harus diajarkan kepada anak, dan sebisa mungkin anak harus menunjukan kompetensi tersebut dalam kesehariannya.  

June R Oberlander dalam bukunya Slow and Steady Get Me Ready mengatakan bahwa salah satu parameter kompetensi anak usia 4-5 tahun adalah senang berada di antara orang lain, mampu berbagi, dan mau bergiliran.

Berbagi Menumbuhkan Karakter

Dalam dimensi pendidikan karakter, ada tiga hal yang menjadi pilar utama, yakni:

Moral Knowing

Moral knowing terdiri dari enam unsur penting, yang terdiri dari: Kesadaran Moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut pandang (perspective taking), logika bermoral (moral reasoning), keberanian mengambil sikap (decision making) dan pengenalan diri.

Jadi, moral knowing adalah pemahaman yang bersifat kognitif kepada anak bahwa kebaikan itu ada, dan harus dilakukan.

Moral Loving

Moral loving merupakan penguatan aspek pada diri anak untuk menjadi manusia yang berkarakter. Sikap yang harus dirasakan oleh anak adalah, percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), dan kerendahan hati (humanity).

Kesadaran akan mencintai kebaikan ini terlahir dari kognitif yang baik, diperintahkan secara rasional dan logis oleh otak sebagai pusat berpikir.

Moral Doing

Moral Doing adalah sebuah representasi dari moral knowing dan moral loving yang ada di dalam diri anak. Jika kognisi anak terhadap moral knowing dan moral loving sudah tertanam dengan baik, maka anak akan dengan mudah melakukan moral doing sebagai sebuah karakter yang senantiasa akan dia lakukan dalam kesehariannya.

Melatih Anak Berbagi

Berbagi merupakan kompetensi yang harus diajarkan kepada anak sejak dini, dan yang paling penting bagaimana caranya agar berbagi menjadi karakter yang tertanam di dalam diri anak.

Untuk membiasakan berbagi dalam diri anak memang susah-susah gampang. Karena pada usia 4-5 tahun, biasanya sifat egois pada anak masih sangat dominan. Anak masih menganggap semua miliknya adalah miliknya seorang. Sebagai orang tua tentunya saya ingin Kifah mulai belajar, bahwa berbagi adalah hal yang positif dan menyenangkan.

Bagaimana melatihnya?

Pertama, anak usia dini adalah mesin fotocopy berjalan, dan otaknya pun laksana spons yang mudah menyerap berbagai hal. Ia meniru apapun yang ia lihat, dengar, dan ia rasakan. Untuk membiasakan anak berbagi, salah satu cara yang paling efektif adalah dengan memberikan contoh atau teladan yang benar-benar nyata. Dan siapa lagi yang anak contoh selain kita, orang tuanya. Maka dari itu, semua berawal dari orang tua sebagai pemberi tauladan yang baik.

Kedua, jangan memaksa. Sekalipun berbagi itu baik, kita juga tidak boleh memaksakan anak untuk berbagi jika memang kondisinya tidak memungkinkan. Misalnya, mood anak sedang buruk.

Ketiga, komunikasikan dengan bijaksana. Ketika anak enggan untuk berbagi, komunikasikan dengan baik apa manfaat berbagi bagi dirinya dan orang lain.

Misalnya, “Wah bagus ya ini hadiah dari temennya Kifah” “Ini kenang-kenangan dari Bu Guru juga bagus. Gimana kalau kita kasih Bu Guru juga?”

Sebisa mungkin, kita mengkomunikasikannya bahwa kebaikan akan berbalas dengan kebaikan, termasuk berbagi dengan teman.

Keempat, pembiasaan. William Killpatrick menyebutkan salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang untuk berlaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia tidak terlatih melakukan kebaikan (moral doing). Sekalipun anak sudah tahu apa itu kebaikan, tanpa adanya pembiasaan, maka semuanya akan terasa sia-sia.

Tapi pernah juga loh ada kejadian yang kalau saya ingat-ingat lagi, lucu dan membuat saya mengelus dada.  

Jadi waktu itu, teman-teman Kifah main ke rumah. Saking senengnya, Kifah mempersilakan semua teman-temannya masuk ke rumah dan makan semua makanan yang ada di kulkas.

Shock dong saya! 

Semua makanan yang ada di kulkas ludes oleh anak-anak. Awalnya saya ingin marah, tapi lama kelamaan saya geli sendiri, mungkin memang Kifah sedang menyerap konsep berbagi sedemikian dalamnya. Hehehe.

Sebenarnya, saat ini adalah moment yang pas untuk mengajarkan Kifah untuk lebih bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah. Karena Kifah baru saja pindah ke sekolah yang baru.

Sebulan bersekolah, Kifah masih malu dan takut untuk kesekolah. Mungkin karena ia sudah merasa nyaman dengan sekolah dan teman-temannya di sekolah yang lama. Selain itu, teman-teman yang baru belum terlalu “ngeh” dengan kehadiran Kifah. Yah, namanya juga anak-anak sih, saya maklum saja.

Saya pikir, kalau ada moment Kifah untuk “berani tampil” di depan teman-temannya akan menjadi pembuka jalan keakraban bagi Kifah untuk bersosialisasi lebih dekat dengan teman-barunya di sekolah.

Berbagi Bersama Morinaga Chil Go!

Karena Kifah setiap hari makan bersama di sekolah bersama teman-teman, saya berinisiatif untuk menambahkan susu cair Morinaga Chil Go! Sebagai teman makan bersama.

Awalnya Kifah masih enggan untuk membagikan susu kesukaannya, tapi lama-kelamaan hatinya luluh juga. Ia bersiap membagikan Chil Go! Untuk teman-temannya di sekolah.

Setiap hari, Kifah berangkat ke sekolah bersama Abbiy. Lokasi sekolah Kifah juga dekat dari rumah, dan merupakan rute Abbiy untuk berangkat ke kantor.

Pagi-pagi sekali Kifah menyiapkan susu cair Morinaga Chil-Go! Untuk dibawa ke sekolah. Kifah tampak sangat bersemangat, ia senang sekali membawa banyak susu untuk diminum bersama pada jam istirahat nanti.

Sambil Abbiy menyiapkan motor untuk berangkat, Kifah memilih susu yang akan dibawa ke sekolah. Ia memutuskan untuk membagikan Morinaga Chil Go! Rasa Vanila dan Stroberi untuk teman-temannya di sekolah.

Ini dia persiapannya:

review susu cair morinaga chil-go
Kifah memilih susu cair Morinaga Chil-Go untuk dibagikan di sekolah

 
review susu cair morinaga chil-go
Kifah membantu Abbiy menata susu Morinaga Chi-Go! yang akan dibawa ke sekolah



review susu cair morinaga chil-go

review susu cair morinaga chil-go
Box motor Abbiy penuh dengan Morinaga Chil-Go!

review susu cair morinaga chil-go
Susu Cair Morinaga Chil-Go! siap dibawa ke sekolah
review susu cair morinaga chil-go


Nutrisi Lengkap dari Morinaga Chil-Go!

Formula Platinum

Morinaga Chil Go! Mendukung si Kecil menjadi generasi platinum multitalenta. Menjadi generasi platinum yang multi talenta membantu si kecil menghadapi perkembangan dunia. Ingat ya Moms, perkembangan si kecil meliputi aspek IQ, EQ, SQ harus mendapatkan porsi gizi yang tepat pada masing-masing bagiannya.

Kecerdasan Multi Talenta. Seperti yang saya ulas sedikit di atas, bahwa moral knowing dan moral loving erat hubungannya dengan perkembangan kognitif anak yang berpusat pada otak sebagai “nahkoda” dalam tubuh anak. Sebagai nahkoda, otak harus diberikan nutrisi yang baik.

Periode emas perkembangan otak anak si kecil, terutama pada fungsi kognitif masih berlangsung hingga usianya 12 tahun ya Moms. Berikan nutrisi tepat untuk otak anak dengan Kolin dan Inositol yang berperan dalam penyimpanan memori, berpikir, berbicara dan gerakan sadar.

Vitamin B kompleks, Zat Besi, dan Yodium yang merupakan vitamin dan mineral yang ebrperan penting pda sistem saraf dan konsentrasi anak.

Pertahanan Tubuh Ganda. Selain memberikan nutrisi untuk otak, pertahanan tubuh ganda pada anak akan sangat memudahkan anak beraktifitas untuk mensupport moral doing pada diri anak.

Nutrisi yang baik untuk pertahanan tubuh diantaranya adalah Prebiotik inulin 1000mg yang merupakan prebiotik (makanan untuk bakteri baik) dan serat pangan untuk membantu kesehatan saluran cerna anak.

Zinc membantu meningkatkan imunitas tubuh. Tinggi kalsium untuk pembentukan tulang dan gigi. Vitamin A, C, E yang melindungi sel tubuh agar dapat berfungsi baik.

review susu cair morinaga chil-go
Dadahhh.. Kifah berangkat dulu




Penasaran apa yang akan Kifah lakukan di sekolah? Klik di sini untuk membaca cerita selanjutnya :D




Referensi: Buku Pintar Home Schooling, Jamal Ma'mur Asmani. 
Pendidikan karakter dalam Perspektif Islam, Abdul Majid dan Dian Andayani
6 comments on "Morinaga Chil-Go! Duh, Senangnya Anakku Suka Berbagi! "
  1. Hebat ih..Kifah mau berbagi, bude Ika nggak dibagi niih? :D

    ReplyDelete
  2. Raissa 4,5 th, ga jauh beda lah sama Kifah.. hebat Kifah mau berbagi yaa :)

    ReplyDelete
  3. Penasaran nich, Kifah bagi-baginya seperti apa ya?

    ReplyDelete
  4. Kifah rumahnya cakep deh.. Kapan2 Salim ke sana yaa..

    ReplyDelete
  5. Morinaga chhil-Go baru tahu ini produk

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, silakan tinggalkan komentar yang baik dan positif ya :D